Sapi Betina

Cerpen Juan Rulfo (Koran Tempo, 6 Oktober 2013)

Image280

(Gambar oleh Yuyun Nurrachman)

DI SINI segalanya berubah dari buruk ke makin buruk. Minggu lalu Bibi Jacinta meninggal. Lalu, pada hari Sabtu, setelah kami memakamkannya dan kami merasa tak lagi terlalu sedih, hujan mulai turun. Ayahku murka karena seluruh hasil panen gandum yang telah kering di bawah cahaya matahari menjadi basah kuyup. Badai datang begitu cepat sehingga kami tak sempat lagi menutupi gandum itu. Yang bisa kami lakukan hanyalah duduk-duduk berkerumun, menyaksikan hujan menghancurkan hasil panen kami.

Dan kemarin, saat adik perempuanku Techa berulang tahun kedua belas, banjir menghanyutkan sapi betina yang diberikan ayahku sebagai hadiah ulang tahunnya. Sungai mulai meluap sebelum subuh tiga malam lalu. Aku tertidur lelap, tapi banjir menyebabkan suara ribut di tepian sungai sehingga aku terjaga dan terlompat dari ranjang dengan selimut tercekal di tangan, seolah-olah aku bermimpi atap rumah kami runtuh. Setelahnya, aku kembali tidur karena aku tahu itu hanya suara arus sungai dan aku segera terlelap.

Saat aku bangun langit dipenuhi awan hitam dan suara bising sungai terdengar makin nyaring. Bunyi itu terdengar amat dekat dan mengandung bau busuk banjir yang seperti bau timbunan sampah.

Saat aku menengoknya, permukaan sungai sudah meluap melebihi tepi-tepinya. Air sungai naik sedikit demi sedikit sepanjang jalan dan masuk ke dalam rumah seorang perempuan berjuluk Genderang. Kau bisa mendengar percikan air mengaliri kandang ayam melewati pintunya. Genderang bergegas hilir-mudik, melemparkan ayam-ayam ke jalanan agar mereka bisa mencari tempat bersembunyi yang tak bisa dicapai aliran air.

Di sisi lain dekat kelokan sungai, arus banjir tampaknya telah menghanyutkan pohon asem di ujung bebatuan di rumah Bibi Jacinta karena pohon itu tak terlihat lagi. Itu satu-satunya pohon asem di desa kami, jadi semua orang tahu inilah banjir terbesar yang melanda sungai ini selama bertahun-tahun.

Aku dan adik perempuanku kembali pada siang hari untuk menonton banjir. Air sungai lebih keruh dan lebih kental dan meluap hingga ke batas jembatan semula berada. Kami bertahan di sana berjam-jam, hanya menonton, tanpa merasa letih. Lalu kami berjalan sepanjang tepi jurang untuk mendengar apa kata orang. Jauh di bawah, dekat sungai, arus air menghasilkan suara bising sehingga kita hanya bisa melihat mulut orang-orang yang terbuka dan mengatup tanpa dapat mendengar kata-kata mereka. Mereka juga melihat ke sungai di sepanjang tebing dan mencoba mengukur seberapa parah kerusakan yang disebabkan banjir. Di sanalah aku baru tahu bahwa banjir telah menghanyutkan La Serpentina, sapi betina yang dihadiahkan ayahku kepada Tacha sebagai hadiah ulang tahunnya. La Serpentina memiliki sebelah kuping berwarna putih dan sebelah lagi kemerahan, serta sepasang mata indah.

Aku tak tahu mengapa sapi itu memutuskan mencoba menyeberangi sungai walaupun dia pasti tahu itu bukan lagi sungai yang sama. La Serpentina tak sebodoh itu. Dia pasti berjalan dalam tidur dan terhanyut seperti itu tanpa alasan. Saat aku membuka pintu kandang pada pagi hari dia telah berdiri di sana sepanjang hari dengan mata terpejam, melenguh dengan cara sapi melenguh saat dia tertidur.

Maka, apa pun yang terjadi padanya, dia pasti tengah tertidur. Mungkin dia terbangun saat merasakan air menghantam iganya. Dia jadi ketakutan dan mencoba balik ke kandang, tapi terjangan arus air membuatnya terjengkang dan hanyut oleh banjir. Kuduga dia berupaya melenguh meminta tolong. Dia hanya bisa melenguh dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana semua itu terjadi.

Kami menemukan seorang lelaki yang melihat sapi betina itu ketika air sungai menyeretnya. Aku bertanya kepadanya apakah dia tak melihat seekor anak sapi bersama sapi betina itu. Dia bilang dia tak ingat. Dia hanya ingat melihat seekor sapi bertotol-totol yang melintas di depannya dalam arus air dengan kuku-kukunya teracung ke langit. Lalu, sapi itu tenggelam dan dia tak lagi bisa melihat kukunya, atau tanduknya, atau apa pun dari sapi itu. Dia begitu sibuk menarik cabang-cabang dan dahan-dahan pohon dari air untuk dibuat kayu bakar sehingga tak punya waktu untuk memperhatikan apakah sapi itu timbul lagi dari aliran air.

Jadi, kami tak tahu apakah anak sapi itu masih hidup atau dia mengikuti induknya hanyut di sungai. Semoga Tuhan menolong keduanya jika itu terjadi. Permasalahan rumah tangga kami bisa makin rumit karena Tacha kini tak punya apa-apa lagi. Maksudku, ayahku telah bekerja keras untuk membeli La Serpentina saat dia masih anak sapi mungil agar ayahku bisa menghadiahkannya kepada Tacha. Dengan begitu, Tacha akan memiliki sedikit modal dan tak akan tumbuh menjadi pelacur seperti kedua kakak perempuanku.

Menurut ayahku, kedua kakakku menjadi pelacur karena kami sangat miskin. Mereka tidak puas dan mulai menggerutu saat beranjak remaja. Begitu mereka dewasa, mereka mulai berkeliaran dengan lelaki-lelaki berandal, belajar segala hal buruk. Dan mereka belajar dengan cepat. Mereka mengerti siulan lirih ketika para lelaki berdiri di luar rumah kami dan memanggil mereka di tengah malam. Belakangan, mereka bahkan berani melakukannya saat siang hari. Mereka akan pergi ke sungai beberapa kali sehari dan terkadang kau akan mengagetkan mereka saat membuka pintu kandang dan tanpa sengaja menemukan mereka bergumul tanpa busana dengan tubuh si lelaki menindih di atas.

Akhirnya, ayahku mengusir mereka. Dia telah berusaha mengurus mereka sebisa-bisanya, tapi akhirnya dia tak tahan lagi dan menendang mereka ke jalanan. Mereka lalu pergi ke Ayutla atau ke suatu tempat, aku tak yakin ke mana. Tapi aku tahu mereka menjadi perempuan jalang.

Itu sebabnya ayahku sangat cemas soal Tacha. Dia tak ingin Tacha mengikuti jejak kedua kakaknya. Ayahku ingin Tacha tumbuh menjadi perempuan baik-baik dan menikahi lelaki yang baik. Dan La Serpentina akan menjadi tabungan baginya jika dia dewasa. Dengan sapi itu, Tacha tidak akan terus-menerus memikirkan betapa miskinnya kami. Tapi kini semuanya menjadi sulit. Padahal, bisa dibilang siapa pun akan berani menikahinya jika saja dia tetap memiliki sapi cantiknya itu.

Satu-satunya harapan kami adalah bahwa anak si sapi betina masih hidup. Semoga Tuhan tak membiarkan anak sapi mungil itu mengikuti jejak induknya masuk ke sungai. Sebab, jika itu yang terjadi, adikku Tacha akan terancam memilih jalan yang salah dan ibuku tak mau itu terjadi.

Ibuku bilang, dia tak tahu mengapa Tuhan menghukum kami begitu berat dengan memberinya anak-anak perempuan sejalang itu. Tak pernah ada wanita jalang di dalam keluarganya sebelumnya sejak neneknya hingga kini. Mereka semua dibesarkan untuk takut kepada Tuhan serta patuh dan penuh rasa hormat. Dia mencoba mengingat kesalahan apa yang pernah diperbuatnya sehingga dia sampai melahirkan pelacur demi pelacur dari rahimnya. Namun, dia tak bisa mengingat dosa atau kejahatan apakah yang pernah diperbuatnya. Setiap kali dia teringat kedua anak perempuannya itu, dia menangis dan berkata, “Semoga Tuhan memberikan kebaikan kepada mereka.”

Namun, ayahku bilang tak ada gunanya memikirkan mereka. Mereka memang jalang. Yang perlu dicemaskan adalah Tacha. Dia tumbuh begitu cepat dan dadanya mulai kelihatan ranum seperti kakak-kakak perempuannya, mencuat dan membusung sehingga membikin kami cemas.

“Ya,” ujar ayahku, “semua lelaki menatapnya penuh minat dan dia membalasnya. Tunggulah saatnya tiba dan dia pun akan berakhir menjadi jalang seperti kakak-kakaknya.” Maka, Tacha menjadi kecemasan terbesar ayahku.

Dan kini Tacha menangis karena dia tahu sungai telah membunuh La Serpentina. Dia berdiri di sampingku, berbaju merah, menatap sungai dan menangisi sapi betinanya. Air mata tak henti mengaliri wajahnya, membuat kita membayangkan dia memiliki sungai di dalam dirinya.

Aku melingkarkan sebelah tangan merangkulnya untuk menghibur hatinya, tapi dia tak mengerti. Dia menangis lebih nyaring dan suara isakannya bagaikan arus banjir yang memukul-mukul tepian sungai. Kini seluruh tubuh Tacha menggigil. Banjir terus meluap dan percikan air kotor dari sungai mengotori wajah adikku itu. Sepasang payudara mungilnya bergerak naik turun saat dia tersedu seakan-akan hendak meledak dan menghancurkannya.(*)

  

Juan Rulfo (1917-1986) adalah penulis Meksiko. Cerita pendek di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris George Schade.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s