Dua Tamu di Hari Pernikahan Kaf

Cerpen Aulia Hanan (Koran Tempo, 11 Januari 2015)

20150111

(Gambar oleh Munzir Fadly)

1. Kaf dan Nun

ADA tiga senja, katanya. Senja pertama adalah senja yang membuat manusia berpikir untuk menyudahi kegiatan siang hari mereka. Senja sipil.

“Kau yakin?” aku bertanya. “Senja tidak membuat orang-orang berhenti dari kesibukan. Malah senja seperti pintu masuk dunia baru yang lebih gemerlapan.”

Ia tertawa, menunjukkan gigi gingsulnya di kanan atas. “Tentunya senja sipil ini ditetapkan sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu. Mungkin pada masa sebelum itu sekumpulan orang merumuskan perbedaan senja. Begitu senja tiba, seluruh makhluk hidup akan kembali ke sarang masing-masing, kecuali yang nokturnal. Manusia akan berkumpul di rumah bersama keluarga. Di luar tidak lagi ada kehidupan. Kegelapan belaka yang tersisa di sana. Suasana senja yang berbeda ibarat langit dan bumi dengan sekarang, seperti kau bilang barusan.”

“Kalau begitu, sekarang ini senja sipil sudah tidak berlaku lagi. Atau senja sipil masih berlaku semata-mata untuk membedakan pergantian dari siang ke malam, tapi tidak lagi memiliki pengaruh terhadap pola hidup manusia.”

Ia mengangguk setuju. “Senja yang sangat teknis ya,” ujarnya menambahkan.

“Lalu senja kedua?” aku bertanya kemudian.

Ia membalikkan badan, melompat mengangkat badannya sedemikian ringan dengan bertumpu pada tangan kirinya, lalu mendudukkan diri di atas pagar tembok. Aku masih dalam posisi sama. Berdiri menyandar, kedua tanganku menyiku di atas tembok. Siku kiriku menyentuh bagian ujung luar lutut kanannya.

“Senja kedua milik para pelaut. Nautical twilight. Saat senja itu tiba, bintang-bintang yang paling terang sudah mulai tampak bermunculan di langit dan menjadi panduan perjalanan para pelaut yang berlayar mengarungi samudera. Contohnya bintang-bintang yang membentuk Rasi Gubuk Penceng menjadi petunjuk arah di Bumi Selatan. Kamu tahu, buatku nama yang tepat untuk itu adalah Rasi Layang-layang. Bentuknya persis layang-layang yang selalu kumainkan sepanjang musim kemarau.”

“Kau sering mengadu layang-layang juga?”

Ia menggeleng. “Tidak, mengadu layang-layang itu permainan anak laki-laki. Aku hanya menerbangkannya, merasakan tarikan angin pada tanganku dan mengendalikannya supaya tetap mengangkasa. Saat kekuatan angin bermain-main dalam liukan layangan, aku selalu merasa seperti sedang mengendarai angin.”

“Imajinasimu sudah sedalam itu semenjak kecil ya?”

Ia tertawa kecil. “Begitukah menurutmu? Anak-anak kecil di seluruh dunia pasti imajinatif.”

Lalu ia meloncat turun dari duduknya dan berdiri di sampingku. Ia pandangi wajahku dari arah samping.

“Sebelum kuceritakan tentang senja ketiga, aku ingin memberitahumu senja yang lain.”

Aku menoleh. Tepat ketika ia memalingkan wajah kembali ke depan, menatap langit yang kemerahan.

“Senja yang hanya hadir ketika ada sesuatu yang meliputi emosimu.”

“Misalnya?”

Ia terkekeh. “Ketika jatuh cinta,” katanya.

“Oh ya? Hmmm… kapan itu?”

“Sekarang.”

“Sekarang? Bersamaku?”

“Sekarang. Bersamamu.”

“Terima kasih,” kataku manis.

“Ya, kembali. Tidak masalah,” katanya tidak kalah manis. Ia melanjutkan, “Senja ketiga adalah senja astronomis, senja paling larut. Ketika orang-orang yang bekerja meneliti bintang mendapati langit sudah cukup gelap untuk direkam mata teleskop mereka.”

“Bukankah itu senja keempat?”

“Kau menghitungnya?”

Aku mengangguk, “Senja sipil, senja nautikal, senja astronomis, dan senja….” Aku berhenti memikirkan nama senja keempat, “Senja yang membuatmu merasa emosional!”

Ia tertawa. “Oh ya benar, jadi semuanya ada empat jenis senja. Senja mana yang paling kamu sukai?”

Aku sejenak berpikir. “Mungkin senja nautikal.”

“Kamu pasti membayangkan sebagai pengembara berada di samudera luas dan tersesat kehilangan arah? Apakah kamu lupa membawa kompas?”

“Aku tidak membawa kompas. Aku punya GPS.”

Ia tertawa terbahak-bahak. “Jadi, lagi-lagi senja nautikal gugur tak berguna karena satelit sudah mengganti peranan bintang penunjuk arah. Juga senja astronomis, karena sekarang para astronom banyak yang melakukan riset pada gelombang radio, yang jelas-jelas tidak dipengaruhi keadaan terang atau gelap.”

“Artinya?” ia mengerlingkan mata.

Aku menggeleng lekas.

“Cobalah,” suaranya membujuk.

“Senja interlude yang tidak berubah.”

Interlude?”

“Senja yang kamu sebut emosional, buatku adalah seperti merasakan interlude dalam musik,” kataku sambil menarik napas panjang. Aku merindukan seseorang.

“Kutebak, kamu pasti teringat kepadanya.”

Aku mengangguk.

“Senja seperti itu abadi ya? Seperti perasaan yang kamu simpan untuknya.”

Aku tiba-tiba merasakan sebuah nyeri yang menusuk. Kupegang tangannya. Ia balik menggenggam tanganku erat. Aku pandangi wajahnya dengan sedih.

“Ah, ayo, sudahi sedihmu itu. Dia mungkin juga mengingatmu, sesekali. Mustahil melupakanmu sepenuhnya. Tentu saja dia mengingatmu juga. Meskipun tidak pernah ada kabar, bukan berarti tidak pernah mengingat.” Matanya melebar seketika, lalu menyipit. Ia tertawa kecil sambil menarik napas.

“Senja interlude kita indah, ya. Rugi kita kalau tetap sedih. Lihat, warna magenta di langit. Magis bukan?”

Ia sudah kusakiti, tetapi masih tetap mencintai.

 

2. Kaf dan Zeth

AKU tidak ingin bertele-tele. Kita bisa berbagi hasrat, jika kau tidak keberatan.”

“Baiklah. Bahkan dalam khayalanku, tak cuma hasrat.”

“Heh? Coba ceritakan kepadaku,” dan matanya yang bulat membelalak, penasaran. Tapi aku tersenyum mengelak. “Berbagi khayalan tidak termasuk dalam perjanjian, bukan?”

Setelah percintaan pertama berakhir, kami melanjutkannya dengan berpelukan. “Kamu menarik, kamu menarik. Aku mulai jatuh cinta kepadamu.” Ia mulai bergumam pelan, tapi jelas di pendengaranku.

Jawabanku mestinya “Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal”, tapi hanya terhenti di pangkal tenggorokan.

Kali ini percintaan kesekian. Setelah menonton film dan berciuman di setiap adegan yang membosankan, setelah bermain squash, setelah makan sate kambing di Pancoran, setelah melihat pentas pantomim. Malam tua dan birahi yang ranum kawin-mawin disaksikan seiris bulan di jendela apartemen dengan tirai yang disibak sebagian dengan sengaja. Ia suka memandangi warna kulitku yang telanjang dalam terang bulan yang temaram.

“Kamu laksana pualam,” ia membisikkan.

Ia kerap memuji meski tidak kumiliki. Setetes air mata yang terperas dari jantung cinta yang nyaris menitik. Tidak, ia tidak ingkar akan sesuatu yang tidak mampu diberikan. Aku bahagia, bisikku pasti.

Ciumannya sedang mampir di telinga, namun telinga yang sama mendengar nada yang kukenal dari telepon genggam miliknya. Aku mendorong tubuhnya menjauh.

“Terima dulu. Telepon di malam hari tentu penting.”

Ia berguling, tubuh kami berjarak. Matanya menatap langit-langit dan tidak juga beranjak. Nada itu terus menjerit-jerit, datang dari meja di ujung ranjang.

 

3. Zeth dan Nun

HARI ini Kaf menjadi pengantin tercantik di dunia. Bagi Zeth, Kaf berkilau seperti pualam yang memantulkan cahaya senja. Bagi Nun, mata Kaf yang belok itu seperti sepasang matahari sendu di sebuah planet yang tidak memiliki pergantian waktu. Kesenduan Kaf seakan abadi setelah ia setuju menerima lamaran laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.

Kaf sudah menangis berkali-kali dalam pelukan Nun. Mengeringkan sumur air matanya sampai tidak tersisa setetes pun. Nun tersenyum ketika menyalami Kaf di pelaminan, hanya ada selapis genangan yang tertahan berlinangan seperti tirai halus di depan lensa matanya yang indah itu.

Dari gubuk penyaji laksa Betawi, Nun memperhatikan pengantin sendunya menyalami tamu-tamu undanan, tersenyum atau tertawa amat wajar, menyambut ucapan selamat sambil mengaminkannya. Di kedua sisi mereka, sepasang orang tua kedua pengantin juga tertawa atau tersenyum lebar. Pengantin sendu dan suaminya dijodohkan secara main-main sejak kanak-kanak oleh kedua keluarga yang akrab dan rapat satu sama lain. Kaf selalu menganggap laki-laki itu kakak yang baik. Sejak Kaf remaja hingga letih mengembara mencari hati yang didambanya, laki-laki itu setia menunggu seperti seorang pangeran idaman dalam dongeng cinta.

Akhir yang menggembirakan bagi seluruh dunia, kecuali bagi Kaf sendiri. Tapi Kaf berusaha berbahagia bersama dunia. Kaf yang sendu.

Oh, Nun tersekiap melihat seseorang menaiki tangga pelaminan dengan percaya diri. Dari jauh Nun bisa mengenali aroma parfum mahal yang lembut. Juga Nun melihat seluruh otot wajah Kaf sedang bekerja sama sekompak mungkin untuk menahan linangan air matanya agar tidak runtuh. Tubuh Kaf sendiri bergetar sangat dalam frekuensi ultra sehingga tidak tertangkap manusia. Nun mendengar seekor anak kelelawar yang bersembunyi di bubungan atap gedung berdecit ngeri. Mungkin bumi juga sedang menghentikan rotasinya demi seorang anak manusia yang sedang memantrai diri sendiri saat detik mematikan itu tiba juga.

Mata sendu Kaf berkeliling mencari Nun. Nun mengangguk pelan. Kaf mengedip sesaat sebelum dirinya dan Zeth persis berhadapan. Nun menahan napas. Rupanya Kaf sudah berhasil menjadi pesulap hebat. Kaf tidak mati atau berubah menjadi samudra air mata ketika menghadapi kedatangan Zeth tercinta. Sepasang matanya yang besar kini berkilat-kilat memancarkan cahaya paling menakjubkan yang pernah Nun lihat. Melebihi ketakjuban Nun akan warna magenta ketika senja sipil berganti senja nautikal.

Sedetik peristiwa itu mengubah Kaf selamanya. Kaf baru telah lahir, kepompong Kaf terburai bersama udara tak kasat mata. Kaf berhasil melewati puncak yang harus ditaklukkannya. Pengantin sendu dalam balutan kebaya hijaunya yang sangat cantik itu kembali mencari Nun. Mereka sama-sama berbagi senyum tak kasatmata.

Zeth, tanpa Nun sadari, memperhatikan mereka dengan kecemburuan luar biasa. Zeth menghampiri Nun dan menjabat tangan lalu saling menempelkan pipi. Mereka bertiga sering bersama dalam perjumpaan pendek. Peristiwanya selalu berulang seperti ini: Kaf keluar dari pintu lift bersama Zeth, menemui Nun yang sudah agak lama menunggu di lobi, kemudian mereka bertiga pergi dengan mobil yang disetiri Nun. Arah perjalanan selalu sama, menuju pantai di utara dan berhenti di bawah pohon ketapang yang paling ujung dan sepi pengunjung. Saat Kaf sedang sedih-sedihnya seperti demikian, Nun menghibur dengan apa saja. Kadang mendongeng, kadang menjelaskan sesuatu seperti seorang guru, kadang sama-sama terdiam memandangi permukaan laut yang halus menggelombang.

Kaf suka mengeluh bahwa ia tidak bisa melupakan Zeth. Zeth yang mencintai dua orang sekaligus. Yang kerap membisikkan baris-baris puisi:

Kau mungkin hafal rasanya dikhianati
tapi tak pernah tahu pedihnya membagi.*

Di bahu Nun, Kaf tersedu-sedu dan benci dirinya sendiri yang tersentuh oleh puisi itu.

Zeth berkata betapa cantiknya Kaf, si pengantin pualam. Nun mengangguk, dan berkata, semoga pengantin sendu itu berbahagia selamanya. Zeth menimpali, bahagia selamanya itu ilusi. Nun tertawa kecil. Mereka melihat Kaf tengah memandangi mereka dengan sepasang matanya yang bercahaya.

Nun bertanya, mengapa Zeth datang sendiri tanpa kekasihnya. Zeth bilang ia ingin datang menemui Kaf tanpa berbagi. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukannya saat Kaf berusaha mendapatkan cinta Zeth. Zeth berpisah dengan kekasihnya, jelas Zeth kepada Nun, bersamaan dengan tibanya kabar dari Kaf tentang hari pernikahannya.

Apakah Zeth juga terinspirasi Kaf untuk menikah dengan laki-laki, tanya Nun. Zeth tertawa, sambil mengulangi perkataan ibunya yang mengingatkan bahwa umurnya sudah hampir kepala empat. Lalu Zeth berkata, ia iri kepada Nun yang berani jujur menjadi diri sendiri tanpa perlu tunduk pada konsensus normatif bahwa perempuan tidak pantas selamanya melajang. Juga bahwa Nun berani mencintai Kaf tanpa syarat sedemikian rupa.

Nun berkata, dengan caranya sendiri Zeth juga melakukan hal yang sama. Zeth menggeleng, ia membenci dirinya sendiri yang keras hati dan mementingkan diri sendiri. Nun menepuk bahu Zeth, mari kita bersulang agar Kaf, sang pengantin pualam, pengantin sendu, berbahagia dengan kehidupan barunya.

Zeth yang memegang segelas air putih, mendentingkan bibir gelas ke bibir mangkuk laksa betawi di tangan Nun. Untuk Kaf kita, mereka berkata bersamaan.(*)

Depok, 12 Desember 2014

  
*dari puisi “Ciuman Judas”, karya Dina Oktaviani

Iklan

Satu pemikiran pada “Dua Tamu di Hari Pernikahan Kaf

  1. Hal pertama yang menarik perhatian kita dari cerita ini tentulah soal bagaimana senja diklasifikasikan. Tercatat, ada empat jenis senja: senja sipil, senja nautikal, senja astronomis, senja interlude. Apakah pengklasifikasian ini memang ada atau hanya karangan si penulis, saya tidak tahu. Yang jelas, ini menarik. Setelah membaca cerita ini ketika tengah memandangi senja kita mungkin jadi punya aktivitas baru: menebak-nebak termasuk ke jenis yang mana senja yang sedang kita pandangi itu.

    Sesuatu yang sifatnya informatif seperti ini, dalam sebuah cerita, saya kira dimaksudkan untuk memberikan atau menambahkan “bobot” kepada cerita. Si penulis mungkin berpikir, jika setelah membaca habis ceritanya ini pembaca tidak mendapatkan ilmu atau pengetahuan apa pun, maka itu bisa membuat pembaca seperti menyia-nyiakan waktu dan energi luangnya–meski sebenarnya tidak juga. Dan karenanya, apa yang dilakukan si penulis ini baik. Sebuah informasi, apalagi yang tidak atau belum diketahui banyak orang, akan dengan sendirinya membuat si cerita memiliki daya tarik yang lebih, dan bukan tidak mungkin informasi tersebut menjadi salah satu hal yang akan terus menjadi penghubung antara pembaca dengan si cerita, antara ingatan pembaca dengan si cerita. Maksud saya, kelak ketika pembaca ditanya apakah ia ingat cerita itu ia bisa menjawab, “Oh, yang di dalamnya ada informasi ini ya?” Di titik ini, informasi tadi telah berperan lebih jauh dari yang mungkin ditugaskan padanya. Dan ini juga sesuatu yang baik.

    Yang perlu diperhatikan barangkali adalah bahwa informasi seperti ini, di dalam cerita, harus dihadirkan secara wajar dan alami. Dengan kata lain, tidak mengusik kenyamanan membaca kita, dan tidak mengganggu apalagi mengacaukan ritme atau aliran cerita. Di dalam cerita berjudul “Dua Tamu di Hari Pernikahan Kaf” ini sendiri, hal tersebut untungnya teratasi. Informasi tentang senja tadi dihadirkan lewat dialog antara dua tokoh, dan dialog ini terjadi di suatu titik waktu yang tepat, yakni saat mereka berdua memang tengah memandangi senja dan sedang menikmati kebersamaan mereka. Dialog itu sendiri pun dihadirkan secara wajar, sehingga terkesan masuk akal. Respons si pendengar, respons si pengujar, keduanya terasa alami. Tidak terlihat ada dialog yang dipaksakan ada hanya untuk menyampaikan isi kepala si penulis. Dan dengan demikian, informasi tentang senja yang berpotensi meningkatkan nilai tawar si cerita menjadi benar-benar sampai ke titik itu.

    Hal kedua yang menarik perhatian kita dari cerita ini adalah pengutipan bati-bait dalam puisi “Ciuman Judas” karya Dina Oktaviani. Si penulis menyampaikan keterangan ini di akhir cerita sehingga kita mungkin jadi bertanya-tanya seperti apa puisi yang dimaksud itu, bagaimana keterhubungan puisi tersebut dengan cerita, apa yang berusaha disampaikan si penulis dengan mengutip bait-bait puisi tersebut di ceritanya ini, dan sebagainya. Sayangnya, ini sesuatu yang sulit. Si penulis hanya mengutip dua baitnya saja dan pertanyaan lain mungkin timbul di benak kita, soal apakah kita cukup melihat yang dua bait ini saja ataukah perlu juga melihat bait-bait lainnya atau bahkan si puisi secara keseluruhan. Jika, kita hanya membatasi pengamatan kita pada dua bait itu saja–“Kau mungkin hafal rasanya dikhianati/ tapi tak pernah tahu pedihnya membagi”, kita mungkin akan sampai pada pemahaman ini: keterhubungan antara si puisi dengan si cerita adalah pada inti-konflik yang dihadirkannya, yang ditawarkannya; dikhianati, membagi; kesedihan, kepedihan. Lalu apakah ini sesuatu yang penting, dalam arti kehadiran bait-bait puisi itu sangat berpengaruh terhadap cerita? Bisa iya dan bisa tidak. Saya sendiri melihat dihadirkannya bait-bait puisi itu lebih ke sebuah upaya untuk memperkuat si cerita, memperkuat konflik yang ditawarkan si cerita. Ia tak ada pun bisa jadi cerita tetap berjalan, dan tetap menarik. Tapi satu hal: dihadirkannya bait-bait puisi itu memancing kita untuk mencari tahu si puisi, dan ini mungkin bisa dianggap sebentuk promosi. Akan baik barangkali jika si penulis membagikan sedikit honornya kepada si penulis puisi yang puisinya ia kutip itu. Haha~ (Atau terbalik?)

    Berikut ini saya hadirkan puisi “Ciuman Judas” karya Dina Oktaviani secara keseluruhan, yang saya dapatkan dari googling. Sila membacanya dan anda mungkin akan menemukan keterhubungan yang lebih jauh dan lebih kuat daripada yang saya kemukakan tadi.

    CIUMAN JUDAS
    Dina Oktaviani

    kau mungkin hafal rasanya dikhianati
    tapi tak pernah tahu pedihnya membagi
    mengutuk jarak dan tak percaya waktu
    ditikam dingin, dibunuh naluri menebar tubuh
    aku merindukan dadamu berkeringat
    meski hujan tak menepati janji
    ingkar seperti hati atau kematian
    tapi tentulah kau telah beku
    telah yakin oleh kebenaranmu dan cacatku
    sedang aku runtuh-luluh
    menyangka api cumalah mainan lusuh
    kau mungkin tak pernah mencampakkan angin
    apalagi berpaling dari matahari
    mencium semua jiwa dan rumputan
    membiarkan cerminmu dipenuhi judas
    aku juga merindukan ketololan sendiri
    menyerahkan seluruh tubuh seutuh ruh
    sementara samudera butuh tumbal dan sesaji

    (sumber: http://cinderelasepatukaca.blogspot.co.uk/2010/04/puisi-ciuman-judas-dina-oktaviani.html)

    Hal menarik lainnya dari cerita ini barangkali pembagian fokusnya. Ada tiga bagian atau tiga babak yang masing-masing diberi tanda lewat nama tokoh-tokohnya. Kaf dan Nun, Kaf dan Zeth, Zeth dan Nun. Pembagian dan penandaan ini tentu dimaksudkan untuk memudahkan pembaca dalam menikmati si cerita. Tak ada yang salah di sini. Hanya saja, satu pertanyaan mungkin muncul di benak kita: apakah ada fungsi lain dari pembagian dan penandaan tersebut? Jika ada, apa fungsi tersebut?

    Setelah saya memikirkannya, saya sampai pada pemahaman ini: pembagian dan penandaan tersebut adalah sebuah siasat untuk membuat tubuh cerita yang sesungguhnya terpisah-pisah jadi terlihat menyatu dan seolah-olah utuh. Coba saja perhatikan babak-babak itu, dan anda akan mendapati “jarak” antara babak yang satu dengan babak yang lain terbilang jauh. Tanpa pembagian yang tepat kemenyatuan itu tak akan tercapai. Dan satu fungsi lainnya barangkali adalah: memberi ruang dan kesempatan bagi pembaca untuk “bernapas”.

    Itu jika kita bicara soal hal-hal menarik dari cerita ini, hal-hal yang bisa dianggap kelebihan cerita ini. Sekarang, kita akan bicara soal hal-hal yang bisa dianggap kekurangannya.

    Cerita yang terpotong-potong atau terpisah-pisah itu tadi, menyisakan banyak lubang. Di dalam satu babak si penulis hanya memfokuskan diri pada satu adegan yang rentang waktunya pendek, dan itu artinya kita sebagai pembaca hanya dibiarkan melihat adegan dan rentang waktu yang pendek tersebut. Kita, misalnya, kurang diberi keleluasaan untuk melihat masa lalu si tokoh, apa-apa yang terjadi sebelum adegan itu ada, dan yang semacamnya. Ini saya kira perlu dipikirkan terutama untuk melengkapi motif. Mengapa si A dan si B dan si C bisa sampai terjebak dalam suatu hubungan yang tidak “ideal”? Seberapa mungkin dan seberapa masuk akal dan seberapa natural hal tersebut terjadi? Sosok seperti apa sesungguhnya si A dan si B dan si C? Di lingkungan dan kawasan seperti apa ketiga tokoh ini berkembang? Memang si penulis, di babak terakhir, misalnya, menghadirkan informasi terkait hal-hal tersebut, hanya saja dalam porsi yang sangat kecil. Porsi yang kecil ini menjadikan motif tersebut terlihat sebagai pemanis semata, ornamen yang ada untuk membuat cerita lebih menarik. Padahal, bisa jadi, motif ini sesuatu yang penting, yang krusial, dan dengan membuat porsinya kecil saja maka kebutuhan si cerita tidak terpenuhi. Ia jadi terlihat bolong-bolong meski sudah menyatu dan seolah-olah utuh.

    Itu yang pertama. Yang kedua, bentukan kalimatnya.

    Si penulis sepertinya tipe orang yang begitu menyukai bahasa puisi–bahasa puisi dalam arti sempit, maksudnya–dan ia seperti ingin menumpahkan rasa sukanya itu ke dalam cerita. Ini baik, untuk membantu si cerita memiliki ruh, feel, rasa, sesuatu yang bisa membuatnya bertahan (sedikit) lebih lama di benak pembaca. Tapi, dalam hal efektivitas, dan kegunaan, ini buruk.

    Kalimat ini, misalnya: “Setetes air mata yang terperas dari jantung cinta yang nyaris menitik.” Mungkin memang terdengar puitis, tapi kepuitisan itu bisa jadi sia-sia. Pembaca mungkin malah merasa nyaman jika mendapati kalimat tersebut dibuat sederhana dan praktis saja. Tidak perlu ada “jantung cinta”. Tidak perlu ada “terperas”. Keberadaan keduanya bisa jadi malah membuat si kalimat terkesan norak.

    Sekarang, kita mungkin langsung beralih ke masalah kalimat saja.

    Perhatikan kalimat ini: “‘Kamu pasti membayangkan sebagai pengembara berada di samudera luas dan tersesat kehilangan arah?'” Bagian “membayangkan sebagai pengembara di samudera luas” saya kira bagusnya diganti saja dengan “membayangkan dirimu seoarang pengembara yang berada di samudera luas”. Kemudian, karena “tersesat” dan “kehilangan arah” memiliki makna yang sama, mungkin akan baik jika yang digunakan hanya salah satunya saja.

    Kemudian kalimat ini: “Senja yang kamu sebut emosional, buatku adalah seperti merasakan interlude dalam musik.” Bagian “adalah seperti merasakan interlude” mengacu ke sebuah aktivitas (ada kata “merasakan” di sana), sedangkan yang diperbandingkan di kalimat itu adalah “senja” yang bukanlah aktivitas. Mungkin akan oke kalau kalimat itu dibuat jadi seperti ini: “Senja yang kamu sebut emosional, bagiku seperti interlude dalam musik.”

    Selanjutnya: “Ia sudah kusakiti, tetapi masih tetap mencintai.” Mungkin di sini si penulis berusaha mengejar rima luar, sehingga ia memilih menggunakan kata “mencintai” alih-alih “mencintaiku” yang lebih tepat guna. Saya sendiri, merasa, pengejaran rima luar itu sesuatu yang tidak perlu, bahkan tidak penting.

    Berikutnya: “‘Baiklah. Bahkan dalam khayalanku, tak cuma hasrat.’/ ‘Heh? Coba ceritakan kepadaku,’ dan matanya yang bulat membelalak, penasaran. Tapi aku tersenyum mengelak. ‘Berbagi khayalan tidak termasuk dalam perjanjian, bukan?'” Dalam pemahaman saya, yang mengucapkan kalimat terakhir adalah si tokoh yang berbeda dengan yang mengucapkan kalimat kedua. Dan karenanya, untuk menjaga keharmonisan dialog, kalimat terakhir ini baiknya dipisahkan saja (baca: di-enter).

    Selanjutnya: “Ia mulai bergumam pelan, tapi jelas di pendengaranku.” Mungkin akan lebih oke kalau “jelas di telingaku”.

    Berikutnya: “Jawabanku mestinya ‘Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal’, tapi hanya terhenti di pangkal tenggorokan.” Digunakannya “jawabanku mestinya” akan berdampak pada harus dihadirkannya jawaban yang tidak semestinya di akhir kalimat, dan ini tidak disadari oleh si penulis. Dengan kata lain: “Jawabanku mestinya ‘Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal’, tapi aku malah berkata…” Atau, kalau mau mempertahankan bagian terakhirnya, bisa diubah jadi seperti ini: “Aku semestinya menjawab, ‘Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal’. Tapi, apa yang mesti kukatakan itu hanya tertahan di pangkal tenggorokan.”

    Selanjutnya: “Malam tua dan birahi yang ranum kawin-mawin disaksikan seiris bulan di jendela apartemen dengan tirai yang disibak sebagian dengan sengaja.” Yang benar itu agaknya “berahi”.

    Berikutnya: “‘Kamu laksana pualam,’ ia membisikkan.” Yang benar itu, “ia berbisik”.

    Selanjutnya: “Ia berguling, tubuh kami berjarak.” Tanda koma di sana baiknya diganti saja dengan tanda titik, atau dengan kata “sehingga” atau “dan”.

    Berikutnya: “Matanya menatap langit-langit dan tidak juga beranjak.” Di kalimat ini dikatakan bahwa yang tidak juga beranjak itu si mata. Apakah benar itu yang dimaksudkan si penulis? Kata “beranjak” biasanya digunakan untuk gerakan tubuh, dan karenanya kalimat ini terdengar aneh. Tapi kalaupun benar yang dimaksudkan di sana adalah si mata, maka saya kira akan jauh lebih oke kalau dibuat seperti ini: “Matanya menatap langit-langit dan terus seperti itu.”

    Selanjutnya: “Kaf sudah menangis berkali-kali dalam pelukan Nun. Mengeringkan sumur air matanya sampai tidak tersisa setetes pun.” Tanda titik di antara “Nun” dan “mengeringkan” itu diganti tanda koma saja.

    Berikutnya: “Nun tersenyum ketika menyalami Kaf di pelaminan, hanya ada selapis genangan yang tertahan berlinangan seperti tirai halus di depan lensa matanya yang indah itu.” Bagian “hanya ada selapis genangan yang tertahan berlinangan seperti tirai halus di depan lensa matanya” terlalu berbelit-belit dan tidak tepat guna. Dan tanda koma di antara “pelaminan” dan “hanya” bagusnya diganti dengan tanda titik saja.

    Selanjutnya: “Juga Nun melihat seluruh otot wajah Kaf sedang bekerja sama sekompak mungkin untuk menahan linangan air matanya agar tidak runtuh.” Kalimat ini lagi-lagi berbelit-belit dan tidak tepat guna. Jika dibuat praktis saja bisa jauh lebih oke.

    Berikutnya: “Kaf tidak mati atau berubah menjadi samudra air mata ketika menghadapi kedatangan Zeth tercinta.” Dalam bayangan saya, “samudra air mata” adalah sejumlah air mata yang terkumpul di suatu tempat, bukan sesuatu yang memancarkan air mata. Perumpamaan di kalimat tersebut saya kira keliru.

    Selanjutnya: “Sedetik peristiwa itu mengubah Kaf selamanya.” Mungkin akan enak kalau kata “sedetik” dihilangkan saja.

    Berikutnya: “Kaf baru telah lahir, kepompong Kaf terburai bersama udara tak kasat mata.” Tanda koma di sana diganti saja dengan tanda titik.

    Selanjutnya: “Saat Kaf sedang sedih-sedihnya seperti demikian, …” Mungkin akan enak kalau “demikian” di sana diganti dengan “itu”.

    Berikutnya: “Zeth yang mencintai dua orang sekaligus. Yang kerap membisikkan baris-baris puisi…” Dua kalimat ini bisa digabung.

    Selanjutnya: “Di bahu Nun, Kaf tersedu-sedu dan benci dirinya sendiri yang tersentuh oleh puisi itu.” Akan lebih oke kalau “membenci”.

    Berikutnya: “Lalu Zeth berkata, ia iri kepada Nun yang berani jujur menjadi diri sendiri tanpa perlu tunduk pada konsensus normatif bahwa perempuan tidak pantas selamanya melajang.” Nun itu laki-laki, kan? Jika benar, maka yang dimaksudkan Zeth di sini adalah sikap dan cara pandang Nun terhadap perempuan yang selamanya melajang. Masalahnya, di bagian sebelumnya saya tidak menemukan keterangan mengenai hal ini.

    Selanjutnya: “Zeth menggeleng, ia membenci dirinya sendiri yang keras hati dan mementingkan diri sendiri.” Tanda koma di sana diganti saja degan tanda titik.

    Berikutnya: “Nun menepuk bahu Zeth, mari kita bersulang agar Kaf, sang pengantin pualam, pengantin sendu, berbahagia dengan kehidupan barunya.” Tanda koma di antara “Zeth” dan “mari” diganti saja dengan tanda titik.

    Selanjutnya: “Zeth yang memegang segelas air putih, mendentingkan bibir gelas ke bibir mangkuk laksa betawi di tangan Nun.” Yang benar itu agaknya “Betawi”.

    Sekian feedback saya kali ini. Sampai jumpa di feedback berikutnya.

    Bonus foto: Takahashi Juri

    http://vignette3.wikia.nocookie.net/majisuka/images/2/28/MG4_Uenome_Takahashi_Juri.jpg/revision/latest?cb=20150128080611


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s