Jendela dan Sore yang Gerimis

Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 21 September 2014)

Image413

(Gambar oleh Edward Ricardo Sianturi)

JAUH DI KEDALAMAN, air laut sebiru kelopak cornflower yang paling indah dan sejernih kaca kristal. Tapi laut itu juga sangat dalam. Lebih dalam daripada yang dapat dijangkau tali jangkar mana pun, dan banyak, banyak menara harus ditumpuk satu sama lain untuk mencapai permukaan laut. Di kedalaman itu hiduplah para penghuni laut….”

Lia mendengus kesal. Kalimat-kalimat itu sudah berulang kali dibacanya.

“Sekarang jangan menganggap hanya pasir putih di dasar laut. Tidak benar! Pepohonan dan bunga-bunga yang menakjubkan juga tumbuh di sana, dengan daun-daun dan ranting meliuk-liuk dalam air, seolah daun-daun dan ranting itu hidup. Segala jenis ikan, besar dan kecil, berenang di cabang-cabangnya, seperti burung-burung melayang melewati pepohonan….”*

Pembukaan cerita yang indah. Tapi Lia menutup buku itu dan menjauhkan kepalanya dari meja. Ia benar-benar merasa bosan!

Di luar masih turun hujan, atau mungkin gerimis yang lebat. Dari dua jendela nako di samping ranjang, cahaya yang tak terlalu terang menerobos ke kamar.

Lampu di kamar itu menyala.

Lalu apa yang harus kulakukan, tanya Lia dalam hati. Lagi, ia mendengus kesal. Ia kembali menatap buku yang menggeletak di meja. Judul buku itu Dongeng-Dongeng H.C. Andersen. Itu buku favoritnya. Ukurannya lebar, kertasnya putih-tebal, dan penuh gambar-gambar berwarna. Ia baru saja membaca dua alinea Puteri Duyung Kecil, salah satu dongeng kesukaannya. Tiap kali membaca dongeng itu, ia selalu membayangkan istana laut dengan dinding-dinding batu koral dan jendela panjang-melengkung. Tiap kali jendela-jendela dibuka, ikan-ikan menyerbu masuk seperti burung layang-layang. Atap istana tersusun dari cangkang kerang, yang membuka dan menutup seirama empasan air, dengan sebutir mutiara dalam tiap cangkang. Di taman istana, pohon-pohon berwarna merah dan biru tua. Pada cabang-cabangnya menggantung buah keemasan, sementara bunga-bunga menyemburat seolah nyala api di tangkai yang bergoyang.

Tapi ia sudah membaca dongeng itu berulang-ulang. Bahkan ia hafal dan bisa menyebut kalimat-kalimat dari beberapa alinea yang disukainya, dengan mata tertutup. Sore ini ia benar-benar bosan! Lalu ia menatap ke rak yang menyatu dengan meja. Di situ berderet rapi beberapa dongeng. Dongeng-Dongeng Perrault, Dongeng-Dongeng Grimm, Kumpulan Dongeng Dunia, dan masih beberapa lagi. Semuanya berukuran lebar, kertasnya putih-tebal, dan penuh gambar-gambar berwarna. Tapi buku-buku itu pun sudah berulang kali dibacanya.

Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, tanya Lia dalam hati. Ia lalu memandang ke lemari, rak boneka, dinding dan lantai di kamar itu, dan mataya menumbuk pada tas ransel yang menyandang ke kaki ranjang. Lia berpikir, apakah ia sudah menyiapkan perlengkapan untuk sekolah besok? Ia sudah merampungkan PR matematika. Ia sudah berbelanja ke toko kelontong tak jauh dari rumah, membeli benang wol dan kertas karton untuk pelajaran keterampilan. Kedua barang itu, beserta gunting dan penggaris, sudah dimasukkannya ke tas tenteng di samping ransel. Ia juga sudah meruncingkan pensil dan menambahkan dua buku tulis baru ke dalam ransel. Ia sudah menaruh seragam sekolah di ujung ranjang. Bahkan ia sudah mencuci piring bekas makan siang dan mengangkat jemuran, jatah rutinnya sehari-hari. Sekarang apa lagi?

Ah, seharusnya aku sudah di rumah Nita sekarang! Lia kelihatan jengkel. Ya, seharusnya aku sudah di rumah Nita. Nita kawan sekelasnya. Rumah Nita hanya berjarak dua gang dari rumahnya. Tadi siang di sekolah, Nita berkata ada mainan baru di rumah. Nita tak mau bilang mainan apa itu. Lebih baik kau ke rumahku, kata Nita. Tapi ia tak mungkin pergi, karena sejak satu jam yang lalu di luar hujan turun. Hujan, atau gerimis lebat itu, betul-betul membuatnya seperti terperangkap.

Lia menengok ke jam dinding di kamar. Hampir jam lima sore.

Atau, mungin aku bisa menonton film-film ini? Lia meraih beberapa kotak DVD di atas meja. Ada film kartun Beauty and the Beast, Lion King, Aladdin, lalu Snow White and the Seven Dwarfs, Little Mermaid…. Film-film yang disukainya, dan sudah berulang kali ditonton. Dari semua film itu, favoritnya adalah Little Mermaid, meskipun cerita di film berbeda dengan buku Dongeng-dongeng H.C. Andersen. Ia terutama menyukai sosok Putri Duyung Kecil. Rambutnya pirang panjang, matanya besar, dan wajahnya sangat cantik. Persis seperti yang dilukiskan H.C. Andersen. Tapi sore ini ia malas menonton film-film itu. Bukan karena bosan. Televisi dan pemutar DVD ada di lantai bawah, di depan meja makan, dan ia malas turun ke lantai bawah.

Lia kembali menatap buku-buku dongeng di rak yang menyatu dengan meja. Sebetulnya akhir-akhir ini ia enggan menyentuh buku-buku itu. Memang ada rasa bosan, seperti yang dirasakannya sekarang, tapi terlebih lagi karena ia bingung. Baginya, dongeng-dongeng itu mengajarkan banyak hal yang bertentangan dengan kata-kata orang tua atau guru-gurunya di sekolah. Ia tak tahu kenapa, tapi dalam dongeng-dongeng itu bertebaran banyak kekerasan. Misalnya dongeng Rapunzel. Sang pangeran didorong dari menara oleh nenek sihir. Pangeran jatuh berguling-guling dan menubruk semak berduri. Kedua matanya buta. Bukankah itu kekerasan?

Orangtuanya mengajarkan, jangan mencelakai orang lain. Kalau tidak, kau akan dihukum. Guru-guru di sekolah selalu menghukum anak-anak lelaki yang berkelahi, tak peduli siapa yang memulai. Tapi nenek sihir itu tidak diapa-apakan. Atau dongeng Pinokio. Kedua kaki Pinokio hangus terbakar di perapian, karena ia nakal. Ah, anak-anak memang nakal, kata Lia dalam hati. Banyak anak lelaki jahil dan nakal di sekolahnya. Kadang-kadang mereka dihukum berdiri di depan kelas. Tapi dibakar kakinya? Bukankah itu sakit? Bahkan pengarang favoritnya, H.C. Andersen, menceritakan kekerasan yang menakutkan. Misalnya dalam Batu Pemantik Api. Prajurit muda memenggal leher nenek sihir dan merebut hartanya.

Orang tuanya mengajarkan, jangan mencelakai, jangan mengambil barang orang lain. Lalu prajurit muda hidup berfoya-foya dengan harta nenek sihir. Orang tuanya mengajarkan berhemat dan tak mengambur-hamburkan uang. Terakhir, prajurit muda mengerahkan anjing-anjing raksasa yang muncul lewat batu pemantik api untuk menyerang istana, dan rakyat mengangkatnya menjadi raja. Bukankah itu kekerasan yang menakutkan?

Ia tak tahu, tapi ia juga tak bertanya pada orang tuanya.

 
LIA berdiri dari kursi. Ia mendekat ke dua jendela nako di samping ranjang. Di luar masih gerimis. Lantai papan kayu di bawah kakinya berkeriak-keriuk. Lantai itu dilapis karpet vinil yang kusam. Entah sudah berapa kali ia berjalan bolak-balik di lantai papan itu, tapi sampai hari ini ia masih merasa aneh. Mungkin ada juga rasa canggung. Kamar ini adalah kamarnya yang kedua. Plafon di kamar ini sudah kusam, dan di sudut dekat jendela ada noda-noda cokelat bekas bocor. Bentuknya melengkung-lengkung menyerupai pulau di peta buta. Dinding-dinding juga berwarna kusam dan melepuh pada dua-tiga tempat. Tetapi di kamar ini ada ranjang yang apik, dengan seprai bergambar tokoh-tokoh kartun. Bantal-guling yang empuk. Rak berisi boneka beruang memakai syal dan topi. Boneka anjing dalmatian. Boneka singa berkaus. Boneka-boneka yang lebih kecil. Lalu meja belajar dan lemari pakaian yang apik.

Ya, kamar ini adalah kamarnya yang kedua. Kamar ini jelas berbeda dengan kamar yang dulu, yang tak bisa lagi ditinggalinya. Lia tentu mengingat dengan jelas. Plafon di kamarnya dulu berwarna kuning cerah. Dua bidang dinding dicat merah, lalu dua bidang yang lain berwarna biru tua dan kuning tosca. Lalu ada jendela kaca menghadap ke taman yang hijau. Satu-satunya yang tak berubah hanya perabot-perabot itu. Ranjang, boneka-boneka, meja belajar dan lemari, yang memang dipindahkan ke kamar ini. Tiap kali ia memandang perabot-perabot itu, ia selalu teringat kamarnya dulu. Ia punya banyak kenangan manis di kamar itu, dan di rumahnya yang dulu.

Tetapi ia tak bisa lagi tinggal di kamar itu. Enam bulan lalu, ia menangis ketika orang tuanya memutuskan menjual kamar, rumah, berikut taman yang hijau itu. Mereka harus pindah dari kompleks pemukiman yang sejuk ke rumah ini, sebuah rumah tua di gang sempit yang sesak. Ia tak tahu kenapa. Kata Ayah, rumah ini adalah peninggalan kakek-neneknya. Jadi Ayah tak mau menjualnya. Tapi kenapa menjual rumah yang dulu, tanya Lia dalam hati.

Rumah ini memang lebih besar, tapi tak punya taman. Rumah ini juga tak berjendela, kecuali jendela-jendela besar di ruang depan dan dua jendela nako di kamar loteng. Rumah-rumah yang saling berimpit di kiri-kanan dan belakang gang itu memang tak memungkinkan banyak jendela. Sangat berbeda dengan rumahnya dulu, yang selalu ada bukaan jendela di riap ruang. Ruang depan, ruang makan, dapur, kamar tidur, dan bahkan kamar mandi. Karena itu sejak awal ia ngotot menggunakan kamar di loteng. Orang tuanya keberatan, karena ia harus naik-turun tangga setiap hari. Kau baru sembilan tahun, masih SD kelas empat, kata Ayah. Tetapi mereka mengalah. Dalam enam bulan ini ia juga membiasakan tidur tanpa pendingin ruangan. Hanya jika cuaca sangat panas, ia bergabung ke kamar orang tuanya di lantai bawah, satu-satunya kamar yang punya pendingin ruangan di rumah ini.

Sekarang Lia berdiri menghadap dua jendela nako itu. Sejenak ia melihat pantulan dirinya di jendela, meskipun terpotong-potong oleh kaca nako. Seorang gadis kecil berambut poni dan bermuka bulat. Tapi begitu ia memusatkan pandangan, ia melihat atap-atap berdempet dan gang sempit yang memotong ke arah rumahnya, di balik jendela. Ia juga melihat pagar besi di depan rumah. Di ujung gang tampak pagar tembok tinggi, dan di baliknya gedung bertingkat yang berlapis kaca. Langit, yang hanya kelihatan sepenggal di belakang gedung bertingkat itu, berwarna abu.

Aku tak bisa ke rumah Nita hari ini, katanya dalam hati. Hujan, atau gerimis lebat itu, masih mengguyur.

Tetapi Lia tersenyum. Sejak dulu ia memang menyukai jendela, karena baginya selalu ada kehidupan di balik jendela. Seperti membuka buku dongeng, membaca tulisan, dan melihat gambar-gambar, meskipun kenyataan yang ditemui tak selalu menyenangkan. Ya, kenyataan tak selalu menyenangkan, seperti juga dongeng-dongeng. Di kamarnya dulu ia biasa melihat cahaya matahari, daun-daun dan rumputan, atau mendengar sorak anak-anak dan sesekali suara mobil atau motor melintas.

Lalu ia melihat langit yang mulanya terang, pelan-pelan meredup, dan akhirnya gelap. Semuanya lewat jendela. Sekarang, dari kamarnya, ia melihat perempuan kurus dengan kelebat-kelebat merah di rambut menyeberang gang. Ia melihat lelaki berkulit cokelat-dekil dan rambut kebiruan berjalan membelakangi rumahnya. Mereka seperti tak peduli pada gerimis. Ia tahu lelaki itu, juga beberapa lelaki lain, kerap berkumpul di posko di depan salah satu rumah. Mereka biasa mengobrol sampai larut malam, kadang bernyanyi dan bermain gitar. Juga sampai larut malam. Posko itu pasti dibangun oleh salah satu partai politik, karena banyak atribut partai tertempel di situ. Dan di gang sempit, dalam enam bulan terakhir, ia kerap melihat ayahnya yang berpakaian rapi pulang dengan wajah suntuk. Agak malam, ia melihat ibunya berjalan dengan wajah yang letih.

Lalu dari balik jendela, ia melihat lampu-lampu dinyalakan. Juga lampu-lampu di atas gedung bertingkat. Sudah jam enam sore lewat. Lalu dari balik jendela, ia melihat cahaya-cahaya memantul di genangan air atau di atap-atap rumah yang basah. Di tengah gerimis, ia seperti melihat potongan-potongan warna. Merah, jingga, putih, biru… Indah sekali!

Lalu ia melihat ibunya di gang sempit itu, berjalan di bawah payung. Di depan rumah, ayahnya yang membuka pintu pagar dan mencium pipi ibunya.

Lia bersyukur dalam hati. Meskipun sesekali bertengkar, orang tuanya masih akur sampai hari ini. Hari ini sudah tiga tahun ayahnya tidak bekerja.(*)

  

* Dua alinea tercetak miring pada awal cerita ini adalah terjemahan dari The Little Mermaid karya H.C. Andersen, dari versi bahasa Inggris oleh Jean Hersholt.

  

Wendoko telah menerbitkan beberapa buku puisi, antara lain Jazz! (2012) dan Catatan Si Pemabuk (2014).


Stroberi dalam Pot

Cerpen Amalia Achmad (Koran Tempo, 14 September 2014)

Image409

(Gambar oleh Munzir Fadly)

MARYANTO sempat pulang ke rumah orangtuanya, sebelum ia menjadi Miriam. Kira-kira tujuh tahun lalu.

Ibunya masih secantik terakhir kali ia melihatnya. Ayahnya masih segagah yang bisa diingatnya.

Kebun stroberi pada sebidang tanah di halaman belakang rumah masih terawat dengan baik. Kecil saja kebun itu, hanya ada enam belas pot yang tersusun dalam empat baris pendek. Meski begitu, dari situlah lipstik pertama Maryanto berasal. Juga gaun sempit bercorak kulit macan serta rambut palsu pirang terang yang dibanggakannya.

Maryanto terkenang, suatu ketika kebun stroberi berbuah terus-menerus.

Di dapur selalu ada stroberi: buah stroberi, selai stroberi, sirop stroberi. Rumah beraroma stroberi. Semua tetangga kenyang stroberi. Demam stroberi yang tak kunjung sembuh. Keranjang demi keranjang stroberi berpindah ke pasar, berakhir di tangan pembeli.

Masa-masa yang menyenangkan.

“Semuanya bibit baru,” tunjuk ibunya. “Sudah waktunya dipetik.”

Buah-buah gemuk stroberi berjuntai keluar dari barisan pot. Maryanto memilih satu, yang lekuknya paling sempurna dan warnanya merah merona.

Rasa asam menyebar pada gigitan pertama. Terlalu asam baginya.

“Asam,” ucapnya dalam suara yang terdengar lebih halus dari semestinya. “Ibu, tolong rawat kebun stroberiku. Mungkin aku tidak akan pulang dalam waktu dekat.”

Pada ayahnya, Maryanto tak berkata apa-apa.

 
SETELAH itu tak ada lagi Maryanto. Hanya ada Miriam.

Miriam menari hampir setiap malam. Miriam harus menari. Di sebuah kelab yang separuh pengunjungnya ekspatriat dan seluruhnya laki-laki, Miriam menari. Menari bahkan sampai pagi sebab ada hormon yang harus dibeli, sebab ada biaya operasi. Sebab ia ingin menjadi perempuan sejati.

Peluhnya berjatuhan membasahi panggung tempat Miriam meliuk-liukkan tubuh kuyup. Semuanya licin, semuanya lengket, namun ia tak bisa berhenti menari. Selama itu, banyak peristiwa yang berlintasan di kepalanya. Tetapi yang paling kerap adalah sebuah peristiwa pada suatu pagi di rumahnya yang beraroma stroberi.

Apa itu yang kau pakai di bibirmu? Lipstik?

Bukan, Ayah, bukan.

Miriam, yang kala itu masih dipanggil Maryanto, jadi ciut. Meski benar ia tidak memakai lipstik. Meski ayahnya telah keliru.

Apa-apaan kamu! Laki-laki pakai lipstik!

Tidak, Ayah, tidak.

Ibunya datang terlambat. Miriam terlanjur ambruk, tersungkur di lantai ubin. Tamparan di wajah dan tendangan di perut telah lebih dulu singgah, meninggalkan hulu hati yang terasa nyeri. Ada yang berkepak-kepak pergi. Barangkali cinta pada ayahnya, barangkali ketakutan pada ayahnya, barangkali hormat pada ayahnya.

Miriam tak hirau akan pekik ibunya. Perlahan, ia mengangkat diri lalu keluar dari rumah. Keluar, mungkin tanpa keinginan untuk kembali.

Miriam tidak memakai lipstik. Mungkin selai stroberi tertinggal di bibirnya, berkilau, dan kilau itu sampai kepada mata ayahnya. Mustahil ia memakai lipstik pada hari ujian kelulusan sekolah menengah atas itu.

 
SAAT Miriam mendapat berita bahwa ayahnya sakit, ia ingin pulang. Menjenguk ayahnya. Mungkin untuk memberi maaf, mungkin untuk meminta maaf. Mungkin untuk saling mengasihi lagi. Tetapi Miriam sedang berada di puncak bimbang. Tubuhnya bergerak menuju dua arah: yang seharusnya ada justru menghilang, yang tak pernah tampak mendadak datang. Ia bukan lagi Maryanto tetapi belum merasakan sebagai Miriam. Maka, ia tidak pulang.

Bahkan ia tidak juga pulang ketika mendengar kabar kematian ayahnya.

 
TAK ada yang mengingat Maryanto sekarang. Laki-laki itu telah terkubur jauh entah di mana. Seperti inilah seharusnya Miriam dilahirkan: rahang yang lembut, pinggang yang ramping, dan buah dada yang subur. Ia menjadi ratu di panggung tari. Semua laki-laki memuja rambut ikalnya, mata kucingnya, bibir kilapnya. Barangkali bagi mereka, tak ada yang sanggup menyaingi tarian yang dipersembahkan Miriam.

Sayang, Miriam tak kunjung bahagia.

Ibunya tak pernah lepas dari pikirannya. Juga kebun stroberi. Juga kenangan pada suatu pagi ketika ia terbanting ke lantai itu. Juga ayahnya. Walau Miriam enggan mengakuinya.

Miriam membeli tiket perjalanan. Dalam empat belas tahun terakhir, ini adalah kepulangan kali kedua.

 
IBUNYA berdiri di ambang pintu. Memang perempuan itu bergerak sedikit lebih pelan, dan rambutnya dipenuhi oleh uban, dan keriput berkejaran di kulit wajahnya sekarang. Tapi, bagi Miriam, kecantikan perempuan itu tak pernah lekang.

“Mencari siapa, Nak?”

Miriam urung mencium tangan ibunya, urung juga memeluknya. Miriam terpaku. Sesaat kemudian, ia menggeleng pelan, “Maaf, Bu. Mungkin saya salah rumah.”

Ibunya tersenyum, “Mencari siapa, Nak?”

“Ibu, nama saya Miriam.”

“Miriam…” Ibunya terdiam, seolah sedang berusaha mengingat-ingat.

“Maaf, Bu. Saya telah mengetuk pintu rumah yang salah. Permisi.”

Ibunya memandang wajah Miriam, wajah yang begitu cantik. Tutur katanya halus, gerak-geriknya lembut, wanginya seperti wangi stroberi. Mengingatkan ibunya pada seorang anak laki-laki yang lupa jalan pulang ke rumah.

“Apa Miriam teman Maryanto? Maryanto sudah lama tidak pulang.”

“Bukan, Bu. Saya tidak kenal Maryanto.”

“Maryanto anak saya. Sudah lama dia tidak pulang.”

“Maaf, Bu. Permisi.”

Ibunya melepas kepergian Miriam. Melepas kepergian anaknya, sekali lagi. Kali ini, entah kapan ia akan kembali lagi.

“Miriam!” Panggilan ibunya menghentikan langkah Miriam. “Kalau suatu hari nanti Miriam bertemu Maryanto, bisa sampaikan pesan Ibu? Katakan padanya, kebun stroberinya selalu kami rawat. Katakan padanya, ayahnya dulu sudah menanam varietas stroberi baru. Buahnya cantik dan manis, tidak asam seperti terakhir ia mencicipinya.”

Miriam tertegun.

“Iya, Bu. Nanti saya sampaikan.”

Miriam melangkah pergi.(*)

  

Amalia Achmad menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam linguistik terapan di Universitas Negeri Yogyakarta.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.