“There’s No Terra Incognita”

Cerpen Mona Sylviana (Koran Tempo, 24 Agustus 2014)

Image410

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SELAMAT malam, Mas.

Surat pengantar ini mungkin tidak seperti yang biasa Mas terima maupun yang saya buat kalau mengirimkan cerita pendek. Saya merasa harus sedikit menjelaskan mengenai cerita pendek yang saya sertakan dalam file lampiran.

Cerita pendek itu tidak sengaja saya temukan dalam gudang di sekitar tempat parkir di sisi Sungai Cikapundung. Tepat pada Minggu, 15 Desember 2013. Saya ingat benar waktunya: bertepatan dengan pemakaman Nelson Mandela di Qunu yang kami peringati dalam sebuah pertunjukan. “Doa Sumber Mata Air Cikapundung untuk Mandela”.

Sebuah meja empat persegi panjang diletakkan di tengah Sungai Cikapundung yang mengalir tidak jauh dari Gedung Merdeka. Ada lima buah kursi di sekitar meja. Sebuah kain putih memanjang menutup meja dengan satu ujung, sekitar 10 meter, dibiarkan menjuntai mengikuti aliran sungai. Jam 10 pagi tampah berisi nasi tumpeng diletakkan di atas meja. Sambil meletakkan piring dan gelas, Tisna Sanjaya, Deden Sambas, Diyanto, Isa Perkasa, dan saya, duduk di kursi-kursi itu.

Kami ngobrol di situ sampai jam 1 siang.

Seingat saya, banyak hal yang dibicarakan: Mandela, seni pertunjukan, seni memaafkan, Kota Bandung, korupsi, sastra, sampah yang lewat. Beberapa orang yang mengikuti gerak tubuh dan, mungkin, bibir kami bertahan lama di pinggir sungai. Selebihnya, datang dan pergi.

Selesai pertunjukan, selesai bicara dengan beberapa wartawan, Kang Tisna, Kang Deden, dan Kang Diyanto langsung pulang. Langit digayuti awan hitam. Sebentar lagi hujan, yang di bulan itu kerap menyambangi Bandung, akan turun. Kang Isa dan Eni, istrinya, sudah juga saya minta untuk tidak menunggu karena anak bungsu mereka kelihatan sudah mengantuk. Makanya, tinggal saya sendiri di situ. Gerobak lontong kari tempat saya tadi pagi sarapan sudah dipindahkan ke bawah pohon beringin. Kedua rodanya dirantai. Kursi kayu diletakkan di atap gerobak.

Air sebesar butir jagung mulai jatuh.

Saya bergegas mengangkat travel bag dan ujung kain yang basah menuju ruang di samping kantor distributor koran. Dalam ruang itu ada toilet, musala, dan gudang. Saya berdiri di pintu dekat musala. Dari toilet menguar gumam lagu dangdut dan wangi sabun batangan.

Seseorang yang kemudian saya tahu penjaga toilet menyapa, “Mau ganti baju ya, Neng?”

Saya mengangguk.

Laki-laki tua itu memindahkan kotak sumbangan toilet dan meletakkan dekat tempat saya berdiri. “Si Mang Atok mah kalau mandi lama.”

“Bapak sudah mau pulang? Tunggu sebentar ya, Pak. Saya hanya mau ganti baju.”

“Iya. Tapi Mang Atok juga masih lama. Bisa 1 jam, Neng. Kalau mau ganti baju di gudang situ saja biar cepat.”

Saya mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan masuk. Telapak kaki saya terasa kesat ditempeli debu. Setelah mengeluarkan sendal, saya membersihkan kaki di atas kardus yang tergeletak di lantai. Saya cepat-cepat mengganti kebaya dan kain panjang dengan jins dan kaos. Jaket saya keluarkan dari dalam tas.

Bingkai jendela berkeriut. Engsel bagian atasnya tampak berkarat. Aroma serupa kubis busuk melayang-layang masuk. Laba-laba bergelantungan. Jaringnya terbelit di kabel lampu. Ruang berukuran 3 x 3 meter itu kosong. Selain dua kardus di lantai, hanya ada tumpukan majalah setinggi lutut dan sebuah karung plastik di sudutnya.

“Neng…,” terdengar suara halus si bapak berbarengan dengan ketokan halus dari balik pintu.

“Ya, Pak.” Saya membuka slot besi. Jaket saya sampirkan di bahu. “Punten lama. Oh, Pak, itu majalah punya siapa ya?”

“Gak ada yang punya. Pemulung sok simpen sembarangan. Katanya mau diambil tapi udah lama ga diambil-ambil. Kalau mau mah sok aja bawa Neng. Semuanya?”

“Gak, Pak. Satu saja. Yang ini. Boleh?”

Saya mengambil sebuah majalah dari tengah tumpukan.

“Mangga.”

“Nuhun ya, Pak. Berapa?”

“Sama saja dengan kamar mandi. Seribu.”

“Bukan. Majalahnya berapa?”

“Ah, itu mah gratis aja.”

“Oh. Terima kasih ya, Pak. Ini untuk kamar mandinya.”

“Nuhun, Neng.”

 
BARU keesokan harinya, ketika menunggu rendaman pakaian, saya membuka-buka majalah yang halaman belakangnya rapat karena lembap. Saya menemukan cerita pendek itu.

Sampul dan halaman depan majalah sudah tidak ada. Jejak nama majalah saya perkirakan dari bagian bawah halaman, Nuit Noire. Tahun terbit tidak berhasil saya temukan. Nama penulis pun tidak bisa dibaca. Hanya ada inisial MK di akhir tulisan.

Selama Januari saya menebak-nebak bagian demi bagian cerita pendek dari halaman rentan yang nyaris robek itu sebelum kemudian menerjemahkannya.

Saya sengaja mengirimkannya ke Mas. Ceritanya menarik dan memuaskan rasa penasaran. Saya berharap Mas tahu mengenai atau, mungkin, pernah membaca cerita pendek itu.

Saya ingat The Unberable Ligthness of Being.

Kundera seolah menjebak pembacanya ketika membuka novel itu dengan kerumitan perulangan abadi Nietzsche, oposisi biner Parmenides, dan kamus kesalahpahaman, “hanya” untuk membicarakan cinta segitiga Tomas-Tereza-Sabina. Demikian pula dengan kehadiran kisah sempalan tinja dan Dub ek yang sulit bernapas.

There’s No Terra Incognita, demikianlah judul cerita pendek itu, juga begitu. Sebelum menggambarkan Kota Praha semuram tumpukan kue dalam kaleng, penulis berceramah panjang mengenai Schopenhauer. Sebuah mata yang memandang dunia dengan mencibir dan pesimistis. Tepatnya, kisah dibuka dengan rentetan kalimat “All truth pass through three stage. First, it is ridiculed. Second, it is violently opposed. Third, it is accepted as being self-evident. Arthur Schopenhauer”.

Kemudian digambarkan benda menyerupai kotak. Seperti lensa kamera yang menjauh, benda itu menjadi sebuah bingkai jendela. Dari jendela itu memantul sebuah bayangan. Menjelma sosok perempuan. Perempuan bermata coklat bundar bening. Umurnya 25 tahun dengan tinggi 155 sentimeter dan berat 40 kilogram.

Namanya Naina. Dan saya ingat Tereza.

Konon, Tereza lahir terutama dari ide—yang, menurut Kundera, adalah sebuah situasi yang mendasar—mengenai tubuh. Tereza adalah tubuh yang “merupakan perpanjangan dari hidup ibunya”. Ibunya berhasil meyakinkan Tereza untuk meniadakan tubuh, yang juga berarti mengembangkan mekanisme ketidakperyaan pada tubuhnya. Saya ingat benar tekanan yang dirasakan Tereza karena ia memiliki payudara dengan areola yang sangat besar. Juga tubuh telanjang ibunya yang terus menggeliat dalam hidup Tereza.

Dalam The Unbearable, Tereza dan tubuhnya terus terhubung dalam kelindan kisah: aneka perselingkuhan Tomas, sentuhan si Insinyur, sampai ketika ia membersihkan darah haid anjingnya, Karenin.

Dialog pertama dalam There’s No adalah, “Proporsional. Ideal.”

Naina menoleh seolah menanggapi omongan si narator. Kepala perempuan itu menggeleng sebagai bentuk pengelakan. Sambil mengelap uap dengan telapak tangan di kaca jendela, Naina bergumam, “Saya tidak nyaman dengan tubuh ini.”

Ya, kata narator lagi, kau memang terlihat mungil untuk ukuran perempuan Eropa Timur. Tapi cukup proporsional.

“Tidak hanya itu.” Naina mengeras. Suaranya mulai terdengar tegang.

Naina melihat ke arah payudaranya.

“Ini terlalu besar. Menempel seperti dua gundukan roti burger.”

Sejak bulu tumbuh di kemaluannya, menstruasinya mulai, dan payudaranya membesar, Naina bermusuhan dengan tubuhnya. Tubuh itu masalah terbesar dalam hidupnya. Setiap mata yang memandang dirasakannya hanya memperhatikan tubuhnya. Sejak itu pula Naina malas berhubungan dengan orang. Ia jarang berkenalan dengan orang, tidak suka berjalan di keramaian. Naina mendirikan benteng tinggi untuk menyembunyikan diri.

Naina lebih suka sendiri. Mengurung diri dalam kamar sambil membaca novel percintaan.

 
DIA membayangkan dirinya sebagai tokoh-tokoh perempuan dalam novel. Berkulit lobak, rentan, menderita, seperti Cinderela atau Juliet atau Sam Pek. Pemberontak dan cerdas seperti Emma atau Elizabeth. Naina bisa menjadi siapa pun. Tapi dalam kalimat-kalimat di semua novel selalu ada laki-laki, bahkan tidak hanya satu laki-laki, berkejaran memburu dan berkorban mempersembahkan cinta bagi si tokoh perempuan.

Januari 1969.

Hari itu hujan. Menara-menara tampak remang dalam abu. Deretan patung sesak dikitari asap. Langkah tentara merah gabungan berderap menyisir kota. Naina asyik membuka halaman-halaman Garmen, novel cinta seorang penulis eksil. Terdengar suara rentetan tembakan. Naina mengangkat muka. Dia berdiri dekat jendela. Mengamati bayang-bayang tubuhnya di kaca.

Rentetan tembakan terdengar lagi.

Naina tersentak. Tapi bukan karena tembakan atau gemuruh tank di kejauhan. Bukan. Ia tidak peduli dengan fasisme atau komunisme atau Dub ek. Di kaca jendela yang memantulkan bayangan dirinya, Naina melihat seorang perempuan dengan tubuh pendek dan payudara besar. Tidak hanya itu, Naina juga melihat dengan mata yang merindukan sesuatu. Matanya.

“Aku tahu… Selama ini, aku tidak pernah menemukan atau ditemukan oleh laki-laki yang benar-benar mencintai.” Padahal, katanya lagi, selalu dan pasti ada laki-laki yang mau mengorbankan diri untuk cinta. Selalu ada cinta yang membuat isi perutnya bergolak dikepak sayap kupu-kupu.

Naina melihat keluar jendela yang mulai gelap. Jalanan senyap. Naina seperti terbangun dari mimpi. Saat itu juga ia berlari keluar rumah.

Hujan mengerap. Naina berjalan menyusuri kota. Potongan-potongan novel menyatu memenuhi kepalanya.

Naina membayangkan, dengan tidak sengaja, seorang laki-laki melihatnya berjalan dalam hujan. Laki-laki itu berlari menghampiri. Menariknya masuk ke sebuah apartemen. Laki-laki itu menyalakan perapian, menyelimuti pundaknya, menyiapkan kopi panas, dan menanyakan kenapa ia berjalan di tengah hujan. Mata laki-laki itu berkilat ketika berbisik di telinga Naina, “Aku akan berbuat apa saja asal kau tidak lagi berjalan di tengah hujan.”

Ah, mungkin laki-laki itu ada di tikungan sana.

Naina mengejar tikungan demi tikungan. Dasar sepatuhnya basah. Telapak kaki Naina mengerut.

Narator menggambarkan Naina yang menerabas jajaran tentara berjaga di Alun-alun Wenceslas seperti dongeng Andersen. Naina ada dalam teriakan para demonstran, derak tank, asap mesiu, dan bau tubuh terbakar. Dan ia tak peduli. Ia bagai gadis korek api di keriuhan malam Natal.

Bayangan yang berseliweran di kepala Naina sama sekali berbeda.

Naina membayangkan hujan semakin deras. Dingin kian menusuk. Tangannya membeku. Ia jatuh. Pingsan. Entah berapa lama Naina tak sadar. Ketika matanya terbuka, ia berbaring di kelembutan kasur bulu angsa. Selimut menutup hingga dada. Hangat. Di meja kecil samping tempat tidur, cangkir minuman mengepul. Tidak jauh dari situ, seorang laki-laki menatapnya. Mata itu seperti yang diharap Naina. Penuh cinta.

Naina terus berjalan. Hujan tidak juga reda. Tidak ada satu pun bayangan di kepala Naina yang menjadi kenyataan. Tidak ada. Tidak pernah ada. Tidak ada tangan laki-laki yang menariknya nasuk apartemen. Naina juga tidak jatuh pingsan. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Kota Praha semakin dingin.

Naina semakin jauh berjalan. Ia lelah.

“Kenapa tidak kembali saja?” tanya narator di tepi Sungai Vltava.

Naina menggeleng. Dan masih tampak menggelengkan kepala hingga menghilang di ujung jembatan.

Naina mungkin malu untuk kembali, kata narator.

Lalu, seperti di awal kisah, digambarkan benda menyerupai kotak. Serupa lensa kamera menjauh, benda itu digambarkan sebagai bingkai jendela. Di jendela itu memantul sebuah bayangan. Menjelma sosok laki-laki. Badannya tinggi. Tulangnya terlihat sekokoh patung para santo.

Sejak bertahun-tahun silam laki-laki itu selalu datang. Tidak pernah satu senja pun dia tak mengetuk rumah Naina. Tidak jarang dia berdiri berjam-jam sampai pintu dibuka. Lengannya selalu mengepit sebuah novel. Dengan bibir lurus dan mata mengarah jauh entah ke mana, Naina menerima novel itu dan masuk kamar. Setelah si laki-laki menyalakan lampu dan menutup jendela, dia berjalan ke luar rumah perlahan.

Pada saat yang sama laki-laki itu melangkah saja menuju rumah Naina. Dia memanggil dan mencoba mengejar Naina. Dan, sampai saya mengakhiri cerita ini, laki-laki setampan Gatsby itu masih berdiri di muka pintu. Masih menunggu Naina pulang.

Demikian pamungkas cerita pendek itu, Mas.

Salam, MS.(*)

  

Mona Sylviana tinggal di Jatinangor, Sumedang. Buku cerita pendeknya adalah Wajah Terakhir (2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s