Kisah Semprul Seputar Matahari

Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 5 April 2015)

20150405

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SATU yang amat kubenci dari matahari adalah kegemarannya memberi teka-teki. Pagi tadi, ia tiba-tiba turun, menyaru sebagai lelaki tampan kemudian mencium bunga sepatu di depan rumahku. Terang saja bunga sepatu itu menjadi merah, merah kemalu-maluan, kemudian mengembang sebesar corong. Seperti uap, si lelaki jelmaan matahari lalu lenyap. Bunga sepatu yang merah kemalu-maluan oleh ciumannya itu pun menjawil lenganku dengan batang benang sarinya yang menjelma jadi tangan.

“Di mana gendakku?”

“Aku tak tahu.”

“Bohong!”

Ia membentak. Tangannya mencengkeram kerah kemejaku. Tubuhku diguncang-guncang, tapi kemudian dilepaskan. Bunga sepatu itu tersedu dan pelan-pelan mengempes seperti semula. Tangisnya memberat, lalu ia menggeliat, seperti merenggang nyawa. Satu per satu kelopaknya pun berguguran ke tanah.

Istriku, yang tak tahu kejadian memilukan itu, keluar membawa sapu. Kelopak bunga sepatu itu ia sapu bersama daun mangga, daun jambu, daun kenitu, dan daun serut. Melihat kelopak bunga sepatu itu, aku curiga daun-daun yang tengah disapu istriku juga mengalami nasib serupa. Matahari mungkin telah mengumbar cintanya kepada mereka, kemudian meninggalkan daun-daun itu menahan rindu yang menguningkan sekujur tubuh. Itu dugaanku. Kau boleh tak percaya.

Tapi baiklah. Akan kuceritakan kisah yang lain.

Ini terjadi siang hari, ketika aku naik bus dari Surabaya ke Yogya. Waktu itu, aku naik Patas. Ketahuilah, walau aku naik bus yang disebut Patas, tak ada fasilitas di dalam bus untuk pipis. Karena cuaca di Surabaya cukup panas dan sebelum naik bus itu aku menggerojok tenggorokanku dengan sebotol air mineral, aku ditimpa musibah buruk. Kejadian ini terjadi tepat ketika bus memasuki hutan jati di daerah Ngawi. Terus terang, siang itu aku hampir pipis di celana.

Karena itu, aku memberanikan diri berjalan ke arah sopir dan memohon agar ia sudi menghentikan bus. Si sopir yang melihat mukaku jadi keriput akibat menahan pipis bermurah hati menghentikan bus. Ketika berhenti, aku langsung melompat ke pohon jati yang paling rindang di pinggir jalan. Tanpa malu-malu, kuhadapkan “dinda”-ku ke pohon itu. Dan, ketika keluar air seniku, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba kulihat matahari melorot dan menjelma wanita memakai cawat. Wanita itu kemudian memeluk pohon jati besar yang tampak sangat tua dan berwibawa.

Seperti tersengat tenaga rahasia, spontan pohon tua itu pun menggeliat. Tapi, si wanita jelmaan matahari malah melengos, mencium dan menyentuhkan sebagian tonjolan tubuhnya ke pohon jati bercabang banyak di sebelahnya. Seperti si pohon tua, pohon itu menggeliat, terkesima, lalu dua cabangnya yang rendah memeluk wanita itu. Tentu saja pohon jati yang tampak tua dan berwibawa itu marah. Ia mengerang keras-keras, menggoyang batang dan daunnya dengan buas. Burung dan kelelawar di hutan itu bubar seketika.

Si pohon jati tua mengangkat sebagian akarnya dan menyabet pohon jati bercabang banyak. Tak mau kalah, pohon jati bercabang banyak menyabet pohon tua dengan cabang-cabangnya yang gesit. Si pohon tua terjerungup. Sebagian akarnya keluar. Ia mengerang sekuat tenaga. Perempuan seksi jelmaan matahari itu tertawa seraya memercikkan api dari mulutnya. Dua pohon itu terbakar. Ketika kusaksikan api berkobar ke sekujur dua pohon itu, raungan klakson memanggilku. Buru-buru aku menarik kancing celana dan melompat dari tempat itu. Di dalam bus, aku berusaha tenang, melihat api dengan cepat mengganyang hutan.

 
ANEHNYA, para penumpang bus ini tenang-tenang saja, seperti tak ada apa-apa. Salah satu penumpang, gadis berjilbab ungu, bahkan sempat bernyanyi I don’t wanna wait in vain for your love. Ia melantunkan lagu Bob Marley dengan cengkok yang terdengar seperti irama gambus. Nyaman juga mendengar gadis itu bernyanyi. Lagu itu diulang-ulang, sampai bus masuk Terminal Tirtonadi, Solo. Di terminal ini, karena bus berhenti beberapa saat, aku nekat turun membeli rokok. Aku pun mendatangi sebuah kios. Di dalam kios itu kulihat seorang wanita tersenyum. Ketika sampai di depan kios itu aku sungguh terkejut. Si penjaga kios ternyata adalah wanita jelmaan matahari yang tadi membuat dua pohon berkelahi.

Sakali lagi aku perhatikan wanita itu. Betul. Dialah orangnya.

Kuberanikan diri menyebut rokok yang akan kubeli, tapi wanita itu malah keluar dari kios. Kuputar kepalaku mengikuti wanita itu dan ternyata ia mendatangi seorang tentara yang membawa tas berat. Seperti menonton adegan sinteron, kulihat mereka berpelukan kemudian bergandengan naik ke bus Patas yang kutumpangi. Aku pun pindah membeli rokok ke kios lain dan bergegas masuk bus.

Di dalam bus, kulihat tentara dan wanita itu duduk di kursi paling belakang. Aku pun duduk sambil sesekali mengintip mereka dari celah kursi. Aku jadi cemas, jangan-jangan wanita itu akan membikin onar. Di deret kursi sebelah kananku, si gadis berjilbab ungu tampak tengah tertidur dan tak menyanyikan Bob Marley versi gambus lagi. Untunglah tak terjadi apa-apa. Wanita jelmaan matahari itu tak bikin ulah. Mungkin karena ia dijaga tentara.

Bus kembali berjalan. Suasana tenang. Tanpa sadar aku pun tertidur. Dan, seperti yang kucemaskan, ketenangan ini hanya sebentar. Aku terbangun tatkala di deret kursi belakang terjadi keributan. Waktu itu bus tengah mulai memasuki Yogya. Kulihat tentara itu menanyakan di mana gerangan wanita yang tadi bersamanya. Ini tentu membuat geger seisi bus. Rupa-rupanya, selain aku dan tentara itu, tak ada penumpang atau awak bus yang melihat wanita yang dimaksud si tentara. Beberapa penumpang bahkan mencibir. Dan, beberapa lagi yakin bahwa si tentara pastilah orang gendeng yang entah mencuri seragam dari mana.

Tapi aku berani bersaksi bahwa tentara itu betul. Keadaan semakin gawat ketika seorang lelaki tanggung nekat mengejek. Dua bogem langsung menghantam congornya. Lelaki tanggung itu ingin melawan, tapi tak berani. Mendengar keributan, si sopir langsung menghentikan bus. Kondektur dan awak bus yang tak mau keributan ini berlanjut, punya cara jitu membujuk tentara itu, “Bapak sebaiknya turun di sini saja, dan mencari bus lain yang berbalik arah. Siapa tahu wanita yang Bapak maksud masih tertinggal di Solo.”

Akhirnya tentara itu pun turun. Bus kembali berjalan. Semua penumpang menjadi lega. Tapi sebagian masih rasan-rasan dan sebagian tertawa. Perempuan berjilbab ungu pun terdengar bernyanyi lagi, melantukan Atni Naya. Lagu penyanyi legendaris Lebanon, Fairous, yang liriknya adalah karya Kahlil Gibran.

Bus melaju kencang. Sore dan suara gadis itu membuat AC semakin sejuk.

 
TAK lama kemudian, bus yang kutumpangi pun menyerobot pintu terminal Yogya. Di terminal, tampak orang-orang pada ribut. Bus berhenti. Si sopir menyulut rokok dan bertanya kepada seorang pedagang kacang, mengapa terjadi keributan. Pedagang itu bilang, mereka ribut sebab matahari menghilang. Sopir dan para penumpang bus yang dibawa dari Surabaya merasa tidak ada yang aneh, sebab hari memang telah masuk waktu magrib. Tapi para pedagang asongan dan seorang polisi bilang, matahari tiba-tiba menghilang tepat jam 12 siang. Padahal, kata mereka, semula langit bersih dan matahari bersinar terang.

Aku yang tahu tabiat matahari hanya tersenyum. Bukankah siang tadi, di hutan jati, si matahari memang menjelma wanita seksi dan memicu kebakaran hutan? Bahkan, dalam bus tadi, ia pun sempat membuat keributan. Begitulah matahari, ia bisa turun dan malih rupa jadi lelaki atau perempuan. Ia juga pernah kupergoki menyaru sebagai terwelu, ular, kalong, orong-orong, batang kayu, batu, dan api. Ia bahkan bisa menjadi air seperti yang menipuku suatu pagi.

Ya, pagi itu, seperti kebiasaan tiap bangun tidur, aku mencari air putih. Aku berjalan ke meja makan dan minum segelas air yang kukira disiapkan istriku. Mendadak perutku terasa seperti terbakar. Spontan kutonyo perutku dengan keras. Sekali lagi aku dibuat kaget. Air yang kuminum keluar jadi bongkahan kuning menyerupai, maaf, tai. Bongkahan itu lalu memadat, murup seperti bara, dan melesat, menggasak jendela. Jendela kamarku pecah. Anehnya, ketika aku keluar rumah, istriku dan para tetangga sebelah berkata, baru saja terjadi angin ribut. Istriku bilang, angin itu menyerbu pohon mangga hingga satu buahnya memecahkan jendela kamarku. Astaga, bagaimana kejadian sebetulnya akan kuceritakan? Mereka pasti tak percaya kalau matahari yang turun dan membikin keributan. Begitu pula orang-orang di terminal ini.

Kuputar kepalaku ke sekeliling terminal. Kulihat orang-orang tetap bingung dan tak mengerti kenapa matahari menghilang. Merasa kejadian ini wajar, para penumpang yang satu bus denganku, meninggalkan terminal. Mulut mereka menggerutu, sebab tukang ojek, sopir taksi, dan sopir bus antarkota yang terkejut-kejut karena kehilangan matahari, tak melayani mereka. Mereka berjalan meninggalkan terminal. Sementara aku berjalan menuju angkringan.

 
AKU berniat menyesap secangkir kopi, sebab katup mataku terasa berat. Tapi, sebelum memasuki angkringan, aku dicegat lelaki ceking. “Jokpin!” pekikku. Tapi aku salah. Tidak. Ia bukan Jokpin. Kupikir, lelaki ceking itu mau meminta sekadar rokok atau apa. Ketika aku merogoh saku dan mau mengulurkan uang, dengan cekatan tongkatnya memukul tanganku. Aku terkejut. Tapi ia malah tertawa.

Lelaki itu kemudian melempar tongkatnya ke gundukan sampah di samping kanan angkringan, di mana plastik, kulit kacang, gombal, pembalut, kardus, bangkai tikus, kulit telur, bungkus rokok, koran, dan aneka sampah tampak mengepulkan asap. Tertimpa tongkat itu, gundukan sampah menyala seketika. Tongkat itu kemudian melesat ke barat, melungker seperti seberkas bara dan meninggi menjadi sebulat senja. Atap, tembok, dan benda-benda di sekitar terminal jadi tampak kemerahan, tapi lelaki itu menghilang. Aku yakin, lelaki semprul itu tak lain adalah si matahari.

Setelah matahari kembali ke langit, orang-orang di terminal berangsur tenteram. Sopir, tukang ojek, tukang taksi, tukang becak kembali menjalankan kerja. Orang-orang kembali memakai mereka untuk mengantar ke tempat tujuan. Tapi aku jadi malas memakai ojek atau taksi. Aku pasang tas punggungku, menyulut sebatang rokok, lalu berjalan ke arah Malioboro. Aku lapar, tapi pengalaman buruk hari ini menumpas nafsu makanku. Akhirnya aku memutuskan mencari hotel. Aku berjalan lurus dan menekuk ke kanan. Di luar dugaan, aku mendapati hotel yang namanya sama persis nama nenekku. Tanpa ragu, aku menuju resepsionis dan menyatakan mau menyewa kamar.

Setelah kamar kubayar, si resepsionis, wanita berwajah kalem, mengantarku ke sebuah kamar. Selepas menunjukkan fasilitas listrik, kamar mandi, dan handuk, ia pun pamit undur diri. Senyumnya mengingatkan aku pada almarhumah Suzanna waktu memainkan Nyai Roro Kidul. Setelah wanita itu undur, aku bergegas membasuh muka dan tangan, kemudian melompat ke ranjang. Kubuka sepatu dan pakaianku. Semua lampu kumatikan. Cahaya terang masih menghantui aku, seperti si matahari siang tadi. Kamar jadi gelap. Gelap pekat. Dalam gelap, AC terasa lebih dingin. Tubuhku seperti membatu. Tapi aku tak bisa tidur.

Akhirnya, kupencet ponsel dan menelepon temanku, Mardi Luhung. Aku bertanya, apa di Gresik matahari juga menghilang siang tadi. Tapi, seperti biasa, ia hanya terkekeh.

“Jangan bilang-bilang ya,” ia berkata setelah habis tawanya. “Siang tadi aku di Warkop Giri, ngopi sama si matahari.”

“Semprul!” pekikku setengah tak percaya, “Apa matahari berwujud wanita seksi, Bro?”

“Husssst, rahasia, hahaha. Freedom!” pekiknya.

Alamak, kenapa Mardi malah cengengesan. Padahal aku mau bercerita perihal kelakuan matahari yang suka kurang ajar. Andaikata ia ceritakan wujud si matahari yang ia ajak nongkong menikmati kopi, tentu cerita ini lebih panjang dan meyakinkan. Dan, kau akan percaya, matahari bahkan sanggup membelah dan menjadi apa saja dalam waktu bersamaan. Tapi Mardi malah cekikikan, dengan tawa yang susah diterka maksudnya. Aku curiga, jangan-jangan yang menerima teleponku bukan Mardi, tapi si matahari. Bajingan!

Kumatikan telepon genggam. Dan aku tidur dalam gelap.(*)

(Yogyakarta, 2015)

  

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku-buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2011) dan Tetralogi Kerucut (2014).

Iklan

Satu pemikiran pada “Kisah Semprul Seputar Matahari

  1. Hal pertama yang ingin saya soroti dari cerita ini adalah bagaimana ia memadu-leburkan yang nyata dengan yang tidak, yang mungkin terjadi dengan yang tak mungkin terjadi, yang real dengan yang surreal. Matahari tiba-tiba turun menyaru sebagai lelaki tampan kemudian mencium bunga sepatu di depan rumah si aku-pencerita, lalu bunga sepatu itu digambarkan memerah malu dan mengembang jadi seperti corong, dan ketika si matahari lenyap seperti uap bunga sepatu itu merasa ditinggalkan dan menangis tersedu-sedu dan mengempes dan akhirnya meregang nyawa, kehilangan kelopak demi kelopaknya satu per satu. Di satu sisi, kita mendapati kejadian ini begitu ajaib, begitu fantasiyah, begitu surreal. Di sisi lain, kita bisa juga melihatnya sebagai sebuah kejadian yang alamiah belaka; bahwa kelopak-kelopak bunga sepatu itu memang sudah saatnya berguguran dan kejadian ajaib tadi hanya sesuatu yang hidup dalam benak si aku-pencerita. Yang mana yang benar? Kita tidak tahu. Lebih tepatnya, kita tidak dibiarkan tahu. Memang si aku-pencerita secara tegas mengatakan bahwa apa yang dilihatnyalah yang benar, tapi kita tentu tak punya keharusan untuk mempercayainya–terutama jika kita merasa si aku-pencerita ini sedang kurang waras. Si penulis, dalam hal ini, sedang mempermainkan kita, sekaligus menghibur kita.

    Contoh lain pemadu-leburan yang real dengan yang surreal itu kita temukan juga pada gambaran di mana si aku-pencerita meminum segelas air yang ternyata–menurutnya–adalah jelmaan matahari. Setelah meminum air itu perutnya terasa terbakar dan ketika ia memuntahkannya dilihatnya air itu telah berbentuk bongkahan tahi yang seketika memadat lalu murup seperti bara dan melesat menggasak jendela dan jendela itu pun pecah. Di saat yang sama, rupanya ada angin ribut, dan menurut istri si aku-pencerita pecahnya jendela itu adalah karena sebutir buah mangga terbawa angin ribut itu dan menghantamnya. Yang mana yang benar, lagi-lagi, kita tidak dibiarkan tahu.

    Saya mendapati hal ini menarik sebab ia menimbulkan tegangan; kita dibuat bimbang menentukan yang mana yang akan kita percayai, apakah yang real itu atau yang surreal. Kalau kita memilih untuk percaya pada yang real, maka kita mendapati sebuah dunia yang mungkin. Akan tetapi, kalaupun kita memilih untuk percaya pada yang surreal, kita pun mendapati sebuah dunia yang mungkin, meski wujudnya tentu berbeda. Ada kenikmatan tersendiri dihadapkan pada situasi semacam ini. Kita bisa memilih sesuka hati tanpa perlu khawatir pilihan kita itu akan membuat kita kecewa. Kedua alternatif tersebut, dengan cara-caranya sendiri, akan menghibur kita dan membuat kita kerasan menjelajah di sana.

    Kondisi yang sedikit berbeda kita temukan pada gambaran di mana sebuah hutan jati terbakar. Di mata si aku, ini adalah ulah keisengan si matahari; ia menjelma sesosok perempuan yang mengenakan cawat lantas menggoda dua pohon jati yang kemudian berkelahi dan selepas itu ia tertawa seraya memercikkan api dari mulutnya. Sementara itu, di mata orang-orang di sekitar si aku-pencerita, kebakaran itu sama sekali tak ada. Saya katakan kondisinya sedikit berbeda sebab kali ini kita cenderung bisa menentukan ke alternatif yang mana kita akan menjatuhkan pilihan. Ingat, pada peristiwa angin ribut tadi, misalnya, bukan hanya si aku-pencerita yang menyaksikannya, namun juga istrinya dan orang-orang di sekitar mereka; terlepas dari apa yang sesungguhnya menyebabkan jendela itu pecah, angin ribut itu benar-benar ada. Peristiwa yang melibatkan bunga sepatu pun seperti itu; memang si istri digambarkan tidak melihat apa yang dilihat si aku-pencerita, tetapi itu bisa jadi karena kemunculan si istri yang sedikit terlambat saja–jika ia muncul lebih cepat mungkin ia akan sempat melihat tingkah usil si matahari. Sementara di peristiwa hutan jati terbakar ini, benar-benar hanya si aku-pencerita yang melihatnya. Dan konyolnya adalah, meskipun ia tahu itu peristiwa yang dahsyat dan berbahaya, ia toh berusaha tenang-tenang saja setelah ia kembali berada di bis. Pantaslah, saya kira, jika kita kemudian cenderung menilai si aku-pencerita ini memang sedang kurang waras.

    Keadaan yang sedikit berbeda lagi kita temukan pada kejadian di sebuah terminal di mana orang-orang di terminal itu mengeluh tentang matahari yang menurut mereka telah lenyap begitu saja pada pukul 12 siang. Kali ini, yang melihat tingkah aneh si matahari bukan hanya si aku-pencerita seorang, tetapi juga orang-orang di terminal itu. Memang mereka tidak mengetahui persis apa yang dilakukan si matahari, tetapi setidaknya mereka menyaksikan bahwa si matahari tiba-tiba lenyap, pada saat ia seharusnya masih berada di tempatnya. Dan menariknya, orang-orang yang satu bus dengan si aku-pencerita menganggapnya wajar-wajar saja; mereka mendapati hari sudah hampir magrib dan karenanya bukan hal yang aneh jika matahari tak lagi ada. Apa yang kemudian terjadi di sini? Tegangan. Dan kali ini, si aku-pencerita justru menjadi pihak yang paling tidak disusahkan oleh tegangan tersebut; ia dikisahkan santai-santai saja sementara orang-orang yang satu bus dengannya itu menggerutu karena kesal dengan tingkah aneh orang-orang di terminal itu.

    Dan ada satu keadaan lagi yang kondisinya sedikit berbeda, yakni saat si aku-pencerita bercakap-cakap via telepon dengan seorang temannya yang bernama Mardi Luhung. Di sini, si aku-pencerita menjadi pihak yang tidak tahu, atau tidak melihat–temannya itulah yang mengaku menyaksikan tingkah aneh-bin-usil si matahari sementara ia hanya mendengarnya dari lelaki tersebut. Apakah temannya ini membual, atau ia bersungguh-sungguh, kita tidak tahu. Si aku-pencerita pun mengatakan bahwa maksud dari tawa temannya itu sulit diterka. Dan sebagai akibatnya, tegangan kembali hadir.

    Kita mendapati kebersitegangan-kebersitegangan tersebut menarik, namun kemudian kita mungkin bertanya-tanya apa untungnya si penulis melakukannya, apa maksud yang tersembunyi dari apa yang dilakukannya ini, apa “misi” yang mungkin diembannya. Tentu saja “menghibur pembaca” tidak termasuk ke dalam apa yang kita pertanyakan itu, sebab tanpa si penulis mengutarakannya pun kita sudah mengetahuinya, dan merasakannya. Tapi tentu sebuah kreasi yang baik tidaklah semata ditujukan untuk menghibur penikmatnya. Akan baik jika ada hal-hal yang bisa dicerna si penikmat untuk kemudian ia endapkan dan kemudian hidupkan di dalam dirinya. Semacam pemahaman, barangkali. Atau ilham. Atau bahkan wahyu. Tentu saja untuk bisa mendapatkan yang satu ini dibutuhkan pembacaan yang bukan hanya cermat dan teliti, namun juga dalam; pembacaan itu tidak hanya dilakukan di permukaan tetapi juga di kedalaman cerita. Dan apa yang mungkin kita temukan jika kita melakukannya, terhadap cerita ini? Bisa jadi ini: si penulis, dengan berkali-kali menyuguhi kita kebersitegangan itu, mungkin hendak mengatakan bahwa di dunia ini segala sesuatunya itu melebur–bahkan hal-hal yang berseberangan dan bertolakbelakang sekalipun–dan karenanya kita harus menyikapinya dengan bijak seperti dengan tidak menempatkan sebuah persoalan sebagai hanya hitam dan putih, atau dengan menerima bahwa tak ada yang benar-benar bersih dan tak ada yang benar-benar kotor. Hal-hal semacam itu. Soal apakah kita akan mengabaikan pemahaman ini atau tidak, itu terserah pada kita. Tugas si penulis hanyalah mengemukakan pemahamannya. Tidak lebih. Kecuali mungkin kalau ia merangkap juga sebagai seorang motivator atau pemuka agama.

    Itulah saya kira daya tarik utama cerita ini, dan membahas hal ini saja saya rupanya sudah merasa kenyang. Apakah ada hal-hal lain yang menjadi daya tariknya? Mungkin ada. Penggunaan kata-kata bernuansa Jawa yang seolah-olah menghadirkan kesegaran dan menghindarkan bahasa dari kekakuan, misalnya. Atau penyisipan adegan yang terkesan dipaksakan namun menimbulkan efek lucu seperti si wanita berjilbab ungu yang bernyanyi di sepanjang bis melaju. Hal-hal ini menjadi daya tarik si cerita sebab ia berhasil menarik perhatian kita, meski sesaat, tanpa kita merasa benar-benar terganggu. Kita mungkin bertanya-tanya apakah gadis berjilbab ungu itu juga kurang waras sehingga ia selow-selow saja bernyanyi di sepanjang bis melaju seolah-olah ia yakin suaranya enak didengar dan orang-orang di bis akan menyukainya. Akan tetapi, dihadapkan dengannya, kita terhibur.

    (Satu hal lainnya yang mungkin menjadi daya tarik cerita ini adalah pemilihan matahari sebagai si sumber masalah. Mengapa matahari? Mengapa bukan bulan? Mengapa ia bertingkah konyol dan mengganggu kenyamanan si aku-pencerita? Mengapa ia menjelma jadi perempuan yang mengenakan cawat dan menggoda pohon-pohon jati? Dsb. Jika kita berusaha menebak-nebak kita mungkin menemukan mendapatinya seperti ini: matahari adalah sumber cahaya dan ia bisa dianggap simbol dari Tuhan, sedangkan hal-hal usil yang dilakukannya bisa dianggap sebagai sisi-sisi gelap Tuhan yang tidak diketahui (bahkan tak pernah terpikirkan) oleh kebanyakan manusia. Jika benar seperti itu, maka cerita ini adalah juga kritik tentang iman, atau tentang bagaimana seseorang memperlakukan Tuhan. Dan bobot cerita ini, jadi bertambah.)

    Karena saya sudah merasa kenyang mengemukakan daya tarik cerita ini, kini saya akan beralih ke masalah-masalahnya saja.

    Masalah pertama adalah asal-muasal tingkah usil si matahari. Jika mencermati deskripsi-deskripsi yang ada, agaknya pertama kalinya si aku-pencerita menyaksikan tingkah usil-bin-aneh si matahari adalah saat ia meminum segelas air yang tak lama kemudian ada angin ribut itu. Ini kita pahami dari penggambaran betapa kagetnya si aku-pencerita saat itu; kekagetannya saat itu melebihi kekagetannya saat ia menyaksikan tingkah-tingkah si matahari yang lainnya. Pertanyaannya kemudian: Mengapa saat itu? Apa yang membuat pagi itu begitu istimewa sehingga si aku-pencerita didatangi “wahyu”? Mengapa tidak pagi-pagi sebelumnya, atau setelahnya? Tidak ada keterangan mengenai hal ini.

    Masalah selanjutnya adalah pemilihan si aku-pencerita sebagai si sosok istimewa. Ia istimewa karena ialah yang dikisahkan mengalami sebegitu banyaknya peristiwa aneh itu, dan kita tidak menemukan alasan yang jelas mengapa ia yang harus mengalaminya. Mengapa tidak istrinya saja, misalnya? Atau mengapa tidak si gadis berjilbab ungu? Atau mengapa tidak si sopir? Atau mengapa tidak Mardi Luhung? Tidak adanya keterangan mengenai hal ini membuat kita hanya bisa menikmati apa yang tersaji tanpa bisa menelusuri bagaimana sajian itu bisa sampai ada di hadapan kita. Dan ini, kurang oke.

    Dua hal tersebut menandakan bahwa si penulis memanfaatkan kesekonyong-konyongan untuk memudahkannya menulis cerita. Kenapa saya katakan memudahkan? Sebab menulsi cerita yang segala asal-muasalnya jelas jauh lebih sulit. Ini memang bisa disikapi dengan agak halus seperti dengan berkata bahwa tidak diberikannya asal-muasal itu adalah untuk menunjukkan bahwa yang penting untuk diamati pembaca adalah si peristiwa itu sendiri, bukan asal-muasalnya. Tetapi, sekali lagi, itu terlihat seperti akal-akalan saja dari si penulis agar ia tidak dibuat pusing oleh ceritanya sendiri. Terlepas dari fungsi dan makna yang mungkin dimilikinya, saya lebih memilih sebuah cerita yang segala asal-muasalnya jelas.

    Masalah berikutnya adalah kemunculan item-item yang, selain begitu tiba-tiba, juga terkesan dipaksakan. Si gadis berjilbab ungu yang menyanyikan lagunya Bob Marley, misalnya. Mengapa ia bernyanyi? Mengapa ia menyanyikan lagu itu dan bukannya lagu lain? Pertanyaan yang sama pun patut dilontarkan saat si gadis berjilbab ungu ini menyanyikan satu lagu lainnya, yang liriknya konon adalah karya–mungkin puisi?–Kahlil Gibran. Maksud saya, itu bukan lagu yang umum dan akan kita dengar dalam sebuah perjalanan bis. Si penulis, atau mungkin si aku-pencerita, seperti sedang berusaha menyenangkan dirinya sendiri saja. Begitulah kesan yang kita dapatkan. Item berikutnya adalah Jokpin dan Mardi Luhung. Kenapa harus Jokpin yang dimunculkan di situ? Apakah cerita ini beririsan kuat dengan salah satu atau beberapa puisi Jokpin? Saya kurang tahu. Juga kenapa harus Mardi Luhung? Apakah ada juga persinggungan yang kuat antara cerita ini dengan puisi-puisi Mardi Luhung? Dan khusus untuk yang terakhir ini, kita juga tidak menemukan alasan yang kuat mengapa Mardi Luhung digambarkan berinteraksi dengan si matahari. Memang, itu memiliki daya kejut yang oke. Akan tetapi, ia tidak beralasan. Kehadiran kejutan tersebut di sana tidak beralasan. Pada kesempatan yang lalu saya mengatakan bahwa kejutan yang oke adalah yang memiliki keterhubungan yang jelas dan kuat dengan bagian-bagian cerita yang sebelumnya, dan di cerita ini hal tersebut tidak ada. Mardi Luhung dan si matahari. Jika memang kejutan ini ingin tetap dimunculkan, maka baiknya si penulis, di bagian-bagian sebelumnya, menyisipkan keterangan soal Mardi Luhung dan si matahari yang memang saling “mengenal” dan kerap berinteraksi.

    Masih adakah masalah-masalah lainnya? Mungkin masih. Tapi kini saya akan beralih ke masalah kalimat saja. Nanti silakan anda mencari-cari masalah-masalah lainnya itu sendiri.

    Perhatikan kalimat ini: “Tubuhku diguncang-guncang, tapi kemudian dilepaskan.” Saya kira yang enak itu begini: “Tubuhku diguncang-guncangkannya, tapi kemudian dilepaskannya.” Penggunaan kata “tapi” di sana pun sebenarnya perlu dibenahi.

    Kemudian kalimat-kalimat ini: “Matahari mungkin telah mengumbar cintanya kepada mereka, kemudian meninggalkan daun-daun itu menahan rindu yang menguningkan sekujur tubuh. Itu dugaanku. Kau boleh tak percaya./ Tapi baiklah. Akan kuceritakan kisah yang lain.” Saya kira, kata-kata “tapi baiklah” itu tidak tepat. Kehadirannya menunjukkan bahwa si aku-pencerita mengalah kepada pendengar atau pembaca, yang artinya ia pasrah-pasrah saja kalaupun pembaca memang tidak percaya, tapi selepas itu ia malah berkata akan menceritakan kisah yang lainnya. Mungkin masalah ini akan teratasi jika “tapi baiklah” di sana itu diganti dengan “Sekarang” sehingga kalimat tersebut menjadi: “Sekarang, akan kuceritakan kisah yang lain.”

    Selanjutnya kalimat-kalimat ini: “Kejadian ini terjadi tepat ketika bus memasuki hutan jati di daerah Ngawi. Terus terang, siang itu aku hampir pipis di celana./ Karena itu, aku memberanikan diri berjalan ke arah sopir dan memohon agar ia sudi menghentikan bus.” Dalam pemahaman saya, kata-kata “karena itu” tidak perlu ada. Tanpa ia ada pun kita sudah mengetahui alasan si aku-pencerita. Tapi mungkin ada pun tidak apa-apa. Hanya saja, jika kata-kata itu tidak ada akan lebih baik.

    Berikutnya: “Dan, ketika keluar air seniku, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba kulihat matahari melorot dan menjelma wanita memakai cawat.” Apakah yang dimaksud di sini adalah si perempuan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya dengan cawat dan membiarkan bagian atas tubuhnya benar-benar terbuka? Jika iya, mengapa harus seperti ini? Ada motif yang kuat di baliknya?

    Berikutnya: “Ia mengerang keras-keras, menggoyang batang dan daunnya dengan buas.” Yang benar itu “menggoyang(-goyang)kan”.

    Selanjutnya: “Kuberanikan diri menyebut rokok yang akan kubeli, tapi wanita itu malah keluar dari kios.” Yang dimaksudkannya tentu “menyebut merek rokok”.

    Selanjutnya: “Sore dan suara gadis itu membuat AC semakin sejuk.” Saya kira yang semakin sejuk di sana itu suhu udara di dalam bus, bukan si AC.

    Berikutnya: “Ia bahkan bisa menjadi air seperti yang menipuku suatu pagi.” Kata “yang” di sana mungkin diganti saja dengan “ketika ia”.

    Selanjutnya: “Mulut mereka menggerutu, sebab tukang ojek, sopir taksi, dan sopir bus antarkota yang terkejut-kejut karena kehilangan matahari, tak melayani mereka.” Ada dua hal. Pertama, yang menggerutu itu si “mereka”, bukan “mulutnya”. Kedua, daripada “terkejut-kejut” lebih baik “terkejut” saja.

    Berikutnya: “Tapi, sebelum memasuki angkringan, aku dicegat lelaki ceking.” Kata “angkringan” di sini tidk dikenai efek cetak miring, sementara kata “angkringan” di tempat-tempat lain dikenai efek tersebut. Mungkin baiknya disamakan saja. Dan jika bicara soal kebersitegangan yang telah saya bahas tadi, bagusnya mungkin dibiarkan normal saja–tak usah dikenai efek cetak miring.

    Selanjutnya: “Tongkat itu kemudian melesat ke barat, melungker seperti seberkas bara dan meninggi menjadi sebulat senja.” Senja itu bulat? Mungkin yang dimaksud di sana itu matahari senja.

    Selanjutnya: “Sopir, tukang ojek, tukang taksi, tukang becak kembali menjalankan kerja.” Kata-kata “menjalankan kerja” terdengar aneh, seperti bahasa ujaran yang mungkin digunakan pada zaman dulu. Akan enak jika diganti dengan “bekerja” saja.

    Berikutnya: “Orang-orang kembali memakai mereka untuk mengantar ke tempat tujuan. Tapi aku jadi malas memakai ojek atau taksi.” Akan lebih enak didengar kalau diubah jadi “untuk membawanya ke tempat tujuan”. Lalu, kata “tapi” setelah kalimat tersebut dan sebelum kata “aku” sungguh tidak beralasan untuk hadir. Enaknya mungkin begini saja: “Aku sendiri malas memakai ojek atau taksi.”

    Selanjutnya: “Aku pasang tas punggungku, menyulut sebatang rokok, lalu berjalan ke arah Malioboro.” Untuk menjaga keharmonisan kalimat, kata “pasang” di sana diubah jadi “memasang” saja, sebab setelahnya ada kata “menyulut”, bukan “sulut”.

    Berikutnya: “Di luar dugaan, aku mendapati hotel yang namanya sama persis nama nenekku.” Hey, memangnya siapa juga yang peduli? Dan apa kontribusi keterangan ini bagi cerita?

    Berikutnya: “Senyumnya mengingatkan aku pada almarhumah Suzanna waktu memainkan Nyai Roro Kidul.” Jika memang “Nyai Roro Kidul” mau dikenai efek cetak miring, yang berarti ia adalah judul film, maka kata “memainkan” mesti diganti dengan “bermain di”. Tapi jika “Nyai Roro Kidul” dimaksudkan sebagai sebuah sosok, maka ia tidak perlu dikenai efek cetak miring.

    Selanjutnya: “Setelah wanita itu undur, aku bergegas membasuh muka dan tangan, kemudian melompat ke ranjang.” Harusnya itu “undur diri”.

    Berikutnya: “Cahaya terang masih menghantui aku, seperti si matahari siang tadi. Kamar jadi gelap. Gelap pekat.” Pada awalnya dikatakan si aku-pencerita masih dihantui cahaya, tapi kemudian dikatakan bahwa kamar jadi gelap pekat. Jeda waktunya terlalu singkat.

    Selanjutnya: “Akhirnya, kupencet ponsel dan menelepon temanku, Mardi Luhung.” Untuk menjaga keharmonisan kalimat, ubah saja “kupencet” jadi “memencet”. Tapi tunggu dulu. Memencet ponsel? Mungkin maksudnya mengambil ponsel.

    Berikutnya: “Tapi, seperti biasa, ia hanya terkekeh.” Seperti biasa? Sebelumnya tak ada keterangan tentang kebiasaan tertawa Mardi Luhung.

    Selanjutnya: “Dan, kau akan percaya, matahari bahkan sanggup membelah dan menjadi apa saja dalam waktu bersamaan.” Yang tepat itu “membelah diri”.

    Begitu kira-kira masalah-masalah kalimat yang ada di cerita ini. Satu hal terakhir yang mungkin perlu saya sampaikan: cerita ini lucu. Bahkan sangat lucu. Ini ditandai, misalnya, dengan adegan-adegan seperti si gadis berjilbab ungu yang menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang hingga bis tiba di terminal. Gila. Percaya diri sekali gadis berjilab ini. Adegan lainnya adalah yang tergambar dalam kalimat ini: “Tanpa malu-malu, kuhadapkan ‘dinda’-ku ke pohon itu.” Penggunaan kata “dinda” menghadirkan kelucuan. Dan sebenarnya, mungkin akan jauh lebih lucu lagi jika “dinda” di sana diganti saja dengan “Agung Herkules” atau “Haji Lolong”. Dan ada satu adegan yang sebenarnya berpeluang menjadi lucu, tetapi tidak sampai ke sana, yakni yang tergambar pada kalimat ini: “Buru-buru aku menarik kancing celana dan melompat dari tempat itu.” Seharusnya, si aku-pencerita itu, akibat tergesa-gesa, digambarkan tak sengaja menjepit “dinda”-nya, dan kemudian spontan berteriak: “Astutiiiiiiiiiiii!”

    Sampai jumpa di feedback berikutnya. 🙂

    Bonus info: Bagi yang ingin membaca cerita-cerita saya (mungkin sedikit penasaran seberapa timpang feedback-feedback saya dengan cerita-cerita saya) bisa segera meluncur ke sini: https://ardykresnacrenata.wordpress.com/

    Bonus foto: Shinoda Mariko (Mariko-sama)
    http://vignette2.wikia.nocookie.net/drama/images/f/f4/ShinodaMariko.jpg/revision/latest?cb=20150320002805&path-prefix=es



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s