Keluar

Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 22 Juni 2014)

Image369

(Gambar oleh Munzir Fadly)

NICELI keluar rumah pukul delapan pagi. Ia masih ingat bunyi mangkuk jatuh. Itu mangkuk kesayangannya. Mangkuk yang tidak boleh pecah. Tapi semua sudah terjadi. Pecahan-pecahan mangkuk itu bahkan masih berserakan di lantai saat ia meninggalkan rumah.

Dengan muram ia memandang jalan sambil terus memikirkan apa yang akan dikatakan Norm jika tahu mangkuk itu sudah berakhir? Ia menapaki jalan; satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah dan entah nanti sampai berapa saat akhirnya ia berbalik lagi. Bunyi mangkuk jatuh tidak juga pergi dari kepalanya. Bunyi yang mendekam dalam kepala dan muncul berulang-ulang.

“Cukup,” desisnya sambil memejamkan mata, “Pergilah dari kepalaku.”

Ia bernapas tenang-tenang. Membuka matanya lagi. Jalan panjang kembali terbentang.

Sambil melanjutkan perjalanan, ia tetap memikirkan mangkuk yang pecah itu. Mangkuk hadiah dari Norm. Pantas saja kalau ia marah pada dirinya. Seharusnya mangkuk itu ia pegang kuat-kuat. Sekuat ia menyimpan kenangan saat ia menerima pemberian itu; di sebuah hari saat ia hampir menikah. Dan Norm bilang, simpan baik-baik ya. Norm seolah tahu setelah menikah mangkuk itu lebih berguna dari apa pun dalam hidupnya. Norm seperti tahu Niceli tidak akan punya waktu lagi keluar rumah: pergi makan; pergi hura-hura tanpa tujuan jelas; nonton film terbaru; nonton pertunjukan rakyat yang kadang diadakan di depan gedung kesenian di kotanya; minum teh hijau sore-sore—sesuatu yang paling digemarinya.

Bagaimana mungkin Norm membayangkan hidupnya demikian buruk? pikirnya waktu menerima hadiah dari lelaki itu. Ia menganggap hadiah Norm lelucon paling menggelikan. Ia tidak suka dapur. Tidak suka semua peralatan dapur. Norm tahu itu. Tapi ia memang menyimpan mangkuk itu baik-baik. Awalnya ia simpan di lemari khusus tempat ia menyimpan macam-macam benda kenangan. Ia pikir bila kangen pada Norm, ia bisa mengeluarkannya. Memandanginya. Dan mengingat wajah Norm yang bulat. Tawa Norm. Gigi Norm yang tidak rapi. Hidung Norm yang besar. Sepasang mata Norm yang dalam. Dalam? Ia tertawa. Ia memang pernah jatuh cinta pada Norm. Hanya orang yang jatuh cinta yang bisa mengukur kedalaman mata seseorang.

Tapi Norm benar sekali. Setelah menikah, mangkuk itu jadi amat berguna baginya. Mangkuk itu menjadi alasan untuk membeli peralatan lain. Bagaimana mungkin ia hanya punya mangkuk? Ia harus punya piring, gelas, wajan, alat pembakar ikan, pisau dapur, talenan, begitu ia pikir.

Ia pun ingin memenuhi dapurnya.

“Aku belajar masak sekarang, Norm,” ia menelepon Norm saat hari pertama memutuskan menyukai dapur; pada hari itu ia mencoba membuat kroket yang resepnya ia lihat di majalah. Dapurnya kacau sekali hari itu. Tepung terserak di meja. Minyak memercik ke lantai. Potongan kentang berhamburan ke mana-mana. “Seru sekali,” ujarnya terbahak. Ia ingin meyakinkan Norm, memasak itu ternyata menyenangkan dan dapur tempat bermain-main yang paling membahagiakan.

Ia menghela napas. Itu sepuluh tahun lalu. Saat ia menelepon Norm dan masih tertawa. Setelah itu ia makin jarang menelepon. Makin jarang tertawa. Ia takut mengganggu Norm. Ia tahu lelaki itu makin sibuk. Lagi pula apa kata pacar Norm jika ia terus-menerus menghubungi lelaki itu untuk menceritakan soal dapur, yang pasti saja tidak masuk daftar “urusan penting”.

Berhenti. Lalu menapak lagi. Kali ini ia melangkah lebih pelan. Ia tiba-tiba benci berjalan tergesa-gesa. Seperti yang ia lakukan selama ini. Tergesa. Ia tergesa mengambilkan handuk baru buat suaminya. Tergesa menyediakan segelas air minum hangat-kuku di meja. Tergesa membuatkan sarapan sehat. Tergesa mengambil bayinya di tempat tidur yang tiba-tiba terbangun karena bunyi klakson mobil tetangga.

Niceli-mu sudah tidak ada, Norm. Ia sering mengatakan itu pada dirinya saat-saat ia sedang tergesa. Saat-saat ia ingin sekali menjerit. Saat ia merasa kekurangan tangan agar bisa melakukan segalanya. Saat ia menyesali kenapa ia menolak bantuan seorang asisten rumah tangga demi membuktikan kemampuannya mengurus segalanya. Demi menunjukkan betapa ia menikmati kehidupan baru. Ia suka belajar. Dan ia akan terus belajar.

Untuk itu ia memilih berhenti bekerja saat kelahiran anak kedua. Ia tidak mengabari Norm tentang itu. Padahal itu titik paling penting yang membalikkan semua hidupnya. Dari A menjadi B. Dan Norm tak akan pernah menemukannya lagi. Sebab Norm berada di dunia A. Sebab Norm tidak akan mengerti apa-apa jika pun ia mencoba memberi penjelasan tentang kenapa ia harus berada di dunia B.

Serombongan anak berlari dan hampir menabraknya. Ia mengomel. Kenapa anak-anak harus bermain di jalanan. Seharusnya mereka belajar di sekolah pada jam pagi begini. Seharusnya? Seharusnya ia juga berada di rumah. Menjahit “baju hari Senin” anaknya yang robek di bagian ketiak. Ia belajar menjahit dua tahun. Ia mempelajari hal-hal yang akan berguna di rumahnya sekaligus bisa menyenangkannya. Ia menjahit baju-baju lucu untuk dirinya. Sayangnya, ia selalu merasa tidak tahu kapan akan bepergian ke mana dengan baju-baju itu. Ia bukan lagi Niceli yang senang pada baju-baju pas-badan bergaya vintage dan sepatu boots (di musim hujan ia suka memakai boots agak tinggi).

Norm pasti terpingkal kalau melihat dirinya sekarang. Karena itu ia tidak berani keluar rumah untuk jalan-jalan santai, pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan perasaannya. Tempat dengan kemungkinan ia bertemu teman lama. Ia takut kalau kebetulan bertemu Norm. Lagipula ia memang mesti di rumah. Membereskan segala sesuatunya di pagi hari. Mengisi jam-jam membosankan dengan hal berguna ketika siang. Menanti anak-anak pulang sekolah, sore hari. Menanti suaminya pulang kantor, malam hari. Sepanjang penantian itu, ia mencoba macam-macam resep yang sudah makin dikuasainya. Merapikan dapur. Menatap ulang meja makan—ia suka mengubah letak meja makan untuk menghindari kebosanan. Menggambar pola dan menjahit. Membersihkan kebun mini.

Norm benar-benar tentu akan menertawakan dirinya sekarang. Niceli mendadak sedih. Tubuhnya menciut sekecil-kecilnya. Tapi ia sudah keluar, pikirnya. Ia harus mengangkat wajahnya yang sudah sebulat wajah Norm dulu. Telapak tangannya basah. Ia gugup, memang. Ini pertama kali ia keluar rumah dengan tujuan di luar biasanya. Bertahun-tahun ia sangat tertib tentang segala hal. Baiklah. Keluar rumah untuk bersantai atau menyegarkan pikiran barangkali sesuatu yang terlalu sederhana bagi orang lain. Namun, ingat, orang tidak akan tahu apa-apa tentang hidupnya sampai ia ada di sana—sebuah kehidupan yang bahkan tidak bisa diduga sama sekali. Di mana seseorang berubah pelan-pelan. Di mana seseorang mulai dijerat oleh aturan-aturan yang dibuat sendiri. Di mana seseorang mulai membuat hal-hal ideal dan merasa berdosa jika tidak memenuhinya.

Itu terjadi padanya.

Tapi sekarang ia benar-benar ada di luar, di sebuah jalan yang panjang. Seseorang menyapa—ia pikir itu tetangga barunya dan tampak kerepotan sekali membawa barang belanjaan. Mirip badut. Dan kemarin ia melakukan hal yang sama, juga pasti saja mirip badut. Ia membalas sapaan pendek itu. Pendek saja. Ia memang tidak suka banyak bicara seperti dulu. Lagi pula, ia tahu tetangganya itu tergesa. Mungkin saja suaminya akan pulang makan siang. Ia harus cepat sampai di rumah membawa barang belanjaannya di toko serba ada dekat kompleks rumah. Ia mesti menyiapkan segala sesuatunya.

Ia memang tidak menikah dengan lelaki cerewet. Suaminya sederhana. Apa adanya. Tidak menuntut. Ia tidak membicarakan harusnya Niceli begini dan begitu. Suaminya tidak melarang ia pergi ke mana pun. Akan tetapi justru itu yang menakutkan. Ia tidak tahu isi kepalanya. Tidak tahu apa maunya. Ia dihantui perasaan kurang ini dan kurang itu. Tentu saja seharusnya ia bisa terus bekerja, bisa ke mana-mana sebagaimana Niceli yang dulu, tapi itu membuatnya merasa bersalah. Dengan cara apa ia menghadapi lelaki tanpa cela itu selain dari memberikan kebaikan juga?

Kalau saja aku bersama Norm, pikir Niceli. Aku bisa melakukan apapun tanpa harus menjadi “Niceli yang terbaik”.

“Kita berdua keras kepala,” kata Norm waktu itu, “Kita tidak akan bertahan jika bersama-sama.”

Mungkin Norm benar. Tapi saat ini ia hanya memikirkan Norm. Atau selama ini sebenarnya ia selalu memikirkan Norm. Ia hanya mengingkarinya. Ia hanya meletakkan Norm ke dalam bagian gelap dari pikirannya.

Ia sudah sampai pada titik di mana kakinya tidak bergerak lagi. Ia ikut membeku bersama kaki itu. Dilihatnya sekeliling. Ia hanya sendiri di jalan panjang. Kau harus bahagia, Niceli. Kalau tidak, aku akan marah. Norm pernah mengatakan itu. Sekarang suara Norm terdengar nyata di telinganya, berganti-ganti dengan suara mangkuk jatuh ke lantai. Jalan di depannya masih sangat panjang. Ia tidak tahu apa ia akan sampai ke ujung sana atau tidak. Apa di sana ia akan menemukan Norm? Ia ingin bilang pada Norm, mangkuk itu pecah tadi pagi. Ia kurang hati-hati. Ia ingin katakan pada Norm, sejak mangkuk itu pecah ia seolah kembali menginginkan dirinya yang dulu. Ia ingin keluar. Ia rindu pada Niceli saat bersama Norm. Ia merasa kalau selama ini berada di tempat yang salah. Norm harus tahu: ia tidak bahagia.

Apa yang akan dikatakan Norm jika itu semua ia sampaikan?

 
NORM berhenti mendorong kursi roda. Niceli sudah tertidur dan kepalanya terkulai ke samping kanan. Seperti biasa, diambilnya buku tulis di tangan Niceli. Buku yang penuh coretan Niceli sepanjang hari ini. Ia membaca tulisan itu sambil sesekali menatap haru rambut Niceli yang mulai memutih.(*)

 

GP, 2014

  

Yetti A.KA tinggal di Padang, Sumatera Barat.


Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang

Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 15 Juni 2014)

Image361

(Gambar oleh Munzir Fadly)

MEMANG betul seperti ini kejadiannya. Hampir tujuh tahun yang lalu, dari balkon sempit rumahnya di Kampung Melayu Pulo, Nasrul Marhaban terjun ke air sedalam dua meter lebih, lalu terseret arus ke sungai. Ia hanyut dan tewas tenggelam. Jasadnya ditemukan esok harinya tersangkut di Pintu Air Manggarai. Saat itu sekitar pukul delapan malam, dan banjir kiriman tiba-tiba menerjang kampung yang terletak di tepi Sungai Ciliwung itu. Di bawah guyuran hujan, perahu karet milik kantor Kelurahan Bukitduri datang menyelamatkan warga yang terjebak di loteng dan atap rumah-rumah mereka. Satu per satu orang-orang itu melompat ke perahu untuk diungsikan ke tempat yang lebih aman, termasuk istri dan kedua anak Nasrul Marhaban. Seharusnya begitu pula Nasrul Marhaban, jika saja sebua al-Quran yang dibungkus plastik bening tidak merosot dari dekapannya dan tercebur ke air saat ia bersiap melompat ke perahu.

Tapi bungkusan plastik berisi kitab suci itu benar-benar terlepas dari dekapannya. Nasrul Marhaban terpekik meneriakkan nama Tuhan. Secepat kilat lelaki berusia 41 tahun itu terjun ke air, mengejutkan semua orang yang berada di dekat situ. Ia berhasil meraih bungkusan itu, lalu dengan cepat ia memutar badannya menghadap ke perahu dan berenang mendekatinya. Namun berenang melawan arus deras dengan satu tangan yang tak bebas bukanlah perkara gampang. Nasrul Marhaban seperti orang yang sedang berenang di tempat, tak sedikit pun ia beringsut maju dari tempat di mana ia memulai. Dan lelaki bertubuh tipis itu tersedak air beberapa kali. Napasnya tersengal-sengal. Perahu memang sempat bergerak mendekati Nasrul Marhaban hendak menolongnya, namun sayang perahu karet itu kalah gesit dengan air yang sedang mengalir deras. Seperti yang sudah kuceritakan, Nasrul Marhaban terseret arus dan hanyut ke sungai, diiringi jeritan istri dan anak-anaknya serta beberapa warga sekitar yang melihatnya.

Menurut keterangan para saksi mata, al-Quran itu akhirnya terlepas dari tangan Nasrul Marhaban. Nasrul Marhaban sendiri terlihat timbul-tenggelam beberapa kali, dan konon sempat meneriakkan “Allahu Akbar” pada detik-detik terakhir sebelum ia tenggelam selamanya.

Kematian Nasrul Marhaban lantaran hendak menyelamatkan al-Quran yang jatuh tercebur ke air itu segera menjadi buah bibir. Dari mulut warga yang satu ke telinga warga yang lain, dengan lekas berita itu tersiar ke seluruh kampung, bahkan hingga ke kampung sebelah. Esoknya, seribuan orang ikut mengantar pemakaman Nasrul Marhaban ke pekuburan Rawa Bunga.

“Nasrul Marhaban mati mulia, ia meninggal dunia karena hendak menyelamatkan kitab suci yang sangat dihormatinya,” kata Ustadz Bahtiar dalam khotbah pemakaman.

Tahlil digelar sehari setelah pemakaman, berturut-turut hingga tujuh hari kemudian. Ratusan orang menyesaki Masjid Assalam.

“Sikap dan keberanian Nasrul Marhaban hendaknya menjadi suri teladan bagi kita semua, ia rela mengorbankan dunianya demi akhiratnya,” kata Haji Mahfudi dalam ceramah singkatnya seusai acara tahlil.

 
NASRUL Marhaban lahir dan besar di kampung ini, menikah dengan Emeh, perempuan dari kampung ini juga, dan dikarunia dua anak lelaki. Ia bekerja di sebuah bengkel knalpot di Bukitduri Tanjakan. Gajinya pas-pasan, jika tak bisa disebut kurang. Meski begitu, ia jarang mengeluh. Satu-satunya hal yang paling ia keluhkan adalah soal banjir yang kerap menerjang dan merendam rumahnya, banjir yang akhirnya merenggut nyawanya.

Sama seperti orang lain di kampung ini, Nasrul Marhaban bersama istri dan anak-anaknya harus mengungsi dari rumahnya sendiri setiap kali banjir kiriman datang dan merendam wilayah permukiman mereka. Kantor kelurahan, SD Negeri 11, dan Masjid Assalam menjadi tempat tinggal mereka selama hari-hari bencana. Dan Nasrul Marhaban selalu memilih Masjid Assalam sebagai tempat pengungsiannya.

Sebagai orang yang dikenal sangat jarang pergi ke masjid, pilihan Nasrul Marhaban mengungsi ke Masjid Assalam setiap kali rumahnya terendam banjir itu, sempat menjadi bahan pembicaraan warga. Bahkan ada satu olok-olok tentang hal ini, entah siapa yang mengatakannya pertama kali, bahwa Nasrul Marhaban hanya mengunjungi masjid dalam tiga kesempatan: Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Kurban, dan hari ketika rumahnya kebanjiran. Pada hari-hari selebihnya, tak pernah ia sengaja datang untuk keperluan lain, termasuk untuk salat Jumat.

Tapi siapa yang menyangka bahwa kelak nama Nasrul Marhaban akan disebut oleh seorang katib pada khotbah Jumat di masjid itu? Ustadz Komar, Sang Katib, menjadikan Nasrul Marhaban sebagai contoh sosok manusia yang menutup perjalanan hidupnya dengan baik, mati dalam keadaan husnul khotimah. Ustadz Komar menceritakan bagaimana Nasrul Marhaban yang dikenal sangat jarang ke masjid itu, ternyata lebih memilih kehilangan nyawanya ketimbang melihat kitab suci miliknya lenyap ditelan banjir.

“Ini luar biasa,” kata Sang Ustadz dalam khotbah Jumat, seminggu setelah peristiwa itu.

Begitulah, berhari-hari setelah pemakamannya, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kematian Nasrul Marhaban masih dibicarakan orang. Setiap kali banjir kiriman datang, warga Kampung Melayu Pulo pasti teringat Nasrul Marhaban. Dalam obrolan di tempat pengungsian, di posko banjir, di warung-warung kopi, dan di masjid, selalu terselip riwayat bagaimana Nasrul Marhaban menjemput ajalnya.

 
SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang bulan puasa, Emeh pergi ke Rawa Bunga. Perempuan itu membersihkan kuburan mendiang suaminya. Setelah menaburkan bunga melati, ia duduk di sisi makam membaca al-Fatihah. Emeh berdoa semoga Tuhan menerima segala amal ibadah Nasrul Marhaban, dan mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Emeh tahu bahwa para tetangga mengenang Nasrul Marhaban sebagai orang yang terseret arus banjir dan mati tenggelam lantaran hendak menyelamatkan sebuah al-Quran. Memang betul seperti itu kejadiannya. Tapi hanya Emeh yang tahu bahwa sehari sebelum peristiwa itu, Nasrul Marhaban baru saja menerima uang gajian. Dan hanya Emeh yang tahu bahwa lelaki itu biasa menyimpan uangnya di antara lembar-lembar halaman al-Quran.(*)

 

Jakarta, Juni 2014

  

Ben Sohib tinggal di Jakarta.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.