Bersin

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 20 Oktober 2013)

Image244

(Gambar oleh Yudha AF)

DI tengah suasana hening dan tenang, mungkin dengan kekhidmatan atau bahkan ketegangan, sebuah bersin niscaya bisa jadi pemantik yang membalik keadaan. Ia bisa mengubah hidung menjadi meriam yang menyalak tiba-tiba di tubir benteng pengintaian.

Di kampungku bertahun-tahun lalu, terjadi sebuah perampokan disertai pembunuhan. Korbannya seorang nenek yang tinggal sendirian, namun rutin mendapat kiriman uang dari anak-anaknya di rantau. Uang itu dikumpulkannya untuk membeli emas. Meski ia tinggal sendiri, emas berupa kalung dan cincin itu sering ia pakai ke mana-mana. Dan tentu saja itu menerbitkan liur penjahat budiman sekalipun.

Tidak jelas benar apakah si perampok membunuh nenek karena kepergok, atau perempuan malang itu dihabisi sebelum ia beraksi. Yang jelas, si nenek ditemukan tewas berlumuran darah, bersamaan dengan raibnya kalung dan cincinnya. Bahkan juga sepasang subangnya yang dari suasa. Seorang cucunya, di antara isak tangis dan ingus yang dilecitkan hidung, mengatakan bahwa si nenek berencana mengganti subang suasa itu dengan emas pula, meski niat itu belum lagi kesampaian. Perampokan itu telah merenggut segalanya.

Tidak lama kemudian polisi berhasil meringkus pelaku yang tak lain tetangga korban, yang ternyata masih ada hubungan darah. Proses penangkapannya cukup mudah, selayaknya si pelaku bersin di tengah orang-orang yang mengerubungi lokasi dengan khidmat ketika petugas memasang garis polisi serta mencatat sana-sini. Seorang polisi menemukan sepotong puntung rokok merek tertentu di bawah pohon kopi dekat sudut dapur. Dan dengan naluri anjing pelacak, si polisi menggerutu—jelas, ia pun berusaha mempertahankan suasana yang tenang jika bukan tegang itu.

“Ha, puntung rokok!”

Seorang rekannya membungkuk, dan tanpa menyentuh puntung kecil itu, ikut bergumam. “Hmm, masih baru, sisa semalam…”

Tak dinyana, seorang laki-laki ceking tetangga si nenek, dengan tergesa menimpali—seolah ia digelitik bersin tak tertahan. “Rokok saya bukan merek itu, Pak!”

Sontak semua mata memandang kepada asal suara yang memecah ketenangan, seakan bunyi “Hasyi!” membesar jadi halilintar. Menyambar dan mengurak kekhidmatan orang-orang. Sejenak mencairkan ketegangan tapi sekaligus menciptakan ketegangan baru.

Tanpa banyak bicara, polisi menggiring laki-laki itu ke atas mobil patroli.

“Mari tunjukkan di kantor kalau rokok bapak bukan merek itu,” kata si polisi penemu puntung rokok. Si ceking pun tak menolak, seolah ia diajak ke kantor polisi benar-benar hanya untuk perkara puntung rokok. Maka tanpa raung sirene, mobil patroli membawanya pergi. Itu hanya karena perkara bersin. Hasyi!

 
PERISTIWA di masa remajaku itu, bertahun-tahun kemudian, terhubung secara agak ajaib dengan pengalamanku membaca sebuah tulisan tentang bersin di jurnal kebudayaan cukup terkenal. Tulisan itu menceritakan tentang pengarang Belanda—konon cemerlang—yang mati muda, Frans Kellendonk namanya. Suatu hari ia menyeberangi Sungai Amstel, Amsterdam, naik kapal feri. Sambil bergerak perlahan di bawah matahari musim gugur ke tepi seberang, ia dan penumpang lain mengalami suatu rasa khidmat yang hening dan dalam, tenang dan tenteram. Tetapi ketika harmoni alam mulai meresap penuh di sekitar, mendadak ia terserang sebuah refleks yang datang dari rongga hidung berbunyi keras: bersin. Maka berantakanlah semua. Ketentraman dan suasana damai bagai diusir sekali kibasan tangan![1]

Bukan kebetulan, sebagaimana Kellendonk, aku pernah mengalami peristiwa serupa. Ketika itu, aku sedang menghabiskan rasa bosan dengan berkeliling ibu kota kabupaten tempatku tinggal, Bantul, melewati pohon-pohon angsana yang berderet rimbun di tepi jalan. Selepas Masjid Raya dengan gentong sisa rekor Muri di depannya—dan kini dibiarkan tengadah hampa ke langit kota—aku melihat orang ramai menuju sebuah lapangan. Dan tiba-tiba, entah tangan gaib apa yang menarikku untuk ikut serta membelokkan setang motor ke sana.

Ternyata di lapangan itu ada panggung campursari untuk Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul. Setelah memarkir motor (bayarnya di muka dengan harga dua kali lipat), aku telah begitu saja berada di tengah-tengah penonton yang duduk di lapangan rumput. Penonton yang di belakang berdiri, tapi tidak sedikit pun suasana terasa gaduh. Padahal pengunjung lapangan membludak, sejumlah orang dari kampung-kampung sekitar Bantul bahkan rela datang naik gerobak yang ditarik traktor sawah!

Nah, jangan tergoda dengan moda gerobak yang ditarik traktor sawah, sebab di Bantul yang diguyoni sebgai ndeso itu, memang ada-ada saja kreasi orangnya. Jangankan untuk seni tradisi yang mereka gemari, untuk mengelola hal-hal keseharian pun mereka terbilang mumpuni. Coba, mereka biasa membawa jerami untuk pakan ternak di atas motor atau sepeda ontel dengan mengikutinya memanjang ke samping kiri dan kanan. Saking panjangnya, ujung jerami sampai hendak memalang jalan; toh pengendaranya santai saja melewati lalu-lintas yang ramai. Pengendara lain yang malah mesti pandai-pandai menghindar, dengan sikap tahu sama tahu. Tak ada soal. Jangan kaget pula jika suatu ketika anda melihat sebuah Datsun tua membawa sekam dengan muatan yang buncit seperti seekor sapi mengandung, melenggang acuh memasuki jalan kampung. Itu biasa. Santai wae, Dab! Malahan sebuah padepokan seni di sekitar Sendang Kasihan, telaga pemandian Putri Pembayun di masa lalu, bisa dengan ringan—sebenarnya keterlaluan—membuat tajuk acara seperti “Tari Imaji Nari”, “Niru Imaji Niru”, “Masak Musik Masyuk” atau “Main Mime Menggelikan”. Terlepas dari itu semua, sebuah jurnal kebudayaan yang terbit di Bantul toh pernah dengan bangga mengadopsi spirit Bantul ndeso itu! Dipikir-pikir spirit begini memang barokah.

Hasyi! Sebenarnya aku ingin merejan bersin saat menceritakan bagian ini, supaya, bayangan anda tentang mBantul ndeso buyar sudah. Tapi, bersin tak bisa direjan, bukan? Maka dengan sesadar-sadarnya kumohon kepada anda untuk tidak tergoda tetek-bengek Bantul. Mohon perhatikanlah ungkapan “penonton yang duduk di lapangan rumput”. Tepatnya, “…aku telah begitu saja berada di tengah-tengah penonton yang duduk di lapangan rumput.” Ganjil? Tidak. Sebab, berbeda dengan tontonan jenis musik lain, campursari benar-benar sebuah tontonan santai, adem-ayem, ora neko-neko.

Lihatlah, sepasang pembawa acaranya, laki-perempuan, berbusana sopan seturut tata krama. Yang laki-laki mengenakan pakaian Jawa lengkap (meski tanpa keris), dan yang perempuan berkebaya dengan rambut disanggul bulat lonjong seperti bentuk Gunung Merapi. Mereka masuk dari samping panggung dengan membungkuk-bungkukkan diri. Dari tempat saya berdiri mereka tampak seolah-olah mengendap-endap. Setelah mengucap “Assalammualaikum” berbarengan, mereka menyapa penonton—kami semua—dengan sapaan yang akrab sekali. “Pendemen campursari sekalian….”

Meski sejatinya aku bukan pendemen atau penggemar campursari, mendengar sapaan itu aku merasa ada suatu ikatan yang tak biasa menguat dalam diriku. Entah apa. Aku pun segera memantapkan posisiku: duduk dengan ketakziman penuh beralaskan sandal di lapangan rumput. Penonton lain juga begitu, sebagian dari kami duduk beradu siku dan lutut, dan terasa ada ikatan suci halus yang mempersatukan kami. Tak lama kemudian, lagu-lagu campursari mengalunlah. Penyanyinya bukan nama-nama terkenal, tapi tak jadi soal. Toh lagu-lagu yang mereka bawakan—kadang berduet, kadang sendirian—tetap renyah di kuping. Aku sendiri tak yakin bisa membedakan rasa lagu yang dibawakan penyanyi terkenal atau tak terkenal. Bagiku, sesuai namanya, campursari itu persis gado-gado yang bumbu dan rasanya standar. Tapi bukan itu yang penting. Aku, bersama ratusan mata dan telinga yang lain, telah dibuat mengalir dalam ketenangan dan kekhidmatan malam yang agung. Kami seolah berada dalam lindungan bintang-bintang adiluhung. Khusyuk, merasuk.

Akan tetapi ternyata kiamat dini meski kami tanggungkan ketika bulan di langit yang jernih perlahan bergeser ke bukit-bukit arah Goa Selarong. Pembawa acara, masih menyapa dengan “pendemen campursari”, mengumumkan bahwa sesi pertama pertunjukan malam itu sudah berakhir, dan sesi berikutnya akan diisi deretan para penyanyi dangdut pilihan.

Tiba-tiba suasana berubah gaduh. Orang-orang serentak berdiri. Ada yang berdiri untuk langsung berjingkrak dan bersorak-sorai, ada yang berdiri sambil menggerutu, lantas pergi. Aku sendiri terlambat bangun, tapi segera menyadari bahwa surga kami telah bubrah, direnggutkan. Deretan penyanyi dangdut yang namanya cukup dikenal di seantero Yogya, seperti Denok Renita dan Ana Sanjaya, segera menggoyang panggung. Meskipun aku yakin mereka pasti juga bisa bercampur sari, jelas bukan untuk itu mereka diundang. Mereka mesti menggoyang panggung dengan suara dan gaya yang lebih menantang.

Jadi ketika Ana Sanjaya berduet dengan Pak Camat Plered membawakan “Malam Terakhir”, itu justru lagu pembuka yang mengurak ketenangan panggung: dan penonton pun bergoyang. Pengalaman itu aku tulis di sebuah harian lokal sebaai “bersin kultural.”[2] Hasyi!

 
KINI, sebuah bersin yang tak terduga-duga menguak kedamaian dan ketenraman tempat aku tinggal. Sebuah kampung yang teratur dan tertib, dengan anak-anak yang mengaji dan penduduk rajin bersembahyang ke mushala yang bersih. Mushala itu dijaga ustad Marwan yang tak banyak cakap, kecuali saat berkhotbah. Hidupnya hanya untuk berbuat. Dan khotbah adalah perbuatan.

Aku kira tak ada kampung lain sedamai tempat tinggalku. Ciri damai pertama ala novel romantik dapat kusebutkan: burung-burung berkicau riang di ranting-ranting pohon pacar, dan di sebalik gerumbul daun pisang. Setiap petang merpati berpacu di atas atap, dilepas remaja tanggung yang bersorak gembira dari tepi sisa sawah terakhir. Meskipun kudengar mereka bertaruh kecil-kecilan, mereka tak pernah berkelahi.

Sementara itu, kedamaian kedua ala novel detektif dapat kuceritakan lewat sosok seorang warga. Kami memanggilnya Mas Dobleh. Dalam sore yang longgar, selalu longgar, laki-laki anggota kethoprak tobong yang hampir tutup itu, sering terlihat bermain senapan angin di balai-balai depan rumahnya. Tapi senjata itu lebih banyak menemaninya, leyeh-leyeh, dilap dan diminyaki, lalu dibaringkan di sampingnya, sehingga tak mengancam perdamaian. Hanya saja, sesekali ia menembak iseng burung yang terbang atau membidik layang-layang rusak yang nyangkut di tiang listrik atau bubungan rumah. Bagian terakhir ini rasanya cukup mengancam, namun senyumnya yang teduh seolah dinaungi kumisnya yang tebal, sungguh membuat kita terbebas dari rasa terancam. Apalagi Mas Dobleh, entah sudah berapa lama, menjabat sebagai kepala keamanan. Sebuah senapan angin kukira cocok belaka dengan tugas sebagai kepala keamanan.

Hubunganku dengan Mas Dobleh tergolong baik. Ia tahu aku seorang wartawan. Meskipun aku dalam berbagai kesempatan bilang aku bukan wartawan, melainkan penulis tanpa ikatan, tetap saja ia—sebagaimana orang kampung lainnya—memanggil aku “Mas Wartawan”. Dan jika melihat aku pagi-pagi berdiri di depan pagar rumah, mereka—sebagaimana Mas Dobleh—akan sama-sama menyapa, “Prei, Mas?” Maksudnya, libur atau tak ke kantor? Aku cukup menjawab ya atau mengangguk sopan, meski sepanjang hari aku tak pernah ke kantor karena memang tak punya kantor; toh bangun siang terbukti menyelamatkanku dari sapaan ramah itu. Tapi lebih dari itu semua, bagi Mas Dobleh aku adalah wartawan karena wartawan mendapat jatah koran (padahal aku berlangganan), dan karena itu, ia bisa ikut nebeng membaca rubrik Kriminal. Itulah yang membuat kami dekat meski belum tentu saling mengenal.

Sesekali pada malam hari, aku beserta bocah-bocah kampung diajak Mas Dobleh mencari burung. Kami membawa lampu stromking ke tepi sawah di mana berderet pohon-pohon mahoni. Deretan pohon mahoni dekat sungai kecil itu kami goyang-goyang, dan anehnya, dan gerombolan burung pipit akan ke luar mengejar nyala lampu sehingga kami tinggal memungut burung-burung itu di udara. Makhluk liar yang tiba-tiba jinak itu kami masukkan ke dalam kain sarung yang sudah diikat. Begitu jinaknya, bersuara pun burung-burung itu tidak.

Suatu malam, bukan burung-burung yang kami bawa pulang, tapi suara-suara. Betapa tidak. Ketika kami berjalan di kampung yang tenang dan lewat di depan rumah Bu Gendhuk, yang juga tenang, tiba-tiba telingaku mendengar sesuatu dari rumah semi permanen itu. Bersin! Begitu pekanya telingaku akan bersin, sehingga malam yang tenang itu kurasakan meletupkan bebunyian asing di bubungan. Bagi kebanyakan orang, juga anda, bersin mungkin tak lebih letup berisik ujung. Tapi bagiku yang sangat peka, berkat pengalaman yang sudah-sudah, bersin bisa membuatku kenal jenis kelamin dan usia pemiliknya. Begitulah, yang kudengar malam itu bukan bersin perempuan, bukan pula milik anak laki-laki kecil Bu Gendhuk.

Soalnya adalah, suami Bu Gendhuk bekerja di Semarang dan hanya pulang tiap Sabtu malam. Minggu malam ia meluncur lagi ke Semarang. Total hidupnya dihabiskan bolak-balik antara pantai selatan dan pantai utara Jawa. Tanpa harus mengokang senapan angin, Mas Dobleh tahu situasi, aku kira. Sebagai kepala keamanan dan pemain kethoprak, ia pasti hafal nama-nama hari. Tapi jika lupa, kewajibaku mengingatkannya, “Ini hari Selasa, Mas, dan bersin yang kudengar barusan milik laki-laki dewasa!”

“Hus, ngawur kamu!”

Mas Dobleh cepat-cepat menarik tanganku dan segera berlalu. Ajaibnya, bocah-bocah calon petualang yang berbaris di tengah kami segera ikut ambil bagian. Naluri bocah tampaknya membuat mereka mengerti. “Wis yo, kita intip!” Mulyono tiba-tiba saja berbisik. Mas Dobleh mencegahnya, tapi Mulyono bukan burung yang jinak. Anak laki-laki itu sudah berlari ke samping rumah Bu Gendhuk, diikuti beberapa bocah lainnya.

Kami menanti.

Tiba-tiba Mulyono berteriak, “Ada bapak-bapak!”

“He, jangan bikin masalah kowe!” teriak Mas Dobleh tertahan.

Tapi lagi-lagi keajaiban malam menggerakkan tungkai-tungkai beberapa bocah untuk lari menyusul. Aku pun tak luput dari keajaiban. Naluri kanak-kanak membawaku berlari ke arah dapur. Mas Dobleh ikut berlari. Tepat, seorang laki-laki berkelebat ke luar dari pintu, dan kucekal lengannya. Susah-payah ia melepaskan diri, dan akhirnya berhasil lolos. Tapi itu tak penting lagi. Kami telah mengenali siapa dia. Sukarji!

 
BESOKNYA ada gempar lebih besar. Bu Gendhuk disidang di rumah Ketua RT. Dalam sidang yang dipimpin Dalijo—mantan anggota FPI—terungkap bahwa Sukari bukan satu-satunya yang berkelebat keluar dari pintu dapur. Ada Dulrokhim. Ada Solihin. Dan yang lebih mengagetkan: juga Pak RT, Ustad Marwan dan Mas Dobleh!

Mataku nanar. Aku merasa semua orang mendadak bersin, serentak dan bertubi-tubi. Tak sanggup aku mengenali bersin itu, berhari-hari, berminggu-minggu, membuat kampung kecilku demam membaca melebihi sakit segala flu!

Kedamaian dan ketentraman mendadak sirna dari bumi.(*)

 

Rumahlebah Yogyakarta, 2013
(untuk Indra Tranggono)

 
Catatan:

[1] Will Derks, “Tubuh Liar, ‘Realisme Grotesk’ dalam Cerita Melayu” (Kalam No 15, 2000).
[2] Raudal Tanjung Banua, “Kudeta di Jagad Kultural” (Bernas Minggu Legi, 5 Januari 2003).

  

Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku cerita pendek terbarunya, Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai, akan segera terbit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s