Masalah Rumah Tangga

Cerpen Dea Anugrah (Koran Tempo, 29 Maret 2015)

20150329

(Gambar oleh Munzir Fadly)

TAK ada yang mau memakai naskah keparat ini,” kata Nur Azis. Ia tidak berteriak dan suaranya keluar nyaris berbarengan dengan gulungan kertas yang ia pukulkan ke tepi meja. Yang sampai ke telinga Linda, istrinya, cuma geremengan, serangkaian bunyi yang membentuk sandi tak terurai.

Perempuan itu menekan tombol pause pada remote, berbalik, dan menatap suaminya dengan kepala yang ditelekan pada tangan. “Apa katamu?” tanyanya.

Di layar, tampak Jason Statham atau siapalah sedang menjentikkan puntung rokok ke arah truk pengangkut bahan bakar. Nur Azis memandangi layar, lalu retakan-retakan kecil pada kulit sofa tak jauh dari siku Linda. Matanya merah, bengkak, dan redup seperti orang yang belum tidur sejak lahir.

“Kita masih punya bir?”

Nur Azis, melangkah sedikit, mengempaskan bokongnya di sofa, dan bercokol di situ sementara istrinya bangkit untuk mengambilkan bir dingin dan gelas di dapur. Mereka sudah menikah selama enam tahun dan sofa tersebut adalah satu-satunya yang bisa ditindih tubuh Nur Azis tanpa membuat pikirannya ruwet. Kendati begitu, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap nilai sentimental benda-benda, menyebut benda itu sebagai sofa adalah pengkhianatan terhadap seni deskripsi. Pajanglah seekor kadal raksasa berumur dua alaf dari sisi gelap Bulan sebagai pembanding dan orang-orang bakal bersumpah hewan itu lebih mirip sofa ketimbang sofa Nur Azis.

“Tinggal segitu,” kata Linda sembari meletakkan botol 620 ml setengah kosong dan menangkupkan gelas berembun di atas meja kopi. Nur Azis memajukan badannya sedikit untuk menjangkau kedua benda tersebut. Ia tidak suka birnya dituangkan orang lain. Menurutnya kebanyakan orang tidak paham cara menuang bir yang benar, termasuk Linda, meski sudah berulang kali diajari. Tapi tentu kini keduanya tidak lagi membicarakan perkara itu, sebab cepat atau lambat, setiap orang akan menyadari bahwa dalam hidup ada banyak sekali persoalan, dan karena persoalan tidak diajarkan secara memadai, mereka tak pernah paham kemuliaan seorang pengalah.

“Ratih bilang film itu bagus sekali, aksi-aksinya keren dan aktor utamanya benar-benar macho,” ujar Linda sembari menunjuk layar dengan hidungnya. “Kau tahu Ratih, kan? Aku kasihan padanya. Semua orang di kantor kasihan padanya. Sekali waktu ia diantar suaminya naik motor. Tahukah kau bahwa laki-laki itu bahkan tidak punya inisiatif mengangkatkan barang ke timbangan? Yang benar saja! Kardus itu beratnya enam puluhan kilo dan Ratih hampir menggotongnya sendiri kalau tidak kutahan dan aku buru-buru memanggilkan Rosyid! Kupikir-pikir, ya, kalau pun Ratih tergencet, laki-laki kangkung itu tak bakal melakukan apa-apa.”

Sambil menarik sebatang Marlboro mentol, Linda mengulang pertanyaannya: “Oh ya, tadi kau ngomong apa?” kemudian ia menjepit filter rokok itu dengan bibir tebalnya yang sesekali mengingatkan Nur Azis kepada bibir Amanda Seyfried dan kali lain, ketika kebiasaan rumpinya kumat, misalnya, kepada congor ikan kerapu.

Nur Azis menyalakan rokok istrinya dan menjawab dengan suara pelan, “Kau tahu skenarioku yang terbaru? Kurasa tidak ada yang mau memakainya.”

Linda mengembuskan asap dan Nur Azis kembali memandangi televisi. Ia tahu setelah adegan beku itu pasti ada dentuman besar sementara si jagoan botak berjalan ke arah layar, lalu pada suatu titik, otot-otot bisep, trisep, serta tindakan-tindakan heroiknya akan membuat setidaknya satu perempuan jatuh hati dan tantangan sehebat apa pun bakal teratasi oleh kekuatan cinta mereka. Semua orang pernah menonton film-film seperti itu dan yang terjadi pastilah itu-itu belaka.

Tak ada yang bicara dan kesunyian melingkupi ruangan itu seperti dengung yang tak tertahankan. Linda, mengetuk-ngetukkan telunjuk dan jari tengahnya di tepi meja kopi, makin lama makin cepat, dan seakan-akan terkejut dengan kecepatan jari-jarinya sendiri, Linda tiba-tiba menjatuhkan tangannya dari meja dan membuka mulut:

“Cerita tentang orang yang menjahit mukanya sendiri?”

“Mulut, bukan muka,” kata Nur Azis. Ia kemudian minum dengan bunyi berdeguk yang kampungan sampai isi gelasnya tandas. Nur Azis mendesah dan memandangi pantulan wajahnya pada kaca meja. Menurut buku Pengantar Psikologi Sehari-hari (Disertai Ilustrasi) karangan Wayan Sukarna yang dibaca Nur Azis bertahun-tahun silam, frustasi setidaknya bisa dibagi ke dalam dua kategori—frustasi yang mengarah keluar dan yang mengarah ke dalam. Dan ia berpikir, mungkinkah seseorang menderita keduanya sekaligus?

“Maaf soal detailnya, tapi aku benar-benar ingat. Menurutku itu skrip yang menarik dan kau penulis yang bagus.”

“Menurutku juga begitu. Tapi aku sudah mengirimkannya ke sana-kemari dan yang kudapat penolakan melulu.”

 
LINDA bekerja di perusahaan jasa pengiriman barang. Tugasnya antara lain memeriksa kelengkapan data barang-barang; mencatat berat, dimensi, isi, nilai, alamat pengirim, alamat penerima; menghitung tarif; mencetak resi; serta mengajak bicara para pelanggan seandainya ada gangguan teknis atau semacamnya yang membuat orang-orang itu perlu menunggu agak lama—kadang sampai seperempat atau setengah jam. Dan di tempat kerja Linda, yang belakangan itu terjadi sama seringnya dengan seorang tukang daging mengasah pisau atau tukang las menenggak air tajin. Meski ia kerap menggerutu, semua pekerja di tempat itu tahu Linda menikmati tugas improvisasi tersebut.

Dari sejumlah pelanggan yang sering diajak bercakap-cakap oleh Linda, ada seorang perempuan bernama Yayuk. Ia satu-satunya anak ayahnya, seorang sinse, dan kenyataan itu membuatnya harus mengirimkan obat-obatan ke pelbagai tempat di Indonesia dua kali sepekan. Suatu hari di antara awal dan akhir cerita ini, Yayuk datang menjelang jam istirahat siang. Karena pelayanan baru akan dibuka lagi setelah waktu istirahat selesai, Linda mengajaknya makan bersama.

Sebenarnyalah Linda berbohong ketika mengatakan karangan terbaru suaminya menarik. Ia berbohong karena tidak sanggup menjelaskan apa yang buruk dari tulisan itu dan ia tahu tanggapan selain yang telah ia berikan bakal memperburuk keadaan. Dan menurutnya orang-orang dewasa sudah semestinya menyelesaikan persoalan masing-masing. Tetapi lama-kelamaan ia jatuh iba juga. Sudah seminggu lebih suaminya mengeluhkan perkara itu dan kurang tidur dan tampak awut-awutan dan bau badannya nyaris seperti kandang domba.

“Jadi, menurutmu, bantuan apa yang bisa kita berikan ke orang dewasa yang tidak sanggup menyelesaikan masalahnya sementara kita sendiri tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut?”

Berdiri di antara dua rak buku setinggi dada, ia kembali teringat saran yang diberikan Yayuk dan mengangguk-angguk seperti ayam sakit. “Sudah coba buku-buku how to?” kata Yayuk setelah usulnya yang pertama, bicara dari hati ke hati atau semacam itulah, ditolak mentah-mentah. Tepat sekali, pikir Linda. Tidak ada suatu kesulitan pun di dunia ini yang belum dialami sedikitnya ratusan ribu orang dan itu berarti panduan untuk urusan apa saja telah tersedia. Akhirnya, ada sebuah jalan keluar! Linda senang sekali memikirkan bahwa ia bisa melenyapkan keluhan-keluhan suaminya dan membantu (menyelamatkan adalah kata yang terlampau besar) laki-laki tersebut. Ia mulai berjalan dengan langkah lebar-lebar. Lampu-lampu bersinar lebih terang daripada biasanya. Udara terasa lebih segar. Musa membelah Laut Merah dan Firaun tak boleh ikut serta.

Malam itu juga, Linda menyodorkan plastik berisi buku-buku kepada Nur Azis. Ia membeli tiga judul sekaligus: Gampangnya Mengarang, Mengarang yang Gampang, dan Gampang-gampang Mengarang. Ketiganya ditulis oleh orang yang sama dan masing-masing dilengkapi VCD—mungkin video motivasi, mungkin musik New Age untuk relaksasi, Linda tidak tahu. Yang ia tahu, menurut keterangan di sampul belakang, si pengarang adalah ahli yang telah teruji dalam membabat masalah apa pun yang mungkin melanda kaum pengarang.

Nur Azis menyambut bungkusan yang diberikan istrinya, melihat judul-judul buku, meletakkannya di atas meja makan, lalu berbalik ke kamar dan menutup pintu. Menutup, bukan membanting. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Seseorang tidak harus menghambur-hamburkan makian atau menghantamkan dahi ke perabot untuk melukai perasaan pasangannya.

 
MASALAH sebenarnya tentu bukan karangan yang tidak menarik minat. Nur Azis sudah kelewat lama menjadi bagian dari bisnis itu untuk menjadi sensitif, apalagi terguncang, karena hambatan-hambatan sepele. Lagi pula, naskah tentang orang yang menjahit mulutnya sendiri itu tidak pernah benar-benar selesai. Tiga perempat jalan, ia muak dan mengutuk dirinya sendiri dan menghapus file itu dari komputer dan merendam kepalanya di air dingin selama empat puluh lima menit supaya gagasan-gagasan tolol berontokan.

Ia tidak pula tersinggung karena urusan Linda. Dulu sekali, jauh sebelum mereka menikah, ia sudah membaca buku-buku tersebut dan Linda tidak pernah tahu bahwa keseluruhan karirnya, meski sama sekali tak bisa disebut hebat, dilandaskan pada tesis dasar buku-buku itu. Namun demikian, Nur Azis sempat ketakutan juga ketika beberapa jam yang lalu istrinya tiba-tiba memancarkan aura penyayang seorang juru selamat. Ia takut peran yang dimainkannya selama lebih dari seminggu belakangan terbongkar hanya karena salah bereaksi. Tapi untunglah, pikirnya, kini semua sudah beres dan bukan tidak mungkin Linda akan terus mendiamkannya sampai satu-dua minggu ke depan. Dengan demikian, perkara yang sesungguhnya bakal terselesaikan meski Linda tak sempat mengetahui apa yang terjadi.

“Dengan ramuan dan akupuntur, impotensi ringan lazimnya sembuh dalam seminggu, tapi kadang ada juga yang sampai sepuluh hingga lima belas hari.”

Nur Azis percaya omongan tabib di tempatnya berobat dan menantikan momen di mana ia kembali berfungsi sepenuhnya dengan kepercayaan diri serta semangat yang meluap-luap. Tapi sampai hari ini, ia tak kunjung mengerti mengapa asisten tabib itu jadi banyak tersenyum dan tampak bersemangat hendak menolong setelah ia mengisi formulir pasien dan bukannya sejak dulu-dulu.(*)

  

Dea Anugrah lahir di Pangkal Pinang, Pulau Bangka, 27 Juni 1991. Bekerja selaku edior di sebuah penerbitan di Jakarta. Buku puisinya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya (Indie Book Corner, 2015).

Iklan

Satu pemikiran pada “Masalah Rumah Tangga

  1. Saya mulai dari kekuatan-kekuatannya saja.

    Cerita ini sangat kuat dari segi deskripsi, dan ini menyangkut detail. Kalimat ini, misalnya: “Ia tidak berteriak dan suaranya keluar nyaris berbarengan dengan gulungan kertas yang ia pukulkan ke tepi meja.” Selain “suara”, dihadirkan juga “gulungan kertas” dan “tepi meja”. Sekilas mungkin hal ini tampak sebagai pemerian semata, tetapi sesungguhnya ada “rasa” yang dihadirkannya, yang salah satunya diakibatkan oleh bertemu dan berinteraksinya sesuatu yang tak kasat mata dengan sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang tak bisa digenggam dengan sesuatu yang bisa digenggam. Suara, gulungan kertas, tepi meja. Jika kita membayangkan kehadiran ketiga hal ini berulang-ulang, baik secara berurutan maupun serentak, pastilah kita merasakan sesuatu. Sebuah suasana. Sebuah keadaan. Dan ini menjadikan si deskripsi itu lebih menarik.

    Contoh lainnya bisa kita temukan dalam kalimat ini: “‘Tinggal segitu,’ kata Linda sembari meletakkan botol 620 ml setengah kosong dan menangkupkan gelas berembun di atas meja kopi.” Di sana, si penulis menghadirkan “botol”, “620 ml”, “gelas”, dan “berembun”, dalam satu tubuh kalimat. Dan apa yang terjadi? Pertemuan, dan interaksi, yang berlanjut ke mengalirnya energi–mungkin dua arah. Antara apa dan apa? Yang padat dan yang cair. Botol dengan 620 ml. Gelas dengan berembun. Dan ketika kita berusah membayangkannya, baik secara berurutan maupun serentak, lagi-lagi kita akan merasakan kehadiran sesuatu, sehingga deskripsi itu bukan sekadar menawarkan gambaran, tetapi yang jauh lebih dalam dari itu. Dan ini, tentu saja menarik.

    Satu contoh lainnya barangkali kalimat ini: “Nur Azis memandangi layar, lalu retakan-retakan kecil pada kulit sofa tak jauh dari siku Linda.” Kali ini si deskripsi menawarkan peralihan bentuk. Dari “layar”, ke “retakan-retakan kecil pada kulit sofa”, ke “siku Linda”. Dari sesuatu yang “kaku” dan “statis”, ke sesuatu yang “luwes” dan “dinamis” (retakan-retakan itu sesekali tentu berubah bentuknya ketika seseorang yang duduk di sofa bergerak), ke sesuatu yang “hangat” dan “hidup” (siku itu tentu terasa hangat dan ia bergerak dengan kekuatannya sendiri). Dan kembali, jika kita membayangkannya, apalagi sampai berulang-ulang, “rasa” itu akan hadir. Dan kenikmatan membaca kita tentu jadi bertambah.

    Selanjutnya tentang pengandaian. Si penulis, dalam ceritanya ini, gemar sekali memperbandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang kondisinya, kendatipun mirip, namun tidaklah setara atau sederajat. Maksud saya adalah kadarnya. Jika ia tentang keburukan, maka kadar keburukan si pembanding tidaklah sama dengan yang dibandingkan; kadar keburukan si pembanding jauh melebihi kadar keburukan si pembanding. Ini tentu dimaksudkan untuk menghadirkan efek menghentak, atau menghantam, atau setidaknya membuat perhatian kita sesaat terfokus kepadanya. Syukur-syukur jika ia ternyata membekas di benak kita. Dan satu hal lagi: si penulis, lewat apa yang dilakukannya itu, sepertinya tengah berusaha membuat kita tertawa, atau setidaknya tersenyum lebar.

    Simak, misalnya, kalimat ini: “Matanya merah, bengkak, dan redup seperti orang yang belum tidur sejak lahir.” Tentu saja itu berlebihan. Sangat sangat berlebihan. Si penulis sendiri sangat mungkin tidak benar-benar tahu bagaimana kondisi mata seseorang jika dari sejak dilahirkan ia belum juga tidur, belum sekalipun tidur. Ini hanyalah khayalan si penulis belaka. Ia bahkan bisa jadi tidak peduli apakah pengandaian yang dilakukannya itu benar-benar tepat sasaran atau tidak. Tapi apakah kita mempermasalahkannya? Bisa jadi tidak. Efek yang berusaha dikejar oleh si penulis dengan hal tersebut adalah keberlebih-lebihan yang menimbulkan kelucuan, dan saya pikir ia berhasil. Dalam redaksi lain kita bisa mengatakan bahwa si penulis sedang mengolok-olok kondisi si tokoh dan pada taraf tertentu kita dibuatnya tertawa, atau setidaknya tergelitik.

    Simak juga kalimat ini: “Pajanglah seekor kadal raksasa berumur dua alaf dari sisi gelap Bulan sebagai pembanding dan orang-orang bakal bersumpah hewan itu lebih mirip sofa ketimbang sofa Nur Azis.” Lagi-lagi, hal yang sama, pola yang sama. Dan simak juga kalimat ini: “Sudah seminggu lebih suaminya mengeluhkan perkara itu dan kurang tidur dan tampak awut-awutan dan bau badannya nyaris seperti kandang domba.” Oh.. kasihan sekali si suami. Dan selanjutnya, kalimat-kalimat ini: “Ia mulai berjalan dengan langkah lebar-lebar. Lampu-lampu bersinar lebih terang daripada biasanya. Udara terasa lebih segar. Musa membelah Laut Merah dan Firaun tak boleh ikut serta.” Kalimat penutupnya itu, wah wah, benar-benar bombastis dan mengesankan. Seandainya setiap hal kecil dari kalimat tersebut divisualkan kita tentu akan mendapatinya begitu lucu dan mungkin lekas terbahak-bahak.

    Apakah apa yang dilakukan si penulis itu baik untuk cerita? Saya kira iya, minimal untuk membuat pembaca terhibur. Ketika berhadapan dengan hal-hal yang lucu dan menggelitik kita akan dengan sendirinya menjadi rileks, santai, dan dalam kondisi itu kita jadi lebih mudah mendapatkan kenyamanan, atau menyamankan diri. Entahlah apakah si penulis memang berpikir sampai ke tahap ini atau tidak, tapi itu mungkin tidak penting juga. Yang penting adalah, ia sudah melakukan sesuatu yang baik, dan kita harus berterima kasih kepadanya.

    Berikutnya adalah tentang efisiensi tokoh. Atau, lebih tepatnya, efisiensi kehadiran tokoh. Di dalam cerita ini ada dua tokoh utama, Nur Azis dan Linda, dan ada tokoh-tokoh pendukung seperti Ratih, Yayuk, dan si tabib. Soal kedua tokoh utama tentu saja kita tidak perlu meragukan betapa kehadiran mereka sangatlah penting bagi cerita, bahwa jika mereka tidak hadir maka cerita akan terganggu dan bahkan gagal terbentuk. Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh pendukung tadi? Bagusnya, kehadiran mereka pun sangatlah penting bagi cerita.

    Ratih, misalnya. Ia dimunculkan lewat perkataan (juga ingatan) Linda, dan kehadiran Ratih di situ memberi kita pemahaman tentang apa yang mungkin dilakukan Ratih untuk memperoleh uang. Di saat yang sama, kehadirannya juga memberi motif yang cukup kuat bagi film yang sedang ditayangkan di televisi. Dengan kata lain, kehadiran Ratih bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kemudian Yayuk. Di sini bahkan lebih terasa lagi. Dengan menghadirkan Yayuk, si penulis memberi kita penjelasan tentang mengapa Linda kelak membelikan Nur Azis buku-buku tentang cara mengarang itu. Dengan menghadirkan Yayuk juga, si penulis membuat kita memahami seperti apa persisnya yang dilakukan Linda di tempat kerjanya. Sila dicek dan anda akan mendapati bahwa penjelasan si penulis secara detail tentang apa-apa yang dilakukan Linda di tempat kerjanya itu adalah agar di satu titik ia bisa menghadirkan Yayuk tanpa hentakan atau gangguan apa pun. Dan tentulah, kehadiran Yayuk ini, juga sesuatu yang krusial bagi cerita. Selanjutnya si tabib. Kendatipun ia hanya dimunculkan menjelang cerita berakhir, namun itu cukup untuk menjadi fondasi dari masalah yang sebenarnya dialami oleh Nur Azis. Jika si tabib ini tidak ada, maka penjelasan si penulis tentang masalah sebenarnya yang dialami Nur Azis akan terkesan kasar, bahkan dipaksakan.

    Selain itu, hal lainnya yang menjadi kekuatan cerita ini adalah kemampuannya memunculkan cara pandang-cara pandang si penulis di saat yang tepat, yang mana kemunculannya itu terasa wajar dan halus, dan kita karenanya tidak merasa terganggu olehnya. Simak bagian ini: “Nur Azis memajukan badannya sedikit untuk menjangkau kedua benda tersebut. Ia tidak suka birnya dituangkan orang lain. Menurutnya kebanyakan orang tidak paham cara menuang bir yang benar, termasuk Linda, meski sudah berulang kali diajari. Tapi tentu kini keduanya tidak lagi membicarakan perkara itu, sebab cepat atau lambat, setiap orang akan menyadari bahwa dalam hidup ada banyak sekali persoalan, dan karena persoalan tidak diajarkan secara memadai, mereka tak pernah paham kemuliaan seorang pengalah.” Kalimat terakhir, tentulah berisi cara pandang si penulis, atau setidaknya si tokoh ciptaan si penulis, dan ia muncul tidak begitu saja, melainkan dari kalimat-kalimat sebelumnya. Simak juga bagian ini: “Sebenarnyalah Linda berbohong ketika mengatakan karangan terbaru suaminya menarik. Ia berbohong karena tidak sanggup menjelaskan apa yang buruk dari tulisan itu dan ia tahu tanggapan selain yang telah ia berikan bakal memperburuk keadaan. Dan menurutnya orang-orang dewasa sudah semestinya menyelesaikan persoalan masing-masing.” Kalimat terakhir, lagi-lagi, berisi cara pandang si penulis, atau si tokoh ciptaan si penulis, dan kembali ia tidak muncul begitu saja, melainkan didorong oleh kalimat-kalimat sebelumnya. Kehadiran kalimat-kalimat sebelumnya itu membuat kemuculan cara pandang tersebut terasa wajar, dan halus, dan karenanya ia baik.

    Dan satu hal lainnya, yang bisa disebut sebagai kekuatan dari cerita ini, adalah kemampuannya membuat kita menduga-duga apakah informasi yang ditawarkannya itu benar-benar faktual atau fiktif belaka. Yang saya maksudkan adalah bagian ini: “‘Mulut, bukan muka,’ kata Nur Azis. Ia kemudian minum dengan bunyi berdeguk yang kampungan sampai isi gelasnya tandas. Nur Azis mendesah dan memandangi pantulan wajahnya pada kaca meja. Menurut buku Pengantar Psikologi Sehari-hari (Disertai Ilustrasi) karangan Wayan Sukarna yang dibaca Nur Azis bertahun-tahun silam, frustasi setidaknya bisa dibagi ke dalam dua kategori-—frustasi yang mengarah keluar dan yang mengarah ke dalam. Dan ia berpikir, mungkinkah seseorang menderita keduanya sekaligus?” Di sana, si penulis menyebutkan sebuah judul buku beserta penulisnya, dan kita, terutama jika tidak berusaha mencari tahu (via google, misalnya), tentulah tak bisa memastikan apakah buku tersebut memang ada atau tidak, apakah si penulis itu memang ada atau tidak. Ini sebentuk kebermain-mainan, saya kira, dan saya termasuk yang meyakini bahwa kebermain-mainan adalah sesuatu yang perlu dalam sebuah kreasi, dalam sebuah penciptaan, termasuk di dalamnya penulisan cerita. Setidaknya untuk membebaskan si cerita dati kekakuan dan ketegangan. Dan perlu dicermati, kemunculan informasi yang sifatnya pseudo ini terjadi secara wajar, tidak tiba-tiba, dan cukup beralasan. Pertama, ia dimunculkan setelah adegan yang menggambarkan Nur Azis melihat pantulan wajahnya sendiri di meja. Kedua, Nur Azis dalam cerita ini adalah seorang penulis, yang tentulah ia sering juga membaca. Jika saja kemunculan informasi-informasi yang sifatnya pseudo ini lebih banyak, saya kira cerita ini akan jauh lebih menarik lagi–meski tentu si penulis harus berhati-hati agar kemunculan informasi-informasi tersebut tak terkesan dipaksakan.

    Begitulah kira-kira kekuatan-kekuatan cerita ini. Sekarang, saya akan beranjak ke kelemahan-kelemahannya.

    Kelemahan pertama cerita ini ada pada kejutan yang dihadirkannya, di akhir cerita. Sedari awal si penulis mengarahkan kita untuk percaya bahwa masalah rumah tangga yang dimaksudkannya adalah keputusasaan Nur Azis atas naskah skenarionya yang terus-menerus ditolak, lalu menjelang cerita berakhir ia menyebutkan bahwa masalah yang sebenarnya bukanlah itu. Di titik ini, saya jadi antusias. Jujur saya tidak menyangka kalau masalah naskah itu bukanlah masalah yang sebenarnya, dan karena itulah saya mulai berusaha menebak-nebak apa sebenarnya si masalah yang sebenarnya itu, dan dalam upaya menebak-nebak itu saya melakukan semacam flashback, mengingat-ingat lagi apa-apa saja yang telah dituturkan si penulis dari awal cerita hingga ke titik di mana ia memberitahukan bahwa masalah yang sebenarnya bukanlah naskah itu. Mengapa saya melakukannya? Karena saya meyakini bahwa kejutan yang oke adalah yang beralasan untuk ada. Dengan kata lain, ada motif yang mendasarinya, dan motif itu sewajarnya berada di bagian-bagian yang telah disajikan, entah itu kentara atau samar, entah itu beberapa atau hanya satu, entah itu lewat dialog atau narasi. Tentu saja ia harus mengejutkan, tapi tidak berarti ia boleh muncul begitu saja. Dan sayangnya, di cerita ini, kejutan tersebut terbilang muncul begitu saja. Impotensi. Memang kehadiran si tabib mendukung kejutan tersebut, tetapi perlu diingat bahwa selama cerita berlangsung si penulis tidak sedikit pun menyinggung impotensi. Tidak sama sekali. Apakah Nur Azis disebut-sebut pernah melakukan atau mengalami hal-hal yang membuatnya bisa menderita impotensi? Tidak. Apakah sebelumnya si tabib itu pernah disinggung-singgung? Tidak. Karena itulah kejutan yang dihadirkan si penulis ini terasa tidak halus, dan tidak tak tergantikan. Ia memang mengejutkan, tetapi ia bisa diganti dengan kejutan lain (tentu saja dengan mengganti juga bagian tentang si tabib) dan itu oke-oke saja. Mengapa begitu? Sebab si kejutan ini tidak terhubung dengan bagian-bagian sebelumnya. Tidak. Tidak terhubung sama sekali.

    Memang bisa jadi apa yang saya kemukakan ini dilematis. Di satu sisi, daya kejutnya mungkin berkurang jika di bagian-bagian sebelumnya si penulis telah memberikan sedikit petunjuk yang mengarah ke si kejutan. Di sisi lain, jika si kejutan dibebaskan dari bagian-bagian sebelumnya, maka si penulis seperti diberi keleluasaan untuk bertindak sesuka hatinya; ia bisa memilih menghadirkan sesuatu yang sangat mengejutkan tanpa perlu mempertimbangkan motif-motif pendukungnya. Terserah anda lebih condong ke yang mana. Tapi saya sendiri, setidaknya saat ini, sangat berharap si kejutan itu benar-benar terhubung ke bagian-bagian sebelumnya. Lagi pula di sinilah tantangan bagi si penulis. Ia diminta menghadirkan kejutan yang oke, dan di saat yang sama ia diminta menghadirkan petunjuk-petunjuk yang mengarah ke kejutan tersebut namun tanpa membuatnya benar-benar terlihat. Bukankah itu bagus? Dengan menghadirkan sebuah kejutan yang tidak terhubung ke bagian-bagian sebelumnya si penulis seperti memilih jalan yang mudah dan itu saya kira bukanlah sesuatu yang baik, bagi perkembangannya.

    Masalah kedua cerita ini ada pada deskripsi yang tidak perlu ada, yang bisa dihilangkan dan tidak mempengaruhi cerita. Simak bagian ini: “Nur Azis, melangkah sedikit, mengempaskan bokongnya di sofa, dan bercokol di situ sementara istrinya bangkit untuk mengambilkan bir dingin dan gelas di dapur. Mereka sudah menikah selama enam tahun dan sofa tersebut adalah satu-satunya yang bisa ditindih tubuh Nur Azis tanpa membuat pikirannya ruwet. Kendati begitu, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap nilai sentimental benda-benda, menyebut benda itu sebagai sofa adalah pengkhianatan terhadap seni deskripsi. Pajanglah seekor kadal raksasa berumur dua alaf dari sisi gelap Bulan sebagai pembanding dan orang-orang bakal bersumpah hewan itu lebih mirip sofa ketimbang sofa Nur Azis.” Apa perlunya mendeskripsikan kondisi si sofa? Apakah untuk menunjukkan kondisi finansial suami-istri tersebut yang kurang oke? Saya kira bukan, sebab baik si suami maupun si istri digambarkan santai-santai saja soal melakukan pekerjaan dan mencari uang; dan si istri bahkan membelikan si suami tiga buku yang dilengkapi VCD dan si suami melakukan perawatan ke seorang tabib. Lalu untuk apa? Entahlah. Saya tidak menemukan alasan yang kuat. Jika ternyata itu hanya untuk menghadirkan pengandaian melebih-lebihkan yang menjadi ciri khas si penulis, saya kira itu terlalu remaja, bahkan kekanak-kanakan. Memang pengandaian melebih-lebihkan itu menghibur kita–sejenak–tetapi ketika kita menyadari ia sebenarnya tidak perlu ada maka penilaian kita atasnya menjadi lain. Bagian ini bisa dihapus dan cerita tidak akan terpengaruh.

    Kelemahan lainnya dari cerita ini adalah begitu terasanya kehadiran si penulis. Ini baru bisa kita sadari setelah kita memperbandingkan ceritanya ini dengan cerita-ceritanya sebelumnya yang juga dimuat di Koran Tempo. (Sudah lupa? Sila baca kembali di https://cerpen2korantempo.wordpress.com/2014/11/30/anjing-menggonggong-kafilah-berlalu/ dan di https://cerpen2korantempo.wordpress.com/2014/08/31/kemurkaan-pemuda-e/ dan di https://cerpen2korantempo.wordpress.com/2014/05/04/sebuah-cerita-sedih-gempa-waktu-dan-omong-kosong-yang-harus-ada/ ). Cara membuat pengandaian, cara melontarkan kritik, cara mengolok-olok. Memang wujudnya beda tapi bentuk dasarnya sama. Sebetulnya itu sedikit terselamatkan oleh kenyataan bahwa dalam cerita “Masalah Rumah Tangga” ini si penutur adalah orang ketiga, seseorang di luar cerita, sehingga akan oke-oke saja kalaupun ia merupakan kepanjangan dari si penulis, bahkan dirinya sendiri. Tetapi sayangnya, ketika dicermati lebih jauh, kita rupanya mendapati bahwa si penulis menggambarkan tokoh ciptaannya itulah yang mengemukakan apa-apa yang menjadi ciri khasnya itu. Ketika kritik terhadap tayangan film murahan dilontarkan, si tokohlah yang mengemukakannya–atau memikirkannya. Ketika diterangkan badan salah satu tokoh bau seperti kandang kambing, si tokoh satunya lagilah yang mengungkapkannya. Dan hal ini jadi terlihat lebih parah ketika kita menyadari bahwa, saat deskripsi tentang sofa diberikan, si penutur alias si penulislah yang mengatakannya. Artinya apa? Karakter si penulis–atau penutur–dengan kedua tokoh tadi itu beririsan, sangat sangat beririsan. Memang ini bukan hal yang mustahil. Bagaimanapun karakter kedua tokoh itu tetap berbeda satu sama lain dan begitu juga mungkin dengan si penulis–atau penutur. Tetapi, tidakkah akan jauh lebih baik jika keberirisan si penulis dengan tokoh-tokoh itu sedikit saja, atau bahkan nyaris tak ada?

    Lagi pula itu adalah tantangan bagi si penulis. Memang hal(-hal) tersebut menjadi ciri khasnya tetapi harus diingat bahwa ciri khas pun bisa menjadi kelemahan, terutama jika ia terlalu sering dimunculkan dan tidak disertai peningkatan penggarapan. Apakah si penulis benar-benar tidak bisa menyembunyikan dirinya? Apakah si penulis benar-benar tidak bisa menghadirkan karakter-karakter lain yang sangat-sangat tidak beririsan dengan karakternya? Begitulah barangkali kita bertanya-tanya. Jika jawabannya ternyata adalah “iya” maka ia perlu memperbaiki diri. Jika jawabannya adalah “tidak”, maka ia perlu membuktikannya. Kita lihat saja apakah di ceritanya berikutnya yang dimuat di Koran Tempo kita akan menemukan karakter-karakter yang saya singgung barusan atau tidak.

    Apa yang terjadi pada cerita-cerita si penulis ini mungkin serupa dengan apa yang terjadi pada cerita-cerita A.S. Laksana. Kita tahu, ada dua tipe cerita yang telah disajikan A.S. Laksana: pertama, yang menunjukkan kebermain-mainan terhadap mitos dan sejarah; kedua, yang menghadirkan persoalan mendalam antartokoh-tokoh yang ada, yang biasanya soal cinta. Yang akan saya singgung di sini adalah tipe pertama. A.S. Laksana, sudah sangat sering membuat cerita seperti itu, bahkan sejak hampir dua puluh tahun yang lalu. Memang itu sesuatu yang menarik, apalagi disajikan dengan penuturan yang membetot kesadaran kita, namun jika kita terus-terusan menemukan yang seperti itu, terutama jika kita nyaris tak menemukan perkembangan berarti, maka kita bisa jatuh bosan; kita memang mengakui cerita itu bagus tapi di saat yang sama kita merasa tidak lagi membutuhkan cerita seperti itu. Pola si cerita, sudah tertanam di benak kita. Di titik ini apa yang menjadi ciri khas penulis telah juga menjadi titik lemahnya. Kasarnya, kita sebagai pembaca bisa mengatakan: “Ah, pasti ada kebermain-mainan terhadap sejarah dan mitos lagi.” Apakah itu berarti kita telah sampai ke titik jenuh? Bisa jadi. Dan siapakah yang membuat kita sampai ke titik jenuh tersebut? Si penulis, saya kira. Ia tentu punya pilihan untuk menghadirkan cerita-cerita yang benar-benar berbeda dari cerita-ceritanya sebelumnya, terutama dari segi pola, dan bagi seseorang dengan penguasaan teknik menulis yang mumpuni hal tersebut tentu tidaklah sulit. (Ataukah ternyata sulit?)

    Mungkin ini tidak semestinya saya katakan di sini, tapi saya sangat menyukai cerita-cerita Dea Anugrah, terutama soal penuturan dan pemaknaannya–meski untuk yang terakhir ini kami kerap berseberangan. Oleh karena itu, saya sangat berharap Dea terus meningkatkan kemampuannya. Saya yakin ia pun tahu betul bahwa anak tangga yang saat ini diinjaknya bukanlah yang paling tinggi; ia masih bisa mengoptimalkan dirinya. Tentu ia tidak perlu tergesa-gesa karena ia masih muda, dan belum berkeluarga. (Eh?) Tapi, sekadar memikirkannya saya rasa perlu.

    Sekarang saya akan membahas masalah kalimat.

    Perhatikan kalimat ini: “Kupikir-pikir, ya, kalau pun Ratih tergencet, laki-laki kangkung itu tak bakal melakukan apa-apa.” Saya kira “kalau pun” itu harusnya digabung–“kalaupun”. Atau saya yang salah?

    Kemudian kalimat ini: “Linda, mengetuk-ngetukkan telunjuk dan jari tengahnya di tepi meja kopi…” Apa yang dimaksud dengan “meja kopi”? Meja untuk cangkir-cangkir kopi? Meja untuk ngopi? Atau meja yang di atasnya diletakkan secangkir kopi? Atau meja-meja yang biasa kita temukan di kafe-kafe kopi? Kenapa kata “kopi” di sana tidak dihilangkan saja?

    Lalu kalimat ini: “Ia mulai berjalan dengan langkah lebar-lebar.” Agaknya yang lebih enak itu “langkah-langkah lebar”.

    Selanjutnya, kalimat-kalimat ini: “Malam itu juga, Linda menyodorkan plastik berisi buku-buku kepada Nur Azis. Ia membeli tiga judul sekaligus: Gampangnya Mengarang, Mengarang yang Gampang, dan Gampang-gampang Mengarang.” Kata-kata “membeli tiga judul” itu terdengar aneh. Yang dibeli si tokoh tentu buku, bukan judulnya. Mungkin enaknya diubah jadi begini saja: “Malam itu juga, Linda menyodorkan kepada Nur Azis plastik berisi tiga buah buku: Gampangnya Mengarang, Mengarang yang Gampang, dan Gampang-gampang Mengarang.” Masalah tadi teratasi, bukan? Dan sebenarnya, buku-buku tersebut harusnya empat saja. Judul buku yang satunya mungkin ini: Gampang-Gampang Serigala.

    Berikutnya: “Masalah sebenarnya tentu bukan karangan yang tidak menarik minat.” Kata “tentu” di sana bermasalah. Dengan menghadirkannya di sana, si penulis, atau penutur, seperti berusaha mengatakan bahwa kita, tanpa ia perlu memberitahukan apa pun, sudah menyadari bahwa masalah rumah tangga yang sedari awal digambarkan itu bukanlah yang sebenarnya. Kenyataannya, kita belum tentu menyadari hal tersebut. Saya, misalnya, tidak menyadarinya hingga saya tiba pada kalimat itu.

    Selanjutnya: “Tiga perempat jalan, ia muak dan mengutuk dirinya sendiri dan menghapus file itu dari komputer…” Saya paham betul apa yang dimaksudkan si penulis, tetapi tidakkah lebih enak begini saja: “Ketika tiba di perempat jalan, ia muak dan mengutuk dirinya sendiri dan menghapus file itu dari komputer…”

    Dan terakhir: “Dulu sekali, jauh sebelum mereka menikah, ia sudah membaca buku-buku tersebut dan Linda tidak pernah tahu bahwa keseluruhan karirnya, meski sama sekali tak bisa disebut hebat, dilandaskan pada tesis dasar buku-buku itu.” Yang tepat itu tentu “karier”.

    Mungkin begitu saja untuk kali ini. Sampai jumpa di feedback berikutnya. 🙂

    Bonus info: bagi yang ingin mendapatkan informasi terkait blog ini lebih cepat, anda bisa invite saya dengan PIN 53E2E9D1. Ada sebuah grup yang saya kelola (namanya Sastra Minggu, tapi di BB, bukan facebook) dan anda bisa meminta saya untuk memasukkan anda ke sana. Anda memasukkan diri anda ke sana sendiri juga bisa, sebenarnya.

    Bonus foto: Minegishi Minami (Mii-chan)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s