Gerimis di Kuta

Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 8 Desember 2013)

Image294

(Gambar oleh Yuyun Nurrachman)

IA duduk di teras kafe itu. Sudah lewat setengah sepuluh malam. Hujan baru saja reda. Dari tepi kanopi hijau-lumut di atasnya, ia melihat sisa hujan mengucur, seperti tirai air.

Teras kafe itu agak lengang. Selain dirinya, ada perempuan berambut poni di ujung dekat kaca. Matanya berciri oriental dan hidungnya kecil, pada muka yang bulat. Perempuan itu sedang berbicara dengan perempuan lain yang membelakanginya. Ia hanya melihat rambutnya yang lembap seperti habis dikeramas, dan tubuhnya dalam balutan kaus dan celana jins ketat. Tak jauh dari kedua perempuan itu, seorang lelaki kurus melamun. Rambutnya kusut. Muka dan lehernya kurus, tapi mata itu rasanya terlalu besar.

Ia sedang berada di Kuta Square, kawasan pertokoan di sisi barat Bali, dan ia sedang duduk di teras Dulang Cafe. Sebetulnya malam ini ia tak punya rencana untuk singgah ke kafe itu. Sekitar satu jam yang lalu, ia baru saja merampungkan acara bincang-bincang tentang buku koleksi fotonya di Times, toko buku tak jauh dari Dulang Cafe. Ia selesai menjawab berbagai pertanyaan, menandatangani beberapa buku, lalu bercakap sebentar dengan manajer Times yang dipanggilnya Pak Putu—salah seorang sahabatnya di Bali—sebelum mereka berjabat tangan dan ia keluar dari Times. Malam ini berencana berjalan kaki ke hotelnya di tepi Pantai Kuta sambil menikmati suasana di Kota Square. Tetapi, belum jauh ia berjalan, hujan mendadak turun, seperti tumpah dari langit. Ia berlari-lari di trotoar, dan akhirnya tertahan di teras kafe itu.

Mulanya ia tak tahu kalau ia berhenti di teras Dulang Cafe, tempat yang pernah disinggahinya tiga tahun lalu. Ia baru menyadari setelah ia terpaksa duduk karena tak bisa ke mana-mana, dan memesan segelas Guinnes. Meja-kursi di teras itu sudah berganti, tak seperti tiga tahun yang lalu. Tanaman sejenis alang-alang yang dulu dijepit agar berdiri tegak di tepi trotoar—sebagai pembatas antara trotoar dengan jalan di depannya—sekarang sudah tidak ada. Tapi ia tak mungkin melupakan kanopi berwarna hijau-lumut itu. Atau interior kafe yang bernuansa kuning-jingga, dengan aksen dinding cokelat dan pilar berlapis batu. Juga sarung pembungkus kursi yang berwarna jingga.

Di teras kafe itulah ia duduk, dan diam hampir selama satu jam. Ia mendesah lambat. Seharusnya pada jam-jam seperti sekarang, kawasan ini masih sangat ramai, setidaknya sampai satu jam ke depan. Tapi, sejak tadi hanya beberapa orang yang melintas di trotoar. Lalu dua-tiga mobil melewati jalan yang dipisah dengan pembatas kansten selebar 60 sentimter. Di tengah cahaya yang menyorot dari etalase dan papan-papan reklame, kawasan ini terlihat lengang. Apakah karena hujan itu?

Ia memandang ke dalam kafe, ke ruangan di balik kaca. Ia melihat hanya sedikit meja-kursi yang terisi.

Lalu kenangan itu muncul. Kenangan mengenai perempuan itu. Naomi!

 
IA pernah mengenal perempuan yang bernama Naomi. Baginya, Naomi adalah musim gugur ketiga, setelah hubungannya dengan dua perempuan lain—yang disebutnya musim gugur pertama dan kedua—berakhir kandas. Ia mengenal perempuan itu di suatu tempat di pesisir selatan Cile. Mereka terperangkap di hotel ketika badai kabut dan selama tiga hari tak bisa ke mana-mana. Mereka sempat kehilangan kontak setelah itu dan baru bertemu lagi tiga bulan kemudian. Saat itulah ia menyebut Naomi “panorama senja yang paling indah”, waktu mereka berpapasan di suatu jalur pedestrian pada senja akhir musim gugur. Perempuan itu bertubuh ramping. Kulitnya sangat bening. Berwajah oval, dengan hidung lancip dan mata agak sipit.

Mereka berhubungan selama satu tahun. Tetapi, dalam satu tahun itu, tak banyak yang ia ketahui tentang Naomi. Ia tahu Naomi bekerja sebagai jurnalis lepas untuk beberapa penerbitan di Eropa, dan karena itu Naomi kerap bepergian. Ia tahu Naomi tak punya jadwal yang tepat, dan karena itu ia tak pernah tahu di mana Naomi berada—sampai tiba-tiba ia menerima surel dari banyak kota. Milan, Paris, Rotterdam… Uniknya, perempuan itu selalu dapat menemukan dirinya, meskipun ia tengah memotret di lain kota atau negara. Sebagai fotografer muda, ia juga kerap bepergian. Kadang Naomi muncul begitu saja di apartemennya, dan mereka melewati beberapa hari bersama.

Naomi juga enggan bercerita tentang masa lalunya. Misalnya di mana ia tinggal waktu kecil, di mana ia lahir, atau tentang kerabatnya. Hubungan mereka memang berjalan dengan cara seperti itu. Naomi enggan bercerita dan tak menuntut cerita darinya. Tapi ia mencintai perempuan itu. Sejak mengenal Naomi, ia tak lagi memotret matahari terbenam, padahal ia menyukai kegiatan itu. Ia selalu menyukai senja dengan matahari terbenam, karena baginya itulah panorama yang paling indah. Tetapi ia berpikir, untuk apa lagi memotret senja kalau ia sudah mendapatkan “panorama senja yang paling indah”.

Tiga tahun lalu ia mengajak Naomi ke Bali. Jauh-jauh hari ia sudah mendengar banyak cerita dari sahabat-sahabatnya tentang pulau itu. Tentang pantai-pantai bermandi cahaya matahari dan bukit-bukit lengkap dengan kehijauannya. Sangat menarik sebagai obyek foto-fotonya, begitu kata mereka. Di Bali, tiga tahun lalu, ia memilih hotel yang menghadap Pantai Kuta. Sejak memasuki halaman hotel ia sudah merasakan suasana itu. Hotel berlantai empat itu, yaitu Mercure Kuta, adalah bangunan bergaya modern dengan pengaruh lokal, dengan konsep bungalo. Atapnya punya banyak bukaan kaca, sementara unsur kayu sangat menonjol pada bingkai jendela, pembatas balkon dan pilar-pilar. Bahkan beberapa ornamen yang sangat khas, seperti bata yang digosok dan batu paras, juga ditonjolkan. Area hotel dipenuhi tanaman palem dan—ini yang paling menarik—pohon berbunga kuning, berdahan panjang, dengan daun berbentuk lonjong dan agak jarang, yang disebut jepun Bali.

Suatu senja, sewaktu ia berdua saja dengan Naomi di kolam renang hotel, ia mendapati pemandangan yang menakjubkan. Kolam renang yang terletak di lantai empat itu menghadap Pantai Kuta. Ketika itu menjelang matahari terbenam. Ia melihat langit tiba-tiba berubah jingga. Matahari tinggal bola yang menggantung kemerahan. Begitu kuatnya warna jingga itu sampai-sampai seluruh langit menjadi jingga. Laut, pasir, dan pepohonan di pantai juga berubah jingga. Bahkan air kolam renang dan lantai di sekitarnya juga berubah semu-jingga.

Ia terperangah. Barulah ia teringat, seorang sahabatnya pernah menyebut pantai itu sebagai “pantai matahari terbenam”.

Malam itu ia berkata pada Naomi, bahwa ia ingin memotret matahari terbenam.

Esoknya, ia berjalan-jalan ke pantai. Ia mengamati titik matahari dari beberapa sudut. Menjelang matahari terbenam, selama tiga puluh menit, ia memperhatikan tiap perubahan lanskap: warna langit, bentuk awan, garis gelombang, dan warna-warna pada pasir dan pepohonan. Ia terus mengamati sampai matahari lenyap ke batas laut.

Esok hariya ia kembali ke pantai dengan peralatan memotretnya. Ia mengambil beberapa foto dari berbagai sudut. Bahkan ia masih terus memotret meski matahari sudah hilang dari langit. Setelah itu ia mempelajari hasilnya sambil duduk di teras Hard Rock Cafe di seberang Pantai Kuta. Tak puas akan hasil jepretan itu, esok ia kembali ke pantai. Kali ini ia datang lebih awal dan menyiapkan kamera di titik-titik yang ia inginkan. Ia begitu larut dalam kesibukan itu, dan baru kembali ke hotel setelah jam makan malam.

Begitu membuka pintu kamar, ia merasakan sesuatu yang janggal. Kamar hotel itu sangat rapi. Ada kartu terlipat menggeletak di meja nakas. Ia tahu Naomi suka meninggalkan pesan dengan cara itu, jika ingin ke luar sendiri atau tiba-tiba harus pergi karena pekerjaannya. Tapi tak seharusnya kamar itu serapi sekarang! Ia membuka lipatan kartu. Pesan dari Naomi, diawali kalimat: Aku pergi. Lalu coretan yang ditulis tergesa: Mari kita berjanji untuk bertemu di pulau ini setahun lagi, pada hari dan jam yang sama seperti malam ini, di bungalo tempat kita bersantap malam. Jika salah seorang dari kita tak muncul hari itu, berarti kita sudah membuat keputusan.

Ia mengomel dalam hati. Before Sunrise. Ya, Before Sunrise! Ia tahu Naomi menyukai film garapan Richard Linklater itu. Juga lanjutannya, Before Sunset. Mereka pernah menonton film itu di apartemennya dan Naomi berkata bahwa cinta seperti itu sungguh tak biasa. Tapi tak berarti mereka harus meniru adegan dalam film itu!

Ia menelepon Naomi. Tak ada jawaban. Ia mengirim pesan, yang setelah berjam-jam tak juga dibalas. Ia mengirim surel dan sampai esok pagi tak ada balasan.

Lalu ia mengerti, Naomi serius mengenai pesan itu. Akhirnya ia menghabiskan sisa waktu di Bali sendirian.

Setahun kemudian ia kembali ke Bali. Ia memesan kamar yang sama di Mercure Kuta. Ia juga memesan bungalo di samping kolam renang—bungalo yang sama dengan pemandangan ke pantai. Tapi sampai larut malam, Naomi tak muncul.

Malam itu, dua tahun yang lalu, ia gelisah. Ia menelepon. Ini telepon pertama setelah satu tahun. Komputerlah yang menjawab: the number you’re calling is not registered. Ia mengirim surel—surel pertama setelah satu tahun—yang langsung ditolak setelah sepuluh detik. Lewat seorang sahabatnya, ia memeriksa penerbangan ke Bali dalam tiga hari terakhir. Nama Naomi tidak terdaftar. Ia masih mencoba menelepon beberapa buletin tempat Naomi menjadi kontributor. Jawaban yang ia terima: Naomi tak lagi menjadi kontributor di sana.

Sejak itu Naomi seperti lenyap ditelan bumi.

 
DUA perempuan di ujung dekat kaca itu berdiri. Ia mengamati sewaktu keduanya menyusuri trotoar, menjauh dari teras kafe. Hujan sudah sepenuhnya reda. Ia tak lagi melihat tirai air, tapi gumpalan air yang menetes-netes dari tepi kanopi. Jalan komblok di depannya basah, dan mengilap waktu tersentuh cahaya dari kaca-kaca atau papan reklame, bergalur-galur antara gelap dan terang.

Lalu ia melihat gerimis, yang seolah merupakan jatuhan jarum-jarum kecil.

Ia tersenyum, lalu menghabiskan sisa Guinnes dalam gelasnya. Ia masih di teras kafe itu. Seorang lelaki di usia tiga puluh lima tahun. Berambut ikal, kulit agak gelap, dan bermata cokelat. Hari ini adalah kunjungannya yang ketiga kali ke Bali, dan ia mulai menyukai apa pun yang ada di pulau ini. Ia menyukai langit dan embusan anginnya. Ia menyukai pantai-pantai, biru laut, gelombang, dan warna pasirnya. Ia menyukai bukit-bukit dan gunung. Juga alunan musik dan arsitektur lokalnya. Sekarang ia malah menyukai gerimis itu…

Ia tersentak ketika seorang perempuan tiba-tiba berdiri di depannya.

Sir, tolong tanda tangani buku ini untuk saya.” Perempuan itu menyodorkan buku ke arahnya.

Sedetik ia hampir saja berdiri dan berteriak: Naomi. Tapi sedetik kemudian ia sadar. Bukan! Perempuan di depannya bukan Naomi. Wajahnya memang oval dengan mata agak sipit, sangat mirip Naomi. Kulitnya juga bening. Hanya, bentuk hidung dan mulutnya berbeda.

Ia melihat perempuan itu memegang buku koleksi foto yang tadi didiskusikan di Times.

“Untuk Miss…?

“Luna.”

Ia menulis nama itu dan sebaris ucapan di bawahnya, lalu menggoreskan tanda tangan di halaman pertama buku. Dua tahun lalu, setelah Naomi pergi, ia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya, yang kemudian dibukukannya. Setelah buku itu terbit, ia menerima undangan diskusi dari berbagai komunitas fotografi. Ia juga diminta terlibat dalam beberapa pameran foto internasional. Selama satu tahun terakhir ia sangat sibuk, dan untuk itulah ia berada di Bali hari ini.

Sir, ada yang ingin kutanyakan.” Perempuan itu duduk di depannya, lalu mulai membuka-buka halaman buku.

Ia memandang perempuan itu. Kadang ia berpikir, Tuhan pasti bukanlah makhluk yang kreatif. Jika kau percaya Tuhan yang menciptakan manusia, maka Tuhan pasti hanya menciptakan beberapa wajah. Kemudian Tuhan tinggal mencomot bagian dari satu wajah dan menggabungkan secara acak dengan wajah lain. Karena itu ia sering melihat mata yang sama, hidung yang sama, mulut yang sama, atau dagu yang sama, meski pada wajah-wajah yang berbeda.

“Kau kehujanan…?” Rambut sebahu perempuan itu agak basah. Jaket tipis yang dikenakannya juga basah di bagian bahu.

“Aku terlambat sampai ke Times. Waktu aku tiba, diskusi sudah selesai. Kata Pak Putu, manajer di sana, kau baru saja berjalan ke arah ini. Buru-buru aku menyusul. Lalu turun hujan lebat. Setelah hujan, kupikir kau pasti sudah jauh. Jadi aku berbalik… dan aku melihatmu di kafe ini, Sir.”

“Kalau begitu kau melewatiku waktu terburu-buru tadi.”

Perempuan itu tersenyum. Usianya masih muda. Mungkin sekitar dua puluh lima.

“Ini,” perempuan itu menunjuk sebuah foto di buku. Foto yang memperlihatkan langit dalam warna kuning dan jingga, matahari bundar yang bercahaya kuning, laut yang juga jingga dengan tekstur hitam, lalu tiga orang berjalan di pasir. Itu foto matahari terbenam di Pantai Kuta tiga tahun yang lalu.

“Bagaimana cara menghasilkan foto seperti ini?”

“Kau suka fotografi, Miss…?”

“Luna. Ya, aku suka memotret. Tapi aku tak tahu teknik memotret yang baik.”

“Hmm… memotret matahari terbenam butuh kesabaran. Juga persiapan. Karena momen itu tak berlangsung lama. Kau harus mengenal tempat yang menjadi obyek foto. Juga titik atau sudut terbaik di tempat itu, untuk mendapatkan foto terbaik. Foto yang baik adalah foto yang bercerita, karena itu maksimalkan siluet pada foto matahari terbenam. Gunakan manual focus. Atau jika kau menginginkan warna foto yang lebih lembut, kau tinggal mengatur kamera white balance ke cloudy, atau scene mode ke sunset…”

Ia tak melanjutkan, ketika dilihatnya perempuan itu tak mengerti. Kuta Square mulai lengang. Beberapa ruko telah memadamkan lampu dan papan reklame. Kawasan yang semula dipenuhi warna-warna cahaya itu berangsur temaram. Di trotoar, beberapa orang masih melintas atau menyeberang.

“Luna, ini malam terakhirku di Kuta. Kau mau menemaniku minum di kafe ini? Kau mau bir?”

“Terima kasih, Sir…?”

“Zack.”

Perempuan itu tertawa. “Ya, Zack! Aku harus kembali ke hotel. Tapi bukankah kafe ini sudah mau tutup?”

Selain dirinya dan perempuan itu, tak ada lagi yang duduk di teras Dulang Cafe. Lelaki kurus yang tadi duduk di dekat kaca sudah lama pergi. Dari ruangan di balik kaca, ia melihat tinggal lima pengunjung yang masih menggerombol di dua meja. Sekarang hampir pukul sebelas malam.

“Kau tinggal di hotel dekat pantai?”

“Ya.”

“Kalau begitu kita searah. Kuharap kau tak keberatan berjalan bersamaku.”

Perempuan itu menatapnya. Ah, ia berpikir, apa mungkin ia pernah bertemu perempuan itu sebelum malam ini? Tatapan itu rasanya tidak asing…

Mereka melewati deretan ruko dan trotoar yang basah. Di beberapa tempat tampak genangan kecil, karena lantai trotoar yang tak rata. Lampu jalan menyorot ke pohon palem dan tanaman semak di pembatas jalan, meninggalkan bercak mengilap di daun-daun. Langit masih menumpahkan gerimis. Sebetulnya kawasan ini agak ruwet. Kuta Square dipenuhi ruko tiga lantai dengan atap saling menyambung. Di sepanjang jalan, yang paling mencolok adalah papan reklame dalam aneka warna dan ukuran. Juga tampilan fasad ruko dalam rupa-rupa bentuk, kaca berbagai ukuran, dan etalase yang melebar atau memanjang. Tapi ia tak pernah tak menyukai keruwetan itu. Apalagi waktu malam ketika masing-masing ruko menyalakan lampu. Baginya, ada perpaduan yang unik antara redup-terang dan warna pada cahaya itu.

Di ujung jalan, mereka menyeberang dan berbelok ke kiri.

“Luna, kau sering ke Bali?”

“Tiap tahun aku ke Bali. Aku tinggal di Melbourne.”

Jalan itu menikung. Mereka berbelok ke kanan dan sampai di Jl. Pantai Kuta. Jalan itu membagi hamparan pasir di kiri dan deretan bangunan di sisi kanan. Mereka melihat Hard Rock Cafe, lalu Hard Rock Hotel. Dari arah pantai ada suara gemuruh. Gelombang berjajar menjangkau pantai, dan bulan muncul di langit. Sehabis hujan, angin menjadi lebih dingin.

“Zack, ini bukumu yang kedua, kukira,” kara perempuan itu.

Ia tersenyum. “Kau benar. Tapi boleh dibilang buku semata wayang. Buku pertama terbit hampir empat tahun lalu, dalam jumlah terbatas. Setelah itu aku tak menginginkan dicetak ulang. Kukira kau belum pernah melihat buku itu.”

“Aku punya buku itu, lengkap dengan tanda tanganmu.”

Ia memandang perempuan itu tak percaya.

“Betul, Zack. Aku punya buku itu, lengkap dengan tanda tanganmu.”

“Di mana kau mendapatkan buku itu, dan kapan aku memberimu tanda tangan?”

“Aku menemukannya di sebuah toko di Denpasar. Lalu aku bertemu denganmu di Hard Rock Cafe.”

Sekarang ia ingat! Tiga tahun lalu, waktu ia duduk di teras Hard Rock Cafe sambil mempelajari foto-foto hasil jepretannya, seorang perempuan mendekat dan menyodorkan buku pertama itu. Ia agak terperangah, karena sebetulnya edisi buku itu sudah tak beredar. Ia memandang perempuan itu agak lama, sampai perempuan itu menunduk. Ya, perempuan yang sama! Perempuan bertubuh langsing, berkulit bening, dengan rambut sebahu, wajah oval, dan mata agak sipit. Dan mata itu, mata yang seolah tersenyum tiap kali perempuan itu berbicara. Tiga tahun lalu ia bertanya, di mana buku itu didapatkan—dan perempuan itu menjawab: sebuah toko di Denpasar. Pantas ia merasa mengenali tatapan perempuan itu!

Mereka sampai di depan Mercure Kuta.

“Di sini aku menginap. Ada baiknya kuantar kau ke hotelmu,” katanya.

“Aku menginap di hotel ini juga.”

Ia menatap perempuan itu lekat-lekat. Perempuan itu balas menatapnya—di bawah gerimis yang seolah jatuhan jarum-jarum kecil.(*)

 
 

Wendoko telah menerbitkan beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012). Sebagian puisinya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan terbit dengan judul Selected Poems (2012).

Iklan

3 pemikiran pada “Gerimis di Kuta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s