Suara 12

Cerpen Taufik Ikram Jamil (Koran Tempo, 19 Oktober 2014)

Image434

(Gambar oleh Munzir Fadly)

MENUNGGU suara, hampir tak ada yang dapat mereka lakukan selain berbuat demikian. Sesuatu yang akan menjadi asbab keselamatan mereka secara paripurna—bertemu lagi dengan anak isteri, sanak-saudara, kawan-kawan, dan segala hal yang menyenangkan. Sesuatu yang telah membuktikan bagaimana langkah-langkah keselamatan tersebut telah dibuat.

“Tapi sudah lama sekali, mengapa suara itu tak terdengar juga,” kata Ihsan, satu dari empat orang warga yang hidupnya sudah di ujung tanduk. Tiga dari warga lain, yakni Nanung, Togar, dan Bilah, tidak menyahut perkataan Ihsan yang hampir terdengar sebagai keluhan.

Agaknya, oleh karena kalimat itu juga yang diucapkan Ihsan berkali-kali, Togar pun berujar, “Mungkin suara itu ada urusan yang mendesak, yang tak dapat ditinggalkan, mendadak lagi.”

“Urusan?” Ihsan balik bertanya.

“Ya, barangkali,” jawab Togar.

“Urusan kaubilang?”

“Dengarmu, apa?”

Ihsan tak menjawab pertanyaan itu.

“Bisa saja. Mungkin saja, setelah meletakkan kita di sini atas tuntunan suara itu, yang bersangkutan harus menyelesaikan sesuatu yang mendadak dan mendesak pula. Seperti kita dulu. Ada-ada saja yang menyita waktu kita, sampai kadang-kadang kita lupa dengan satu atau dua urusan,” jelas Nanung.

“Ah, tak mungkin itu,” sambut Bilah. “Tak mungkin suara tersebut berbuat demikian. Ia atau dia barangkali, harus memerioritaskan kita. Kita dalam keadaan yang berbahaya sekali, tidak tahu berada di mana dalam keadaan gelap yang luar biasa pula,” sambungnya.

“Pakaian yang telah kering di badan, dengan rasa lapar dan haus yang demikian tinggi, belum lagi nyamuk yang dua kali sekejap menghisap darah, wah… Kita memang harus didahulukan dari yang lain. Usah payah-payah, tuntun saja kita ke tempat yang ada orangnya, ke suatu tempat sebagaimana ia telah membawa kita ke sini,” balas Ihsan.

“Entahlah, malas bertengkar dengan kalian,” kata Togar.

“Ini bukan bertengkar, tetapi membicarakan bagaimana ada pihak yang sampai hati menyuruh kita menunggunya dalam keadaan parah semacam itu,” Bilah tak mau diam.

“Ya, usah ditunggu kalau begitu,” sambut Togar.

“Duh. Kalau saja aku dapat melihatmu, mau rasanya aku tinju moncongmu itu,” umpat Bilah.

“Hehehe…”

“Ketawa lagi!”

“Habis, bagaimana lagi kawan. Menunggu inilah yang pasti, sementara kita memang tak bisa berbuat lain. Nasib orang menunggu, memang begitu. Apalagi kalau kita dalam keadaan jauh dari normal semacam ini. Menunggu pacar yang cantik molek saja akan terasa berjam-jam, padahal waktu yang dilewati dalam menunggu itu hanya sepuluh menit. Betuk tak?”

 
SEPI lagi, tetapi masing-masing dari mereka memasang telinga lebar-lebar, mana tahu suara tersebut menjelma, suara yang mengarahkan mereka untuk bergerak, menuju keselamatan. Dalam posisi duduk di atas tanah, selain menunggu suara itu, tak ada lagi yang mereka tahu tentang keadaan diri dan lingkungan mereka. Malahan, mereka tidak tahu, di mana sebenarnya mereka berada—di ruangankah atau di sebuah tempat terbuka. Dalam gelap yang amat sempurna, mereka juga tidak dapat melihat diri mereka sendiri, apalagi memandang sesamanya.

“Kenapa lama sekali ya…” ujar Bilah.

“Nanung, Nanung. Mengapa engkau tak bicara?”

Yang ditanya hanya mendehem.

“Engkau sakit?”

Mendehem lagi.

“Ah…,” Ihsan mengeluh panjang.

Togar berpura-pura batuk seperti hendak menyetel suaranya. “Sekarang masih untung,” katanya parau.

“Masih untung kau bilang?” tanya Ihsan.

“Entah macam mana orang ini berpikir. Seperti ini masih dikatakan untung? Untung apanya?”

“Setidak-tidaknya ada yang kita tunggu. Ada sesuatu yang jelas kita tunggu, meski bukan wujud yang kita kenal sehari-hari. Hanya suara, ya hanya suara yang dengannya kita merasa lebih tenteram,” jawab Togar.

“Duh…”

“Bayangkan saja ketika kita tergapai-gapai di laut, lebih dari dua hari. Memang kita menunggu, tetapi yang kita tunggu itu tidak jelas. Kita menunggu, ada sampan atau kapal atau apa sajalah namanya yang menyelamatkan kita. Tetapi apa?” Kisah Togar.

Dia mengatakan, tidak sekali dua kapal tanker lewat dalam pandangan mereka. Tetapi awak kapal-kapal besar itu seperti tidak peduli dengan keadaan mereka yang terkatung-katung di laut luas. Lambaian, teriakan, dan entah apa lagi yang mereka lakukan untuk mengambil perhatian manusia di dalam tanker, sama sekali tidak berbalas sedikit pun. Mungkin benar juga, awak-awak sejumlah tanker itu tidak melihat mereka, sehingga lewat begitu saja, tetapi jelas bahwa penungguan mereka yang tak pasti itu pun berakhir dengan ketidakpastian pula.

Suatu malam yang gelap tanpa bintang, tanpa cahaya, tiba-tiba mereka mendengar suara. Suara itu mengatakan agar mereka saling berpegang sambil berenang pelan-pelan, kemudian mengikuti suara dalam bimbingan satu kalimat, “Terus… terus… terus dan terus…”

Tak ada keraguan sedikit pun, juga terhadap tenaga mereka yang sudah hampir habis, tetapi masih diminta untuk tetap bergerak—berenang pelan-pelan. Tapi pasti mereka menjangkau suatu tempat yang mungkin tidak di laut, entah berapa lama kemudian. Sepakat mereka mengakui bahwa harapan hidup tentu jauh lebih besar di tempat itu, dibandingkan ketika mereka masih berada di dalam lautan. Mereka bisa bernapas seperti biasa, pun bergerak sebagaimana lazimnya, jelas sebagai sesuatu yang berlawanan dari kondisi sebelumnya, kondisi di dalam laut.

“Jelaslah suara itu memberikan kita harapan hidup lebih besar dibandingkan sebelumnya. Kemudian ia meminta kita menunggunya agar harapan besar tersebut menjadi kenyataan. Ini masih beruntung namanya. Coba saja kalau suara itu tidak muncul, bisa-bisa harapan kita pun menghilang bersama napas dan tenaga kita yang ditelan oleh waktu,” jelas Togar.

 
DENGAN harapan yang tercipta bersama suara itu, tentu tidak berlebihan kalau mereka berempat membayangkan kembali berada di kampung, bertemu dengan sanak-saudara dan handai-taulan sekalian. Mereka pun akan menjalani hari-hari biasa sebagai bapak dari sejumlah anak, tentu pula sebagai suami dari seorang perempuan. Mencari nafkah, bergaul, dan segalanya, sebagaimana yang mereka tempuhi selama ini.

“Tapi aku tak akan buat pekerjaan ini lagi. Cukuplah sudah,” kata Ihsan.

Pernyataan Ihsan tersebut mengambang begitu saja, sebab tak seorang pun di antara mereka yang memberi komentar—apakah mengiyakan atau menyanggah. Padahal, sejak bujang-bedengkang lagi, mereka bekerja dalam satu tim, menyelundupkan apa yang bisa diselundupkan ke Malaysia. Istilah orang setempat adalah semokel, diserap dari istilah Belanda smokkel.

Hasil hutan, rokok, sudah menjadi barang biasa untuk pekerjaan ini, sempat juga mereka membawa bensin dan solar. Pulang dari tanah besar itu, mereka tak hanya membawa pakaian bekas, tetapi juga beras, bahkan semen yang harganya lebih murah dibandingkan di kampung mereka sendiri. Suatu pekerjaan yang memberi faedah besar bagi orang kampung karena jaminan ketersediaan barang-barang keperluan sehari-hari dengan harga yang mereka inginkan yakni lebih murah dibandingkan dengan barang-barang serupa dari tanah Sumatera.

Dengan berbagai cara, mereka selalu sukses menjalankan pekerjaan itu. Tapi untuk tak dapat diraih, malang memang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan menggunakan pompong sekali itu, menjelang subuh di perairan internasional dalam kawasan Selat Malaka, alat angkutan mereka yang membawa kayu, dihantam gelombang besar, memuntahkan semua isi pompong, bahkan mereka sendiri. Dalam kegelapan, tak ada yang dapat mereka raih kecuali mengandalkan tenaga sendiri untuk tidak tenggelam.

Seperti tiba-tiba saja semuanya itu terjadi, seperti tiba-tiba saja. Pasalnya, gelombang besar tersebut menggemuruh hanya sekali, kemudian tinggal riak sebelum benar-benar tenang. Dalam kekalutan, hanya Nanung yang sempat teringat bahwa gelombang itu, jangan-jangan terjadi sebagai dampak tsunami walaupun ia tak tahu di mana bencana alam tersebut terjadi. Ketika tsunami di Aceh, kawasan ini juga sempat bergolak macam itu. Tapi tidak dilayaninya ingatan tersebut, sebab ia harus bergegas menyelamatkan diri sebelum semuanya terlambat.

Mereka saling panggil dan merapat, berusaha untuk tidak terlepas antara satu dengan lainnya. Sepotong dayung cadangan, kalau-kalau mesin pompong rusak, sangat membantu usaha tersebut. Nasihat-menasihati, menjadi semacam sedia kala ada yang mencerminkan senasib dan sepenanggungan, berbuah tanggung jawab diri masing-masing untuk senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain. Oleh karena perasaan tersebut serupa dan sebangun di hati masing-masing sekawanan pedagang lintas batas itu, mereka pada gilirannya berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain.

 
CERITA punya cerita, dalam kepayahan berhari-hari di laut, dalam kegelapan yang entah bagaimana dan begitu lama mereka rasakan, tiba-tiba muncullah suara itu. “Biar kutolong. Tetaplah saling merapat, bila perlu saling rangkul.”

“Engkau? Siapa engkau?” tanya salah seorang dari kawanan berempat itu, Bilah.

Togar cepat menimpali pertanyaan Bilah dengan mengatakan, yang paling penting sekarang itu adalah bagaimana mereka dapat diselamatkan, tidak perlu mengetahui siapa pemilik suara itu. Gagasan ini ternyata diterima bulat-bulat oleh sekawanan lelaki tersebut. Sebab, jangankan mengetahui pemilik suara, wujudnya saja mereka tidak dapat melihat. Malahan, mereka juga tidak dapat melihat sesama mereka.

Terhadap diri sendiri pun, mata mereka masing-masing tak mampu berperan sebagi alat pemandang. Istilahnya, keadaan memang gelap-mengakap, tak sekedar gelap gulita. Hanya hembusan napas mereka masing-masing yang memberi tanda keberadaan tubuh mereka selain segala yang mereka ingat terhadap tubuh mereka sendiri.

“Ayo, cermati dari mana arah suaraku. Walau dalam keadaan gelap mengakap, pandangan kalian masih bisa kalian arahkan kepada dari mana arah datangnya suaraku. Ayo. Terus, terus…,” lanjut suara itu yang diikuti orang berempat tersebut tanpa begitu susah-payah. Sampailah mereka pada suatu tempat yang bukan laut sebagai mana mereka rasakan, setidak-tidaknya tak lagi mereka rasakan genangan air, sedangkan kaki mereka menginjak sebuah dataran.

“Tapi nanti dulu. Tunggu aku, tetaplah saling merapat. Aku akan datang lagi, sampai kalian benar-benar selamat dari bencana ini.”

Cuma, itulah tadi, kepergian suara tersebut lama sekali. Ini membuat suasana hati empat sahabat itu menjadi kacau-balau. Keluhan dan saling bantah, tak dapat dihindarkan. Apalagi Ihsan dan Bilah yang hampir sama-sama emosional, terlebih disebabkan suasana yang tidak cukup untuk dilukiskan melalui kata-kata “amat tidak nyaman”. Upaya Togar yang coba bersikap arif terhadap peristiwa ini, sebaliknya mereka tanggapi sebagai orang tak jelas, tak memiliki rasa empati terhadap penderitaan sesama. Nanung yang hanya diam saja, mereka nilai serupa saja dengan perilaku Togar walau dalam bentuk pasif.

Ketika perbedaan tersebut hampir meledak menjadi adu jotos, terdengar suara meminta maaf. “Agak lama memang, sebab aku terpaksa menyelesaikan suatu masalah gawat.”

“Tapi, kami lebih gawat lagi, menunggumu seperti tanpa ujung dalam keadaan yang benar-benar berbahaya dan tak jelas.”

“Sudah, usah diperbincangkan. Yang pasti, suara itu akan membawa kita untuk sebuah keselamatan. Benar, kan?” Tanya Togar yang diarahkannya kepada suara.

Diam sekejap.

“Tak ada yang lebih gawat daripada penjual-belian suara yang kini terjadi pada diriku dan harus aku selesaikan tadi,” terdengar suara seperti berbisik.

“Ha, benar, kan? Dia ini bukan manusia, bukan manusia!” teriak Nanung, yang dari tadi hampir tak pernah berbicara. Ia segera menyeret kawan-kawannya untuk menghindar dari suara itu tanpa pikir panjang, sambil tak henti-henti berujar dengan setengah menjerit, “Tolong… tolong…”

Begitulah akhir cerita empat orang yang terdengar di kampung kami di pinggiran Selatbaru, Bengkalis, sebelum mereka benar-benar siuman, belum lama berselang. Kami berusaha menolong mereka semampunya, sampai mereka kami hantar pulang ke kampung mereka sendiri di Pulau Padang. Bagaimana duduk perkara sebenarnya, tidak pula saya tahu. Nanung yang menuturkan kejadian ini, mulai dari awal sampai datang dan perginya suara tersebut kepada saya, tidak pula menceritakannya lebih rinci dari itu. Kelak kalau bertemu dia nanti, saya gali lagi cerita ini sampai tidak ada satu pun pertanyaan yang tersisa sehubungan dengannya, insya Allah. Ya, begitu banyaknya pertanyaan, begitu banyakya…(*)

  

Taufik Ikram Jamil bermukim di Pekanbaru, Riau. Buku-buku cerita pendeknya adalah Sandiwara Hang Tuah (1996), Membaca Hang Jebat (2000), dan Hikayat Batu-Batu (2005).


Kematian Kedua

Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 12 Oktober 2014)

Image429

(Gambar oleh Munzir Fadly)

BUKAN kematian mengejutkan si Pak Guru John Keating dalam Dead Poets Society yang pernah memukaumu dengan mantra “Carpe diem!” yang membuatku menuliskan kisah ini. Bukan pula “Smells Like Teen Spirit” yang kudengar lagi setelah bertahun-tahun dan membuatku terbayang sosok urakan Kurt Cobain yang pernah membuatmu tergila-gila sebelum dia menarik pelatuk maut untuk mengakhiri hidupnya yang muda dan murung.

Sesungguhnya, aku menuliskan kisah ini karena tak sengaja kutemukan lagi buku lama Paulo Coelho yang judulnya menyitat nama depanmu dan kau serahkan kepadaku setelah dengan susah payah aku berhasil membujukmu mengurungkan niat bunuh diri.

Veronika, di halaman pancir buku itu kubaca lagi tulisanmu yang bertinta biru dan kaukutip dari Alkitab: “Lalu aku melihat takhta putih yang besar dan Dia yang duduk di atasnya. Dan aku melihat orang-orang mati berdiri di depan takhta itu. Lalu dibukalah semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yakni kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab itu. Lalu maut dan kerajaan-kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu dilemparkan ke dalam lautan api. Barang siapa menang, dia tak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.”

Kutipan itu membuatku terkenang pada dua kematian terawal dalam hidupku.

 
Kematian Pertama

KEMATIAN pertama dalam hidupku adalah kematian bapakku. Saat itu usiaku baru genap sembilan tahun. Tubuh bapakku yang semula subur menjelma kurus rapuh setelah bertempur bertahun-tahun melawan kanker tulang belakang. Pada suatu sore tubuh ringkih itu melepas nyawa. Begitu nenekku memekik menyerukan kepergiannya, sanak-saudara yang berkumpul di rumah istri tua bapakku meledak dalam tangis. Aku semula hanya tercenung. Tapi seorang sepupu perempuanku yang telah dewasa menubruk dan mendekapku seraya berurai air mata sehingga aku pun jadi ikut menangis.

Yang kuingat, sore itu begitu murung. Jenazah bapakku yang diselubungi kain batik dibaringkan di ruang depan yang segala perabotannya sudah disingkirkan agar orang banyak bisa leluasa duduk bersila. Aku duduk diam bersilang kaki di dekat kepala bapakku. Belum pernah rasanya aku sesedih itu. Besok tubuh bapakku bakal dikuburkan dan aku tak akan dapat lagi bertemu dengannya. Bayangan itu saja sudah cukup memedihkan. Aku terus duduk di situ hingga malam larut dan kantuk mendera. Ibuku membimbingku ke sebuah kamar lalu aku pun tertidur di atas kasur.

Esok paginya lebih banyak lagi orang berkumpul di rumah masa kecilku yang saat itu ditempati ibu tiriku. Sebelum jenazah digotong ke makam, kami sekeluarga berjalan di bawah keranda berhias selubung hijau bertuliskan huruf Arab dan roncean melati wangi yang dijunjung tinggi-tinggi oleh empat lelaki dewasa. Lalu aku diminta mencuci muka dengan segayung air yang tersisa dari bekas memandikan jenazah bapakku.

Rombongan pengantar jenazah begitu banyak sehingga barisannya memanjang amat jauh. Saat keranda telah sampai ke liang lahat, ekor barisan masih berada di halaman rumah duka yang berjarak sekitar lima belas menit berjalan kaki. Karena aku tak berpengalaman dalam hal ritual kematian (dan bahkan hingga saat itu belum pernah sekalipun pergi ke kuburan), kuduga semua orang yang meninggal pastilah diantarkan sebegitu banyak orang. Kelak aku tahu tak semua orang yang mati ditangisi dan diantar banyak orang. Kelak ibuku bercerita, budi baik bapakku membuatnya dicintai banyak orang sehingga amat ramai yang mengantar kepergiannya dan memberikan penghormatan terakhir dengan berdoa di pusaranya.

Setelah kematian pertama itu, aku berubah menjadi pemurung. Aku yang semula menyukai warna-warna merah dan putih, perlahan-lahan berubah menjelma pecinta warna-warna biru dan hitam.

 
Bukan Kematian Benar yang Menusuk Kalbu

LEBIH dari setahun kemudian, aku mengalami kematian kedua dalam keluargaku. Saat itu ibuku, aku, dan adik perempuanku telah pindah ke ibu kota untuk tinggal bersama suami ibuku dan anak perempuannya yang lebih tua dariku.

Dan seperti yang dikatakan seorang penyair, dalam peristiwa ini sesungguhnya bukan kematian benar yang menusuk kalbu.

Pada suatu pagi buta ibuku membangunkanku. Dalam kabut kantuk ibuku menyuruh aku dan adikku segera mandi. Kami akan pergi ke Bandung. Dengan wajah sedih ibu memberitahuku bahwa Mbah Kung meninggal semalam dan kami berharap bisa sampai di rumah duka sebelum pemakaman dilangsungkan. Yang membuatku senang, hari itu aku tak usah bersekolah.

Saat hendak mandi dan beranjak dari kamar, kulihat dalam keremangan ruang tamu Pakde Baran—kakak ibuku satu-satunya—tengah duduk sambil merokok dengan wajah tegang. Aku menangkap suasana yang genting. Saat aku selesai mandi, Pakde Baran sudah tak ada, pergi mendahului kami menuju Bandung.

Dalam suasana pagi yang dingin dan muram kami berempat—papa tiriku ikut, tapi anaknya tidak—berangkat ke Stasiun Gambir tanpa banyak bicara, bahkan kami tak sempat sarapan.

Mbah Kung adalah kakak lelaki ibunda ibuku. Dengan kata lain, dia pakde ibuku. Karena ayahanda ibuku yang kelasi meninggal saat ibuku masih dalam kandungan nenekku—konon karena kapalnya dibom Jepang di Laut Jawa—sejak kecil ibuku diasuh oleh Mbah Kung dan istrinya yang tak punya anak. Ibuku menjadi anak kesayangan Mbah Kung yang ketika ibuku remaja adalah salah satu pengusaha kaya di Bandung.

Semula Mbah Kung yang ganteng, berkulit terang, dan berperawakan ramping gagah itu adalah perwira tentara Siliwangi yang bertempur melawan pasukan Belanda pada masa revolusi. Saat terjadi long march prajurit Siliwangi dari Jawa Barat ke Yogyakarta menyusul Perjanjian Renville tiga tahun setelah proklamasi kemerdekaan, ibuku yang belum genap enam tahun ikut Mbah Kung mengungsi dengan berjalan kaki menembus hutan di tengah desingan mortir dan peluru. Ketika Belanda kalah dalam perundingan dan perusahaan-perusahaan milik orang Belanda dinasionalisasikan, Mbah Kung termasuk di antara para perwira yang ketiban pulung mendapat saham perusahaan asing yang diambil-alih. Dia berhenti jadi tentara dan hidup nyaman sebagai pengusaha.

Ketika ibuku berusia belasan, usaha Mbah Kung jatuh bangkrut akibat dia ditipu orang dan tak lama kemudian perusahaannya gulung tikar. Kehidupannya berubah cepat dari semula naik sedan Impala jadi naik becak. Mbah Kung terpaksa menggantungkan penghidupan hanya dari uang pensiun sebagai bekas kapten. Pada saat inilah ibuku dijodohkan dengan seorang pegawai pemerintah yang berusia dua kali lipat umurnya. Perkawinan mereka bertahan hingga empat belas tahun dan menghasilkan delapan anak. Tiga tahun setelah bercerai, ibuku menikah dengan bapakku. Setahun kemudian, pada tanggal sembilan bulan kemerdekaan, aku lahir sebagai anak sulung bapakku dan anak kesembilan ibuku.

Sejak usahanya bangkrut, Mbah Kung jadi perenung akut dan banyak berdiam di rumah bersama Mbah Putri yang jadi sakit-sakitan. Belakangan Mbah Kung tertarik memperdalam ilmu agama dan bergabung dengan sebuah tarekat sufi. Sebelum dibaiat menjadi anggota tarekat ini, Mbah Kung diharuskan berpuasa khusus. Di samping nasi dan garam serta minum air bening, dia hanya diperbolehkan memakan kacang-kacangan atau bahan makanan yang tumbuh di dalam tanah. Setelah empat puluh hari berpuasa macam itu, Mbah Kung disumpah sebagai anggota tarekat itu dan bersetia kepada guru mursyidnya yang dipanggil Syekh.

Kata ibuku, Syekh ini orang saleh yang telah mencapai ilmu makrifat; ia paham segala hakikat penciptaan, kejadian, dan kehidupan. Dia bahkan tahu kapan hendak dipanggil Yang Mahakuasa. Beberapa hari sebelum wafat, sang Syekh berpesan kepada istri dan para pengikutnya bahwa pada hari anu jam anu dia akan pulang ke tempatnya yang sejati. Konon, betul saja pada waktu yang telah dikatakan itu dia meninggal dengan tenang. Seulas senyum tersungging di bibir dan aroma wangi menguar dari jenazahnya. Kabarnya, tarekat ini memang mengajarkan pertanda orang akan mati yang hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Kila-kila kematian ini terkait dengan ungkapan sedulur papat lima pancer dan tujuh lubang pelepasan ruh di seluruh tubuh: telinga, hidung, mulut, mata, alat kelamin, dubur, dan pusar.

Kata ibuku pula, sejak bergabung dengan tarekat itu kehidupan Mbah Kung jadi berubah. Dia yang semula flamboyan dan abangan jadi rajin beribadah. Beberapa tahun kemudian, para tetangga di sekitar rumah barunya yang lebih kecil di sebuah gang (setelah ia menjual rumah besarnya untuk menutupi utang-utang akibat usahanya yang bangkrut) mengenalnya sebagai ahli agama. Dia kerap diminta memimpin doa, berceramah, bahkan mengimami salat berjamaah.

Maka, tak heran bagiku jika ibuku amat bersedih mendengar kematian Mbah Kung yang sudah serupa ayah sendiri baginya. Namun, Jumat pagi itu kala menunggu keberangkatan kereta api di peron stasiun, kurasakan ada sesuatu yang ganjil dalam kesedihan ibuku yang terus bermuka mendung sejak berangkat dari rumah. Sesekali ibuku berbisik seperti berbicara kepada diri sendiri, “Kenapa?”

Satu kali, dengan kepolosan anak kecil kusentuh lengan ibuku dan kusapa, “Kenapa Ibu sedih sekali? Kan sudah wajar kalau orang setua Mbah Kung meninggal?”

Di luar dugaanku, ibuku menatapku tajam lalu berkata setengah berbisik tapi dengan nada genting, “Ini tidak wajar. Mbah Kung meninggal bunuh diri.”

Aku terkejut lalu terdiam dan tak berani bertanya lebih lanjut. Dalam perjalanan dengan kereta api melintasi pegunungan Jawa Barat yang pemandangannya dihiasi lembah indah dan rimba hijau, kami lebih banyak berdiam diri. Di sisi kiriku papa tiriku duduk diam membaca koran. Di punggung koran terbaca berita Arseto mengalahkan Niac Mitra lewat gol tunggal Ricky Yacob. Di depanku ibuku terus memasang wajah galau. Adikku tertidur di pangkuan ibuku. Aku melamun mengenang sosok Mbah Kung.

Apakah yang membuat orang sampai bunuh diri? Kesedihan? Kebosanan? Ketakutan?

Kata guru agamaku di sekolah, bunuh diri itu dosa besar. Orang yang mati bunuh diri akan masuk neraka. Neraka itu api yang menyala-nyala, jurang nista tempat orang-orang yang berdosa dan tak beriman dihukum selama-lamanya kelak setelah dunia kiamat.

Aku ingat Mbah Kung sesekali menjemput aku dan adikku sepulang sekolah. Setiap kali dia menjemput kami, dia selalu berpakaian bagaikan sinyo Belanda di film-film akhir pekan: ia mengenakan baju setelan lengan panjang putih dan celana putih yang disetrika licin, topi bundar gaya bos perkebunan Preanger zaman lampau, berkacamata hitam, dengan tongkat rotan dan sepatu kulit berkilat.

Kami tak pernah senang jika dijemput Mbah Kung sebab dia selalu mengajak kami berjalan kaki sampai jauh sekali sampai kaki kami pegal-pegal. Setelah kami betul-betul lelah dan terpaksa merengek menyerah, barulah kami diajaknya naik angkot menuju rumah.

Sebelum kami pindah ke ibu kota, rumah kami di batas selatan kota terletak berdekatan. Tepatnya berpunggungan. Rumah Mbah Kung menghadap ke timur, rumah kami ke barat. Itu karena Mbah Kung berhasil membujuk ibuku membeli rumah kosong di belakang rumahnya dengan uang warisan hasil penjualan mobil dan rumah kami dahulu setelah bapakku meninggal—tentu setelah dikurangi pembayaran utang-utang yang menumpuk sejak bapakku jatuh sakit. Sejak ibuku menikah lagi setahun setelah bapakku meninggal, rumah kami disewakan.

Saat kami tinggal berdekatan, bisa dibilang tiap hari Mbah Kung yang tampaknya kesepian di hari tuanya—walau tinggal bersama Mbah Putri—berkunjung ke rumah kami. Ada saja alasannya. Salah satunya, mengajakku sembahyang di masjid. Terkadang dia hanya datang lalu duduk di kursi panjang dan menceramahi ibuku atau aku dan adikku tentang agama. Aku yang kerap bosan kalau dia sudah berceramah soal agama biasanya menyelinap ke dalam kamar untuk membaca komik silat.

Tapi kalau Mbah Kung datang untuk mendongeng, aku betah mendengarkan. Salah satu dongengnya yang kuingat adalah kisah Dewa Ruci tentang Bima yang mencari diri yang sejati hingga jauh ke dasar samudra. Pernah pula dia bercerita tentang orang-orang yang dia kagumi, seperti Pangeran Suryomentaram, Raden Panji Sosrokartono, Bung Karno, dan Charlie Chaplin, bintang film kesukaannya yang pernah berkunjung ke Bandung dan menginap di Hotel Preanger.

Sesekali Mbah Kung mengisahkan riwayat keluarga, misalnya tentang ayahnya yang tentu saja adalah eyang buyutku. Menurutnya beliau adalah keturunan ningrat dari Kotagede, Yogyakarta, yang menjadi pegawai terhormat di zaman Belanda. Beliau bekerja sebagai kasir di kantor jawatan kereta api di Bandung. Nama resminya adalah Raden Mas Sastro Prawiro. Karena bekerja sebagai kasir, beliau lebih dikenal sebagai Mas Sastro Kassier.

Konon, Eyang Sastro-ku itu ganteng dan gagah perwira sehingga disukai banyak wanita. Kubayangkan wajah dan perawakan Eyang Sastro itu serupa Mbah Kung yang masih tampak gagah pada usia enam puluh tiga.

Kata Mbah Kung, eyang buyutku itu beristri banyak. Itu sebabnya Mbah Kung dan nenekku berbeda ibu. Nenekku adalah satu-satunya anak perempuan dari dua belas bersaudara. Saat aku mengenal Mbah Kung, di antara kedua belas bersaudara itu hanya tersisa mereka berdua. Mbah Kung yang anak kesebelas dan nenekku yang bungsu.

 
Wajahnya Tampak Bercahaya-Cahaya

KAMI tiba di rumah Mbah Kung menjelang tengah hari. Di sana sudah berkumpul banyak orang yang sebagian besar tak kukenal. Ada pula beberapa polisi berseragam. Di dalam rumah, ibuku bertangis-tangisan dengan Mbah Putri dan kerabat kami lainnya.

Kudengar Bude—istri Pakde Baran—bercerita kepada ibuku bahwa Mbah Kung mengakhiri hidupnya secara diam-diam dengan menenggak cairan pembasmi serangga. Mbah Putri menemukannya sudah tak bernyawa dengan mulut berbusa di ruang belakang rumah menjelang tengah malam. Di dekatnya, memang bekas cairan itu, yang tumpah ke lantai.

Kenapa Mbah Kakung tidak memilih cara lain? Misalnya gantung diri. Atau memotong urat nadi di pergelangan tangan. Atau yang kurasa tidak menyakitkan: minum obat tidur dosis tinggi.

Tak lama setelah kami datang, jenazah dibawa ke pemakaman yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Mbah Kung. Di antara rumah itu dan pemakaman terdapat tegalan, lapangan rumput tempat ibu-ibu kerap bermain bola voli pada sore hari, kali kecil yang airnya bening sehingga di tepi-tepinya terkadang bisa terlihat rajungan kecil kelayapan, kebun-kebun tak terurus, serta semak-semak liar.

Aku ikut bergabung dengan rombongan pengantar yang jumlahnya tak sebanyak mereka yang mengiringi kepergian bapakku. Ibuku tak ikut, memilih beristirahat di rumah Mbah Kung; ia begitu lelah setelah terlalu banyak menangis. Adikku menemani ibuku. Papa tiriku pamit untuk kembali ke ibu kota karena katanya ada rapat sore nanti di kantornya. Pada siang yang terik itu, setelah jenazah dikebumikan dan doa-doa dibacakan, nisan pun ditancapkan. Di antara orang-orang aku tercenung di depan makam. Kutatap tunggul kayu bertuliskan namanya: Rahman S. Prawiro (1921-1984).

Aku membayangkan apakah yang dipikirkan Mbah Kung pada detik-detik terakhirnya, sesaat sebelum ia menenggak cairan laknat itu. Apakah yang dia rasakan saat mau menjemputnya? Apakah Mbah Kung sempat melihat kilasan saat-saat indah masa lalunya ketika ajal menjemput, seperti yang pernah kulihat di sebuah film? Apakah dia menyesal? Apakah dia bahagia?

Bagaimana mungkin seorang ahli agama yang tampak bijaksana dan rajin beribadah seperti Mbah Kung memilih jalan pintas dengan bunuh diri? Apa yang membuatnya putus asa? Apakah dia begitu kesepian sejak kami—ibuku, aku, dan adikku—berpisah darinya? Apakah dia kangen dengan kekasih masa lalunya yang sudah tiada? Apakah ini salah setan yang telah menggodanya sehingga nekat menempuh jalan nista?

Dalam perjalanan pulang dari makam, aku berjalan diam-diam di belakang Pakde Baran. Setelah sekian lama, sejak pertama kali mendengar kabar kematian Mbah Kung di pagi buta, baru saat itulah aku benar-benar merasa berduka. Ada sesuatu yang terasa sakit di dadaku serta membuat kerongkonganku kering dan lidahku kelu dan bola mataku basah. Aku terkenang wajah Mbah Kung yang selalu tersenyum riang ketika menjemputku pergi ke mesjid walau aku lebih sering malas-malasan memenuhi ajakannya. Jika sedang tersenyum, wajahnya tampak bercahaya-cahaya.

Kutatap kilasan pohon-pohon jarak dan semak luntas di tepi jalan tanah kering berdebu. Sesekali aku menunduk, mengusap air mata yang merembes. Aku teringat saat beberapa hari sebelum kami meninggalkannya untuk pindah ke ibu kota entah kenapa Mbah Kung tiba-tiba berkata: “Jodoh, rezeki, dan maut itu ada di tangan Tuhan.”

Waktu itu aku menangkap sesuatu yang ganjil di wajahnya. Seraya berkata begitu, bibirnya tersenyum. Tapi tak seperti biasanya, wajahnya tak bercahaya-cahaya.

 
Terlalu Cantik untuk Hidup Merana

VERONIKA, sayang sekali saat itu aku tak cukup peka untuk menghapus kesedihan Mbah Kung. Jika aku berhasil membuatmu mengurungkan niat untuk mencabut nyawamu sendiri—setidaknya untuk sementara waktu—karena orangtuamu tidak mau melepas kau untuk menikah dengan aku yang tak mungkin pergi ke gereja, maka aku gagal mencegah Mbah Kung mengakhiri hidupnya. Kini semua sudah terlambat. Mbah Kung telah pergi meninggalkan percikan kenangan, begitu banyak pertanyaan, dan kesedihan yang entah kapan akan terlupakan.

Aku tahu kelak jiwamu tak akan menderita apa-apa oleh kematian kedua, walaupun tiga tahun setelah kau serahkan buku itu kepadaku kau memutuskan untuk menenggelamkan diri di sebatang sungai—seperti akhir yang dipilih si misterius Virginia, pengarang favoritmu yang kaubilang terlalu cantik untuk hidup merana—setelah kau menerima kabar pernikahanku. Sebab, aku tahu, sesungguhnya di dasar segala kesedihanmu yang tak pernah kau kehendaki ada, tersimpan senoktah cinta yang tulus dan suci.(*)

Antapani, Agustus-September 2014

  

Anton Kurnia bekerja pada penerbit Serambi, Jakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Insomnia (2004).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.