Senja

Cerpen Wladyslaw Reymont (Koran Tempo, 1 Desember 2013)

Image291

(Gambar oleh Yuyun Nurrachman)

SOKOL terbaring sekarat. Dia telah terkapar seperti ini cukup lama. Dia jatuh sakit dan kini disingkirkan seperti bangkai tak berguna. Orang-orang baik itu mengatakan bahwa membunuh dia adalah perbuatan yang salah walaupun kulitnya yang kencang bisa dimanfaatkan untuk membuat barang kulit yang bagus. Ya, tapi orang-orang baik itu membiarkannya mati pelan-pelan dan terlupakan. Orang-orang berjiwa baik itu sesekali menendangnya untuk mengingatkannya bahwa dia sekarat terlalu lama. Namun, mereka tak mempedulikannya. Terkadang anjing-anjing berburu yang kerap beradu lari dan berkejaran dengannya mendatanginya. Tapi anjing-anjing itu berjiwa buruk (akibat terlalu banyak bergaul dengan manusia). Sehingga, setiap kali para majikan mereka memanggil, mereka bergegas tunggang-langgang meninggalkan Sokol. Hanya Lappa, anjing Siberia tua yang buta, yang kerap tinggal lebih lama menemani Sokol ketimbang anjing-anjing lain. Dia terbaring terkantuk-kantuk setelah diberi makan, menatap sedih dan ketakutan pada Sokol yang mata lebarnya seakan memohon dan bersimbah tangis.

Maka, kuda tua itu pun ditinggalkan mereka sendirian. Hanya hari demi hari yang menemaninya. Hari-hari yang keemasan dan kemerahan, atau yang kelabu dan kasar menyakitkan, memenuhi istal itu dengan tangisan. Hari-hari itu mengintip ke celah kelopak matanya, lalu pergi diam-diam, seakan-akan bersikap takzim.

Namun, Sokol takut pada malam hari. Malam-malam bulan Juni yang pendek, hening, mencekik, dan menakutkan. Pada malam-malam seperti itulah dia benar-benar merasa tengah sekarat. Dan dia nyaris kalut gara-gara takut. Dia hendak merenggut tali lehernya, memukulkan ladamnya ke dinding istal. Dia ingin melarikan diri. Berlari dan terus berlari.

Suatu hari, saat matahari terbenam, dia bangkit. Dia menatap cercah cahaya yang mengintip dari celah dinding dan meringkik panjang penuh keluh. Tak satu suara pun menjawabnya dari keheningan hari yang tengah beranjak pergi. Burung layang-layang melintas terbang atau berkicau dari sarangnya, atau mematuk serangga-serangga keemasan laksana anak panah berbulu dan terbang di antara pendar terakhir cahaya matahari. Dari padang-padang rumput di kejauhan terdengar bunyi sibuk desing dan desau sabit. Sementara, dari ladang-ladang gandum dan kebun bunga terdengar suara-suara gemerisik, gumam, dan bisik.

Namun, bagi Sokol, hanya ada keheningan pekat dan mengerikan yang membuatnya gemetar. Kepanikan yang muram merundungnya. Dia mulai menarik-narik tali kekangnya. Tali itu putus dan ia pun berlari ke lapangan.

Silau matahari membutakannya, sementara rasa sakit yang liar menggigiti ususnya. Dia menunduk dan berdiri tak bergerak, seakan-akan tersihir. Sedikit demi sedikit dia berhasil kembali menguasai diri. Ingatan-ingatan samar tentang hutan, ladang, dan padang rumput berlintasan di benaknya. Dan bangkitlah hasrat tak terbendung di dalam dirinya untuk berlari: kerinduan untuk menundukkan jarak yang membentang, rasa haus untuk kembali hidup. Dia mulai mencari-cari jalan keluar dari lapangan. Lapangan itu berbentuk persegi panjang yang tertutupi berbagai bangunan. Dia terus mencari-cari jalan dengan sia-sia. Dia tetap mencoba walau dia nyaris tak mampu lagi berdiri tegak di atas keempat kakinya, meski setiap gerakan membuatnya disiksa rasa sakit tak tertahankan, biarpun darah terus mengucur dari luka lamanya.

Akhirnya dia menubruk pagar kayu. Dari situ bisa dilihatnya rumah si pemilik tanah. Dipandanginya halaman penuh bunga di depan pagar itu, tempat anjing-anjing biasa berjemur, ditatapnya rumah yang jendela-jendelanya berkilau keemasan oleh cahaya matahari. Dia meringkik kesakitan mengundang iba.

Seandainya ada seseorang yang menghampirinya dan mengatakan kata-kata manis kepadanya, atau mengelus lembut bulu-bulunya, dia akan rela membaringkan diri dan mati saat itu juga. Namun yang ada hanyalah keheningan yang panjang.

Dengan putus asa, dia mulai menggigiti tepian pagar, mencoba merenggut pintu pagar, bersandar padanya dengan seluruh bobot tubuhnya. Pintu itu terbuka dan dia pun berjalan gontai menuju halaman berbunga. Dia mendekati beranda, masih meringkik lirih. Tapi tak seorang pun mendengarnya. Cukup lama dia berdiri di sana, menatap jendela-jendela bertirai, bahkan mencoba mendaki tangga naik ke beranda. Lalu dia berjalan memutari rumah itu.

Sekonyong-konyong dia seakan lupa segalanya. Yang ada dalam pandangannya hanya bayangan ladang-ladang, laksana samudra tak berbatas, membentang hingga sejauh mata memandang. Sejauh jarak tak terbatas, sejauh cakrawala. Terpesona oleh bayangan-bayangan menggoda ini, dia berjalan terhuyung-huyung dengan segenap daya yang tersisa, dan terpuruk jatuh.

Sokol gemetar. Matanya berkabut oleh derita tak terperi. Dia bernapas berat, terengah-engah. Disurukkannya moncongnya ke rerumputan untuk mendinginkan lubang hidungnya yang terasa panas. Dia sangat kehausan. Tapi terus dicobanya maju dengan terseok-seok, didorong oleh kepanikan yang galau dan naluri tak tertahankan untuk melarikan diri. Saat dia kembali terpuruk di atas onggokan gandum dan jagung di tepi ladang, kaki-kakinya terasa makin berat. Galur ladang itu bagaikan jurang; rerumputan tinggi dan ilalang membelit kakinya, menjatuhkannya. Semak-semak menghalangi langkahnya. Seluruh bumi seolah-olah menarik tubuhnya. Berkali-kali bebulir gandum menghalangi pandangannya dari cakrawala.

Jiwanya yang malang dan bodoh terjerumus kian dalam di kegelapan rasa takut. Tak dapat mengenali apa pun, dia terus terhuyung-huyung jatuh bangun, seakan-akan terngungun kalut dalam kelimun kabut. Seekor ayam hutan, yang tengah memandu anak-anaknya, terbang tiba-tiba di antara kedua kaki Sokol, membuatnya ketakutan dan terdiam, tak berani bergerak. Burung-burung gagak yang terbang hening di ladang berhenti untuk menatapnya, bertengger di atas sebuah pohon pir, lalu berkaok-kaok jahat.

Kuda itu menyeret diri ke padang rumput dan terjerembab kelelahan di atas tanah. Dia merentangkan kaki-kakinya, menengadah ke angkasa, dan mendesah penuh iba. Burung-burung gagak turun dari pohon dan melompat di atas bumi, makin mendekati kuda itu. Pohon jagung membungkuk ke arahnya dan menatapnya dengan matanya yang kemerahan. Burung-burung gagak makin mendekat, mengasah paruh di atas tumpukan rumput keras. Beberapa ekor terbang di atasnya berkaok ganas. Gagak-gagak itu terbang makin rendah hingga dia dapat melihat mata bulat mereka yang mengerikan dan paruh yang separuh terbuka. Tapi dia tak mampu bergerak. Dia mencoba menggarukkan kakinya ke tanah, berupaya bangkit, membayangkan dia kembali berdiri, melompat, dan berlari kencang di sepanjang ladang, berkejaran dengan anjing-anjing yang berlarian di sampingnya dan menggonggong riang. Dia merasa terbang seperti angin.

Kepedihannya makin mencekam sehingga dia melontarkan ringkikan liar dan serentak bangkit. Gagak-gagak itu terbang menjauh, berkaok-kaok.

Namun, dia tak bisa melihat apa pun, tak mengerti apa pun. Segalanya melayang-layang di sekitarnya, berputaran, berlompatan, bertabrakan. Dia merasakan dirinya terbenam, seakan-akan terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Gigil yang dingin merajai tubuhnya dan dia pun terkapar diam.

Matahari telah sirna. Temaram senja melingkupi segala benda dengan jubah keheningan. Gonggong anjing terdengar kian nyaring di kejauhan.

Lappa berlari menghampiri kawannya, tapi Sokol tak mengenalinya. Anjing tua itu menjilatinya, mencakar-cakar bumi, berlari ke sana-kemari melintasi ladang seraya menyalak ribut. Dia mencoba mencari pertolongan, tapi tak seorang pun datang.

Rumput yang bergoyang menatap mata Sokol yang terpentang lebar. Pepohonan menghampirinya, mengulurkan cecabang dan rerantingnya yang tajam serupa cakar kepadanya. Burung-burung terdiam. Ribuan makhluk mulai melata merayapi jasadnya; mencubit, mencakar, dan mengoyak dagingnya. Gagak-gagak hitam berkaok-kaok menakutkan.

Lappa, si anjing tua buta, mendengking dengan bulu-bulu meremang ketakutan, lalu melolong aneh.(*)

 
 

Wladyslaw Stanislaw Reymont (1867-1925) adalah penulis Polandia. Ia mendapat Nobel Sastra pada 1924. Cerita di atas diterjemahkan Anton Kurnia dari versi Inggris seorang penerjemah anonim.

Iklan

2 pemikiran pada “Senja

    1. Mungkin cerpen ini tentang keputusan yang problematis antara mempercepat kematian si kuda atau membiarkan ia mati sesuai waktunya tapi sekaligus membiarkan ia merasa ditelantarkan. Mungkin ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s