Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang

Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 15 Juni 2014)

Image361

(Gambar oleh Munzir Fadly)

MEMANG betul seperti ini kejadiannya. Hampir tujuh tahun yang lalu, dari balkon sempit rumahnya di Kampung Melayu Pulo, Nasrul Marhaban terjun ke air sedalam dua meter lebih, lalu terseret arus ke sungai. Ia hanyut dan tewas tenggelam. Jasadnya ditemukan esok harinya tersangkut di Pintu Air Manggarai. Saat itu sekitar pukul delapan malam, dan banjir kiriman tiba-tiba menerjang kampung yang terletak di tepi Sungai Ciliwung itu. Di bawah guyuran hujan, perahu karet milik kantor Kelurahan Bukitduri datang menyelamatkan warga yang terjebak di loteng dan atap rumah-rumah mereka. Satu per satu orang-orang itu melompat ke perahu untuk diungsikan ke tempat yang lebih aman, termasuk istri dan kedua anak Nasrul Marhaban. Seharusnya begitu pula Nasrul Marhaban, jika saja sebua al-Quran yang dibungkus plastik bening tidak merosot dari dekapannya dan tercebur ke air saat ia bersiap melompat ke perahu.

Tapi bungkusan plastik berisi kitab suci itu benar-benar terlepas dari dekapannya. Nasrul Marhaban terpekik meneriakkan nama Tuhan. Secepat kilat lelaki berusia 41 tahun itu terjun ke air, mengejutkan semua orang yang berada di dekat situ. Ia berhasil meraih bungkusan itu, lalu dengan cepat ia memutar badannya menghadap ke perahu dan berenang mendekatinya. Namun berenang melawan arus deras dengan satu tangan yang tak bebas bukanlah perkara gampang. Nasrul Marhaban seperti orang yang sedang berenang di tempat, tak sedikit pun ia beringsut maju dari tempat di mana ia memulai. Dan lelaki bertubuh tipis itu tersedak air beberapa kali. Napasnya tersengal-sengal. Perahu memang sempat bergerak mendekati Nasrul Marhaban hendak menolongnya, namun sayang perahu karet itu kalah gesit dengan air yang sedang mengalir deras. Seperti yang sudah kuceritakan, Nasrul Marhaban terseret arus dan hanyut ke sungai, diiringi jeritan istri dan anak-anaknya serta beberapa warga sekitar yang melihatnya.

Menurut keterangan para saksi mata, al-Quran itu akhirnya terlepas dari tangan Nasrul Marhaban. Nasrul Marhaban sendiri terlihat timbul-tenggelam beberapa kali, dan konon sempat meneriakkan “Allahu Akbar” pada detik-detik terakhir sebelum ia tenggelam selamanya.

Kematian Nasrul Marhaban lantaran hendak menyelamatkan al-Quran yang jatuh tercebur ke air itu segera menjadi buah bibir. Dari mulut warga yang satu ke telinga warga yang lain, dengan lekas berita itu tersiar ke seluruh kampung, bahkan hingga ke kampung sebelah. Esoknya, seribuan orang ikut mengantar pemakaman Nasrul Marhaban ke pekuburan Rawa Bunga.

“Nasrul Marhaban mati mulia, ia meninggal dunia karena hendak menyelamatkan kitab suci yang sangat dihormatinya,” kata Ustadz Bahtiar dalam khotbah pemakaman.

Tahlil digelar sehari setelah pemakaman, berturut-turut hingga tujuh hari kemudian. Ratusan orang menyesaki Masjid Assalam.

“Sikap dan keberanian Nasrul Marhaban hendaknya menjadi suri teladan bagi kita semua, ia rela mengorbankan dunianya demi akhiratnya,” kata Haji Mahfudi dalam ceramah singkatnya seusai acara tahlil.

 
NASRUL Marhaban lahir dan besar di kampung ini, menikah dengan Emeh, perempuan dari kampung ini juga, dan dikarunia dua anak lelaki. Ia bekerja di sebuah bengkel knalpot di Bukitduri Tanjakan. Gajinya pas-pasan, jika tak bisa disebut kurang. Meski begitu, ia jarang mengeluh. Satu-satunya hal yang paling ia keluhkan adalah soal banjir yang kerap menerjang dan merendam rumahnya, banjir yang akhirnya merenggut nyawanya.

Sama seperti orang lain di kampung ini, Nasrul Marhaban bersama istri dan anak-anaknya harus mengungsi dari rumahnya sendiri setiap kali banjir kiriman datang dan merendam wilayah permukiman mereka. Kantor kelurahan, SD Negeri 11, dan Masjid Assalam menjadi tempat tinggal mereka selama hari-hari bencana. Dan Nasrul Marhaban selalu memilih Masjid Assalam sebagai tempat pengungsiannya.

Sebagai orang yang dikenal sangat jarang pergi ke masjid, pilihan Nasrul Marhaban mengungsi ke Masjid Assalam setiap kali rumahnya terendam banjir itu, sempat menjadi bahan pembicaraan warga. Bahkan ada satu olok-olok tentang hal ini, entah siapa yang mengatakannya pertama kali, bahwa Nasrul Marhaban hanya mengunjungi masjid dalam tiga kesempatan: Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Kurban, dan hari ketika rumahnya kebanjiran. Pada hari-hari selebihnya, tak pernah ia sengaja datang untuk keperluan lain, termasuk untuk salat Jumat.

Tapi siapa yang menyangka bahwa kelak nama Nasrul Marhaban akan disebut oleh seorang katib pada khotbah Jumat di masjid itu? Ustadz Komar, Sang Katib, menjadikan Nasrul Marhaban sebagai contoh sosok manusia yang menutup perjalanan hidupnya dengan baik, mati dalam keadaan husnul khotimah. Ustadz Komar menceritakan bagaimana Nasrul Marhaban yang dikenal sangat jarang ke masjid itu, ternyata lebih memilih kehilangan nyawanya ketimbang melihat kitab suci miliknya lenyap ditelan banjir.

“Ini luar biasa,” kata Sang Ustadz dalam khotbah Jumat, seminggu setelah peristiwa itu.

Begitulah, berhari-hari setelah pemakamannya, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kematian Nasrul Marhaban masih dibicarakan orang. Setiap kali banjir kiriman datang, warga Kampung Melayu Pulo pasti teringat Nasrul Marhaban. Dalam obrolan di tempat pengungsian, di posko banjir, di warung-warung kopi, dan di masjid, selalu terselip riwayat bagaimana Nasrul Marhaban menjemput ajalnya.

 
SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang bulan puasa, Emeh pergi ke Rawa Bunga. Perempuan itu membersihkan kuburan mendiang suaminya. Setelah menaburkan bunga melati, ia duduk di sisi makam membaca al-Fatihah. Emeh berdoa semoga Tuhan menerima segala amal ibadah Nasrul Marhaban, dan mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Emeh tahu bahwa para tetangga mengenang Nasrul Marhaban sebagai orang yang terseret arus banjir dan mati tenggelam lantaran hendak menyelamatkan sebuah al-Quran. Memang betul seperti itu kejadiannya. Tapi hanya Emeh yang tahu bahwa sehari sebelum peristiwa itu, Nasrul Marhaban baru saja menerima uang gajian. Dan hanya Emeh yang tahu bahwa lelaki itu biasa menyimpan uangnya di antara lembar-lembar halaman al-Quran.(*)

 

Jakarta, Juni 2014

  

Ben Sohib tinggal di Jakarta.

Iklan

3 pemikiran pada “Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang

  1. Terbaca

    Semenjak awal kisah, dan ditekankan bahwa N meninggal setelah berusaha menyelamatkan kitab (dan isi nya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s