Hari Terakhir Ah Xiang

Cerpen Leopold A. Surya Indrawan (Koran Tempo, 25 Januari 2015)

20150125

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SEUSAI menderetkan delapan piring tart susu di atas meja panjang ruang tamu, Ah Xiang kembali ke kamarnya, berbaring. Kendati merasa bugar—ia baru mandi setelah berbulan-bulan tak membasuh tubuhnya—ia yakin bahwa hari itu ajalnya akan tiba sesuai perkataan Li Hwa, sepupunya yang mampu meramal hari kematian seseorang itu.

“Tanggal empat bulan sembilan wa bakal mati,” kata Ah Xiang. Ia menelepon kakak dan delapan orang adiknya satu demi satu sehari setelah ia mendapati tanggal kematiannya. Pemberitahuan itu pun ia maksudkan sebagai undangan agar saudara-saudaranya datang mengunjunginya pada tanggal tersebut.

“Daripada le ngomong sembarangan begitu lebih baik le mandi deh! Kalau le cari perhatian dengan cara begitu, makin tak ada yang mau dekat-dekat sama le,” kata Ah Seh, adik perempuan Ah Xiang.

Lebih banyak saudara Ah Xiang yang tak mengindahkan perkataannya itu. Sedangkan Ah Xiang percaya betul dengan ramalan Li Hwa karena perempuan paruh baya itu pernah meramal dengan jitu hari kematian salah seorang sahabat dekat Ah Xiang. Saudara-saudara Ah Xiang yang mendengar cerita itu beranggapan bahwa akibat tebakan Li Hwa hanyalah kebetulan. Pikir mereka waktu itu, orang bodoh saja pasti bisa menebak kematian seseorang yang sudah sekarat!

Di samping kepercayaannya terhadap ramalan Li Hwa, Ah Xiang memang berharap untuk segera mati, tetapi ia terlalu takut untuk bunuh diri. Ia pernah mendengar bahwa Giam Lo Ong, dewa penguasa akhirat, tak akan segan-segan menjebloskan orang-orang yang mati bunuh diri ke dalam neraka.

Seumur hidup Ah Xiang membujang. Satu-satunya perempuan yang pernah ditidurinya tidak juga dinikahinya. Perempuan itu adalah Was, pembantu rumah tangga yang dulu pernah merawat ibu Ah Xiang. Setelah ibu Ah Xiang meninggal dua puluh tahun lalu, Was kembali ke kampungnya. Was pernah membujuk Ah Xiang agar memperistrinya, namun kedua orangtua Ah Xiang tak sudi menjadikan pembantu rumah tangga mereka sebagai menantu. Dan akhirnya, Was pun menyadari bahwa warisan dari kedua orangtua Ah Xiang tak akan menjamin kemakmuran hidupnya. Apalagi Ah Xiang adalah penganggur. Ia hidup hanya dengan uang pemberian adiknya, Ah Li, yang sempat tinggal bersamanya bertahun-tahun dan akhirnya pergi meninggalkan dia untuk bekerja di Singapura. Hingga kini Ah Li masih mengiriminya uang dan sesekali uang itu digunakan Ah Xiang untuk taruhan main catur dengan tukang-tukang yang memperbaiki rumah tetangga seberang.

Sejak kepergian Was, Ah Xiang menjadi sosok yang muram. Lebih-lebih setelah Ah Li pergi, ia jadi hidup sebatang kara. Namun, kesendirian itu masih bisa terobati paling tidak sekali dalam setahun. Perayaan Imlek dengan keluarga besar beberapa kali masih terus diadakan di rumahnya, begitu pula sangjit—upacara seserahan—jika ada kemenakan perempuan Ah Xiang yang hendak menikah. Kedua acara tersebut diadakan di tempat tinggal Ah Xiang karena itulah rumah induk keluarga. Dengan adanya acara-acara itu, selalu ada yang Ah Xiang nantikan tiap tahun. Dan Ah Xiang akan sibuk membikin tart susu andalannya untuk memeriahkan acara-acara itu. Bagi ia, keberadaan tart susu wajib dalam setiap perayaan keluarga. Tart susu adalah sebuah warisan luhur. Rasa manisnya adalah pembawa kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah pembawa keberuntungan.

“Isi tart susu harus lembut, lembut sampai terasa meleleh ketika ia masuk ke dalam mulut,” kata ibu Ah Xiang ketika beliau mengajari Ah Xiang membikin tart susu pertama kali. “Dan le mesti ingat untuk selalu pakai telur ayam kampung, karena warnanya lebih kuning, rasanya lebih lembut, dan baunya lebih tidak amis.”

Jika Ah Xiang membayangkan dirinya memanjat pohon keluarganya hingga ke zaman leluhurnya di Kengtang Timur, ia akan menemui nenek moyangnya, si pembuat tart susu pertama yang menerima resep kue tersebut dari Chau-Kun, dewa penguasa dapur, melalui mimpi. Ah Xiang tak pernah bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa tart susu hanyalah modifikasi orang-orang Hong Kong terhadap pai susu Portugis. Ah Xiang tak akan berpihak pada kemungkinan sejarah yang mengancam keluhuran resepnya. Dan apa pula guna menentang keyakinannya itu?

“Orang bule mana bisa bikin kue enak!” kata Ah Xiang. Padahal ia tak pernah mencoba kue-kue Eropa.

 
BEBERAPA tahun setelah masa-masa muram Ah Xiang, tart susu buatannya pun tak lagi hadir dalam acara-acara keluarga. Ia kehilangan semangat untuk membuatnya. Perayaan Imlek dan sangjit tak lagi diadakan di rumahnya, tetapi di rumah baru Ah Seh di daerah Kebon Jeruk, yang memiliki lahan parkir dan ruang keluarga yang lebih luas. Istilah “rumah induk”, yang berarti rumah generasi pertama keluarga Ah Xiang yang tinggal di Jakarta, pun tak lagi diindahkan. Mulanya Ah Xiang masih mau menghadiri acara-acara di rumah adiknya itu. Ia pergi ke sana dengan menumpang mobil kemenakannya. Akan tetapi, tahun demi tahun ia semakin merasa terasing di tengah keriuhan keluarga besarnya sendiri. Hingga akhirnya ia pun memutuskan tak lagi bergabung dalam acara-acara keluarganya. Ia lebih memilih untuk menyendiri sepanjang tahun di rumahnya yang hampir tak pernah dikunjungi oleh siapa pun. Ia hanya keluar dari rumahnya untuk membayar air, listrik, dan telepon, atau membeli makanan di warung. Selebihnya ia lebih sering duduk di kursi teras sambil memandangi pohon jeruk.

“Kenapa belum ada yang datang juga?” pikir Ah Xiang.

Ah Xiang juga memutuskan untuk tak lagi mandi dan membersihkan rumah. Pikir ia, untuk apa merawat sesuatu yang tak lagi dihiraukan? Bau kecut tubuhnya pun makin pekat dan makin menyebar. Tak mungkin ada yang tahan berada dekat-dekat dengannya. Saudara-saudaranya pun terjebak di antara rasa kasihan dan rasa jijik, namun nampaknya rasa yang kedua jauh lebih kuat. Mereka menganggap perbuatan Ah Xiang sebagai aksi unjuk rasa untuk mencari perhatian. Dan hasilnya malah sebaliknya, ia semakin tak diperhatikan.

Jika Ah Xiang mendengar deru mesin mobil yang mendekati rumahnya, seringkali ia akan berpikir bahwa itu adalah suara mobil milik salah satu saudaranya yang hendak berkunjung. Namun, dugaannya itu hampir selalu salah. Dan tiap kali itu terjadi, ia akan mengembuskan napas panjang sambil menatapi mobil yang menderu itu melintas di depan rumahnya.

Pada suatu petang, harapan Ah Xiang bangkit ketika ia mendengar suara Li Hwa yang memanggilnya di depan pagar rumah. Padahal, sepupunya itu datang semata-mata untuk melihat keadaannya. Tentu saja Li Hwa tak semudah itu memberi tahu tanggal kematian seseorang. Ia lebih sering menyimpan pengetahuannya itu di dalam hati. Untuk itu ia perlu dipaksa selama berjam-jam.

“Tak pantas rasanya wa kasih tahu soal itu ke le!” kata Li Hwa.

“Kalau le dikasih kemampuan buat buka rahasia langit, itu artinya le memang punya hak untuk itu!” kata Ah Xiang.

Meski kemampuannya terdengar begitu luar biasa, cara Li Hwa menyibak hari kematian jauh tak memerlukan tata upacara: ia hanya perlu memejamkan kedua matanya dalam waktu yang agak lama. Menurut penjelasannya, dengan cara itu ia dapat membiarkan kesadarannya berkelana ke langit, memasuki istana Giam Lo Ong yang berdiri di atas kepulan awan-awan, melintasi lorong panjang yang di kedua sisi dindingnya dipenuhi rak berisi gulungan-gulungan perkamen, dan kemudian berhenti di sebuah ruangan kecil berlantai kayu, berdinding lukisan naga dan burung hong, dengan sejilid kitab bersampul emas di atas meja. Dalam kitab itu, Li Hwa dapat mencari nama orang yang ingin ia ketahui tanggal kematiannya. Halaman-halaman kitab itu akan berbalik sendiri sesuai keinginan Li Hwa.

Ah Xiang merasa tak perlu bertanya-tanya bagaimana ia akan mati. Ia pikir ia akan mati karena kondisi tubuhnya yang sudah tak sehat lagi. Seringkali ia muntah tanpa sebab, napasnya tiba-tiba jadi pendek-pendek, dan sekujur tubuhnya lemas total sehabis makan. Namun tak sekali pun ia pernah ke dokter untuk memeriksakan keadaannya.

“Dua bulan lagi wa bakal mati!” kata Ah Xiang ketika menelepon Ah Li.

“Koh, le lebih baik jangan percaya deh sama si Li Hwa itu! Omongan dia cuma bullshit! Kalau dia memang jago ramal, kenapa hidupnya susah sampai sekarang?” kata Ah Li.

“Bulsit itu apa, Li?”

 
SEJAK memperoleh tanggal kematiannya, Ah Xiang mulai berpikir untuk membuat sebuah perayaan sederhana. Perayaan Imlek berulang terus dari tahun ke tahun, sedangkan kematian adalah hal yang tak berulang. Kematian semestinya lebih pantas dirayakan, pikir Ah Xiang. Untuk itu, ia mulai menyiapkan adonan tart susu sejak beberapa hari sebelum tanggal kematiannya yang telah diramalkan itu. Dalam sehari ia menyiapkan delapan piring tart (delapan, ia pikir, adalah angka keberuntungan). Setelah selesai memanggangnya, dan menunggu tart-tart itu mengempis dan mendingin, ia menyimpannya di dalam kulkas. Ketika harinya tiba, ia tinggal menyajikan kue-kue tart itu di ruang tamu. Ia juga telah memotong tiap tart menjadi delapan bagian.

“Ah Li dan Ah San pasti yang paling kangen sama tart susu wa,” ujar Ah Xiang seraya membelah-belah kue itu. Dalam benaknya ia mengingat-ingat setiap anggota keluarga besarnya, mengira-ngira siapa saja yang bakal datang ke pemakamannya. Ia berharap semua datang. Namun ia juga bertanya-tanya apakah mereka bakal menangisi dan mendoakannya. Atau jangan-jangan mereka sekadar datang untuk kesopanan. Bukankah kesopanan sudah menjadi alasan berjuta-juta orang untuk menghadiri bermacam acara di dunia ini?

Akankah mereka datang hari ini?

Lama-kelamaan, Ah Xiang semakin merasa cemas. Ia tak lagi tahan berbaring di tempat tidurnya, menatapi dinding-dinding kamarnya yang kuning kusam dan kalender tahun 1995 bergambarkan perempuan bule berbikini yang tak pernah dicabutnya sejak tahun yang tercetak pada kalender itu. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa sudah sesiang ini saudara-saudaranya belum juga datang untuk menemani saat-saat terakhirnya?

Bahkan Li Hwa pun tak memberi kabar.

Ah Xiang bangun dari tempat tidurnya, berjalan ke arah telepon untuk mengecek apakah kabelnya putus atau digerogoti tikus. Ah Xiang berniat menelepon tetapi ragu. Ia lalu memandang ke arah deretan tart susu buatannya di meja panjang ruang tamu. Ia termangu sebentar, sebelum klakson mobil dari arah luar mengagetkannya dan membuat ia berlari ke halaman rumahnya dengan penuh harap.

“Siang, ini rumah keluarga besar Pasaribu, bukan?”

“Sa… salah rumah!” Ah Xiang menggeleng.

Ah Xiang kemudian kembali ke kamar tidurnya. Ia berjalan lunglai. Ia berbaring lagi selama dua jam. Ia mencoba membayangkan bilamana keluarga besarnya telah datang dan memenuhi rumahnya itu, menikmati perayaan sederhana yang digelarnya sebelum upacara pemakamannya.

Pukul empat sore, Ah Xiang keluar lagi dari kamarnya. Tak ada tanda-tanda kedatangan siapa pun. Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan mengambil sepotong tart susu dengan tangannya. Ia makan sambil duduk di kursi teras sambil memandangi jeruk-jeruk yang mengkal dan langit yang lama-lama menguning. Sinar matahari menimpa wajahnya.

“Ah Xiang, Ah Xiang. Kamu jadi anak pertama yang menyusul Mama.”

Beberapa saat setelah mengunyah potongan tart susu itu, Ah Xiang tiba-tiba mengantuk. Ia tak kembali ke kamarnya untuk berbaring. Ia membiarkan dirinya tertidur sambil duduk. Tak ada udara yang bergerak saat itu, tetapi ia merasa tubuhnya begitu ringan, seolah-olah ada beban yang terangkat dari dalam rongga dadanya. Mendadak ia terkekeh. Ia terkekeh begitu lama hingga air matanya tumpah, tanpa sebab yang bisa ia jelaskan.

Ia tak lagi mengharapkan apa-apa, tak juga mengharapkan kedatangan siapa pun.

Malam hampir tiba dan Ah Xiang beranjak dari teras. Ia menoleh ke belakang dan melihat dirinya duduk terkulai. Kedua matanya terpejam seperti tengah tertidur pulas. Ah Xiang mengusap wajahnya dan pergi meninggalkan tubuhnya.

Ia masih belum tahu hendak ke mana.(*)

Kuta Selatan, 29 Desember 2014

  

Leopold A. Surya Indrawan lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Hari Terakhir Ah Xiang

  1. Cerita ini barangkali terlahir dari sebuah pertanyaan: bagaimana seseorang menjalani hidupnya jika ia, sejak titik tertentu dalam hidupnya itu, hanya sendirian?

    Ah Xiang, seorang laki-laki Tionghoa yang sudah tua dan membujang, sudah tak lagi mendapatkan perhatian dari siapa pun. Ibunya mati, saudara-saudaranya pergi. Perayaan-perayaan khas orang Tionghoa yang dulunya dilakukan di rumahnya telah sejak lama dilakukan di rumah lain, yang jaraknya terbilang jauh dari rumahnya dan membuatnya malas bergerak ke sana. Ia sendirian, di rumah itu. Kadang-kadang ia mendengar deru mesin atau bunyi klakson dan ia mengira ada salah satu anggota keluarga yang mengunjunginya, tapi perkiraannya itu lebih sering meleset. Bahkan setelah ia memberitahu keluarganya itu tentang tanggal kematiannya, ia tetap sendirian.

    Dan apa yang dilakukannya untuk mengatasi kesendiriannya itu? Di cerita ini, digambarkan, ia melakukan pemberontakan, yakni dengan cara tidak lagi membersihkan rumah dan tidak lagi membersihkan dirinya sendiri. Ada satu kalimat menarik yang dimunculkan si penulis terkait hal ini: “untuk apa merawat sesuatu yang tak lagi dihiraukan?” Sebuah pernyataan–atau pertanyaan–yang patut untuk kita renungkan, saya kira. Namun sayangnya apa yang dilakukan si tokoh utama ini malah membuatnya semakin tidak diperhatikan oleh saudara-saudaranya itu. Mereka, justru mengatakan padanya bahwa hal itu malah membuat mereka semakin enggan dekat-dekat dengannya.

    Dalam kesendiriannya itu Ah Xiang menyadari–lebih tepatnya mempertanyakan–beberapa hal. Selain tentang “merawat sesuatu yang tak lagi dihiraukan” tadi, ia pun mempertanyakan arti sesungguhnya dari sebuah perayaan, seberapa penting perayaan-perayaan itu dilakukan sementara setiap tahunnya waktu untuk itu ada dan karenanya ia menjadi tidak istimewa. Orang-orang berkumpul di hari yang sama, setiap tahunnya. Mereka hanya perlu menunggu waktu berlalu satu tahun lamanya dan perayaan itu akan dilangsungkan lagi, dan mereka akan bertemu lagi. Menurut Ah Xiang, kematian justru sesuatu yang lebih penting dan lebih perlu untuk dirayakan ketimbang perayaan tahunan itu. Apa sebabnya? Kematian bukan sesuatu yang berulang; ia hanya terjadi sekali dalam hidupmu. Dan sesuatu seperti itu tentulah pantas untuk dirayakan secara sungguh-sungguh, secara istimewa, dan karena itulah Ah Xiang sangat berharap saudara-saudaranya itu akan datang di hari ia akan mati–menurut ramalan Li Hwa, sepupunya. Tapi apa boleh buat. Sebab ia hanya menyimpan pemikirannya ini sendiri (ia tidak digambarkan mengemukakan pemahamannya tentang perayaan dan kematian ini kepada siapa pun), maka saudara-saudaranya itu tak memahaminya, dan mereka benar-benar tidak mengunjunginya di hari ia diramalkan mati. Sampai akhirnya nyawanya meninggalkan jasadnya, ia tetap sendirian.

    Ini sebuah cara yang baik dan beres, saya kira, untuk menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa (benar-benar) sendirian. Membiarkan si tokoh tetap membujang memperkuat hal itu. Dan penuturan serta peralihan adegannya pun baik. Setidaknya, kita tak merasa kesusahan saat membaca kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang dihadirkan si penulis; kita tidak perlu bersusah payah untuk bisa menikmatinya dan menamatkannya. Bagaimana si penulis memadu-leburkan adegan dan atau cerita dengan informasi-informasi seputar kehidupan orang-orang Tionghoa pun sesuatu yang baik. Untuk yang satu ini, kita mendapatkan dua hal sekaligus: 1) latar belakang atau motif yang (ikut) menggerakkan cerita; 2) informasi itu sendiri. Tentu saja kita mungkin perlu juga menelusuri apakah informasi-informasi yang diberikan si penulis sesuai dengan fakta-fakta yang ada ataukah rekaan belaka. Jika sesuai fakta, itu bisa menambah nilai tawar si cerita. Tapi jika pun rekaan belaka, itu masih bisa menambah nilai tawar si cerita, meski tentu kita harus melihatnya dari sudut pandang lain; kreativitas dan improvisasi, misalnya.

    Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, juga mungkin hal-hal positif lain yang saya lewatkan, kita agaknya akan menilai cerita ini sebagai cerita yang layak dibaca, yang layak dinikmati. Jika kita mencari kenyamanan membaca, kita akan mendapatkannya. Jika kita mencari cara pandang atau pemahaman tentang kehidupan, kita pun akan mendapatkannya. Kasarnya kita bisa bilang bahwa seusai menamatkan membaca cerita ini kita tidak akan merasa waktu kita terbuang sia-sia. Dan itu, tentu, sesuatu yang baik.

    Tapi saya harus mengakui bahwa ada satu-dua hal dari cerita ini yang sedikit mengusik saya, yang membuat saya kemudian bertanya-tanya mengapa hal ini seperti itu mengapa hal itu seperti ini. Misalnya, tentang nasib si tokoh utama.

    Si tokoh utama digambarkan tetap membujang sampai ia tua dan mati, dan ini membuat saya bertanya-tanya mengapa ia memilih seperti itu. Dari masa lalu si tokoh utama yang sedikit dikemukakan saya mendapati si tokoh utama ini adalah seorang pemalas (ia digambarkan tidak bekerja dan suka berjudi–meski kecil-kecilan) dan kurang bisa menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya (perhatikan cara yang ditempuhnya untuk menarik perhatian saudara-saudaranya). Dari dua hal ini, mungkin, sudah ada gambaran mengenai masa tua si tokoh utama; bahwa ia tetap membujang bukanlah sesuatu yang aneh. Akan tetapi saya merasa dua hal ini tidaklah cukup, belumlah cukup. Mengapa si tokoh utama memilih untuk tidak bekerja? Mengapa ibunya atau saudara-saudaranya tidak membantunya atau mendorongnya atau memaksanya untuk bekerja? Mengapa saudaranya yang di luar negeri mau-mau saja mengiriminya uang bulanan tanpa si tokoh utama ini melakukan sesuatu untuknya? Lalu tentang ketidakmampuannya untuk menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya itu sendiri, saya kira perlu ada gambaran motif yang jelas terutama di masa kecilnya, saat si tokoh utama ini masih kanak-kanak. Dari apa yang terdedah di certa, gambaran yang saya dapatkan dari tokoh utama adalah seorang anak mama, seseorang yang, entah karena apa, dimanja oleh ibunya, diistimewakan dari anak-anak lainnya. Saya menilai tidak adanya motif ini membuat si cerita menjadi kurang menjejak, kurang berterima, kurang logis. Tolong jangan mengatakan bahwa ini masalah batasan jumlah karakter. Seorang penulis yang cerdik tentu bisa mengakali hal ini tanpa banyak beralasan.

    Hal lainnya yang sedikit mengusik saya dari cerita ini adalah soal informasi-informasi seputar kehidupan orang-orang Tionghoa yang dihadirkannya. Entahlah apakah saya sedang kurang sehat atau tidak cukup minum Aqua saja, tapi di mata saya informasi-informasi tersebut terlalu banyak, terlalu melimpah; porsinya terlalu besar dan ia seolah-olah bersaing dengan cerita itu sendiri dalam meraih perhatian (dan kasih sayang) kita. Memang, ada alasan yang bisa menjadi motif kuat dari dimunculkannya informasi-informasi itu, seperti untuk meyakinkan kita bahwa si tokoh utama dalam cerita ini adalah orang Tionghoa dan cerita ini sendiri bergulir di lingkungan orang-orang Tionghoa, dan mungkin selayaknya dilihat juga dari sudut pandang orang-orang Tionghoa. Khusus untuk kue tart, motif ini bahkan benar-benar kuat. Tapi saya jadi bertanya-tanya apakah jika porsi ini dikurangi maka cerita akan kehilangan daya tariknya. Jika tidak, maka mungkin ada baiknya dikurangi saja; informasi-informasi yang tidak benar-benar (ikut) menggerakkan cerita bisa dihapus–seperti soal nama Dewa-Dewa dan cara kerja meramal sepupu si tokoh utama. Tapi bisa jadi, ini soal selera saja. Saya memang merasa sedikit terusik mendapati informasi seakan-akan tengah bersaing dengan cerita untuk mendapatkan perhatian pembaca. Tapi pembaca lain, mungkin saja tak bermasalah dengan itu, bahkan menganggapnya menarik. Kalau ternyata itu yang benar, tidak ada lagi yang perlu saya katakan.

    Sekarang saya akan beralih ke masalah kalimat.

    Perhatikan kalimat ini: “Lebih banyak saudara Ah Xiang yang tak mengindahkan perkataannya itu.” Menurut saya, kata-kata “lebih banyak” sebaiknya diganti saja dengan “kebanyakan”. Makna dan artinya memang sama, tapi entah kenapa yang kedua lebih bisa menghubungkan kalimat ini dengan kalimat dan paragraf sebelumnya.

    Sekarang kalimat ini: “Saudara-saudara Ah Xiang yang mendengar cerita itu beranggapan bahwa akibat tebakan Li Hwa hanyalah kebetulan.” Saya yakin “akibat tebakan Li Hwa” di sana bagusnya diganti saja dengan “benarnya tebakan Li Hwa” saja. Alternatif lain masih ada, sebenarnya.

    Selanjutnya yang ini: “Tart susu adalah sebuah warisan luhur.” Saya tidak tahu apakah yang dimaksud si penulis memang “warisan luhur” atau “warisan leluhur”.

    Berikutnya: “Ia hanya keluar dari rumahnya untuk membayar air, listrik, dan telepon, atau membeli makanan di warung. Selebihnya ia lebih sering duduk di kursi teras sambil memandangi pohon jeruk.” Hadirnya kata “selebihnya” dan “lebih” dalam satu kalimat menghadirkan benturan. Mungkin bisa diganti jadi begini: “Selebihnya ia menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi teras sambil memandangi pohon jeruk”.

    Selanjutnya: “Pada suatu petang, harapan Ah Xiang bangkit ketika ia mendengar suara Li Hwa yang memanggilnya di depan pagar rumah. Padahal, sepupunya itu datang semata-mata untuk melihat keadaannya. Tentu saja Li Hwa tak semudah itu memberi tahu tanggal kematian seseorang. Ia lebih sering menyimpan pengetahuannya itu di dalam hati. Untuk itu ia perlu dipaksa selama berjam-jam.” Saya terus terang tidak menemukan keterkaitan yang kuat antara kalimat kedua dan kalimat ketiga. Bagian “tentu saja” dan “tak semudah itu memberi tahu tanggal kematian seseorang” sungguh terasa salah tempat. Di kalimat sebelumnya tak sedikit pun hal ini disinggung.

    Berikutnya: “Meski kemampuannya terdengar begitu luar biasa, cara Li Hwa menyibak hari kematian jauh tak memerlukan tata upacara:…” Agak aneh penempatan dan penggunaan kata “jauh” di sana, meski bisa dipahami. Saya sendiri mungkin akan menggunakan “sama sekali” saja.

    Selanjutnya: “Kalau dia memang jago ramal, kenapa hidupnya susah sampai sekarang?” Kalimat ini sebenarnya, dari segi wujud, tidak mengandung kesalahan sedikit pun. Hanya saja, kita rasanya sudah terlampau sering mendengar dan atau membaca sesuatu seperti ini dari tulisan-tulisan lain, dari penulis-penulis lain. Kalimat ini sudah sangat aus. Kita bisa mengatakannya demikian. Saya meyakini bahwa seorang penulis haruslah kreatif dan itu termasuk menyatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan sebelumnya atau menyatakan sesuatu yang pernah dikatakan sebelumnya namun cara yang berbeda. Intinya, kreativitas.

    Begitu saja untuk masalah kalimat. Sekarang, sebelum saya mengakhiri feedback saya ini, saya ingin sedikit membahas adegan penutup yang dihadirkan si penulis. Si tokoh utama, meski ia harus menemui ajalnya, rupanya menghadapinya dan menjalaninya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, dan ini membuatnya terhindar atau terbebas dari derita atau penyesalan atau semacamnya. Dan ini menarik mengingat di sepanjang cerita berjalan yang tergambar adalah si tokoh utama ini tidak menjalani hidupnya dengan baik, bahkan tidak menyikapi dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan baik. Dengan kata lain, kematian tetaplah sebuah misteri; kita tak bisa begitu saja mengatakan bahwa seseorang akan mati dengan penuh penderitaan hanya karena di sepanjang hidupnya kita melihat ia banyak melakukan hal-hal yang, di mata kita, tidak baik.

    Sampai jumpa di feedback berikutnya. 🙂

    Bonus foto: Ono Erena



    http://vignette2.wikia.nocookie.net/drama/images/8/89/No.114_%E5%B0%8F%E9%87%8E_%E6%83%A0%E4%BB%A4%E5%A5%88_Ono_Erena-37.jpg/revision/latest?cb=20130424012359&path-prefix=es

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s