Pertemuan Kesekian

Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 28 September 2014)

Image421

(Gambar oleh Munzir Fadly)

MEREKA kembali berada di meja yang sama, dan tengah saling bertukar minuman yang mereka pesan. Milo dingin milik perempuan itu terasa segar, sedangkan capuccino panas miliknya tak seenak yang ia bayangkan. Perempuan itu tersenyum, menawarinya lagi Milo dingin miliknya itu, namun ia menggeleng. “Kenapa?” tanya perempuan itu. Ia berdiri, beranjak memasuki Alfamidi lagi, dan tak lama kembali dengan segelas Milo dingin di tangannya. Perempuan itu tertawa lalu bertanya siapa yang akan menghabiskan capuccino panas yang sebelumnya dipesannya itu. “Malaikat maut,” jawabnya. Perempuan itu kembali tertawa.

Malam itu hujan tak turun, meski suhu tetap dingin. Perempuan itu tak memakai blazer hitam yang dibawanya, sehingga ia jadi punya alasan untuk meletakkan tangannya di pundak perempuan itu, dan sedikit mendekatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya. Perempuan itu sempat mengingatkannya pada tatapan tak nyaman orang-orang di meja lain, tapi ia tak peduli. “Biar saja mereka iri,” bisiknya, tepat di telinga perempuan itu. Perempuan itu selalu mengernyit. Seperti biasa perempuan itu selalu merasa geli setiap kali ia melakukannya. Dan seperti biasa, ia selalu tak kuasa menahan diri untuk tak mencium pipi perempuan itu setiap kali mereka sudah nyaris tak berjarak seperti itu. Perempuan itu menatapnya. Entah senang, atau terganggu.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, malam itu pun mereka adalah pengunjung terlama yang berada di sana. Mereka menjadi saksi dari perubahan suasana Bara pada masa-masa ujian tengah semester ketika orang-orang yang mereka duga mahasiswa hanya akan ramai berlalu-lalang hingga jam sembilan. Mereka di sana, dua orang yang bukan lagi mahasiswa, dua orang yang tak lagi tinggal di kawasan itu sejak lama, dua orang yang baru saja menempuh perjalanan berjam-jam yang bagi orang lain mungkin tak masuk akal. “Kamu lelah?” tanya perempuan itu. Ia tersenyum. Ia menduga perempuan itulah yang sesungguhnya lelah. Kelopak mata perempuan itu terlihat berat. Ia menduga kepergian perempuan itu kali itu tak semudah yang sebelum-sebelumnya. Ia menduga, suami perempuan itu mulai curiga.

Kadang ia memikirkan apa yang mereka lakukan ini, bagaimana mereka bisa sampai menyepakati sebuah pertemuan singkat setiap tahunnya di tempat itu, juga bagaimana mereka bisa terus menjaga kesepakatan tersebut padahal perempuan itu sudah menikah tiga tahun yang lalu dan ia sendiri sesungguhnya sedang menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dengan seseorang. Cinta memang rumit, pikirnya. Orang-orang yang ia duga mahasiswa itu tentu mengira ia dan perempuan itu adalah sepasang kekasih, dua orang yang telah menunggu sekian lama untuk akhirnya bertemu dan berdekatan, saling menukar senyum dan cerita. “Aku tak semuda dulu,” kata perempuan itu, satu tahun yang lalu. Memang. Di ujung-ujung mata perempuan itu telah ia temukan beberapa kerutan yang sebelumnya tak ada. Tapi dikatakannya pada perempuan itu, bahwa di matanya perempuan itu masih secantik empat tahun sebelumnya, masih seindah yang ia ingat. Perempuan itu menjulurkan lidah, tak percaya dan menganggap apa yang ia katakan itu bualan semata.

Di dalam hatinya ia bertanya-tanya sejauh mana perempuan itu mengingat pertemuan mereka satu tahun yang lalu itu. Ia berharap ingatan perempuan itu memuaskannya. Atau paling tidak, tak membuatnya kecewa. Ia tahu perempuan itu memiliki daya ingat yang baik, dan karenanya tak akan mungkin ia melupakan peristiwa sepenting itu. Jika ternyata perempuan itu tak mengingat detail peristiwa malam itu dengan baik, maka bisa jadi perempuan itu sedang memikirkan suatu hal, sesuatu yang semestinya tak dipikirkannya saat itu. Begitulah ia berpikir, dan seketika ia cemas. Ia tak nyaman memikirkan suami perempuan itu telah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di antara mereka, pertemuan-pertemuan mereka. Apa yang semestinya kukatakan nanti? pikirnya, membayangkan wajah garang suami perempuan itu sekonyong-konyong muncul di antara orang-orang yang tak dikenalnya. “Ada apa? Ada yang mengganggumu?” tanya perempuan itu. Ia hanya menanggapinya dengan tersenyum.

 
PADA kali pertama mereka melakukan hal ini, lima tahun yang lalu, ia tak bisa duduk tenang dan berkali-kali masuk-keluar Alfamidi untuk membeli satu-dua hal saja. Cokelat, biskuit, susu bantal. Permen, wafer, kopi dingin. Tanpa terasa lembar-lembar uang di dompetnya habis. Ia pun berkali-kali merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel yang pada layarnya tertera foto perempuan itu. Ia kecewa, juga cemas. Ia menyesali keputusannya untuk menunggu perempuan itu di meja itu, bukannya di pintu kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta. Berkali-kali ia mengutuki ketololannya, dan melontarkan kata-kata makian yang ditujukannya kepada dirinya sendiri. Ketika perempuan itu akhirnya membalas SMS-nya, mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di angkot jurusan Kampus Dalam namun terjebak macet di sekitar pabrik, ia sedikit lega, dan mulai mencoba memaafkan ketololannya itu.

Dan ketika perempuan itu akhirnya tiba, menyeberang jalan dan berjalan anggun ke arahnya, barulah sepenuhnya ia lega. Ia berdiri dan menyambut perempuan itu. Tangan perempuan itu lembut seperti yang diingatnya. Parfum perempuan itu masih sama. Mereka kemudian bercakap-cakap di meja itu dan sesekali tertawa. Di ujung percakapan, ia mengatakan bahwa tahun depannya ia akan menunggu perempuan itu di bandara saja, juga tahun-tahun berikutnya. Perempuan itu tersenyum, dan mengatakan bahwa itu tak perlu. “Ongkos pulang-pergi Bogor-Cengkareng itu lumayan,” kata perempuan itu. Ia saat itu memang masih belum memiliki pekerjaan tetap, dan dimuat-tidaknya cerita pendeknya di koran Minggu benar-benar tak bisa dipastikan.

Ia mengerti kekhawatiran perempuan itu, namun tetap mengatakan hal yang sama. Perempuan itu menyerah, tersenyum, dan tiba-tiba memberinya sebuah ciuman singkat di pipi. Ia sempat terdiam kaget dan kemudian bertanya, “Kenapa tidak di bibir saja?” Giliran perempuan itu yang terdiam. Ia tertawa. Perempuan itu tersenyum. Ketika malam telah sangat larut dan meja-meja di sekitar mereka telah kosong, perempuan itu menciumnya juga, tepat di bibirnya. Pada ciuman kedua perempuan itu, ia memejamkan mata.

 
MALAM mulai larut dan ia melihat toko-toko di seberang jalan itu satu per satu tutup. Lalu-lalang orang berkurang. Motor-motor yang semula memenuhi pelataran parkir telah dibawa para pemiliknya. Tersisa tiga. Entah kenapa, ia merasa sedih.

Ia menatap perempuan itu dan perempuan itu tersenyum. Jari-jemari mereka yang sedari tadi saling bersentuhan kini seperti dua anak yang tengah asyik saling menggelitik. Ia membalas senyum perempuan itu, lalu mengalihkan matanya kembali ke jalan yang lengang.

Tak seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kali ini mereka tak banyak bicara. Memang, mereka masih saling bertukar senyum, dan perempuan itu sesekali tertawa, sesekali bicara. Namun apa yang terlontar dari mulut perempuan itu hanyalah hal-hal biasa, pertanyaan dan pernyataan remeh-temeh yang akan selalu diartikan sebagai basa-basi yang basi, sebuah upaya memulai percakapan yang gagal. Dan ia sendiri lebih buruk. Sejak berjumpa perempuan itu di bandara, ia tak sekalipun mengatakan sesuatu untuk menyegarkan suasana, mencairkan kebekuan yang tak terduga itu. Dua jam perjalanan di bis, ia dan perempuan itu hanya saling mendekatkan tubuh dan merapatkan jemari. Tak ada ungkapan cinta. Tak ada pengakuan rindu. Ia dan perempuan itu seperti bersepakat untuk menunda apa yang semestinya mereka katakan. Ada yang berbeda dengan perempuan itu. Ia tahu. Ia sendiri entah mengapa jadi begitu diam dan seperti takut apa yang akan ia ucapkan malah memperburuk suasana. Hingga bis yang mereka tumpangi tiba di terminal Damri Baranangsiang, tak sedikit pun mereka bicara.

Dan kini tiba-tiba ia merasa lelah. Ia bertanya-tanya apakah perempuan itu juga merasakan hal yang sama.

Enam tahun yang lalu di meja itu, beberapa jam setelah perempuan itu menempuh sidang skripsinya, percakapan itu terjadi. Ia dan perempuan itu. Tangan mereka saling menggenggam dan mereka bertukar senyum. Namun, yang terasa adalah kesedihan. Tak lama lagi perempuan itu akan pulang ke kampung halamannya. Ia dan perempuan itu tak akan bisa lagi menghabiskan waktu bersama. Perempuan itu di sana mungkin akan bertemu seseorang, yang seiman dengannya. Dan ia pun begitu. Berpisah adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan.

“Aku akan selalu mencintaimu,” kata perempuan itu.

Ia ingin membalas perkataan perempuan itu, namun tak sanggup. Ia hanya memejamkan mata, sambil menekankan bibirnya di jari-jemari perempuan itu. Seandainya kita bisa bertemu lagi setiap tahunnya, gumamnya. Ia yakin hanya menggumamkan keinginannya itu di dalam benaknya saja, dan karenanya perempuan itu tak akan mungkin mendengarnya.

Akan tetapi pada malam terakhir perempuan itu berada di Dramaga, saat itu percakapan terjadi lewat telepon, perempuan itu mengatakan padanya bahwa mereka akan bertemu lagi. “Aku akan mencari cara agar kita bisa bertemu setiap tahunnya, meski singkat,” kata perempuan itu. Ia tak percaya perempuan itu mengatakannya, dan ia lebih tak percaya lagi ketika suatu hari saat perempuan itu di Medan sana, ia di Dramaga tengah sibuk menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan perempuan itu.

 
DAN pertemuan itu pun terjadi. Begitu pula pertemuan-pertemuan setelahnya. Ia dan perempuan itu masih sepasang kekasih. Begitulah yang ia rasakan. Hingga suatu hari perempuan itu mengungkapkan rencana pernikahannya. Ia terpukul. Ia mengira pertemuan mereka beberapa bulan sebelumnya adalah yang terakhir. Tak akan ada lagi pertemuan lain. Mereka tak akan lagi sepasang kekasih.

Namun rupanya, perkiraannya itu pun salah. Pada hari yang sama perempuan itu tetap datang. Ia menjemput perempuan itu seperti biasa. Mereka berpelukan. Di sepanjang perjalanan ke Bogor tangan mereka saling menggenggam dan ia selalu bertanya-tanya apa yang dikatakan perempuan itu kepada suaminya sehingga lelaki itu memberikannya izin. Di meja itu, mereka duduk, bercakap-cakap hingga malam begitu larut, dan seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, mereka menghabiskan sisa malam di sebuah ruang yang sangat pribadi. Ia dan perempuan itu. Tubuh mereka yang menyatu.

Dan kini memikirkannya ia merasa kesedihannya bertambah. Baru saja perempuan itu mengatakan apa yang sedari tadi ditahan-tahannya, “Aku sedang hamil. Dalam beberapa bulan ke depan perutku akan membesar.” Ia tahu ia semestinya tak terkejut mendengar hal itu. Perempuan itu sudah bersuami sejak tiga tahun yang lalu dan jika benih yang tertanam di rahim perempuan itu bukanlah benihnya itu adalah sesuatu yang wajar. Benar-benar sesuatu yang wajar. Tapi entahlah. Ia justru merasa perempuan itu mengkhianatinya. Ia justru kecewa karena anak yang kelak akan dilahirkan perempuan itu bukanlah anaknya! Bukanlah anaknya!

“Kamu jangan bersedih,” kata perempuan itu.

Ia mencoba tersenyum, berusaha menunjukkan kepada perempuan itu bahwa ia tak apa-apa, bahwa ia memang tak bersedih, bahwa ia bisa mengerti dan sepenuhnya menerimanya.

“Apakah tahun depan kita akan bertemu lagi?” tanyanya.

Perempuan itu tersenyum, dan mengangguk pelan. Dan ia merasa kesedihannya kembali bertambah. Entah kenapa.

Barangkali sesungguhnya yang ia harapkan adalah kata “tidak”. Barangkali sesungguhnya yang ia harapkan saat itu: perempuan itu mengatakan padanya bahwa mereka tak akan pernah bertemu lagi. Tak akan pernah… bertemu lagi.

Ia tahu, jika perempuan itu datang lagi, ia tak mungkin tak menyambutnya. Sedangkan pada saat itu, perempuan itu telah seorang ibu, dan itu membuat semuanya tak lagi sama. Akankah saat itu ia bisa memperlakukan perempuan itu seperti biasanya, seperti pada pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya? Entah kenapa, ia ragu. Dan memikirkannya semakin membuatnya ragu. Tiba-tiba saja ia ingin benar-benar berpisah dari perempuan itu, namun di saat yang sama ia begitu menginginkan perempuan itu tetap berada di dekatnya, di mana ia bisa merangkulnya, menciumnya, mendekapnya…

Ia benar-benar bimbang. Ia menatap mata perempuan itu, lekat-lekat, seperti berusaha menemukan kebimbangan yang sama di dalam diri perempuan itu. Tapi perempuan itu justru berkata, “Kita akan bertemu lagi. Itu pasti. Tapi mungkin, tidak tahun depan.”

Ia berhasil memaksakan diri untuk tersenyum. Tangan perempuan itu begitu hangat di tangannya, dan ia memperkuat genggamannya. Di dalam benaknya ia membayangkan ia dan perempuan itu bertemu lagi dua tahun setelah malam itu, menanti dini hari lagi di tempat yang sama, menghabiskan sisa pertemuan mereka di sebuah ruang yang sangat pribadi. Ia dan perempuan itu. Tubuh mereka yang menyatu. Dan ia merasa, lagi-lagi, kesedihannya bertambah.

Barangkali mencintai seseorang adalah juga melepaskannya (dan melupakannya) di saat yang tepat. Dan pertemuan-pertemuan mereka itu, barangkali, hanya mampu menunda saat yang tepat itu datang. Begitulah akhirnya ia memikirkannya.

Dan ia pun berdiri. Sesungguhnya ia ingin sekali mencium perempuan itu, tepat di bibirnya, berkali-kali. Tapi yang dilakukannya kemudian hanyalah menatap mata perempuan itu. Lama. Lama sekali. Dan ia merasa malam tiba-tiba begitu dingin saat perempuan itu dengan pelannya berkata, “Aku… mencintaimu.”(*)

 

Cianjur-Bogor, 2013-2014

  

Ardy Kresna Crenata tinggal di Dramaga, Bogor.


Jendela dan Sore yang Gerimis

Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 21 September 2014)

Image413

(Gambar oleh Edward Ricardo Sianturi)

JAUH DI KEDALAMAN, air laut sebiru kelopak cornflower yang paling indah dan sejernih kaca kristal. Tapi laut itu juga sangat dalam. Lebih dalam daripada yang dapat dijangkau tali jangkar mana pun, dan banyak, banyak menara harus ditumpuk satu sama lain untuk mencapai permukaan laut. Di kedalaman itu hiduplah para penghuni laut….”

Lia mendengus kesal. Kalimat-kalimat itu sudah berulang kali dibacanya.

“Sekarang jangan menganggap hanya pasir putih di dasar laut. Tidak benar! Pepohonan dan bunga-bunga yang menakjubkan juga tumbuh di sana, dengan daun-daun dan ranting meliuk-liuk dalam air, seolah daun-daun dan ranting itu hidup. Segala jenis ikan, besar dan kecil, berenang di cabang-cabangnya, seperti burung-burung melayang melewati pepohonan….”*

Pembukaan cerita yang indah. Tapi Lia menutup buku itu dan menjauhkan kepalanya dari meja. Ia benar-benar merasa bosan!

Di luar masih turun hujan, atau mungkin gerimis yang lebat. Dari dua jendela nako di samping ranjang, cahaya yang tak terlalu terang menerobos ke kamar.

Lampu di kamar itu menyala.

Lalu apa yang harus kulakukan, tanya Lia dalam hati. Lagi, ia mendengus kesal. Ia kembali menatap buku yang menggeletak di meja. Judul buku itu Dongeng-Dongeng H.C. Andersen. Itu buku favoritnya. Ukurannya lebar, kertasnya putih-tebal, dan penuh gambar-gambar berwarna. Ia baru saja membaca dua alinea Puteri Duyung Kecil, salah satu dongeng kesukaannya. Tiap kali membaca dongeng itu, ia selalu membayangkan istana laut dengan dinding-dinding batu koral dan jendela panjang-melengkung. Tiap kali jendela-jendela dibuka, ikan-ikan menyerbu masuk seperti burung layang-layang. Atap istana tersusun dari cangkang kerang, yang membuka dan menutup seirama empasan air, dengan sebutir mutiara dalam tiap cangkang. Di taman istana, pohon-pohon berwarna merah dan biru tua. Pada cabang-cabangnya menggantung buah keemasan, sementara bunga-bunga menyemburat seolah nyala api di tangkai yang bergoyang.

Tapi ia sudah membaca dongeng itu berulang-ulang. Bahkan ia hafal dan bisa menyebut kalimat-kalimat dari beberapa alinea yang disukainya, dengan mata tertutup. Sore ini ia benar-benar bosan! Lalu ia menatap ke rak yang menyatu dengan meja. Di situ berderet rapi beberapa dongeng. Dongeng-Dongeng Perrault, Dongeng-Dongeng Grimm, Kumpulan Dongeng Dunia, dan masih beberapa lagi. Semuanya berukuran lebar, kertasnya putih-tebal, dan penuh gambar-gambar berwarna. Tapi buku-buku itu pun sudah berulang kali dibacanya.

Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, tanya Lia dalam hati. Ia lalu memandang ke lemari, rak boneka, dinding dan lantai di kamar itu, dan mataya menumbuk pada tas ransel yang menyandang ke kaki ranjang. Lia berpikir, apakah ia sudah menyiapkan perlengkapan untuk sekolah besok? Ia sudah merampungkan PR matematika. Ia sudah berbelanja ke toko kelontong tak jauh dari rumah, membeli benang wol dan kertas karton untuk pelajaran keterampilan. Kedua barang itu, beserta gunting dan penggaris, sudah dimasukkannya ke tas tenteng di samping ransel. Ia juga sudah meruncingkan pensil dan menambahkan dua buku tulis baru ke dalam ransel. Ia sudah menaruh seragam sekolah di ujung ranjang. Bahkan ia sudah mencuci piring bekas makan siang dan mengangkat jemuran, jatah rutinnya sehari-hari. Sekarang apa lagi?

Ah, seharusnya aku sudah di rumah Nita sekarang! Lia kelihatan jengkel. Ya, seharusnya aku sudah di rumah Nita. Nita kawan sekelasnya. Rumah Nita hanya berjarak dua gang dari rumahnya. Tadi siang di sekolah, Nita berkata ada mainan baru di rumah. Nita tak mau bilang mainan apa itu. Lebih baik kau ke rumahku, kata Nita. Tapi ia tak mungkin pergi, karena sejak satu jam yang lalu di luar hujan turun. Hujan, atau gerimis lebat itu, betul-betul membuatnya seperti terperangkap.

Lia menengok ke jam dinding di kamar. Hampir jam lima sore.

Atau, mungin aku bisa menonton film-film ini? Lia meraih beberapa kotak DVD di atas meja. Ada film kartun Beauty and the Beast, Lion King, Aladdin, lalu Snow White and the Seven Dwarfs, Little Mermaid…. Film-film yang disukainya, dan sudah berulang kali ditonton. Dari semua film itu, favoritnya adalah Little Mermaid, meskipun cerita di film berbeda dengan buku Dongeng-dongeng H.C. Andersen. Ia terutama menyukai sosok Putri Duyung Kecil. Rambutnya pirang panjang, matanya besar, dan wajahnya sangat cantik. Persis seperti yang dilukiskan H.C. Andersen. Tapi sore ini ia malas menonton film-film itu. Bukan karena bosan. Televisi dan pemutar DVD ada di lantai bawah, di depan meja makan, dan ia malas turun ke lantai bawah.

Lia kembali menatap buku-buku dongeng di rak yang menyatu dengan meja. Sebetulnya akhir-akhir ini ia enggan menyentuh buku-buku itu. Memang ada rasa bosan, seperti yang dirasakannya sekarang, tapi terlebih lagi karena ia bingung. Baginya, dongeng-dongeng itu mengajarkan banyak hal yang bertentangan dengan kata-kata orang tua atau guru-gurunya di sekolah. Ia tak tahu kenapa, tapi dalam dongeng-dongeng itu bertebaran banyak kekerasan. Misalnya dongeng Rapunzel. Sang pangeran didorong dari menara oleh nenek sihir. Pangeran jatuh berguling-guling dan menubruk semak berduri. Kedua matanya buta. Bukankah itu kekerasan?

Orangtuanya mengajarkan, jangan mencelakai orang lain. Kalau tidak, kau akan dihukum. Guru-guru di sekolah selalu menghukum anak-anak lelaki yang berkelahi, tak peduli siapa yang memulai. Tapi nenek sihir itu tidak diapa-apakan. Atau dongeng Pinokio. Kedua kaki Pinokio hangus terbakar di perapian, karena ia nakal. Ah, anak-anak memang nakal, kata Lia dalam hati. Banyak anak lelaki jahil dan nakal di sekolahnya. Kadang-kadang mereka dihukum berdiri di depan kelas. Tapi dibakar kakinya? Bukankah itu sakit? Bahkan pengarang favoritnya, H.C. Andersen, menceritakan kekerasan yang menakutkan. Misalnya dalam Batu Pemantik Api. Prajurit muda memenggal leher nenek sihir dan merebut hartanya.

Orang tuanya mengajarkan, jangan mencelakai, jangan mengambil barang orang lain. Lalu prajurit muda hidup berfoya-foya dengan harta nenek sihir. Orang tuanya mengajarkan berhemat dan tak mengambur-hamburkan uang. Terakhir, prajurit muda mengerahkan anjing-anjing raksasa yang muncul lewat batu pemantik api untuk menyerang istana, dan rakyat mengangkatnya menjadi raja. Bukankah itu kekerasan yang menakutkan?

Ia tak tahu, tapi ia juga tak bertanya pada orang tuanya.

 
LIA berdiri dari kursi. Ia mendekat ke dua jendela nako di samping ranjang. Di luar masih gerimis. Lantai papan kayu di bawah kakinya berkeriak-keriuk. Lantai itu dilapis karpet vinil yang kusam. Entah sudah berapa kali ia berjalan bolak-balik di lantai papan itu, tapi sampai hari ini ia masih merasa aneh. Mungkin ada juga rasa canggung. Kamar ini adalah kamarnya yang kedua. Plafon di kamar ini sudah kusam, dan di sudut dekat jendela ada noda-noda cokelat bekas bocor. Bentuknya melengkung-lengkung menyerupai pulau di peta buta. Dinding-dinding juga berwarna kusam dan melepuh pada dua-tiga tempat. Tetapi di kamar ini ada ranjang yang apik, dengan seprai bergambar tokoh-tokoh kartun. Bantal-guling yang empuk. Rak berisi boneka beruang memakai syal dan topi. Boneka anjing dalmatian. Boneka singa berkaus. Boneka-boneka yang lebih kecil. Lalu meja belajar dan lemari pakaian yang apik.

Ya, kamar ini adalah kamarnya yang kedua. Kamar ini jelas berbeda dengan kamar yang dulu, yang tak bisa lagi ditinggalinya. Lia tentu mengingat dengan jelas. Plafon di kamarnya dulu berwarna kuning cerah. Dua bidang dinding dicat merah, lalu dua bidang yang lain berwarna biru tua dan kuning tosca. Lalu ada jendela kaca menghadap ke taman yang hijau. Satu-satunya yang tak berubah hanya perabot-perabot itu. Ranjang, boneka-boneka, meja belajar dan lemari, yang memang dipindahkan ke kamar ini. Tiap kali ia memandang perabot-perabot itu, ia selalu teringat kamarnya dulu. Ia punya banyak kenangan manis di kamar itu, dan di rumahnya yang dulu.

Tetapi ia tak bisa lagi tinggal di kamar itu. Enam bulan lalu, ia menangis ketika orang tuanya memutuskan menjual kamar, rumah, berikut taman yang hijau itu. Mereka harus pindah dari kompleks pemukiman yang sejuk ke rumah ini, sebuah rumah tua di gang sempit yang sesak. Ia tak tahu kenapa. Kata Ayah, rumah ini adalah peninggalan kakek-neneknya. Jadi Ayah tak mau menjualnya. Tapi kenapa menjual rumah yang dulu, tanya Lia dalam hati.

Rumah ini memang lebih besar, tapi tak punya taman. Rumah ini juga tak berjendela, kecuali jendela-jendela besar di ruang depan dan dua jendela nako di kamar loteng. Rumah-rumah yang saling berimpit di kiri-kanan dan belakang gang itu memang tak memungkinkan banyak jendela. Sangat berbeda dengan rumahnya dulu, yang selalu ada bukaan jendela di riap ruang. Ruang depan, ruang makan, dapur, kamar tidur, dan bahkan kamar mandi. Karena itu sejak awal ia ngotot menggunakan kamar di loteng. Orang tuanya keberatan, karena ia harus naik-turun tangga setiap hari. Kau baru sembilan tahun, masih SD kelas empat, kata Ayah. Tetapi mereka mengalah. Dalam enam bulan ini ia juga membiasakan tidur tanpa pendingin ruangan. Hanya jika cuaca sangat panas, ia bergabung ke kamar orang tuanya di lantai bawah, satu-satunya kamar yang punya pendingin ruangan di rumah ini.

Sekarang Lia berdiri menghadap dua jendela nako itu. Sejenak ia melihat pantulan dirinya di jendela, meskipun terpotong-potong oleh kaca nako. Seorang gadis kecil berambut poni dan bermuka bulat. Tapi begitu ia memusatkan pandangan, ia melihat atap-atap berdempet dan gang sempit yang memotong ke arah rumahnya, di balik jendela. Ia juga melihat pagar besi di depan rumah. Di ujung gang tampak pagar tembok tinggi, dan di baliknya gedung bertingkat yang berlapis kaca. Langit, yang hanya kelihatan sepenggal di belakang gedung bertingkat itu, berwarna abu.

Aku tak bisa ke rumah Nita hari ini, katanya dalam hati. Hujan, atau gerimis lebat itu, masih mengguyur.

Tetapi Lia tersenyum. Sejak dulu ia memang menyukai jendela, karena baginya selalu ada kehidupan di balik jendela. Seperti membuka buku dongeng, membaca tulisan, dan melihat gambar-gambar, meskipun kenyataan yang ditemui tak selalu menyenangkan. Ya, kenyataan tak selalu menyenangkan, seperti juga dongeng-dongeng. Di kamarnya dulu ia biasa melihat cahaya matahari, daun-daun dan rumputan, atau mendengar sorak anak-anak dan sesekali suara mobil atau motor melintas.

Lalu ia melihat langit yang mulanya terang, pelan-pelan meredup, dan akhirnya gelap. Semuanya lewat jendela. Sekarang, dari kamarnya, ia melihat perempuan kurus dengan kelebat-kelebat merah di rambut menyeberang gang. Ia melihat lelaki berkulit cokelat-dekil dan rambut kebiruan berjalan membelakangi rumahnya. Mereka seperti tak peduli pada gerimis. Ia tahu lelaki itu, juga beberapa lelaki lain, kerap berkumpul di posko di depan salah satu rumah. Mereka biasa mengobrol sampai larut malam, kadang bernyanyi dan bermain gitar. Juga sampai larut malam. Posko itu pasti dibangun oleh salah satu partai politik, karena banyak atribut partai tertempel di situ. Dan di gang sempit, dalam enam bulan terakhir, ia kerap melihat ayahnya yang berpakaian rapi pulang dengan wajah suntuk. Agak malam, ia melihat ibunya berjalan dengan wajah yang letih.

Lalu dari balik jendela, ia melihat lampu-lampu dinyalakan. Juga lampu-lampu di atas gedung bertingkat. Sudah jam enam sore lewat. Lalu dari balik jendela, ia melihat cahaya-cahaya memantul di genangan air atau di atap-atap rumah yang basah. Di tengah gerimis, ia seperti melihat potongan-potongan warna. Merah, jingga, putih, biru… Indah sekali!

Lalu ia melihat ibunya di gang sempit itu, berjalan di bawah payung. Di depan rumah, ayahnya yang membuka pintu pagar dan mencium pipi ibunya.

Lia bersyukur dalam hati. Meskipun sesekali bertengkar, orang tuanya masih akur sampai hari ini. Hari ini sudah tiga tahun ayahnya tidak bekerja.(*)

  

* Dua alinea tercetak miring pada awal cerita ini adalah terjemahan dari The Little Mermaid karya H.C. Andersen, dari versi bahasa Inggris oleh Jean Hersholt.

  

Wendoko telah menerbitkan beberapa buku puisi, antara lain Jazz! (2012) dan Catatan Si Pemabuk (2014).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 96 pengikut lainnya.