Setan Murat

Cerpen Ayu Utami (Koran Tempo, 10 Agustus 2014)

Image393

(Gambar oleh Munzir Fadly)

TAK lama setelah tiba di kota itu, ia mendengar tentang Setan Murat. Ia baru tamat SMA, berniat cari kerja, dan numpang di kota kerabatnya. Pada satu malam Jumat para penghuni pondokan itu bercerita tentang Setan Murat. Jika kau lapar di tengah malam, lalu kau mendengar di ujung lapangan ada gaung kentongan tukang bakso, berhati-hatilah. Jangan terkecoh nafsu makanmu.

Pernah terjadi pada seseorang di antara penghuni rumah kos sebelum kita. Ia sedang mengerjakan tugas kuliah dan terjangkit lapar selewat jam nol. Seolah menjawab jerit perutnya, terdengar toktok di kejauhan, dari seberang lapangan, dan ia mencium kuah bakso. Liurnya terbit, seolah lidahnya telah menjilat mangkok kaldu panas lumeran gajih. Ia melongok dan melihat seorang tukang bakso mangkal di kejauhan lahan terbuka. Tak mau mengganggu orang-orang yang tidur, ia tidak berteriak memanggil.

Ia mendatangi gerobak dan bertanya pada tukangnya yang memakai topi jerami, bakso apa saja yang tersedia, sambil membayangkan bola-bola daging berisi sumsum, urat, ataupun telur. Lelaki itu tidak menjawab. Sambil tetap menunduk sehingga wajahnya tertutup topi jerami, si tukang bakso membuka sungkup kuali dan mengaduk. Samar-samar, di singkap kepulan uap seperti kawah, ia merasa melihat mata, mulut, hidung, timbul-tenggelam dalam kuah.

Ia menetap jeri pada si tukang bakso. Saat itulah orang itu mengangkat wajahnya dan memperlihatkan mukanya yang rata. Tanpa mata, mulut, maupun hidung….

“Setan Murat. Itu adalah singkatan dari Muka Rata.”

“Itu bukan setan, tetapi hantu,” kata tokoh kita menanggapi cerita.

“Apa bedanya!”

“Setan adalah yang menghuni neraka. Hantu itu ada di dunia, menakut-nakuti kita. Setan tidak menakut-nakuti kita, tetapi menggoda agar kelak kita masuk neraka. Apa yang terjadi dengan anak yang melihat setan-hantu itu?”

“Ia pingsan. Ketika bangun ia jadi gila.”

“Bagaimana dia bisa cerita kalau dia gila?”

“Ya begitulah cerita yang kita dengar dari orang gila.”

 
TAK berapa lama berselang, krisis ekonomi melanda negeri itu. Semua penghuni koskosan kehilangan pekerjaan. Induk semang terjerat utang. Rumah yang ternyata digadaikan itu diambil alih bank dan semua pemondoknya diusir. Termasuk tokoh kita. Sepupunya pindah ke ujung negeri, untuk mata pencaharian baru. Tokoh kita bertahan di kota itu, menetap di sudut kumuh yang tak jauh. Bersama Mat Bakso.

Ia telah menjadi akrab dengan si tukang bakso sejak ia langganan jajan di gerobak yang mangkal di ujung jalan di belakang tangsi militer, sebelum krisis terjadi.

Lelaki itu sebaya ayahnya dan belum lama kehilangan putra tunggal oleh suatu sebab yang tak jelas. Anaknya hilang. Mungkin pergi, mungkin bunuh diri, sebuah rahasia keluarga—di zaman ini banyak anak muda bunuh diri karena tak bisa bayar uang sekolah dan ditolak kekasih hati. Tukang bakso dan tokoh kita saling menemukan pengganti ayah dan anak.

Ia ikut dengan Mat Bakso. Sebagai asisten. Tugasnya mengambil bahan-bahan dari pemasok langganan dan menggerusnya. Bawang putih, bawang bombay, lada, garam, telur, dan yang terutama adalah daging.

“Tapi harga daging sapi asli sekarang mahal sekali, Nak,” kata ayah angkatnya. “Kita terpaksa mencampur dengan daging KW.” Barangkali perlu dijelaskan bagi pembaca yang naif: itu adalah daging “kwalitas” rendah.

Pergilah ia ke jagal langganan, yang kini memberinya paket murah. Sambil mengedipkan mata, orang itu mengeluarkan suara grok dari dalam rongga hidungnya. Bunyi hewani itu membuat tengkuknya meremang seperti kuduk celeng. Ada sedikit rasa najis ketika ia menenteng buntalan itu pulang. Ia ingin bertanya, tapi bukankah jawaban tak akan mengubah hidupnya? Ia cacah daging paha merah itu seperti biasa. Tapi tak seperti biasa, setelah selesai ia mencuci tangannya tujuh kali. Lalu ayah angkatnya mengadon cincangan itu dengan bumbu-bumbu, mengaliskannya dengan kanji, menjadikannya bola-bola besar dan kecil. Ada yang berisi sumsum, ada yang telur. Di antara itu terdengar suara grok rongga hidung.

Kali berikut mengambil daging, ia mendapat paket lembar-lembar yang lebih tipis. Ketika hendak melirik curiga, ia seperti mendengar suara menggeram dasar leher. Itu membuatnya mundur selangkah. Ia ingin bertanya, tapi akankah jawaban mengubah hidupnya? Sesekali ayah angkatnya terciprat kuah panas saat memasak. Tapi, kali itu ia merasa mendengar suara terkaing. Tengah malam itu ia mendengar lolong anjing di dalam rumah.

Hari-hari berikutnya ia mendapat paket yang berbeda-beda. Potongan-potongan yang kecil setipis ikan asin. Yang warnanya kehitaman dan berbau busuk. Daging cincang seperti sisa makanan. Ia dihantui suara tikus, kucing, kelelawar. Ia digerayangi mulut ikan sapu-sapu dan bermimpi tentang bocah gendut yang memuntahkan daging cincang saking kekenyangan. Ia ingin bertanya tapi apakah jawaban mengubah nasib?

Gerobak ayah angkatnya yang mangkal di belakang tangsi tak kehilangan pelanggan. Orang-orang percaya bahwa masakan Mat Bakso tak turun mutu meski harga daging melonjak. Jaminannya, Bapak Komandan dari kompleks militer serta keluarganya terus menjadi pembeli tetap. Mana berani orang kecil menipu Pak Komandan! Bisa-bisa pistol meledakkan kepalanya. Tapi, sesungguhnya tukang bakso itu telah mengatur kualitas daging. Untuk Pak Komandan dan relasinya diberinya KW super. Untuk para perwira KW 1. Untuk para bintara KW 2. Para tamtama KW 3. Dan untuk pembeli umum, ah… sungguh tergantung pasokan daging yang ada.

Pelanggan bertambah banyak. Keduanya kini mendirikan kios semi permanen. Dengan tenda biru, meja-meja kayu bertaplak plastik, dan televisi 12 inci untuk menonton bola. Jika tak ada pertandingan, orang menonton sinetron dan berita. Suatu hari tokoh kita melihat di televisi, Menteri Urusan Kedagingan ditangkap karena korupsi daging sapi. Ia menggosok-gosok matanya, sebab Pak Menteri itu sungguh mirip dengan pemasok yang dari tenggorokannya terdengar suara geram dan grok. Sosok tambun dengan rambut-rambut hitam di kepala, dagu, dan barangkali di kuduknya. Lelaki itu menunjuk ke atas sambil berkata demi Allah. Jari-jarinya begitu gemuk, tak seperti milik manusia lagi: dua jari di depan, dua di telapak, mirip celeng….

 
TANGSI itu tampak seperti benteng. Warnanya hijau kelabu. Gerbang-gerbangnya dijaga serdadu. Jika matahari terbenam, warnanya jadi semu belerang. Menara-menaranya seperti tanduk hitam. Tokoh kita dan ayah angkatnya suka memandang ke sana sambil ngobrol manakala kios sepi. Konon di dalam benteng itu ada “sekolah” rahasia. Di sana “anak-anak nakal” dikursuskan. Yaitu anak-anak yang melawan pemerintah. Yang lulus pendidikan akan dapat pekerjaan. Tokoh kita membayangkan senangnya jadi pegawai: di badan intelijen, di partai politik, di organisasi massa. Yang tidak lulus akan dikirim ke Sukabumi. “Ada apa di Sukabumi?” ia bertanya sebab pertanyaan itu begitu sepele. Ia sekarang hanya bisa menanyakan perkara remeh.

Tapi… barangkali terpaksa dijelaskan bagi pembaca yang naif seperti tokoh kita. Tukang daging menyebut daging celeng, anjing, kucing, dan tikus sebagai “daging sapi KW”. Pun militer menyebut “di-Sukabumi-kan” untuk dikebumikan. Ya, Tuhan! Masa kau masih tak faham juga bahwa dikebumikan itu sama dengan dimakamkan? Apa yang dimakamkan, masa harus kuterangkan? Jadi, anak-anak yang lulus “sekolah” dalam benteng itu dikembalikan ke dunia, dan yang tidak lulus dikembalikan ke bumi!

Si ayah angkat termenung, teringat anak kandungnya yang hilang.

Pada saat itulah datang dua orang serdadu. Dari tanda pangkatnya kita tahu bahwa mereka adalah tamtama—artinya, yang selama ini mendapat bakso KW 3. Entah kenapa, kali ini cara mereka membusungkan dada dan mengembangkan lengan membuat ayah dan anak angkat itu menahan kencing.

“Kami tahu bahwa selama ini kamu memberi kami makan bakso sapi palsu. Apakah kau hendak mengikuti nasib anakmu, dikirim ke Sukabumi?”

Tak perlu diceritakan lagi bagaimana orang-orang kecil yang bersalah itu buang air seketika.

Mereka mencoba membela diri, mengatakan bahwa semua ini hanya ujung dari korupsi Pak Menteri Urusan Kedagingan. Lagipula daging itu bukan palsu, melainkan KW. Tapi sia-sia.

Yang terjadi kemudian terlalu mengerikan untuk dikisahkan dengan rinci. Dua serdadu itu membawa si ayah angkat ke dalam benteng. Tiga hari kemudian, mereka kembali kepada si anak angkat dengan pilihan sandi baru: “dikecualikan” atau “di-KW-kan”. Semuanya berhubungan dari bunyi “kuali” atau “kwali”. Dikecualikan artinya dikekualikan atau dikualikan. Di-KW-kan artinya di-“kwalitas”-kan atau dibuat sebagai KW. Mereka menepuk bahu si anak angkat dan menganjurkan ia meneruskan bisnis itu. Benteng akan menjual daging KW jika pasokan sedang tersedia seperti hari ini.

Seluruh tubuh si anak angkat gemetar. Tapi ia lakukan juga semua yang mereka biasa lakukan. Menggerusnya bersama bawang putih, bawang bombay, garam, merica; mengaliskannya dengan kanji dan telur, membuat kaldu. Rasa mual pertama memuntahkan hatinya ke dalam kuali. Tapi, separuh gemetar itu hilang ketika ia kehilangan hatinya. Ia mengaduk. Lalu satu per satu mata, hidung, dan mulutnya berjatuhan ke dalam kuali….

 
PADA satu malam Jumat para penghuni sebuah pondok bercerita tentang Setan Murat. Jika kau lapar di tengah malam, lalu kau mendengar di ujung lapangan ada gaung kentongan tukang bakso, berhati-hatilah. Kau memang membayangkan bola-bola daging berisi sumsum, urat, ataupun telur, dalam kuah gajih. Tapi jangan terkecoh oleh lelaki yang wajahnya tertutup topi jerami. Ia akan membuka sungkup kuali dan mengaduk: mata, mulut, hidung, dan hatinya sendiri. Ketika orang itu mengangkat wajahnya kau akan melihat mukanya yang rata.

Setan Murat. Itu adalah singkatan dari Setan Muka Rata.

Setan. Bukan hantu.(*)

 

Selasa Kliwon-Kamis Pahing, 15-17 Juli 2014

  

Ayu Utami tinggal di Jakarta. Novelnya yang mutakhir adalah Maya (2013).


Baluembidi

Cerpen Putra Hidayatullah (Koran Tempo, 3 Agustus 2014)

Image388(Gambar oleh Munzir Fadly)

KETIKA bayangan meninggi di tanah, kami masih berjalan sambil menendang-nendang kerikil. Dek Gam merangkul sepotong bambu kering sebesar ibu jari. Celana pendeknya melorot ke bawah, membuat belahan pantatnya kelihatan. Matanya nyaris tak berkedip.

“Jangan tendang lagi, Banta. Kau membuat mereka ketakutan. Mereka ada di sini.” Dek Gam berjongkok dan menggeser sebuah batu sebesar kepala bayi. Seekor lipan hitam melarikan diri ke sela-sela bebatuan.

Ada banyak potongan kayu kering berserakan di tepi sungai ini. Dek Gam mengambil salah satunya dan mulai menggali. Setiap ia menghantamkan kayu ke tanah, ingus kental mengalir dari hidungnya yang pesek.

Sungai masih terlihat meluap. Batu besar tempat orang biasanya duduk memancing sudah tidak kelihatan. Dua batang pohon hanyut dan tersangkut pada bengkolan sungai. Aku melihat seekor kerbau mencoba menyeberang ke tepi.

Aku ingin pulang memberi tahu Macut bahwa kerbaunya hendak dibawa arus. Tapi kata Dek Gam kami sudah hampir dekat. Dek Gam bilang ikan gabus di sana besar-besar. Kalau kami pulang hanya untuk itu, nanti waktu kembali matahari sudah terbenam dan kami tidak boleh keluar lagi. Kolonel telah mengumumkan jam malam. Pun kata Dek Gam, walau terseret-seret, kerbau tidak akan tenggelam. Kerbau bisa berenang.

Dulu aku dan teman-teman juga berenang. Aku belajar berenang dari Dek Gam. Di kampungku, kalau kau tidak bisa berenang, kau akan dikatai bencong. Dek Gam juga mengajariku cara menyelam. Sesekali kami bertanding siapa yang paling lama bisa menahan nafas dalam air. Tapi itu kami lakukan diam-diam.

Suatu hari ibuku tahu gara-gara ia melihat aku pulang dengan mata memerah. Ibu lalu bercerita padaku, di sungai itu ada jin jahat, Baluembidi namanya. Hampir tiap tahun jin itu mengisap darah manusia. Sepuluh tahun yang lalu, ada anak laki-laki tenggelam. Lima hari kemudian mayatnya yang pucat dan kembung mengapung seperti batang pisang.

“Kau tahu Baluembidi, Dek Gam?”

Dek Gam menggeleng dan terus menggali. Kuku jemarinya menghitam.

“Kata ibuku, di bawah jembatan sana banyak Baluembidi.” Aku memicing mata dan menunjuk sebuah jembatan besi tua. “Kadang-kadang ia menyerupai tikar. Ketika manusia merabanya, ia akan menggulung dan membenamkan tubuh kita ke dalam air. Waktu darah sudah habis, baru tubuh kita dilepas.”

Dek Gam memicing mata, “Tapi aku sering ke sana. Tidak ada Baluembidi.” Ia mengelap ingusnya. Bulir-bulir keringat keluar di tengkuknya.

Dari kejauhan tampak Gunung Halimon menjulang seperti buah dada perempuan. Ibu bilang, di gunung itu hantu-hantu beranak-pinak. Mereka hinggap di pohon-pohon tua yang besar. Hantu itu kemudian menguasai setiap jengkal sungai yang mengalir. Ia bersembunyi di balik air yang tenang. Tangan-tangannya menjulur panjang seperti selendang raksasa.

 
SEMALAM hujan turun deras sekali. Berbantalkan lengan, aku berbaring di kamar sambil memperhatikan tetes air hujan jatuh melalui atap yang bocor. Aku telah menaruh kaleng cat bekas dan mendengar bunyi air jatuh seperti suara detak jarum jam.

Ketika dingin mulai mencucuk tulang, aku menarik selimut. Dan aku mulai bermimpi lagi tentang Kolonel. Dalam mimpiku, Konolel tidak memakai baju loreng. Rambutnya kelihatan putih. Ia berdiri di pintu kamar ibuku. Kolonel merayu ibuku dan menarik ibu ke dalam pelukannya. “Ayolah….” Tangannya yang berbulu menjalar mencoba membuka kancing baju ibu. Aku berdiri dengan kedua lutut bergetar. Aku menutup mata dengan kedua tangan. Sambil terisak aku mendengar suara ibu menjerit.

Dan jeritan itu datang bersamaan dengan gelegar halilintar yang membuatku terjaga. Aku tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya gelap seperti tinta. Aku masih mendengar suara hujan yang mulai sedikit reda.

Lalu di sela-sela itu telingaku menangkap suara aneh lagi. Aku mendengar suara orang-orang berteriak panjang. Lambat laun teriakan itu halus dan memudar, menghilang, dan tiba-tiba muncul lagi.

Beberapa malam sebelumnya aku juga mendengar itu. Aku mendengar suara orang menangis, mirip suara perempuan. Di lain waktu ia merintih seperti suara anak-anak yang sedang ditindih batu.

Aku tak sanggup mendengar, aku menutup telinga rapat-rapat dan meringkuk seperti angka lima. Dan ketika aku menutup telinga, aku mendengar suara lain lagi. Ayah pernah bilang, kalau kau tutup telinga rapat-rapat, kau akan mendengar suara bara api neraka. Aku takut sekali pada neraka. Tapi aku menutup telinga. Seekor tikus menyelinap masuk ke dalam selimutku dan bersembunyi di sana.

Aku bergeming, tidak tahu apa yang terjadi dengan telingaku. Suara-suara itu membuat dadaku sesak sekali. Dan di balik bantal aku mulai sesenggukan.

“Tidak ada suara apa-apa, Banta. Ibu tidak mendengar suara apa-apa. Kau diganggu Baluembidi itu. Baluembidi akan menyelinap dan mengganggu anak-anak yang nakal.”

Ibu tak mendengar suara itu. Tak ada yang mendengar suara itu kecuali aku sendiri. Lalu agar tidak teringat pada suara-suara itu lagi, aku selalu meninggalkan ibu dan berlari keluar menuju rumah Dek Gam.

“HEI, lihat!” Dek Gam menaruh seekor cacing sebesar kelingking di atas telapak tangannya. Cacing itu menggeliat seperti ular. Dek Gam bangkit mengambil sehelai daun keladi, menaruh segenggam tanah, dan meletakkan cacing-cacing itu ke dalamnya.

“Pegang ini.” Dek Gam menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia seperti tak mendengar apa yang kukatakan tentang Baluembidi. Ia mengambil seekor cacing dan memotong tubuhnya dengan kukunya yang hitam. Dek Gam meludah beberapa kali pada mata kail. Tampak awan bergerak pelan seperti kapas. Seekor elang berputar-putar dan sesekali melengking.

“Ikan di sana besar-besar. Kemarin aku dapat seekor ikan sebesar paha ayahku.”

Aku mengikuti Dek Gam. Ia meninggalkan jejak kakinya yang kurus di belakang. Dek Gam tidak pernah memakai sandal.

“Kalau Baluembidi ada, kenapa ia tak memakan ikan-ikan itu?” Dek Gam menyergah ingusnya.

“Mungkin ikan itu ikan jelmaan, Dek Gam.”

“Tidak. Aku sudah memakannya. Tidak ada apa-apa. Ikan itu besar-besar karena tak ada lagi orang yang pergi memancing, Banta.”

Ketika hampir sampai dekat jembatan besi tua itu, kami berhenti. Dekat sungai ada sebuah tembok bekas jembatan lama. Dek Gam menyuruhku memegang kail. Ia memanjat beton itu. Aku menyusul di belakangnya.

Kami duduk berdampingan. Angin berhembus menerpa rambut dan wajah kami. Air di sini tampak tenang. Dek Gam bersiul dan melempar kailnya. Jauh di seberang sungai tampak beberapa ekor bangau sedang minum.

“Dekat batu itu Kolonel hampir mati.”

“Ditarik Baluembidi?”

“Bukan.”

“Laki-laki bodoh itu tak bisa berenang.” Dek Gam cekikikan.

“Oya?”

“Sayang sekali ia tak jadi mati.”

Sejak Kolonel datang, ayahku, ayah Dek Gam, dan hampir semua laki-laki tidak lagi pergi mengurus sawah. Mereka lari dan bersembunyi di gunung-gunung.

Aku tidak mengerti kenapa Kolonel harus memburu ayah kami seperti ayah kami memburu tikus-tikus di sawah. Tapi ibu bilang, anak buah Kolonel telah mencatat hampir semua nama laki-laki di sini. Katanya laki-laki di kampung ini tidak patuh. Ibu bilang, kalau aku tidak patuh, mereka juga akan mencatat namaku.

Ketika pertama mendarat di sini, Kolonel dan anak buahnya berkeliling berjalan kaki. Kalau ada ayam jago atau burung beo di rumah-rumah orang kampung, mereka mengambil dan membawanya ke markas. Mereka lalu memberi nama baru untuk burung-burung itu dengan nama-nama ayah kami.

Suatu sore waktu Dek Gam pergi ke sungai ia berpapasan dengan Kolonel. Sambil berkelakar dengan anak buahnya, Kolonel bertanya, “Kau punya kakak, tidak? Cantik, tidak?” Dek Gam lalu bilang padaku, “Mereka tak cuma mencari burung. Tapi ‘burung-burung’ mereka juga mencari gadis-gadis kampung.” Ia tertawa.

Aku melihat mega merah di ufuk. Matahari mulai condong dan hampir sejajar dengan gunung. Bayangan Baluembidi masih belum pergi dari kepalaku. Aku memejamkan mata dan melihat Baluembidi dalam benakku sendiri. Ia bertubuh besar, berekor panjang, dan berwarna hijau. Gigi-giginya runcing seperti gigi ikan hiu dan matanya yang merah dan besar menjorok keluar.

“Kalau ibarat ikan, Kolonel itu seperti ikan asin, tidak bisa berenang.” Dek Gam terkikik. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ketika hampir ke tengah sungai, ia berteriak, tolong… tolong….” Dek Gam meniru logat Kolonel yang aneh.

“Ssst. Jangan besar-besar suara. Mereka ada di pucuk sana,” kataku. Telinga mereka peka sekali dan membuat kami takut bahkan pada dinding rumah sendiri. Di atas sana, tak jauh dari jembatan, mereka membuat markas. Mereka menyuruh orang kampung meyusun goni berisi pasir. Kata mereka, pasir kebal serangan dan tidak tembus peluru. Dan di atasnya mereka menaruh senjata laras panjang dengan penopang mirip huruf V terbalik. Moncongnya mengarah ke jalan.

“Tak ada Baluembidi di sini, Banta. Kolonel yang tidak bisa berenang saja tak diambil oleh Baluembidi. Apalagi kita. Kau tak percaya?”

Belum sempat aku menjawab kail Dek Gam ditarik oleh sesuatu. Benang kail semakin dekat. Aku merasa jantungku berdegub lebih cepat. Dek Gam mencoba menariknya tetapi gagal. Napasku tertahan di tenggorokan sampai kemudian seekor ikan gabus sebesar betis orang dewasa menggantung di udara.

“Asyik!”

Aku melepasnya dari mata kail. Satu per satu ikan-ikan terperangkap. Aku memasukkannya ke dalam keranjang rotan.

Sebelum matahari terbenam, ikan-ikan sudah memenuhi keranjang. Mereka terkelepar-kelepar. Sudah lama aku tidak melihat ikan-ikan sebesar ini. Ketika aku sedang menghitung, Dek Gam turun perlahan dari atas beton dan menuju tepian sungai. Ia membuka baju dan turun ke air.

“Banta, lihat!”

“Jangan….”

Dek Gam tertawa dan berlari menuruni bebatuan. Ia membuka celana dan terjun ke sungai. Kemudian ia mengangkat kepala dari dalam air dan berkata dengan terengah-engah.

“Tidak ada Baluembidi, Banta. Ayolah….”

Dek Gam menyelam dan berenang. Ia mengepak-ngepakkan air dengan kedua kakinya. Sudah lama aku tidak mandi di sungai. Hampir setengah jam Dek Gam berenang dan tidak terjadi apa-apa. Aku tak kuasa menahan dorongan untuk mandi. Dingin akhirnya merambat ke seluruh tubuhku. Dalam beberapa menit aku mendapati diriku sudah ada dalam air.

Kami berenang berdua. Dek Gam memercikkan air ke wajahku. Aku membalas memercik ke wajahnya. Kami tertawa cekikikan.

“Di sini Kolonel hampir tenggelam.”

Sekilas dalam pikiranku berkelibat cerita ibu bahwa Baluembidi menarik kaki terlebih dulu kemudian membenamkan tubuh manusia dan baru melepasnya sampai dua atau tiga hari.

Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik kakiku. Tidak ada Baluembidi. Ibu sengaja menakuti agar aku tidak main di sungai. Dek Gam mengajak melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan: siapa yang paling lama bisa menahan nafas dalam air. Sementara aku menyelam, Dek Gam memperhatikan sambil berhitung dalam hitungan detik. Dan ketika aku mencoba menyelam, di bawah sana aku melihat sesuatu terbungkus.

“Ada sesuatu di bawah sini!”

“Ada apa?”

Dek Gam berenang ke arahku dan mulai menyelam. Aku melihat gelembung-gelembung udara bermunculan di atas permukaan air. Sekuat tenaga Dek Gam menarik sesuatu yang berat dan tergopoh-gopoh mendorongnya ke tepi.

Sebuah goni bertuliskan nama seseorang yang aku tidak tahu. Ketika membukanya, lutut Dek Gam tergetar. Bibirnya pucat seketika. Aku melihat sewujud manusia telanjang dengan tangan dan kaki terikat. Aku melihat jasad itu sudah mengembung dengan dahi berlubang.

“Ada banyak goni lain di bawah sana!” Suara Dek Gam terdengar parau.

Dek Gam menengadah ke langit. Wajahnya memerah. Suaranya tersedak. Ia berusaha menahan air mata. Tapi kemudian ia tersedu-sedu sambil memukul-mukul pasir. Dan suara tangisannya itu berubah menjadi seperti rintihan panjang yang kerap kudengar tiap tengah malam itu.

Kerongkonganku seperti tercekik. Dadaku sesak sekali. Air mata tak sanggup kutahan. Aku teringat ibu. Baluembidi ada ternyata. Baluembidi punya senjata. Baluembidi yang telah menembak ayah kami, memasukkan ayah kami ke dalam goni, memberi ayah kami batu pemberat, dan menenggelamkan ayah kami ke dasar sungai ini.(*)

  

Catatan
Dek Gam, panggilan untuk anak laki-laki di Aceh
Macut, bibi (adik ibu).

  
Putra Hidayatullah, lahir di Aceh, 11 April 1988. Berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.