Tiga Cerita Ringkas

Cerpen Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, 19 April 2015)

20150419

(Gambar oleh Munzir Fadly)

ARAK-ARAKAN

AKU mendapat tugas meliput upacara pengukuhan raja Kartasura yang baru saja ditetapkan oleh Dewan Wali Kerajaan setelah melewati proses penentuan yang bertele-tele sejak beberapa bulan sebelumnya. Pasalnya sederhana. Raja sepuh, yang wafat setahun sebelumnya, tidak pernah mengangkat permaisuri tetapi mempunyai sejumlah garwa ampil yang masing-masing merasa paling dikasihi oleh Raja yang sekarang insyaallah sudah berada di Sorga. Dewan terbagi dua, abdi dalem mengatakannya sebagai Sisi Merah dan Sisi Putih. Sisi Merah memegang keyakinan bahwa yang berhak menjadi Raja adalah putra Selir Sepuh, sedangkan Sisi Putih berpendapat bahwa calon itu tidak semestinya menjadi Raja sebab ingah-ingih karena “tidak makan sekolahan.” Yang dijagokan sisi itu adalah justru putra selir nomor sekian—mungkin lima atau enam—yang sarjana ekonomi dan memiliki akal menjalankan bisnis.

“Wong Raja kok bisnis,” kata abdi dalem yang pejah gesang ndherek putra Selir Sepuh. “Priayi saja haram kalau sudagaran, apalagi bisnis. Hihihi.” Perbantahan yang benar-benar menjalar sampai luar Kraton itu akhirnya menghasilkan keputusan yang bagi media lokal dianggap masuk akal, tetapi oleh media nasional dianggap agak kurang akal. Namun, apa pun hasilnya, keputusan itu menjadi berita halaman pertama semua media, menghasilkan ratusan acara diskusi di belasan televisi, dan sejenis ribut-ribut di kalangan dua pihak pendukung di dalam maupun di luar Kraton.

Pendukung Raja terpilih segera menyiapkan pesta kemenangan besar-besaran yang hanya dilaksanakan sekali dalam entah berapa puluh tahun. Acara yang paling dinanti-nantikan rakyat banyak adalah, tentu saja, arak-arakan. Ketika aku sampai di Kartasura bersama beberapa rekan dari media nasional dan internasional, ibu kota kerajaan itu sudah riuh-rendah oleh segala jenis hiasan—jalan, gang, alun-alun, pasar, rumah, toko—semua tidak luput dari hiasan. Segala jenis rakyat—dari yang jembel sampai yang kaya raya—ingin dengan tulus ikhlas menyambut Sang Raja. Tanpa kecuali mereka berjajar di sepanjang jalan yang akan dilalui arak-arakan agung itu. Semua tumpah-ruah di sepanjang jalan, tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah. Tidak ada seorang pun yang mau ketinggalan.

Aku membayangkan upacara yang mahameriah ketika sekitar jam 10 dari puluhan pengeras suara diumumkan bahwa Sang Raja akan segera lewat. Tidak terdengar gamelan, tidak terdengar suara kereta, tidak terdengar keletak-keletuk kaki kuda—hanya suara riuh-rendah di jalan yang dilewati arak-arakan. Aku menunggu. Menunggu di tengah-tengah suara ribut yang mengelu-elukan Raja, tetapi tidak tampak seorang pun di jalan. Setelah beberapa puluh menit menunggu akhirnya yang kami tunggu tampak dari kejauhan. Sosok seorang laki-laki dengan mahkota, mengenakan pakaian kerajaan yang gemerlapan lengkap dengan keris dan selempang tanda jasa, muncul sangat pelahan di depan kami. Ia sendirian saja.

Sorak-sorai tak bisa dibayangkan kerasnya. Sang Raja dengan susah payah menarik kereta kerajaan tanpa kuda, sesekali menoleh ke kerumunan rakyatnya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan aku laporkan nanti kepada pembaca koranku, dan karenanya bertanya tentang arak-arakan itu kepada salah seorang pemuda gondrong berpeci yang sejak tadi sangat bersemangat bersorak-sorak dan membungkukkan tubuh ketika Raja persis berada di depannya.

“Tidak ada seorang pun warga yang mau membuang kesempatan mengelu-elukan Raja, Mas,” katanya bersemangat. “Semua orang lebih suka berjajar di jalan menyaksikan arak-arakan dari pada ikut berbaris, tidak terkecuali abdi dalem dan keluarga Kraton.”

Sebelum sempat aku melanjutkan pertanyaan, pemuda itu berkata, “Lihat, Mas, kereta itu tidak ditarik kuda sebab bahkan binatang juga ingin menyaksikan Arak-arakan Pengukuhan Raja. Kami semua bangga dan berbahagia bisa menyaksikan Raja melintas di depan kami.”

 
ARAK-ARAKAN KERTAS

JALAN di depan rumahku yang biasanya tidak pernah tidur malam ini berbaik hati menawarkan kebahagiaan padaku: sepi saja. Pohon kenanga yang kami tanam sejak menghuni rumah itu 25 tahun yang lalu tampaknya ikut menyumbangkan suasana sepi yang bagi yang suka curiga bisa menumbuhkan rasa nyeri. Aku selama ini bertahan untuk tidak ikut kelompok yang seperti itu meskipun malam-malam baunya sering membuatku terbangun.

Jalan di depan rumahku tampak bergelombang oleh bunyi sunyi. Aku senang mendengarnya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul dari arah timur anak-anak—tiga, lima, sembilan, beberapa puluh jumlahnya lewat tanpa suara. Kusaksikan ada yang menunduk, ada yang seperti menari-nari, ada yang lari-lari kecil bolak-balik ke depan ke belakang, ada beberapa yang seperti bermain “ular naga panjangnya”, ada juga yang tampak sibuk membetulkan letak kaca matanya. Anak-anak itu semua terbuat dari kertas.

Terdengar suara cicak di langit-langit beranda, melahap laron yang tersesat oleh cahaya lampu. “Jangan bersahabat dengan cicak, Pak,” kata istriku selalu, “kotor dan suka berak di mana-mana.” Tapi aku suka jatuh cinta pada cicak terutama kalau malam-malam bangun mulut kering cari minum di meja makan yang masih berantakan sisa makan malam. Yang kulitnya hitam suka melotot seperti mengajakku berselisih tentang sisa makanan yang di meja.

“Habiskan saja kalau kau mau,” kataku. “Asal jangan menjatuhkan sendok nanti ada yang bangun dan marah-marah. Aku yang jadi korban, tau?”

Senang juga punya pikiran yang sering nyeleweng ke mana-mana—tetapi malam ini anak-anak itu menguasai benakku. Benar-benar kertas mereka itu, sepi menyebabkan suara kresek-kresek tubuh mereka kedengaran meskipun lirih sekali. Panjang sekali barisan anak-anak yang terbuat dari kertas itu. Aku mencoba mengingat-ingat kapan pernah bertemu mereka, atau oleh siapa pernah diberi tahu tentang mereka itu. Pada saat aku memusatkan pikiran itulah mereka berhenti persis di depan rumahku: ujung barisan itu entah sudah sampai di mana dan pangkalnya entah masih di mana. Mereka berhenti dan masuk lewat celah-celah jeruji lalu duduk atau berdiri mengepungku dan serempak mengucapkan selamat malam dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tanpa suara sama sekali.

Aku perhatikan satu demi satu sebisanya. Ada yang jelas-jelas kertas koran bekas, ada yang bungkus rokok, ada yang kucel seperti karbon, ada yang glosi dan agak tebal, ada yang warnanya putih, ada yang jingga—mereka semua itu anak-anak, mereka itu semua terbuat dari kertas. Aku sangat senang akhirnya ada juga yang menghangatkan hawa di sekitarku. Tampaknya mereka ingin menyampaikan sesuatu padaku—tepatnya: mungkin ingin wawancara kenapa aku malam ini duduk di teras bersama seekor cicak yang masih bergerak ke sana-sini di sekitar lampu padahal pada tanggal ini beberapa puluh tahun yang lalu aku lahir.

Ternyata aku keliru. Mereka tidak berniat menanyakan apa pun tetapi mengajakku keluar rumah bergabung dengan mereka. Mereka semua tampaknya anak baik-baik, meskipun tidak mengeluarkan suara apa pun aku paham apa yang mereka inginkan. Tanpa bertanya kenapa dan berkilah aku ikuti mereka keluar pekarangan berjalan ke arah barat sepanjang lorong yang rasa-rasanya aku pernah mengenalnya. Aku ikuti dengan tertib arak-arakan itu dan dengan tanpa terasa sedikit demi sedikit seluruh tubuhku berubah menjadi kertas.

 
MENGHARDIK GERIMIS

PEREMPUAN cantik itu sama sekali tidak suka kalau suaminya menghardik gerimis. Lelaki itu suka hujan, bahkan bisa dikatakan mencintai hujan, tetapi menghadapi gerimis ia sama sekali tidak pernah bisa menahan kemarahan. Sudah berulang kali istrinya mengingatkan perangai buruk itu, tetapi lakinya sama sekali tidak menggubris.

“Biar masuk neraka jahanam gerimis itu!” ujarnya setiap kali mendengar suara rintik-rintik di pohonan dan genting. Gerimis lembut sekali suaranya, seperti bernyanyi kalau jatuh di daunan pekarangan rumah. Kalau diperhatikan benar-benar, rintiknya tampak seperti layar transparan menutupi cahaya pagi yang terpaksa menunda niatnya untuk untuk menyentuh mahkota pohonan.

Perempuan cantik yang sedang mengandung tujuh bulan itu terus berusaha memahami tingkah suaminya yang baru saja menjalani operasi patah tulang gara-gara terpeleset lantai beranda yang basah oleh gerimis. Sekarang sudah bisa jalan, pakai tongkat. Sudah bisa kerja lagi, bisa nyopir. Bisa tugas ke luar kota. Namun, dendamnya pada gerimis tak juga reda.

“Kalau hujan sekalian tidak apa-apa, aku suka,” katanya kepada istrinya selalu. “Tetapi gerimis selalu jatuh pelan-pelan, diam-diam, tidak memberi tahu, dan dengan licik membasahi lantai,” katanya melanjutkan. “Aku mencintai hujan sebab kalau jatuh bilang terus terang dan jelas suaranya, tidak membiarkan aku terpeleset.”

Hari ini lelaki itu membuka pintu depan yang memisahkan ruang tamu dan beranda depan, menyaksikan gerimis dan menghardiknya. Perempuan cantik itu berpikir, jangan-jangan nanti anaknya akan mirip gerimis yang dibenci suaminya. Ia tiba-tiba merasa sangat berbahagia membayangkan anak yang akan lahir—“moga-moga perempuan,” katanya dalam hati—nanti akan berperangai lembut dan berwatak santun seperti gerimis.

Ketika suaminya sudah berangkat kerja, gerimis segera reda. Perempuan cantik itu melangkah keluar rumah dan tampak olehnya ada setetes air sisa gerimis yang tersangkut di ujung rumput, yang ingin sekali cepat-cepat menguap melesat ke langit atau jatuh ke tanah dan diserap akar pohon mangga.

“Moga-moga anakku nanti sebening tetes air itu,” katanya hampir tak kedengaran, bahkan oleh dirinya sendiri.(*)

  

Sapardi Djoko Damono tinggal di Jakarta. Tiga kisah pendek di atas adalah bagian dari bukunya Arak-arakan Kertas yang akan terbit Juni mendatang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tiga Cerita Ringkas

  1. Seperti biasa, saya mulai dari hal-hal yang sifatnya positif.

    Kita tahu Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair. Dan kita pun tahu, salah satu kekuatan puisi-puisi Sapardi adalah pada pemaknaannya. Tentang hujan di bulan Juni, misalnya. Lalu tentang langkah kaki dan bayangan. Dan hal-hal lainnya. Ini memang menarik terutama jika kita mendapati pemaknaan yang dilakukannya itu berada di luar apa yang mungkin kita pikirkan. Dengan kata lain, Sapardi, sebagai seorang penyair, mencoba menghayati sesuatu sampai ke titik terdalamnya, lalu mengemukakan pemahamannya akan sesuatu itu kepada kita dalam wujud yang mungkin asing tetapi juga segar. Hal semacam itu pulalah yang kita dapati dari ceritanya yang berjudul “Tiga Cerita Ringkas” ini.

    Di sub-cerita pertama Sapardi melakukan pemaknaan terhadap Arak-arakan Pengukuhan Raja. Seorang Raja terpilih, dengan disaksikan oleh seluruh rakyatnya, menarik sebuah kereta kerajaan tanpa kuda, seorang diri. Di mata Sapardi peristiwa ini rupanya bukanlah sesuatu yang praktis, bukan sebuah tradisi semata, tetapi memiliki makna yang dalam. Ia, misalnya, menggambarkannya seperti ini: “Lihat, Mas, kereta itu tidak ditarik kuda sebab bahkan binatang juga ingin menyaksikan Arak-arakan Pengukuhan Raja.” Berlebihan memang. Sangat mungkin si binatang yang disebutkan di sana–katakanlah kuda–tidak berpikir ke arah sana sama sekali. Tapi ya begitulah pemaknaan Sapardi terhadap peristiwa tersebut. Tentang keunikan peristiwa itu sendiri, bahwa sang Raja hanya seorang diri menarik kereta kerajaan tanpa kuda itu, misalnya, bisa jadi terkandung makna di dalamnya. Entahlah persisnya apa makna itu. Entahlah persisnya pemaknaan seperti apa yang dilakukan Sapardi terhadap yang satu itu. Tapi apa pun itu, ia adalah sebuah hasil kontemplasi, hasil sebuah penghayatan yang dalam, dan ia sangat mungkin menarik.

    Di sub-cerita kedua Sapardi melakukan pemaknaan terhadap arak-arakan anak-anak yang terbuat dari kertas. Ia menghadirkan sebuah keadaan di mana si tokoh utama, yang sesungguhnya sama sekali tak mengenal anak-anak yang terbuat dari kertas itu, merasa kehadiran anak-anak tersebut tidaklah asing. Itu tergambar, misalnya, pada kalimat ini: “Aku mencoba mengingat-ingat kapan pernah bertemu mereka, atau oleh siapa pernah diberi tahu tentang mereka itu.” Adanya upaya mengingat-ingat menunjukkan si tokoh merasa mengenal mereka. Ya, merasa mengenal mereka. Dan adegan penutup sub-cerita kedua ini seperti menegaskan perasaan mengenal tersebut, yakni dengan membiarkan si tokoh mengikuti ajakan anak-anak yang terbuat dari kertas itu meskipun ia belum benar-benar memahami apa yang berusaha disampaikan anak-anak itu. “Tanpa bertanya kenapa dan berkilah aku ikuti mereka keluar pekarangan berjalan ke arah barat sepanjang lorong yang rasa-rasanya aku pernah mengenalnya. Aku ikuti dengan tertib arak-arakan itu dan dengan tanpa terasa sedikit demi sedikit seluruh tubuhku berubah menjadi kertas.” Si tokoh utama, pada akhirnya, berubah jadi seperti mereka. Ini seperti sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa si tokoh utama ini, meskipun di awal tampak berbeda dengan anak-anak tadi, sesungguhnya adalah sesuatu yang sama dengan mereka–hanya saja ia tak menyadarinya. Apakah ini sebuah pernyataan lain dari keinginan untuk kembali menjadi diri kita yang lampau yang mungkin telah (lama) kita lupakan? Bisa jadi.

    Sementara itu di sub-cerita ketiga, pemaknaan yang dilakukan Sapardi adalah tentang gerimis, dan hujan. Untuk yang satu ini, kita memahaminya dari apa yang dikemukakan si tokoh suami kepada istrinya: “‘Kalau hujan sekalian tidak apa-apa, aku suka,’ katanya kepada istrinya selalu. ‘Tetapi gerimis selalu jatuh pelan-pelan, diam-diam, tidak memberi tahu, dan dengan licik membasahi lantai,’ katanya melanjutkan. ‘Aku mencintai hujan sebab kalau jatuh bilang terus terang dan jelas suaranya, tidak membiarkan aku terpeleset.'” Menarik. Sekali lagi Sapardi menunjukkan sensitivitasnya sebagai seorang penyair; bahwa ia menghayati sesuatu yang sepintas terlihat praktis dan mencoba memaknainya dan menawarkan pemaknaannya itu kepada kita. Dan bagi mereka yang sudah jenuh dengan keseharian yang sifatnya praktis, apa yang ditawarkan Sapardi ini sangat mungkin menjadi semacam oase. Ya, oase.

    Barangkali masih ada hal(-hal) positif lainnya dari cerita Sapardi ini, tapi saya malas menggalinya. Saya serahkan saja kepada pembaca-pembaca lain untuk yang satu ini. Sekarang, saya akan beralih ke hal-hal negatif yang dimilikinya.

    Sebab ruang-ruang yang disediakan Sapardi dalam ceritanya ini adalah ruang-ruang yang sempit (anggaplah “ringkas” di sana bersepadan dengan “sempit”), maka ia dihadapkan pada sebuah persoalan klasik, yakni bagaimana mengoptimalkan segala unsur cerita dalam ruang yang sempit itu. Kita tahu ada banyak unsur dalam sebuah cerita, hal-hal yang membangun struktur cerita sekaligus menguatkannya. Penokohan dan plot. Penuturan dan “rasa”. Cara pandang dan konflik. Dan hal-hal lainnya. Tentu saja akan jauh lebih mudah mengoptimalkan setiap unsur tersebut jika ruang yang disediakan si penulis relatif lapang, relatif luas dan besar. Novel, misalnya. Atau novelet. Untuk ruang berupa cerita pendek (dengan batasan karakter koran-koran) pengoptimalan tersebut sudah tak lagi mudah, atau katakanlah lebih sulit. Dan untuk ruang yang lebih sempit lagi dari itu, tentu saja, tingkat kesulitannya bertambah.

    Dari apa-apa yang saya kemukakan barusan mungkin timbul kesan seolah-olah saya memafhumi kealpaan seorang penulis dalam pengoptimalan unsur-unsur cerita tersebut. Kenyataannya, tidak. Memang tingkat kesulitan untuk mengoptimalkan unsur-unsur cerita itu menjadi lebih tinggi, dan karenanya sangat mungkin si penulis hanya mengoptimalkan satu dua unsur saja dan mengabaikan yang lain, tapi sedari awal ia mempunyai pilihan lain, seperti dengan menyediakan ruang yang lebih lapang, misalnya. Jika memang si penulis bersikeras menyediakan ruang yang sempit, maka ia memiliki kewajiban untuk mengatasi persoalan pengoptimalan itu. Katakanlah, ia menantang dirinya sendiri, apakah ia bisa mengoptimalkan setiap unsur cerita dalam ruang yang sempit itu atau tidak. Dan jika ternyata ia gagal, dalam arti ia hanya mengoptimalkan satu-dua unsur saja sementara yang lainnya ia abaikan, benar-benar ia abaikan, maka ia harus menerima konsekuensinya. Salah satu dari sekian banyak konsekensi tersebut: dinilai tidak mengerahkan segenap kemampuan oleh pembaca.

    Saya kira itulah yang kita temukan pada “Tiga Cerita Ringkas” ini. Seperti yang saya kemukakan di atas tadi, sisi positifnya adalah pemaknaan-pemaknaan terhadap hal-hal yang sepintas terlihat praktis saja. Pengoptimalan yang dilakukan Sapardi dalam “Tiga Cerita Ringkas” ini adalah pada hal tersebut, hanya hal tersebut. Mengapa saya bilang “hanya”? Sebab hal-hal lain, unsur-unsur cerita yang lainnya, terlihat tidak dioptimalkan, bahkan tidak digarap sama sekali. Penokohan, misalnya. Meskipun jelas ada satu tokoh utama yang dihadirkan Sapardi dalam ketiga sub-ceritanya, tetapi kita mendapati si tokoh ini tak memiliki “kehidupan” yang sewajarnya dimiliki seseorang. Ia memang diberitakan memiliki pekerjaan, tetapi bagaimana ia menjalani pekerjaannya itu tidak digambarkan di cerita. Tidak adanya keterangan mengenai bagaimana ia berinteraksi, benar-benar berinteraksi, dengan orang-orang di sekitarnya memperburuk hal tersebut. Apakah si tokoh ini hanya sebuah tempelan saja, bahwa ia ada untuk sekadar menjalani peristiwa dan mengemukakan isi kepala si penulis? Seperti itulah kesan yang kita dapatkan, dan itu tentu sangat disayangkan. Tokoh-tokoh lain pun sama saja. Si pemuda berpeci, misalnya. Ia tanpa asal-usul dan ia muncul seperti hanya untuk mengemukakan pemaknaan si penulis terhadap Arak-arakan Pengukuhan Raja. Lalu si suami. Ia ada seakan-akan hanya untuk mengemukakan pemaknaan si penulis terhadap gerimis dan hujan.

    Satu contoh unsur lainnya yang tidak dioptimalkan Sapardi (bahkan mungkin tidak digarap sama sekali) adalah penuturan. Kita tahu, penuturan berkaitan erat dengan pembentukan dan penyusunan kalimat; bagaimana sebuah kalimat bisa enak dibaca dan membekas di benak pembaca; bagaimana kalimat yang satu bersinkronisasi dan berharmonisasi dengan kalimat-kalimat yang lain; bagaimana sebuah bentukan kalimat atau susunan kalimat tidak saja menghadirkan informasi tetapi juga “rasa”, sesuatu yang bisa merangsang pembaca untuk membayangkan sesuatu. Mengapa sesuatu seperti ini perlu digarap, sebab ia bisa menghibur pembaca dan memberi mereka rasa nyaman, dan itu bisa membantu mereka mencermati cerita dengan lebih baik. Seorang penulis tidak bisa, misalnya, menuntut pembaca untuk merasa nyaman tanpa ia berusaha menciptakan suasana seperti itu. Ia harus memahami bahwa pembaca adalah kliennya. Dan meski tidak setiap pembaca memahami seperti apa itu cerita yang oke, tetapi mereka tentu bisa dibimbing untuk sampai ke pemahaman itu sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, seorang penulis tidak bisa hanya berpangku tangan lalu menyalahkan pembaca yang tidak juga bisa memasuki ceritanya seperti yang ia kehendaki. Ia harus memberikan bimbingan. Ia harus membimbing mereka. Dan hal ini akan lebih mudah ia lakukan jika pembaca berada dalam keadaan yang nyaman saat menghadapi ceritanya itu.

    Untuk “Tiga Cerita Ringkas” ini sendiri, kita sayangnya tidak perlu berpikir jauh-jauh soal penuturan yang menghadirkan kenyamanan tersebut. Dengan membaca cerita ini sepintas saja, kita sudah tahu penuturannya bermasalah. Beberapa kalimat–banyak, bahkan–yang dihadirkan si penulis bukan saja tidak menghadirkan kenyamanan, tetapi menghadirkan ketidaknyamanan. Dua hal ini, berbeda.

    Simak, misalnya, bagian ini: “Aku menunggu. Menunggu di tengah-tengah suara ribut yang mengelu-elukan Raja, tetapi tidak tampak seorang pun di jalan.” Apa yang menjadi masalah di sana? Penempatan tanda baca. Jika memang di antara “menunggu” dan “Menunggu” mau diletakkan tanda titik, maka semestinya yang diletakkan di antara “Raja” dan “tetapi” juga tanda titik. Ini untuk membangun dan menjaga keharmonisan antarkalimat. Tanda baca, seperti titik dan koma, memiliki fungsi dan esensinya masing-masing, yang tentu saja berbeda. Setiap penulis semestinya memiliki kesadaran akan hal ini.

    Simak juga, misalnya, bagian ini: “Tapi aku suka jatuh cinta pada cicak terutama kalau malam-malam bangun mulut kering cari minum di meja makan yang masih berantakan sisa makan malam.” Fokuskan perhatian anda pada “kalau malam-malam bangun mulut kering cari minum di meja makan”, dan anda akan mendapati kalimat ini bermasalah; ia tidak enak dibaca dan tidak jelas maksudnya. Seperti ada kata(-kata) yang hilang di sana, kata(-kata) yang diniatkan ada tetapi tak ada–mungkin karena si penulis teledor. Kita memang bisa saja mengatakan bahwa kesalahan seperti ini tidaklah fatal tetapi kita bisa juga mengatakan bahwa dengan membiarkan kesalahan seperti ini terjadi si penulis tidaklah benar-benar bersungguh-sungguh saat ia menulis ceritanya ini.

    Masih ada beberapa bentukan kalimat dan susunan kalimat lainnya yang menghadirkan masalah serupa, dan ini sangat mengecewakan mengingat si penulis cerita ini adalah Sapardi Djoko Damono, seorang penulis senior yang bukan saja menulis puisi tetapi juga esai. Semestinya, dengan pengalaman menulisnya yang panjang, mengatasi hal semacam ini bukanlah hal sulit. Sesuatu seperti ini bahkan sudah sewajarnya tidak kita temukan dalam tulisan-tulisannya. Tapi kenyataannya, kita menemukannya. Dan bukan hanya satu, tapi beberapa. Ini tanda-tanda apa saya sendiri tidak tahu. (Tanda-tanda kiamat? Semoga saja bukan.) Sapardi seperti sekadar menulis saja, lalu tanpa melakukan penyuntingan yang ketat ia mengirimkan apa yang ditulisnya itu ke koran, dan si redaktur koran, mungkin karena mendapati si pengirim tulisan adalah seseorang sekelas Sapardi, menerimanya begitu saja, tanpa melakukan penyuntingan berarti. Ini hanyalah dugaan, tapi jika benar seperti itu adanya maka jelas-jelas ada yang salah dengan sastra koran kita. Apakah hal seperti ini harus kita biarkan saja? Ataukah kita harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya? Tapi apa yang bisa kita lakukan; kita, yang tidak memiliki kekuatan apa-apa ini?

    Satu contoh unsur lainnya yang tidak dioptimalkan Sapardi dalam cerita ini adalah kausalitas. Ini berkaitan erat dengan asal-usul. Di sub-cerita kedua, misalnya, kita tidak mendapatkan keterangan yang jelas mengenai apa yang menyebabkan anak-anak yang terbuat dari kertas itu tiba-tiba muncul di hari ulang tahun si tokoh utama, juga mengapa si tokoh utama menyikapi hal ini dengan santai-santai saja. Peristiwa ini terlalu tiba-tiba, dan kendatipun memang si penulis melakukan pemaknaan terhadapnya namun itu justru menegaskan bahwa peristiwa ini, oleh si penulis, diposisikan sebagai media belaka, sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali si penulis. Sementara saya, setidaknya sampai sejauh ini, meyakini bahwa salah satu indikator keberhasilan seorang penulis cerita adalah ketika ia membuat segala hal yang dihadirkan dalam ceritanya itu seolah-olah hidup dengan cara-caranya sendiri, tidak berada sepenuhnya dalam kendali si penulis cerita. Dengan kata lain, salah satu indikator keberhasilan seorang penulis cerita adalah ketika ia sudah menciptakan bukan sekadar produk, tetapi makhluk.

    Persoalan kausalitas ini kita temukan juga di sub-cerita ketiga. Memang, ada keterangan mengapa si suami jadi suka menghardik gerimis, yakni bahwa si suami pernah mengalami patah tulang gara-gara gerimis masuk diam-diam ke dalam rumah dan membuatnya terpeleset. (Ini sedikit kenakan-kanakan dan berlebihan, sebenarnya.) Sampai di situ, segalanya masih wajar. Tapi kewajaran itu dirusak oleh kenyataan bahwa si suami menghubung-hubungkan nasib sialnya itu dengan pemaknaan si penulis tentang gerimis dan hujan. Anda paham apa yang saya maksudkan? Si suami tiba-tiba saja melihat nasib sial yang dialaminya itu secara filosofis; tiba-tiba saja ia melakukan pemaknaan terhadap hujan dan terhadap gerimis. Ini aneh. Sekali lagi kita dihadapkan pada keadaan di mana apa yang dihadirkan si penulis dalam ceritanya ini hanyalah sebuah media belaka. Padahal, kita membutuhkan yang lebih dari itu. Kita, mengharapkan yang lebih dari itu.

    Sekarang mungkin saya perlu juga membahas persoalan logika dan efektivitas.

    Di sub-cerita kedua, beberapa saat setelah si tokoh utama melihat kemunculan arak-arakan kertas, digambarkan ia mengamati tingkah laku seekor–atau beberapa ekor?–cicak. Dan ia tidak mengamati cicak itu sepintas, melainkan cukup cermat, cukup lama. Ia bahkan sempat mengingat-ingat ocehan istrinya soal cicak tersebut, juga sempat mengajak bicara si cicak. Pertanyaannya kemudian: Seberapa penting adegan ini ada, dan seberapa masuk akal ia terjadi–ingat bahwa saat itu si tokoh sedang terkesima oleh kemunculan anak-anak yang terbuat dari kertas tadi?

    Masih di sub-cerita kedua, kita mendapati keterangan ini: “Jalan di depan rumahku yang biasanya tidak pernah tidur malam ini berbaik hati menawarkan kebahagiaan padaku: sepi saja.” Dari keterangan tersebut, kita mendapatkan pemahaman bahwa si tokoh sangat bersyukur malam itu ia bisa menikmati keheningan. Hal in diperkuat dengan keterangan pada dua kalimat ini: “Jalan di depan rumahku tampak bergelombang oleh bunyi sunyi. Aku senang mendengarnya.” Tetapi kemudian, beberapa paragraf setelahnya, kita dihadapkan pada keterangan ini: “Aku sangat senang akhirnya ada juga yang menghangatkan hawa di sekitarku.” Nah, ada kontradiksi di sini. Semula si tokoh bersyukur bahwa malam itu begitu hening, tetapi kemudian ia bersyukur bahwa ada yang menghangatkan hawa di sekitarnya. Ia seperti ABG labil saja. Atau kalaupun yang dimaksudkan si penulis di sana adalah si tokoh mengalami perubahan cara pandang akibat kemunculan anak-anak yang terbuat dari kertas tadi, ia tidak berhasil membangun suasana itu. Masih ada pendalaman suasana yang perlu dihadirkan si penulis, di sana.

    Kasus yang sedikit berbeda kita temukan di sub-cerita pertama. Lebih dari separuh bagian sub-cerita dihabiskan untuk menjelaskan asal-usul terjadinya Arak-arakan Pengukuhan Raja. Sebagai asal-usul, ini oke sekali. Tetapi porsinya yang terlalu besar ini menjadikan ruang-tampil bagi si tokoh menjadi sangat sempit. Akibatnya, seperti yang saya kemukakan di awal-awal tadi, si tokoh ini jadi terkesan tidak memiliki kehidupan; ia ada hanya untuk membantu si penulis mengemukakan pemaknaanya terhadap arak-arakan tersebut. Mungkin, ini sesuatu yang disengaja, dalam arti si penulis meniatkan sub-cerita pertama ini sebagai peleburan antara cerita dengan laporan investigasi. Jika benar begitu, maka ia terbilang berhasil. Tapi apakah yang dilakukannya ini sesuatu yang kita butuhkan? Bagaimana ketika bentuk yang ditawarkannya ini kita bandingkan dengan tulisan-tulisan yang mengusung jurnalisme sastrawi, misalnya? Bagaimana juga ketika kita membandingkannya dengan cerita yang bentuknya konvensional? Tidak lebih baik? Atau bahkan jauh di bawahnya? Jika memang begitu maka apa yang dilakukan si penulis ini nyarislah tidak ada gunanya. Sebuah terobosan, bagaimanapun, haruslah sesuatu yang lebih bisa dinikmati ketimbang yang sudah ada sebelumnya.

    Masih adakah unsur cerita lainnya yang tidak dioptimalkan si penulis dalam cerita ini? Tentu masih. Tapi saya tidak akan membahas yang lainnya itu di sini. Selain itu akan membuat feedback ini terlampau panjang, saya pun tidak punya waktu untuk melakukannya. Sekarang, saya akan beralih ke persoalan kalimat saja.

    Perhatikan kalimat ini: “… yang masing-masing merasa paling dikasihi oleh Raja yang sekarang insyaallah sudah berada di Sorga.” Si penulis memilih menggunakan kata “Sorga” di sana, alih-alih “surga”. Saya tidak tahu apa alasannya.

    Lalu kalimat ini: “sedangkan Sisi Putih berpendapat bahwa calon itu tidak semestinya menjadi Raja sebab ingah-ingih karena ‘tidak makan sekolahan.'” Ada dua masalah di sini. Pertama, selain kata “sebab” ada juga kata “karena”, dan ini menimbulkan benturan. Kedua, tanda petik yang ditempatkan setelah kata “sekolahan” itu semestinya sebelum dan bukannya sesudah tanda titik; ini dikarenakan kata-kata di dalam tanda petik tersebut bukanlah ucapan/dialog atau petikan/penggalan tulisan.

    Selanjutnya kalimat ini: “Semua tumpah-ruah di sepanjang jalan, tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah.” Ada baiknya tanda koma di antara “jalan” dan “tidak” diganti dengan tanda titik saja.

    Kemudian ini: “Aku membayangkan upacara yang mahameriah ketika sekitar jam 10 dari puluhan pengeras suara diumumkan bahwa Sang Raja akan segera lewat.” Mengapa tidak “pukul” saja?

    Berikutnya: “Setelah beberapa puluh menit menunggu akhirnya yang kami tunggu tampak dari kejauhan.” Ada kata “menunggu” dan “tunggu”, dan ini menimbulkan benturan. Mungkin kata “menunggu” dihilangkan saja.

    Selanjutnya: “Sosok seorang laki-laki dengan mahkota, mengenakan pakaian kerajaan yang gemerlapan lengkap dengan keris dan selempang tanda jasa, muncul sangat pelahan di depan kami.” Saya kira, yang benar itu “perlahan”.

    Berikutnya: “Sang Raja dengan susah payah menarik kereta kerajaan tanpa kuda, sesekali menoleh ke kerumunan rakyatnya.” Mungkin enaknya setelah tanda koma dan sebelum “sesekali” itu disisipkan “dan” atau “dengan” saja.

    Selanjutnya: “… dan karenanya bertanya tentang arak-arakan itu kepada salah seorang pemuda gondrong berpeci yang sejak tadi sangat bersemangat bersorak-sorak dan membungkukkan tubuh ketika Raja persis berada di depannya.” Di sana ada kata “bersorak-sorak”, padahal sebelumnya yang digunakan adalah “bersorak-sorai”.

    Kemudian: “‘Semua orang lebih suka berjajar di jalan menyaksikan arak-arakan dari pada ikut berbaris, tidak terkecuali abdi dalem dan keluarga Kraton.'” Yang benar itu “daripada”.

    Selanjutnya: “Pohon kenanga yang kami tanam sejak menghuni rumah itu 25 tahun yang lalu tampaknya ikut menyumbangkan suasana sepi yang bagi yang suka curiga bisa menumbuhkan rasa nyeri.” Ada terlau banyak kata “yang”.

    Berikutnya: “Aku selama ini bertahan untuk tidak ikut kelompok yang seperti itu meskipun malam-malam baunya sering membuatku terbangun.” Ini berkaitan dengan kalimat sebelumnya, tapi saya sungguh kurang bisa memahaminya. Yang dimaksud dengan “kelompok seperti itu” itu sebenarnya apa?

    Selanjutnya: “Jalan di depan rumahku tampak bergelombang oleh bunyi sunyi. Aku senang mendengarnya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul dari arah timur anak-anak–” Sebaiknya sebelum kata “Entah” itu disisipkan kata “tetapi”.

    Kemudian: “Terdengar suara cicak di langit-langit beranda, melahap laron yang tersesat oleh cahaya lampu.” Jika kita mengikuti kalimat ini apa adanya, maka yang melahap laron di sana adalah “suara cicak”, bukan si cicak. Ini jelas keliru. Semestinya kalimat tersebut diubah saja jadi, misalnya, seperti ini: “Terdengar suara cicak di langit-langit beranda. Cicak itu, melahap laron yang tersesat oleh cahaya lampu.” (Sebenarnya, kata-kata “tersesat oleh cahaya lampu” pun bisa dibuat lebih enak menjadi seperti ini: “disesatkan cahaya lampu”.)

    Selanjutnya: “Yang kulitnya hitam suka melotot seperti mengajakku berselisih tentang sisa makanan yang di meja.” Mungkin semestinya ada kata “ada” di antara “yang” dan “di”. Atau, bisa juga kata “yang” di sana itu dihilangkan saja.

    Berikutnya: ““Asal jangan menjatuhkan sendok nanti ada yang bangun dan marah-marah.” Ayolah. Kenapa tidak disisipkan tanda titik di antara “sendok” dan “nanti”.

    Berikutnya lagi: “Benar-benar kertas mereka itu, sepi menyebabkan suara kresek-kresek tubuh mereka kedengaran meskipun lirih sekali.” Tanda koma di antara “itu” dan “sepi”, diganti saja dengan tanda titik. Dan kata “kedengaran”, tidakkah lebih baik diganti dengan “terdengar” saja?

    Selanjutnya: “Mereka semua tampaknya anak baik-baik, meskipun tidak mengeluarkan suara apa pun aku paham apa yang mereka inginkan.” Lagi-lagi, tanda koma di sana semestinya diganti dengan tanda titik.

    Kemudian: “… tetapi menghadapi gerimis ia sama sekali tidak pernah bisa menahan kemarahan.” Akan enak kalau kata “kemarahan” diberi akhiran “-nya”. Atau, ia diganti dengan “marah”.

    Berikutnya: “Sudah berulang kali istrinya mengingatkan perangai buruk itu, tetapi lakinya sama sekali tidak menggubris.” Ada dua hal. Pertama, Di antara “buruk” dan “itu” baiknya disisipkan “suaminya”. Kedua, kenapa malah menggunakan “lakinya” dan bukannya “suaminya”?

    Selanjutnya: “Gerimis lembut sekali suaranya, seperti bernyanyi kalau jatuh di daunan pekarangan rumah.” Saya punya dua dugaan untuk kalimat ini. Pertama: “Gerimis lembut sekali suaranya, seperti nyanyian yang jatuh di dedaunan di pekarangan rumah.” Kedua: “Gerimis lembut sekali suaranya. Ketika ia jatuh di dedaunan di pekarangan rumah, ia terdengar seperti sebuah nyanyian.” Hmm… apa maksudnya si penulis di sana menggunakan “daunan” dan bukannya “dedaunan”?

    Berikutnya: “Kalau diperhatikan benar-benar, rintiknya tampak seperti layar transparan menutupi cahaya pagi yang terpaksa menunda niatnya untuk untuk menyentuh mahkota pohonan.” Ada pengulangan kata “untuk” di sana.

    Selanjutnya: “Sekarang sudah bisa jalan, pakai tongkat. Sudah bisa kerja lagi, bisa nyopir. Bisa tugas ke luar kota.” Mengapa dibuat patah-patah seperti ini? Dan mengapa si subjek ditiadakan?

    Berikutnya: “‘Moga-moga anakku nanti sebening tetes air itu,’ katanya hampir tak kedengaran, bahkan oleh dirinya sendiri.” Saya kira, akan lebih enak jika si penulis menggunakan “terdengar” saja.

    Banyak sekali persoalan kalimat yang kita temukan dalam cerita ini, dan ini sangat mengecewakan, mengingat, sekali lagi, si penulis cerita ini adalah seseorang sekelas Sapardi Djoko Damono. Kalau Sapardi saja melakukan kesalahan-kesalahan elementer sebanyak ini, bagaimana dengan mereka yang kelasnya jauh di bawahnya? Saya kira sudah semestinya seorang penulis senior sekelas Sapardi memberikan contoh yang baik bagi para penulis muda yang kelasnya berada di bawahnya. Ini jika kita memang mengharapkan kesusastraan kita maju, bukannya mundur.

    Dan selain kesalahan-kesalahan elementer tersebut, di cerita ini kita juga menemukan lebih banyak hal yang melemahkannya ketimbang yang menguatkannya, sisi negatifnya ketimbang sisi positifnya. Dan apakah ini sesuatu yang baik? Tentu tidak. Seseorang sekelas Sapardi memilih menulis cerita dengan ruang yang sangat sempit, entah dengan motif apa, lalu sebagai pembacanya kita justru disuguhi begitu banyak masalah, begitu banyak hal yang membuat kita tidak nyaman. Dan berdasarkan informasi di biografi singkat si penulis, kita mendapati cerita-cerita yang menyuguhkan begitu banyak masalah ini akan dibukukan. Pertanyaannya: Untuk apa? Untuk apa seseorang–sekelas Sapardi–membukukan cerita-cerita yang lebih menawarkan masalah ketimbang kualitas? Untuk membuat pembaca kecewa? Yang benar saja. Saya kira ada baiknya ia berhenti dulu menulis cerita saja jika memang ia tidak bisa menyuguhkan cerita-cerita yang kaya akan kualitas dan minim masalah.

    Sampai jumpa di feedback berikutnya.

    Bonus info:
    Bagi yang tertarik membaca cerita-cerita saya sila berkunjung ke sini: https://ardykresnacrenata.wordpress.com/

    Bonus foto: Yamada Nana




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s