Ayah

Cerpen Dinar Rahayu (Koran Tempo, 4 Januari 2015)

IMG_20150510_084648

(Gambar oleh Munzir Fadly)

BAHKAN sang iblis pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib.

“Tapi ia bisa membawakanmu sebotol anggur, bukan?” begitu kata Ayahku di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah ya?”

Demi meyakinkan ia bahwa aku menyetujui tawarannya maka kukatakan, “Ya.”

Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu. Seperti apa dia sekarang? Sudah sepuluh tahun kami tak bertegur sapa. Mau bagaimana lagi? Perselisihan itu demikian hebatnya. Aku mengikuti cintaku dan Ayah tak setuju. Ternyata begitulah: sebagai makhluk dengan banyak dimensi, Ayah tahu banyak tentang rahasia semesta. Termasuk umur perkawinanku dan kematian bayiku. Dan ia tak bisa mengatakannya kepada anaknya yang tetap saja menjalani pilihannya. Dan ia terus bertengkar dengan dirinya demi masalah sepele: ia tak mengijinkan perkawinanku.

“Aku sudah hidup sebelum waktu mengada,” begitu keluhnya, “tapi masih harus menghadapi persoalan ini.” Lalu ia berdecak, “Sudahlah.”

Dan kini ia berdiri di depan pintuku. Air menetes-netes dari rambut dan jaketnya, dan sebagian celananya tampak basah. Jarak dari tempat ia memarkir mobil ke rumahku (aku tak punya garasi) cukup membuatnya kuyup dan Ayah tidak pernah bergegas. Ia abadi. Untuk apa ia bergegas?

Sebenarnya kami tak akan pernah tahu lagi alasan tepat mengapa kami dulu bertengkar, setidaknya aku merasa tak seharusnya aku bertindak seperti itu. Ayahku kembali ke wujud aslinya dalam pertengkaran itu. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kalau ia tidak sedang bertugas, ia lebih suka tenggelam dalam koran-koran dan buku-buku. Ia sungguh menyukai tulisan.

Kalau sudah begitu, seluruh semesta seperti harus menunggu perhatian darinya. Ia tak pernah memperhatikan apa pun ketika tenggelam dalam tulisan di koran-koran atau di buku-buku. Di koran-koran, misalnya, tentulah ia tidak mencari berita-berita obituari; seperti halnya orang lain, ia menyukai berita utama, hiburan, dan iklan.

Ada kebiasaan Ayah yang kusuka tiap kali ia selesai membaca buku, terutama buku sejarah. Ia menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam, “Hmmm. Tidak seperti itu yang kutahu, tapi biarlah.”

Ia sendiri tak pernah mau banyak bicara soal pekerjaannya. “Urusan goda-menggoda itu hanya sebagian kecil dari pekerjaanku,” begitu ia pernah berkata di sebuah warung pecel lele, jauh sebelum pertengkaran tentang perkawinanku itu. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tisu gulung yang sebenarnya untuk mengusap pantat.

“Kalau kau ingin memperbandingkan sesuatu, maka kau menggunakan tanda sebanding,” ia berkata sambil membuat tanda sebanding “~” imajiner di udara dengan telunjuknya.

“Supaya tanda sebanding bisa kau ganti dengan tanda sama dengan, maka kau memerlukan konstanta di depan bilangan yang berada di ruas sebelah kanan tanda sama dengan itu.”

Ia mengambil bolpoin dan kertas dari saku bajunya. “Ini,” ia berkata sambil menuliskan sesuatu di kertas itu.

Dan dua persamaan muncul di kertas itu:

A ~ B

A = k.B (dengan k adalah ‘konstanta’)

Aku mengangkat bahu. Matematika selalu membuatku pusing.

Ayah lalu menghentikan kuliahnya.

“Nah, kurang lebih akulah yang harus mencari suatu persamaan yang benar, berikut konstantanya, dan juga berbagai bilangan-bilangan di ruas kiri dan ruas kanan itu. Jadi, kita memang perlu tanda sama dengan itu. Kita perlu persamaan untuk mencari kesetimbangan. Semesta ini selalu mencari kesetimbangan. Aku pesan soto ayam juga,” katanya. Kurinci bahwa 44 dari 49 kata-katanya untukku. Sisanya untuk si abang penjual soto dan pecel lele.

Dan kini ia berdiri di depanku. Matanya sekilas berkilat merah seperti batu rubi, tapi kemudian kembali menjadi mata manusia biasa. Di tangannya ia menenteng kantong kertas berisi sebotol anggur.

Ia mengangkat kantung itu dan menyeringai bahagia.

“Lusi,” katanya, lirih dan hangat. Ini terasa seperti kalau engkau meminum segelas coklat panas sesudah hujan-hujanan.

Ia memelukku erat. Dan aku pun sebaliknya. Sepuluh tahun. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar (dan sialan, Ayah tak mau memberitahuku perihal itu); aku akan mati karena usia tua, karena organ-organ tubuhku gagal berfungsi. Sepuluh tahun bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Kadang lebih sebentar lagi jika aku berada bersama suamiku yang kini entah di mana.

Sedangkan bagi Ayahku sepuluh tahun atau seribu tahun sudah tak berarti lagi. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup abadi. “Percayalah, kau tak akan mau hidup abadi,” begitu kata Ayahku kerap berkata padaku.

Soal keabadian bisa dibahas nanti. Kini tentu saja aku senang bahwa Ayah datang. Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakannya kepadanya banyak hal.

Tapi pertama-tama tentu saja yang kudengar adalah suara terbahak-bahak Ayah ketika ia masuk dan melihat tanda pentagram yang kubuat dengan kapur. Ada lilin-lilin besar di tiap sudut pentagram itu.

“Kau benar-benar rindu ya,” katanya setelah tawanya reda.

Aku mengangguk. Ya, aku rindu, dan egoku sudah menghalang-halangi diriku untuk memanggilnya. Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil Ayah.

Apa yang akan kuceritakan padanya? Ayah pernah menghadiahi aku sebuah buku catatan harian. “Karena engkau harus menuliskannya sendiri,” begitu katanya. “Apa pun itu. Aku bisa menuliskannya, tapi hanya untukku. Di buku ini, kau menuliskannya sendiri untukmu. Karena kau tak bisa mengingat setiap kejadian sebagaimana kau mengalaminya. Sungguh beruntung Maria: ada yang menuliskan pengalamannya dan pengalaman anaknya. Engkau, anakku, tak akan pernah seperti itu. Cobalah kau tulis sedikit, aku ingin lihat.”

Dan tadi malam buku yang sudah terselip di antara buku-buku lain itu aku cari-cari. Aku obrak-abrik seluruh rumahku. Aku jungkirbalikkan semua laci dan lemari. Aku tak pernah membuang buku itu. Semua pemberiannya tak pernah kubuang, juga setelah kami bertengkar hebat tentang perkawinanku.

Dan tentu saja kemudian kutemukan buku harian itu. Ia sudah kisut dan lusuh. Isi pertama buku itu ternyata sebuah gambar. Kemudian aku seperti bisa mengingat semuanya.

Aku ingat ketika pertama kali membuka buku pemberian Ayah itu.

“Mana garis-garisnya? Di mana aku menulis?” begitu tanyaku bingung karena buku itu seperti buku gambar.

“Kau bikin saja garis-garis sendiri kalau kau mau, di mana saja. Kau harus membuat garismu sendiri,” kata Ayah.

Maka seperti yang dikerjakan anak-anak kecil lainnya, yang kubuat pertama kali adalah figur mirip ranting. Satu kepala bulat, satu garis lurus tegak di bawahnya yang kemudian bercabang. Seperti huruf Y terbalik. Kemudian, sepasang garis yang kupikir adalah tangan. Di bagian wajah, aku membuat dua titik, satu garis tegak dan satu busur. Aku kemudian sadar bahwa aku harus menuliskan—atau menggambarkan—satu mata lagi di dahi Ayah. Mata ketiga. Ia selalu lupa menutup mata ketiganya ketika ia mengambil wujud manusia. Aku tertawa menunjuk mata ketiga itu. Dan Ayah segera menutup mata ketiganya agar orang-orang lain tidak gemetar melihatnya.

Lalu, supaya lebih meyakinkan lagi, di bawahnya kutulis kata “Ayah”. Sesudah itu kosong, kosong belaka; aku tak pernah mengisi buku harian itu lagi. Selalu saja ada alasan. Tugas-tugas sekolah, tugas-tugas kuliah (menggambar, lalu melukis di studio); lalu pergantian dari tulisan tangan ke komputer; lalu berkas-berkas formulir kartu-kartu identitas, paspor, dan pengajuan pinjaman ini-itu yang harus kuisi; lalu berbagai lukisan dan gambar yang kubuat besar-besar baik di kanvas atau di kertas; lalu status tidak jelas di Facebook yang kububuhkan seringkali—semua itu membuatku tak pernah lagi menengok buku harian itu.

Dan kini, sekian puluh tahun kemudian, apa yang harus kutuliskan di situ? Aku tertawa sendiri. Gila, sulit amat menuliskan sesuatu. Kumulai saja dengan “Ayah, aku rindu.” Kemudian aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tak pernah aku menangis di tempat psikolog yang kukunjungi setelah perkawinanku berakhir. Atau ketika bayiku mati saat dilahirkan. Aku mendatangi psikolog seolah aku mendatangi bar: jika di bar aku mabuk dan menceracau oleh minuman keras, maka kata-kata psikolog itu itu juga berlaku sebagai minuman keras bagiku. Dengan itu, tak ada hasil yang bisa kucapai, tak ada kenangan yang bisa kuraih. Aku hanya ingin terus mabuk, terus bercerita. “Barangkali kau kurang sabar dan kurang berusaha,” seorang teman berkata. Sampai saat ini aku tak pernah bertemu dengannya lagi; nomor teleponnya kuhapus, dan pertemanan di Facebook aku buang. Bahkan aku ingin membunuhnya.

Aku tak mengenal ibuku. Kata Ayah ia meninggal seketika ketika melahirkanku. “Tapi kau pasti baik-baik saja,” begitu selalu kata Ayah.

Tentu ia berkata sembarangan saja, sebab hidupku tidak baik-baik saja. Hidupku adalah serombongan kisah sedih yang diperciki kisah-kisah bahagia, dan tentu saja percikan-percikan itu segera menguap. Pernah aku ingin membunuh diri.

Bahkan sang Iblis pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib.

Lalu kupanggil Ayah dengan gambar pentagram dan mantra kuno. Menurut Ayah memang ada mantra terbaru, tapi ia lebih suka yang kuno.

Dan di antara kain kanvas yang bergulung-gulung, kertas-kertas yang berceceran, batang-batang arang dan pastel, tube-tube cat minyak, dan juga barang-barang yang masih berantakan yang kukeluarkan dari laci dan dari lemari ketika mencari buku catatan itu, Ayah dan aku terduduk. Ia menuang anggur untukku dan untuknya. Hujan turun deras di luar. “Seperti di awal banjir besar,” kata Ayah. Aku mengambil selembar kertas dan mencelupkan segumpal kapas ke dalam anggurku. Aku ingin menggambar wajah Ayah, sementara ia bercerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. “Aku ingin menuliskannya,” kataku.

Ayah mengangguk. Lalu ia mengulangi lagi ceritanya. “Hujan di malam itu begitu deras, dan air naik begitu cepat….”(*)

  

Dinar Rahayu tinggal di Bandung. Buku-bukunya adalah Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (novel, 2002) dan Lacrimosa (kumpulan cerita pendek, 2009).

Iklan

Satu pemikiran pada “Ayah

  1. Apa kira-kira kelebihan cerpen ini? Apa kira-kira yang menjadi kekuatan cerpen ini? Tak ada? Saya harap ada, sebab sangatlah tidak menyenangkan mendapati sebuah cerpen ditayangkan di koran ternama sekelas Koran Tempo sementara ia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

    Dari segi penuturan jelas cerpen ini tidak kuat, bahkan lemah. Dari segi penokohan, juga sama; banyak detail yang perlu ditambahkan untuk membuat tokoh-tokoh dalam cerita ini benar-benar hidup. Kemudian rangkaian cerita, atau keterpautan antara adegan yang satu dengan adegan yang lain, lagi-lagi lemah. Lalu cara pandang? Hmm… entahlah. Memang ada sesuatu semacam itu yakni ketika si penutur mengatakan (dua kali) bahwa sang iblis pun tidak mampu membebaskan anaknya dari cengkeraman nasib. Tapi, apakah ini sesuatu yang “segar”, dan apakah sesuatu yang “kita perlukan”–saat ini?

    Jika memang ada sesuatu yang menjadi kekuatan cerpen ini, itu barangkali adalah intertekstulitasnya. Ini baru dugaan saja, sebab saya sesungguhnya tidak tahu ke arah mana intertekstualitas itu diarahkan–kalaupun ia ada. Si tokoh iblis sempat menyebut Maria dan anaknya yang beruntung sebab ada orang-orang yang menuliskan kisah mereka. Lalu si penutur, si tokoh aku, sempat menyebut-nyebut soal mata ketiga yang dimiliki ayahnya; ini mungkin mengarahkan sekaligus mempertautkan cerita ini dengan sebuah mitos atau catatan sejarah yang berkembang dan hidup entah di mana. Akan menarik, tentunya, jika keterpautan ini digali; darinya kita mungkin jadi mengetahui apa maksud si penulis membuat cerita ini. Sayangnya, pengetahuan saya sangat tidak memadai untuk bisa menemukan keterpautan itu. Jika ada di antara para pembaca lain yang merasa memiliki pengetahuan yang cukup tentang mitos dan atau catatan sejarah yang dimaksud si penulis di cerpennya ini, silakan mengemukakan pendapatnya. Itu tentu akan sangat berguna bagi kita semua, si pembaca maupun penulis.

    Sekarang, sebab gagal menemukan kekuatan cerpen ini yang bisa dikemukakan dengan detail, saya akan langsung beralih ke kelemahan-kelemahannya saja. Untuk yang satu ini, sayangnya, saya tidak perlu berusaha keras untuk bisa menemukannya.

    Pertama adalah soal pengembangan ide. Sesungguhnya, ide cerpen ini cukup menarik, yakni sesosok iblis memiliki seorang anak perempuan; atau, seseorang berayahkan sesosok iblis. Sayangnya, ide yang cukup menarik ini tidak disokong oleh detail yang kuat. Yang saya maksud dengan detail di sini adalah asal-usul dan segala hal yang bisa menghidupkan ide ini sekaligus menjadikannya terdengar “masuk akal” dan “wajar”. Misalnya: bagaimana bisa si iblis ini memiliki seorang anak perempuan? Ini saya kira perlu dijelaskan sebab bukan kejadian yang wajar. Terlebih lagi, ibu si anak ini, atau istri si iblis ini, juga tidak dijelaskan. Tidak adanya penjelasan mengenai dua hal ini memang menjadikan kita leluasa menebak-nebak atau meraba-raba, dan jika kita berusaha cukup keras mungkin kita akan menemukan kemungkinan-kemungkinan tertentu (bahwa si anak itu adalah hasil hubungan terlarang antara sesosok iblis dengan seorang perempuan yang adalah manusia biasa, misalnya). Tapi, ini bisa juga dilihat sebagai kemalasan dan atau kegagalan si penulis dalam membentuk sebuah dunia-yang-mungkin, sebuah dunia-yang-berterima, dan ini tentu sangat mengecewakan.

    Selanjutnya adalah soal penokohan. Hanya ada dua tokoh utama, yakni si iblis dan anak perempuannya. Semestinya, dengan jumlah tokoh utama yang sedikit ini, si penulis bisa menggarapnya dengan optimal, sehingga kedua tokoh ini jadi bisa kita genggam, entah itu perawakannya atau kepribadiannya atau perilakunya. Tapi kenyataannya, hal ini tak tercapai. Kita tak benar-benar bisa mendapatkan gambaran yang jelas dan “nyata” tentang si anak maupun si iblis. Dan, karakter kedua tokoh ini pun sesungguhnya tidaklah menarik; tidak ada hal-hal unik atau segar atau berbeda yang dimiliki oleh mereka sehingga kita jadi mudah teringat kepada mereka lama setelah kita selesai membaca cerita ini. Dan lagi, kedua tokoh utama ini tidak benar-benar digambarkan memiliki kehidupannya masing-masing; mereka seperti hanya melayang-layang di udara dan tidak menjejak. Tentang hal ini kita bisa juga mengatakan bahwa cerpen ini sangat kurang dalam hal adegan autentik, adegan-adegan privat yang menjadikan kedua tokoh itu hidup. Sila bandingkan dengan cerpen-cerpen Linda Christanty, misalnya.

    Kelemahan berikutnya dari cerpen ini adalah asal-usulnya. Ini berkaitan erat dengan keterhubungan antaradegan dan sedikit bersinggungan dengan persoalan pengembangan ide tadi. Kita, misalnya, tidak diberitahu dengan jelas apa yang menyebabkan si iblis ini tidak menyetujui pernikahan anaknya. (Apakah karena ia tahu rumah tangga anaknya itu tak akan berjalan baik dan tak akan bertahan lama? Ataukah karena ia tahu calon suami anaknya adalah lelaki yang brengsek?) Kita, juga tidak diberitahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di antara si anak dan suaminya sampai-sampai ia mengatakan bahwa seluruh dunianya seperti runtuh habis-habisan. Lalu, kita juga tidak diberitahu dengan jelas apa yang dilakukan si iblis ini ketika ia sedang dalam wujud manusia, apa yang menjadi kegiatannya sehari-hari dan apa yang dilakukannya untuk bertahan hidup. Asal-usul tentang hal-hal ini, saya kira, perlu ada. Ini untuk membuat pembaca memahami bahwa seorang penulis itu bertanggungjawab terhadap apa-apa yang diciptakannya, bahwa seorang penulis tidak bisa begitu saja menciptakan sesuatu lalu berlepas tangan darinya, bahwa si penulis tidak boleh asal-asalan menciptakan sesuatu tanpa terlebih dahulu melakukan perhitungan yang matang sebelumnya.

    Berikutnya adalah masalah logika. Salah satu yang mesti disorot adalah soal bagaimana si anak menghubungi si iblis setelah sepuluh tahun lamanya. Di awal cerpen, dikatakan bahwa si anak dan si iblis membicarakan pertemuan mereka setelah sepuluh tahun itu lewat telepon. Namun, jauh setelahnya, disebutkan bahwa si anak ini memanggil ayahnya lewat sebuah ritual kuno dengan memanfaatkan gambar pentagram yang dibuatnya dengan kapur. Nah, bukankah ini terdengar aneh? Jika memang si iblis ini dipanggil si anak dengan ritual kuno itu, lantas untuk apa si iblis menelepon anaknya–mungkin kejadiannya seperti itu–dan memastikan bahwa si anak akan berada di rumahnya besok harinya? Tidakkah ritual kuno tadi sudah bisa menghadirkan si iblis langsung ke hadapan si anak, dalam sekejap? Dan tidakkah si iblis ini tahu betul bahwa si anak akan ada di rumahnya besok harinya itu (ingat bahwa di cerpen ini si iblis digambarkan mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan dialami si anak)? Mungkin hal ini akan terjelaskan seandainya kita tahu mitos atau catatan sejarah apa yang dirujuk cerpen ini. Tapi, itu baru sebatas mungkin.

    Hal lainnya yang mesti disorot adalah soal bagaimana si iblis menjelaskan pemahamannya tentang kehidupan dengan memanfaatkan Matematika. Ini akan terdengar masuk akal jika si iblis ini adalah alumnus Matematika IPB, misalnya, atau seorang dosen Matematika di perguruan tinggi tertentu, atau bahkan seorang ilmuwan Matematika yang beberapa bulan dalam setahunnya menghabiskan waktu di Belanda untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam ilmu Matematika (murni). Tapi, satu-satunya keterangan yang ada tentang si iblis adalah bahwa ia suka membaca buku-buku sejarah. Dan apakah kedua hal ini berhubungan? Agaknya tidak. Mengapa si iblis ini tidak menggunakan informasi-informasi sejarah saja untuk menjelaskan pemahamannya tentang kehidupan? Itu mungkin akan mendingan. Dan lagipula, persamaan Matematika yang dikemukakan si iblis di cerpen ini tidaklah sempurna; ada beberapa kekurangan yang menjadikannya bermasalah. Misalnya, si iblis tidak memberikan keterangan tentang apa itu A dan B, apakah mereka variabel bebas yang bisa diisi dengan nilai ataukah sebentuk matriks atau bahkan grafik. Tidak adanya keterangan ini bisa membuat persamaan itu menjadi keliru, menjadi tidak berlaku, menjadi sia-sia. Dan ini semakin membuat pilihan si iblis untuk menggunakan Matematika dalam menjelaskan pemahamannya tentang kehidupan itu begitu aneh.

    Satu hal lainnya yang mesti disorot adalah soal si anak yang menyebutkan sedikit tentang masa depannya, bahwa ia akan mati karena usia tua, karena organ-organ tubuhnya gagal berfungsi. Ini terdengar aneh sebab sebelumnya si anak mengatakan bahwa ayahnya itu tidak mau memberitahunya tentang masa depannya. Apakah ini semacam foreshadowing, semacam teaser? Jikapun iya, itu tetap bermasalah. Untuk apa teaser tersebut ditempatkan di sana? Cerpen ini bahkan diakhiri sebelum kehadiran teaser tersebut dirasa perlu.

    Sekarang saya akan beralih ke persoalan kalimat.

    Perhatikan kalimat ini: “‘Tapi ia bisa membawakanmu sebotol anggur, bukan?’ begitu kata Ayahku di telepon.” Kata “Ayahku” di sana semestinya “ayahku”, sebab ia bukan kata yang digunakan untuk menyapa atau memanggil. Kalau “Ayah”, baru tak perlu dikoreksi.

    Selanjutnya: “Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu.” Tanda koma di sana bagusnya diganti saja dengan tanda titik. Atau, ia diganti dengan kata “dan”.

    Berikutnya: “Aku mengikuti cintaku dan Ayah tak setuju.” Entahlah ini hanya bagi saya atau tidak, tapi “mengikuti cintaku” di sana terkesan genit dan menjijikan. Kenapa tidak “mempertahankan pendapatku/keinginanku” saja, misalnya?

    Selanjutnya: “Ternyata begitulah: sebagai makhluk dengan banyak dimensi, Ayah tahu banyak tentang rahasia semesta.” Agaknya “makhluk dengan banyak dimensi” di sana terdengar aneh.

    Kemudian: “Dan kini ia berdiri di depan pintuku.” Yang dimaksud di sana tentu “dan kini ia berdiri di depan pintu rumahku”.

    Lalu: “… setidaknya aku merasa tak seharusnya aku bertindak seperti itu.” Ada dua kata “aku”. Baiknya “aku” yang kedua dihapus saja.

    Selanjutnya: “… dan juga berbagai bilangan-bilangan di ruas kiri dan ruas kanan itu.” Tentu yang benar itu “berbagai bilangan” atau “bilangan-bilangan”.

    Berikutnya: “Di tangannya ia menenteng kantong kertas berisi sebotol anggur.” Di sini digunakan kata “kantong” sedangkan persis di kalimat setelahnya yang digunakan adalah “kantung”.

    Selanjutnya: “Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar…” Dua tanda koma di sana diganti sajalah dengan tanda titik.

    Berikutnya: “Sedangkan bagi Ayahku sepuluh tahun atau seribu tahun sudah tak berarti lagi.” Lagi-lagi, “Ayahku” di sana semestinya “ayahku”.

    Selanjutnya: “‘Percayalah, kau tak akan mau hidup abadi,’ begitu kata Ayahku kerap berkata padaku.” Yang benar itu “begitu ayahku kerap berkata padaku” atau “begitu kata ayahku”.

    Berikutnya: “Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakannya kepadanya banyak hal.” Yang benar: “menceritakan kepadanya banyak hal”.

    Selanjutnya: “Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil Ayah.” Kata “maka” di sana tidak perlu ada.

    Berikutnya: “Aku jungkirbalikkan semua laci dan lemari.” Hmm… saya kurang tahu juga apakah yang benar itu “jungkirbalikkan” atau “jungkir balikkan”.

    Selanjutnya: “nomor teleponnya kuhapus, dan pertemanan di Facebook aku buang.” Mungkin, akan lebih enak jika seperti ini saja: “dan pertemanan di Facebook dengannya aku batalkan”. Atau, sederhana saja: “dan aku tak lagi berteman dengannya di Facebook”.

    Berikutnya: “Kata Ayah ia meninggal seketika ketika melahirkanku.” Tentunya akan lebih baik jika “seketika saat” saja.

    Selanjutnya: “Pernah aku ingin membunuh diri.” Kalau tidak “membunuh diriku” ya “bunuh diri”.

    Berikutnya: “Aku ingin menggambar wajah Ayah, sementara ia bercerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. ‘Aku ingin menuliskannya,’ kataku.” Pada awalnya si aku berpikir ingin menggambar wajah ayahnya, tapi kemudian ia mengatakan bahwa ia ingin menggambar wajah ayahnya. Jadi yang benar itu yang mana? Menggambar wajah si ayah, atau menuliskan apa-apa yang (akan) diceritakannya?

    Begitu saja untuk kali ini. Sampai jumpa di feedback selanjutnya. 🙂

    Bonus info: Bagi yang tertarik untuk membaca cerpen-cerpen saya sila berkunjung ke http://www.ardykresnacrenata.wordpress.com

    Bonus foto: Jonishi Kei





Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s