Szerelam

Cerpen Wihambuko Tiaswening Maharsi (Koran Tempo, 16 Agustus 2015)

20150816

(Gambar oleh Munzir Fadly)

KAMU bisa saja menyimpan kenangan, tapi kamu tak pernah bisa memiliki masa lalu kembali. Begitu kata pamanku suatu sore, ketika aku berpamitan pergi ke tanah lapang. Dia baru saja selesai mengisi bak mandi. Kukira dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku percaya perkataan itu tidak akan keluar dari hati seseorang yang masih menyimpan puluhan piringan hitam.

Szerelam, begitu aku menyebut tanah lapang itu, dikepung gedung-gedung dan dikelilingi jalan sempit. Beberapa pohon yang berjajar di pinggirnya sudah ditebas, termasuk yang ada ayunannya. Sisanya yang masih tegak ditembak cahaya matahari yang mengapung 120 di atas horison, menjatuhkan bayangan ke tengah. Ada keheningan yang hangat. Terdengar suara kendaraan yang melintas sesekali.

Ketika aku datang, pria itu sedang duduk bersila, mempersiapkan kamera. Beberapa puntung rokok memenuhi asbak yang terbuat dari lipatan kertas dan tisu yang dibasahi. Di sebelahnya gelas plastik berisi kopi.

Senyumnya mengembang.

“Boleh duduk di sini?” tanyaku. Ia menyilakan. Aku pun duduk. Masih sore. Belum banyak orang berdatangan.

Kuletakkan koran dan segelas kopi panas yang kubeli dari pedagang di pinggir tanah lapang di atas tikar.

“Kok masih sepi, ya?” suara orang di sampingku membuatku menoleh. Ia tersenyum. Sinar matahari sore menyapu dagunya yang tampak kasar belum bercukur. Aku seperti pernah melihat wajahnya tetapi lupa di mana dan kapan. Ia menyipitkan mata menghindari sinar matahari. Dua helai daun jatuh di atas tikar, di dekat bukunya.

“Suka membaca?” tanyaku. Aku menunjuk bukunya.

Ia menggeleng. “Tidak terlalu. Buku itu dimasukkan pacarku ke dalam tas sejak lama. Katanya suatu saat aku pasti membutuhkannya.”

Aku mengangguk-angguk.

“Kamu tidak mengajak pacarmu?” Ia bertanya balik.

“Pacar?”

“Aku dulu sering melihatmu bersama seorang dosen. Kalian sepertinya berpacaran.” Ah, rupanya ia temanku satu kampus dulu. Hanya saja aku benar-benar lupa padanya. Aku menggeleng menanggapi ucapannya.

“Oh, maaf, sudah tidak bersama yang itu?”

“Masih, tapi bagaimana ya? Kami bukan pasangan.”

“Oh, begitu.”

Aku melihat beberapa orang mulai berdatangan. Meskipun begitu, aku tidak merasa tempat itu akan ramai.

“Semakin sedikit orang datang ke sini. Seharusnya itu membuatku sedih, tapi aku justru merasa senang. Aku jadi bisa menikmati semua ini dengan khusyuk, tanpa terganggu,” kataku kemudian. Aku menoleh padanya sekilas. “Kamu akan memotretnya?” tanyaku menunjuk kamera besar di samping ransel.

Ia mengangkat bahu. “Aku tidak yakin. Aku tadi cuma kebetulan lewat daerah sini. Mungkin hanya akan memotret orang-orang yang datang ke sini. Tapi, kadang, dibanding memotret, aku lebih suka mengobrol.”

Aku menahan senyum. “Mengobrol,” aku mengulang perkataannya. “Mengobrol tentang apa? Cuaca?”

Ia tertawa.

“Kamu sendiri? Mengapa tidak mengajak pacarmu?” tanyaku kemudian.

Ia mengangkat bahu kanannya. “Pacarku sedang mengerjakan hal lain, yang menurutnya lebih penting,” jawabnya ragu.

“Tentu saja. Begitu banyak hal lain yang harus dikerjakan selain ini.” Aku tertawa. Ia ikut tertawa. “Mungkin dia benar. Kita yang kurang kerjaan.”

Ia mengangguk mengiyakan. “Jadi, mengapa tidak berpacaran saja dengannya?”

“Aduh.” Aku menepuk dahiku sendiri, agak tidak menyangka ia akan menanyakan hal itu. “Kurasa tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Aku tidak siap.”

“Tidak siap berkomitmen?” tanyanya dengan sedikit tersenyum.

Aku menatap lurus ke wajahnya. “Tidak siap mengatakan padanya tentang perasaanku, dan mendengar kenyataan bahwa dia juga mempunyai perasaan pada orang lain. Meskipun itu sudah pasti. Bagaimana mengatakannya ya? Aku datang belakangan,” kataku ragu-ragu.

“Datang belakangan. Ah. Kurasa aku mengerti. Cinta segitiga memang rumit. Maaf,” ucapnya kemudian.

“Tidak apa-apa. Memang agak rumit.”

“Tapi menyimpan perasaan tanpa mengatakan pada orangnya terdengar egois sekali bukan?”

Aku menatap ke depan. Bayangan pohon-pohon di tanah lapang mulai menghilang. “Egois,” aku mengulang perkataannya lagi. “Menurutmu begitu?”

“Ya. Karena kamu seperti mengambil sesuatu, meski tak berwujud, darinya untuk dirimu sendiri tanpa dia tahu.”

Aku menyeruput kopiku. “Tapi bukankah mengatakan cinta adalah sesuatu yang mempunyai konsekuensi,” aku mengatakan itu seperti berbicara pada diriku sendiri. “Tidak hanya untukku tapi juga untuknya.”

“Apakah kamu merasa dia akan lebih bahagia jika bersamamu?”

Aku mengela napas. “Tentu saja tidak.” Sejurus kuedarkan pandangan ke sekeliling, baru saja angin menerbangkan daun-daun. Aku mendongak ke atas. Langit masih tampak biru meski malam perlahan merayap dari sebelah timur.

“Di tanah lapang ini akan dibangun hotel,” ucapnya pelan.

“Sepertinya begitu. Tidak ada yang disisakan lagi.” Aku terdiam sebentar. “Dulu di sebelah sana ada ayunan.” Aku menunjuk salah satu titik. “Aku selalu diajak pamanku ke sana sepulang dari sekolah. Pamanku dulu sering main sepak bola di sini. Dia penyerang hebat pada masanya, terkenal di seluruh kota. Tidak ada satu pun kiper yang bisa menahan bola yang melesat dari tendangannya.” Aku melihat sekeliling. “Di sini juga sering diadakan pemutaran film. Kamu tahu? Seperti di Cinema Paradiso. Orang-orang berkumpul menonton bersama anak-anak kecil cekikikan ketika ada adegan mesra di layar,” aku terdiam lagi. “Tanah lapang ini bukan milikku. Tapi aku memiliki kenangan bersamanya.”

“Kenangan.” Ia mengulang perkataanku. “Masa depan tidak dibangun dari kenangan.”

Aku teringat perkataan pamanku. “Siapa bilang? Masa depan dibangun dari kenangan, jauh sebelum kamu bahkan menyadari kamu memiliki kenangan itu.”

Orang di sebelahku menatapku. Aku sebenarnya tidak terlalu berharap obrolanku dengannya mengarah ke sana.

“Aku memasang kata kunci yang seharusnya kuingat untuk membuka sistem di ponselku ini.” Aku menimang ponselku lalu tersenyum tipis. Tampaknya ia menungguku melanjutkan cerita. “Tapi entahlah, mungkin aku sedang mabuk atau apa, aku tidak bisa mengingatnya. Sepuluh kesempatan memasukkan kata kunci yang diberikan padaku hangus. Kemudian aku memencet tombol ‘Lupa Kata Kunci’ dan diberi satu pertanyaan, pertanyaan yang kubuat sendiri, yang seharusnya kutahu jawabannya. Aku mempunyai sepuluh kesempatan lagi untuk mencoba. Seharusnya, aku membuat kalimat pertanyaan yang mudah kujawab sendiri, misalnya apa buku favoritku, atau semudah tahun berapa aku lahir. Tapi aku membuat pertanyaan yang menjengkelkan.”

“Oh ya? Kamu membuat pertanyaan apa?”

Aku mengela napas sebentar sebelum akhirnya tersenyum tertahan. “Siapa yang kamu cintai?”

“Pertanyaan yang sulit.”

“Pertanyaan yang gampang. Jawabannya yang sulit. Aku memasukkan satu nama yang aku kira adalah orang yang pernah paling kucintai. Dan aku kaget sekali, ternyata jawabanku tidak benar. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa yang aku cintai? Aku memasukkan nama almarhum ibuku, nama almarhum ayahku, tetap tidak masuk. Terakhir aku memasukkan namaku sendiri. Konyol bukan?”

Dia tertawa. “Apakah berhasil?”

“Tidak.”

“Wah.”

“Itulah. Aku heran pada diriku sendiri.”

“Lalu apa yang kamu lakukan?”

“Aku me-reset sistemnya dan harus kehilangan semua data dalam ponselku.”

“Wow.”

Kami berdua rebah di atas tikar, menatap langit. Malam datang. Seperti dugaanku, tanah lapang itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang, sebagian besar berpasangan, mulai menempati tikar masing-masing.

Kabarnya malam itu meteor akan melewati langit kota. Aku sengaja pulang bekerja lebih cepat untuk memberitahu seseorang, yang tadi dikiranya sebagai pacarku, supaya kami bisa melihatnya berdua. Ternyata dia tidak di rumah. Aku hampir memutuskan untuk mengirimkan pesan melalui ponsel supaya dia menyusulku, tapi dalam perjalanan aku merasa lebih baik aku pergi sendiri.

Sayup kudengar sebuah lagu. Suaranya seperti berasal dari suatu tempat yang jauh, padahal suara itu dari ponsel salah seorang di tanah lapang itu. Aku mengenal melodinya dengan baik tapi hanya beberapa lirik yang berhasil aku ingat dari lagu tersebut. Kurasa itu lagu tentang patah hati. Lagu aslinya dibawakan oleh Bob Marley, kemudian muncul dalam beberapa versi.

“Kamu pernah patah hati?” tanyaku.

“Kurasa pernah,” jawabnya setelah tertawa kecil.

“Seperti apa rasanya?”

“Kurasa terlalu memalukan membicarakan hal ini.”

“Ayolah. Ceritakan padaku!”

“Oke, tapi mungkin saat seorang laki-laki bercerita tentang kisah patah hati, perempuan akan dengan mudah merasa simpati kemudian ingin lebih dekat dengannya. Jadi aku peringatkan kamu dari awal.”

“Oh baiklah.”

Ia membetulkan letak kepalanya sebelum mulai bicara. “Setiap malam aku memikirkannya. Tapi aku menahan keinginanku untuk mengungkapkan perasaan karena aku tidak tahu apakah dia juga memikirkan aku. Aku masih bisa merasa senang karena harapanku belum terbukti sebaliknya, tentu saja. Sampai suatu saat, dalam sebuah percakapan aku mendengar sesuatu yang membuatku urung mengungkapkan perasaan. Dia mencintai orang lain. Tak lagi penting apakah dia kerap memikirkanku atau tidak. Aku tetap tersenyum. Tapi pada saat perjalanan pulang berkali-kali aku salah belok arah karena otakku seperti tak lagi di tempatnya.”

Aku menatapnya dari samping. Hidungnya tampak mancung. Kualihkan lagi pandanganku ke langit luas. Meteor tak juga melintas. Angin malam begitu dingin, dan nyamuk mulai menggigiti kulit kami. Berkali-kali ia menepuki tangannya sendiri, dan kadang menepuk tanganku.

“Kurasa aku tidak ingin mengatakan padanya,” kataku kemudian.

“Kamu tidak siap patah hati?”

“Dia tidak layak membuatku patah hati. Kurasa aku tidak rela menjadikannya seseorang yang membuat otakku terasa tidak berada di tempatnya.”

“Kurasa aku mengerti,” jawabnya sambil tertawa.

“Kamu sering merasa begitu?”

Ia terkekeh. “Kurasa jarang.”

“Apakah kamu mencintai pacarmu yang sekarang?” tanyaku tiba-tiba.

“Tentu saja. Mengapa?”

“Mengapa kamu tidak bersamanya saat ini?”

Meteor melintas tepat saat aku selesai melontarkan pertanyaan. Kami berdua tidak bisa berkata-kata. Benda itu bergerak begitu anggun dari atas, dengan kerlap yang memukau. Senyap dan bersahaja. Entah akan jatuh di belahan bumi sebelah mana.

Make a wish!” kudengar beberapa orang berseru.

“Kamu sempat berharap sesuatu tadi?” bisikku.

“Tidak. Tidak sempat.”

Tiba-tiba sebuah meteor melintas lagi. Aku benar-benar terkesima.

“Wow! Sejujurnya aku belum pernah melihat yang seperti ini,” kataku sambil memiringkan kepalaku. “Aku selalu datang ke sini jika ada kabar meteor akan melintas, tapi selalu ketiduran. Baru kali ini aku benar-benar melihatnya!”

Orang di sampingku tidak menyahut. Aku menoleh ke samping. Mataku lagi-lagi tertuju ke hidungnya.

“Barusan aku berharap sesuatu,” katanya.

“Berharap apa?”

“Tidak ada lagi kekerasan dan penderitaan di dunia ini. Paling tidak berkurang.”

“Mulia sekali. Andaikan aku punya kesempatan untuk berharap, katakanlah aku percaya pada hal-hal semacam itu, aku pasti lebih banyak berharap untuk diriku sendiri.”

Ia tertawa.

“Benar, itu yang terlintas di pikiranku. Misalnya aku berharap akan bahagia atau mendapatkan orang yang kuinginkan. Atau tanah lapang ini tetap seperti ini sampai aku mati,” ucapku. Aku membuang tatapanku ke atas. Langit tak berbatas. Jika harapan berwujud, pasti banyak sekali kilatan-kilatan cahaya terbang ke angkasa saat itu.

“Ada beberapa orang yang sedang berharap saat ini ya?” tanyaku. “Jika ada dua orang berharap hal yang sama, bagaimana cara semesta mengabulkannya? Misalnya aku berharap aku mendapatkan cinta dari seseorang, tapi ada orang lain yang berharap sama, mana yang akan terkabul?”

“Katakan saja padanya kalau kamu mencintainya.”

“Maksudmu?”

“Tidak penting bagaimana dia menanggapi perasaanmu. Yang penting kamu merasa lega. Tidak seperti aku, patah hati dua kali. Pertama karena mendengar dia mencintai orang lain. Kedua karena perasaanku tidak sampai padanya, tertahan di sini,” ia menunjuk dadanya, “Perasaan itu lenyap perlahan. Itu terasa lebih menyebalkan.” Ia menghela napas. “Kamu pernah menonton Almost Famous? Ada tokoh yang meminta temannya memilih: korek di tangan kiri, atau tangan kanan yang menggenggam. Dia bilang, kita pasti memilih tangan kanan karena selalu menginginkan lebih. Tapi menurutku, apa salahnya jika tidak menginginkan korek kita berharap mendapat yang belum ketahuan wujudnya. Ungkapkan saja. Meskipun harus patah hati. Kalau terasa terlalu berat, kita janjian saja ke sini. Kita akan berciuman untuk menyembuhkan patah hatimu.”

Aku terpekur menatap hidungnya dari samping. Ia menoleh. Aku lalu terbahak sendiri. “Kamu bercanda kan?”

Orang di sebelahku tidak menjawab. Kemudian, satu meteor, yang terakhir malam itu, melintas.

Perlahan sekali ia mencium bibirku. Dan entah mengapa aku membiarkannya.

 
“HEY!”

“Hey!”

“Ingat aku? Aku sudah menonton Almost Famous!”

“Hahaha!”

“Mau ke mana?”

“Aku baru saja mengantarkan pacarku.”

“Pacar? Oh, yang memasukkan buku ke dalam tasmu?”

“Ah, bukan. Aku putus dengannya.”

“Ah, sayang sekali.”

“Jadi kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padanya?”

Aku terdiam sebentar. “Ya!”

“Wow!”

“Haha!”

“Hey kamu mau ke tanah lapang?”

Aku melihat angka di pergelangan tanganku.

Kami duduk di sebuah bangku yang hampir ambruk.

“Wow, situasinya kacau sekali di sini,” katanya sambil mengeluarkan kamera. Kamera yang pernah dibawanya ketika kami melihat meteor setahun yang lalu. Ia kemudian memotret beberapa objek. Rumput di tanah lapang itu kering dan rusak terinjak-injak. Beberapa kali terjadi demonstrasi dalam setahun terakhir. Rupanya banyak orang tidak menginginkan tempat penuh kenangan tersebut dijadikan hotel.

“Besok ada pemutaran film di sini. Aku dan teman-temanku yang membuat acaranya.”

“Menarik. Kalian akan memutar film apa?”

“Film dokumenter tentang pembangunan hotel dari sudut pandang orang-orang seperti kami.”

Ia menatapku. “Orang-orang seperti kami,” Ia mengulang perkataanku. “Kamu harus berhati-hati,” tambahnya.

Aku mengangkat bahu. “Kurasa cinta terlalu egois jika hanya dipendam. Tapi menyatakan cinta memiliki konsekuensi.”

Ia menatapku. Dagunya bersih. Lalu perlahan-lahan aku mengingat di mana dan kapan pernah melihat wajahnya. Ia selalu berada di perpustakaan dan asyik dengan buku sketsanya.

“Mengapa kamu putus dengan pacar-bukumu?” tanyaku kemudian.

“Dia memutuskanku,” katanya datar.

“Alasannya apa?”

“Seminggu setelah kita berciuman, aku bercerita padanya.”

“Apa? Mengapa kamu bercerita pada pacarmu? Tentu saja perempuan marah kalau pacarnya mencium gadis lain! Kamu ini bodoh atau apa?”

“Kurasa aku harus jujur. Dan sudah menjadi konsekuensi kalau dia memutuskan aku.”

“Ah! Kurasa kamu hanya menggunakan ciuman itu sebagai alasan. Kamu sebenarnya sudah ingin putus dengannya.”

“Kamu berpikir begitu? Aku memang tidak pernah menjalin hubungan lebih dari setahun.”

Aku tidak menanggapi ucapannya.

“Kamu suka perubahan?” tanyanya.

Aku tidak langsung menjawab. Perubahan, aku mengulang kata itu dalam hati. “Jika perubahan adalah hilangnya ayunan di pinggir tanah lapang ini karena akan dibangun taman bermain yang lebih baik, maka aku akan merelakan kenangan. Jika perubahan adalah melihat pamanku memanggul ember penuh air dari sumber yang jauh karena sumur di rumah kami kering, jangan harap aku akan tinggal diam.”

“Aku ingin kamu berhati-hati.”

“Aku selalu berhati-hati.”

Ia menciumku. Dan aku membiarkannya.

“Sebenarnya buat apa kamu menciumku?”

“Entahlah.”

“Kamu sudah bosan lagi sama pacarmu yang sekarang? Mengapa kamu tidak pernah menghargai hubunganmu sendiri?”

“Kamu sendiri? Kamu orang yang hadir belakangan dalam hubungan orang lain.”

“Siapa bilang? Aku sadar aku tidak mencintainya. Jadi aku meninggalkannya.” Aku melihat angka di pergelangan tanganku. “Aku harus pergi.”

Ia pun melihat jam tangannya. “Aku juga. Sukses buat acaramu besok.”

“Terima kasih. Hey, kamu ingat soal pertanyaan rahasia yang aku buat waktu aku lupa kata kunci untuk membuka ponselku sendiri?”

“Haha tentu saja. Kamu sudah ingat?”

“Ya. Aku tahu siapa yang aku cintai. Bukan siapa, lebih tepatnya apa.”

Dia tersenyum. “Oh ya?”

“Ya. Tempat ini.”

Ia nampak terpana menatapku, kemudian mengangguk-angguk. Mungkin dalam hati ia mengulang perkatakaanku.

“Hey, omong-omong kamu fotografer ya?” tanyaku sebelum pergi.

Ia terdiam sebentar sebelum menjawab. “Aku arsitek.”

Musim kemarau sudah seharusnya pergi tapi rupanya dia ingin tinggal lebih lama. Pancang-pancang telah ditancapkan. Daun-daun diterbangkan angin. Matahari meleleh di ufuk barat.(*)

  

Wihambuko Tiaswening Maharsi tinggal di Yogyakarta.

Iklan

2 pemikiran pada “Szerelam

  1. Baiklah. Saya mulai dengan hal-hal positif yang dimiliki cerita ini.

    Hal positif pertama yang saya temukan dari cerita ini adalah quote. Sebagai sebuah kisah cinta, katakanlah begitu, kehadiran quote memang akan sangat membantu, terutama jika ia dimunculkan di saat yang tepat dan dengan porsi yang juga tepat. Dan dalam cerita ini, saya kira, keduanya terpenuhi. Quote yang satu ini, misalnya: “Kamu bisa saja menyimpan kenangan, tapi kamu tak pernah bisa memiliki masa lalu kembali.” Ia diletakkan di awal, dan menjadi kalimat pertama yang kita temui saat membaca cerita ini, dan itu menimbulkan kesan tersendiri di dalam diri kita. Kita, misalnya, mulai menduga-duga bahwa cerita ini adalah cerita cinta. Dan bukan hanya itu, ia sebuah cerita cinta yang sendu. Letakkanlah quote ini di tempat lain dan kita akan merasakan perbedaannya–kesan itu.

    Quote lainnya yang bisa disebut adalah dua kalimat ini–di sini saya menggabungkannya (juga sediki mengubah letak tanda baca) sekadar untuk membuat apa yang hendak disampaikannya lebih jelas terlihat: “Tapi menyimpan perasaan tanpa mengatakan pada orangnya terdengar egois sekali, bukan? Karena kamu seperti mengambil sesuatu darinya, meski tak berwujud, untuk dirimu sendiri tanpa dia tahu.” Quote semacam ini, barangkali, pernah didengar atau dibaca seseorang di suatu tempat, di suatu waktu. Akan tetapi, saya kira, ia bukanlah quote yang umum, dalam arti tidak setiap orang berpikir demikian. Karena itulah, quote ini, terbilang autentik. Dan jika kita menghubungkannya dengan quote yang dijadikan kalimat pembuka tadi, kita mendapati keduanya berada pada “jalur” yang sama, yakni “kisah cinta yang sendu”. Itu artinya, quote ini menguatkan cerita. Dan karenanya, ia sesuatu yang positif untuk cerita.

    Quote lainnya adalah yang satu ini: “Tanah lapang ini bukan milikku. Tapi aku memiliki kenangan bersamanya.” Lagi-lagi sebuah quote yang menguatkan kesenduan tadi. Ketika kita banyak menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal menyenangkan di suatu tempat, kita, dengan sendirinya, akan merasa memiliki–atau dimiliki oleh–tempat tersebut, yang karena itulah quote tadi terdengar beralasan; kita menyadari bahwa kita tak memiliki tempat itu, tetapi di saat yang sama kita pun menyadari bahwa kita memiliki kenangan bersamanya, dan karenanya kita tidak ingin kehilangannya. Dan quote ini diperkuat oleh quote yang muncul setelahnya: “Masa depan dibangun dari kenangan, jauh sebelum kamu bahkan menyadari kamu memiliki kenangan itu.” Apakah kita sependapat? Biya iya, biya tidak. Tapi yang jelas, quote ini terdengar masuk akal, terutama karena ia diucapkan oleh seseorang yang memiliki kenangan terhadap sebuah tempat yang (konon) akan segera “hilang”.

    Satu quote lainnya yang barangkali bisa disebut adalah yang satu ini: “Jika dua orang berharap hal yang sama, bagaimana cara semesta mengabulkannya?” Berbeda dari yang tadi, yang satu ini berbentuk pertanyaan, dan jawaban atas pertanyaan ini tidak benar-benar dihadirkan di dalam cerita. Tapi mungkin di situ menariknya. Toh dalam hidup yang kita jalani ini, tidak setiap pertanyaan yang kita lontarkan akan menemukan jawabannya. Kita bertanya, dan kita berusaha mencari jawabannya. Tapi kadang-kadang, bahkan mungkin seringkali, kita tak juga menemukan jawaban tersebut.

    Dan satu quote lagi–jika beberapa quote tadi dirasa belum cukup: “Jika perubahan adalah hilangnya ayunan di pinggir tanah lapang ini karena akan dibangun taman bermain yang lebih baik, maka aku akan merelakan kenangan. Jika perubahan adalah melihat pamanku memanggul ember penuh air dari sumber yang jauh karena sumur di rumah kami kering, jangan harap aku akan tinggal diam.” Untuk yang satu ini, quote diperlengkapi dengan kritik, dan itu menjadikannya “terdengar” lebih kuat.

    Hal positif kedua yang saya temukan dari cerita ini adalah otentisitas, atau keautentikan. Tadi saya sempat membahas keautentikan dari salah satu quote, dan itu memang sesuatu yang menguatkan cerita. Tapi, di bagian ini, yang akan saya maksud dengan keautentikan adalah hal-hal yang berkenaan dengan detail, apa-apa yang dilakukan si tokoh dan menjadi kebiasaannya, yang kemudian membuatnya berbeda dari tokoh-tokoh lain, misalnya.

    Perhatikan kalimat-kalimat ini: “Ketika aku datang, pria itu sedang duduk bersila, mempersiapkan kamera. Beberapa puntung rokok memenuhi asbak yang terbuat dari lipatan kertas dan tisu yang dibasahi. Di sebelahnya gelas plastik berisi kopi.” Hal pertama yang bisa dilirik dari kalimat-kalimat tersebut adalah deskripsinya yang terang dan tepat guna. Dan ketika kita memfokuskan perhatian kita pada kalimat kedua, kita mendapati sesuatu yang autentik, yakni bahwa si tokoh pria membuat asbak yang terbuat dari lipatan kertas dan tisu yang dibasahi. Ini memang terlihat sebagai hal kecil, sesuatu yang mungkin tidak begitu berpengaruh terhadap cerita. Akan tetapi, ia tetap sesuatu yang autentik; sesuatu yang tidak dilakukan oleh setiap orang; sesuatu yang sifatnya “lokal” dan “spesifik”. Dan dalam sebuah kreasi, saya kira, segala hal yang sifatnya “lokal” dan “spesifik” bernilai positif.

    Hal autentik lainnya yang bisa ditemukan di cerita ini adalah tentang si tokoh wanita–aku–yang pernah salah memasukkan kata kunci di ponselnya sebanyak sepuluh kali. Di sana dijelaskan bahwa ia saat itu mungkin sedang mabuk, sehingga kesalahan sekonyol itu–ingat, sepuluh kali–bisa terjadi. Dan yang menarik adalah: pertanyaan konfirmasi yang dipasang si tokoh. Ia memasang pertanyaan ‘Siapa yang kamu cintai’ dan itu tentulah bukan pertanyaan yang umum. Di sinilah keautentikan itu muncul. Dan ia diperkuat dengan penjelasan bahwa si tokoh berusaha menjawab pertanyaan tersebut sebanyak sepuluh kali namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Sesuatu yang lagi-lagi tidak akan dialami setiap orang.

    Hal autentik lainnya barangkali adalah tentang film berjudul Almost Famous. Bukan film ini yang bersifat autentik, melainkan sesuatu darinya yang diceritakan si tokoh, yakni tentang kita yang diminta memilih antara korek api di tangan kiri dan tangan kanan yang menggenggam. Memang, karena ini berasal dari film, ia tidak orisinal. Tapi, ia tetap sesuatu yang autentik, sebab tidak setiap orang mengalaminya. Setidaknya, ia membuat kita teringat padanya.

    Bisa jadi masih ada hal-hal positif lain yang bisa ditemukan di cerita ini, tapi sekarang saya akan beralih ke hal-hal negatifnya saja.

    Quote yang dihadirkan di awal, yang sempat saya bahas tadi, dikisahkan berasal dari paman si tokoh aku. Ini dengan sendirinya membimbing kita untuk menduga bahwa si paman ini adalah salah satu tokoh penting dalam cerita, bahwa kehidupannya akan sangat berpengaruh terhadap jalannya cerita. Namun benarkah demikian? Soal “berpengaruh”, bisa jadi iya, sebab sikap si tokoh aku terhadap pembangunan hotel yang digambarkan di sepanjang cerita konon berasal dari sikap si paman. Akan tetapi, dan ini sangat disayangkan, kehidupan si paman nyaris tidak diangkat. Kita, misalnya, tidak tahu apa-apa saja yang dialami dan dilakukan si paman selama masa-masa penolakan pembangunan hotel tersebut, padahal hal ini bisa jadi akan sangat memberikan dampak terhadap cerita serta apa yang hendak disampaikannya. Kehidupan si paman yang dikisahkan si tokoh aku hanya berkisar pada bagaimana dulu ia dikenal sebagai seorang pemain bola yang andal, yang kerap menunjukkan kepandaian bermain bolanya di tanah lapang itu. Sebagai latar atau motif dari kecintaan dan rasa memiliki (atau dimiliki) si paman terhadap tanah lapang tersebut, itu cukup. Tapi sebagai motif dari kegelisahan dan kegusaran si paman akan kemungkinan hilangnya tanah lapang tersebut, agaknya belum. Memang ada sedikit penjelasan tentang si paman yang akan kesulitan mendapatkan air bersih jika tanah lapang itu jadi hilang dan itu bisa dikategorikan sebuah motif, tapi hanya sebatas itu. Saya kira, tetap akan lebih baik jika kehidupan si paman lebih diangkat. Alasannya jelas: si tokoh aku menggunakan quote si paman untuk memulai cerita dan menggerakkannya. Akan berbeda jika si tokoh aku ini menggunakan quotenya sendiri.

    Masih tentang bagaimana cerita ini diawali, cobalah perhatikan kalimat terakhir paragraf pertama. “Aku percaya perkataan itu tidak akan keluar dari hati seseorang yang masih menyimpan puluhan piringan hitam.” Kita tahu, kalimat ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa si paman adalah seseorang yang suka mengenang sesuatu yang sudah lama terjadi, dan mungkin sulit sekali melepaskan diri darinya. Ini bisa menjadi fakta pendukung yang kuat untuk keengganan si paman atas pembangunan hotel di tanah lapang kesayangannya. Namun sayangnya, kelanjutan atas kalimat ini tidak ada. Piringan hitam apa saja yang disimpan si paman, peristiwa apa saja yang terhubung dengan piringan hitam-piringan hitam tersebut, tidak dijelaskan di cerita. Sama sekali tidak dijelaskan. Ini mau tidak mau membuat kalimat tersebut jadi sebuah tempelan belaka, sebuah motif yang belum benar-benar motif. Dan karena itulah, setidaknya bagi saya, ia jadi sebuah gangguan, sebuah derau yang tak enak didengar.

    Selanjutnya tentang keakraban si aku dengan si tokoh pria. Digambarkan, keduanya baru benar-benar bertemu dan berinteraksi di tanah lapang itu, dan begitu saja mereka terlihat akrab, dan bahkan saling bertanya dan berbagi cerita tentang kisah-kisah cinta mereka. Tidakkah ini sedikit terlalu dipaksakan? Tidakkah sewajarnya keduanya–atau salah satunya–berusaha menahan diri dari mengatakan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti itu? Memang, ada beberapa keterangan seperti bahwa si aku tidak pernah menyangka percakapan mereka akan selancar dan semengalir (juga seintim) itu, atau bahwa si tokoh pria digambarkan sangat terbuka dan berperangai hangat dan mudah mencairkan suasana. Tapi apakah itu cukup? Saya kira tidak, apalagi jika kita mempertimbangkan fakta bahwa si tokoh pria ini kemudian mencium si aku, begitu saja. Jika ini semacam kemampuan istimewa si tokoh pria, terutama dalam menghadapi wanita yang ada di hadapannya, saya sesekali ingin menjadi dirinya. Eh? Hahaha…

    Sekarang saya akan beralih ke masalah kalimat.

    Perhatikan kalimat ini: “Sisanya yang masih tegak ditembak cahaya matahari yang mengapung 120 di atas horison, menjatuhkan bayangan ke tengah.” Yang ingin saya pertanyakan adalah kata “mengapung”. Benarkah cahaya matahari mengapung? Biasanya, kata mengapung ditujukan untuk sesuatu yang tidak tenggelam, atau sesuatu yang berada di permukaan air. Dengan kata lain, air, bukan udara. Untuk sesuatu yang tidak menjejak tanah atau berada di udara, kita biasanya menggunakan melayang(-layang). Jadi, bagaimana dengan penggunaan kata “mengapung” di kalimat tadi?

    Selanjutnya kalimat ini: “‘Kok masih sepi, ya?’ suara orang di sampingku membuatku menoleh.” Seandainya kata-kata “orang di sampingku” di sana merujuk ke seseorang yang belum berinteraksi dengan si tokoh aku sebelumnya, atau bahkan belum digambarkannya sama sekali, maka ia terdengar wajar. Namun, bukan itu yang terjadi. Sebelumnya si aku sudah (sedikit) menggambarkan (kehadiran) si seseorang itu, bahkan sudah juga (sedikit) berinteraksi dengannya. Oleh karena itu, terdengar janggal ketika ia menggunakan “orang di sampingku”. Alih-alih demikian, saya kira lebih cocok ia menggunakan “ia” atau “lelaki itu” atau “lelaki ini” saja. Anda sependapat? Ketidaktepatan ini cukup banyak kita temukan di dalam cerita.

    Berikutnya kalimat ini: “Sinar matahari sore menyapu dagunya yang tampak kasar belum bercukur.” Kalimat ini saya kira perlu diperbaiki, agar enak dibaca dan maksudnya tepat. Ia bisa diubah jadi, misalnya, seperti ini: “Sinar matahari sore menyapu dagunya yang tampak kasar–barangkali ia belum bercukur.”

    Kemudian, kalimat ini: “Ia menyipitkan mata menghindari sinar matahari.” Pertama, ketimbang “menyipitkan”, “memicingkan” lebih cocok. Kedua, kata-kata “menghindari sinar matahari” mungkin tidak perlu ada.

    Selanjutnya: “‘Kamu tidak mengajak pacarmu?’ Ia bertanya balik.” Bagaimana kalau diubah jadi “Ia balik bertanya”?

    Berikutnya: “Ah, rupanya ia temanku satu kampus dulu. Hanya saja aku benar-benar lupa padanya. Aku menggeleng menanggapi ucapannya.” Menurut saya, “menanggapi ucapannya” bisa dihapus dan hasilnya akan baik. Efektivitas.

    Kemudian, yang ini: “Tidak siap mengatakan padanya tentang perasaanku, dan mendengar kenyataan bahwa dia juga mempunyai perasaan pada orang lain.” Ketika kata “punya” dikenani imbuhan “me-” dan “-i”, jadi bagaimana ia sebenarnya? Jadi “mempunyai”, atau “memunyai”?

    Selanjutnya: “Sejurus kuedarkan pandangan ke sekeliling, baru saja angin menerbangkan daun-daun.” Tanda koma di sana mungkin diganti saja dengan tanda titik, atau titik koma.

    Berikutnya: “Aku melihat sekeliling.” Mungkin, lebih tepatnya adalah “aku melihat-lihat ke sekeliling” atau “aku mengamati sekeliling”.

    Berikutnya lagi: “Terakhir aku memasukkan namaku sendiri. Konyol bukan?” Di antara kata “konyol” dan “bukan”, harusnya diletakkan tanda koma.

    Selanjutnya: “Aku sengaja pulang bekerja lebih cepat….” Daripada “pulang bekerja”, lebih baik “pulang kerja”.

    Kemudian, yang ini: “‘Kurasa aku tidak ingin mengatakan padanya,’ kataku kemudian.” Jika kalimat ini tidak diubah, maka kita sudah sewajarnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya tidak ingin dikatakan si aku di sana. Jadi mungkin, kalimat tersebut baiknya diubah saja, misalnya jadi begini: “Kurasa aku tidak ingin mengungkapkan perasaanku kepadanya.”

    Selanjutnya: “Meteor melintas tepat saat aku selesai melontarkan pertanyaan.” Sebenarnya kalimat ini tak benar-benar bermasalah. Hanya saja, sebab si pertanyaan di sana sudah dihadirkan sebelumnya, bukankah lebih baik kalimat itu diubah jadi seperti ini saja: “Meteor melintas tepat saat aku selesai melontarkan pertanyaan itu.”

    Berikutnya: “Entah akan jatuh di belahan bumi sebelah mana.” Ada kata “belahan” dan “sebelah” di sana, dan sebab bunyinya mirip maka mereka seperti menghasilkan benturan. Saya kira, akan baik kalau kata “sebelah” dihapus saja.

    Berikutnya lagi: “‘Make a wish!’ kudengar beberapa orang berseru./ ‘Kamu sempat berharap sesuatu tadi?’ bisikku.” Saya kira, padanan kata yang tepat untuk “make a wish” di sana bukanlah “berharap”, melainkan “berdoa”. Tidakkah Anda pun berpikir demikian? Sekilas “berharap” dan “berdoa” terkesan sama, tetapi sesungguhnya keduanya berbeda. Kata “berdoa” lebih memiliki tekanan. Ketika seseorang “berdoa”, ia tidak lagi hanya “berharap”, melainkan meminta (kepada Tuhan, misalnya) agar harapannya itu terwujud.

    Selanjutnya: “Tapi menurutku, apa salahnya jika tidak menginginkan korek kita berharap mendapat yang belum ketahuan wujudnya.” Menurut saya, ada yang salah dengan kalimat ini, sehingga ia jadi tak enak dibaca. Mungkin ia semestinya diubah jadi seperti ini: “Tapi menurutku, apa salahnya jika kita tidak menginginkan korek dan berharap mendapatkan sesuatu yang belum ketahuan wujudnya?”

    Berikutnya: “Aku terpekur menatap hidungnya dari samping. Ia menoleh. Aku lalu terbahak sendiri. ‘Kamu bercanda kan?'” Ada dua hal di sini. Pertama, alih-alih “terpekur” si penulis mestinya menggunakan “tepekur”, jika yang dimaksudkannya adalah “merenung”. Dan, lebih jauh lagi, ia semestinya menggunakan “tafakur”, sebab kata inilah yang diakui KBBI. (Atau “tepekur” juga sekarang sudah diakui?) Kedua, di antara “bercanda” dan “kan” semestinya diletakkan tanda koma.

    Selanjutnya: “Aku baru saja mengantarkan pacarku.” Sebab di sana digunakan “mengantarkan”, maka harus disebutkan juga tujuannya. Baiknya “mengantarkan” di sana diganti saja dengan “mengantar”.

    Berikutnya: “Aku melihat angka di pergelangan tanganku.” Saya rasa, akan baik kalau dibuat sederhana dan terang-benderang saja: “Aku melihat jam tanganku.”

    Selanjutnya, yang ini: “‘Wow, situasinya kacau sekali di sini,’ katanya sambil mengeluarkan kamera. Kamera yang pernah dibawanya ketika kami melihat meteor setahun yang lalu.” Ada dua hal. Pertama, tanda titik di antara “kamera” dan “kamera” baiknya diganti dengan tanda titik koma saja. Kedua, “setahun yang lalu” baiknya diganti dengan “tahun lalu” saja, supaya di kalimat tadi tidak ada benturan kata “yang”.

    Berikutnya: “‘Orang-orang seperti kami,’ Ia mengulang perkataanku.” Tanda koma di antara “kami” dan “ia” diganti saja dengan tanda titik. Atau, huruf kapital pada “Ia” diubah jadi huruf biasa saja.

    Selanjutnya: “Lalu perlahan-lahan aku mengingat di mana dan kapan pernah melihat wajahnya. Ia selalu berada di perpustakaan dan asyik dengan buku sketsanya.” Dalam pemahaman saya, dua kalimat ini kurang menyatu, dari segi logika. Mungkin akan terdengar lebih enak jika dibuat jadi seperti ini: “Lalu perlahan-lahan aku mengingat di mana dan kapan pernah melihat wajahnya. Rupanya, ia orang yang selalu berada di perpustakaan dan asyik dengan buku sketsanya.”

    Berikutnya: “Seminggu setelah kita berciuman, aku bercerita padanya.” Saya rasa, kata “bercerita” di sana harusnya diganti dengan “menceritakan apa yang kita lakukan itu padanya.”

    Berikutnya lagi: “Kamu berpikir begitu?” Yang tepat di sana adalah “pikir”, bukan “berpikir”.

    Terakhir: “Haha tentu saja.” Di antara “haha” dan “tentu” seharusnya ditempatkan tanda titik.

    Demikian feedback saya kali ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di feedback yang lainnya. ;D

    Bonus foto: Watanabe Mayu (dan Kashiwagi Yuki)



  2. Di ending, aku kok merasa, dua tokoh ini melihat tanah lapang dari perspektif yang berbeda, atau berseberangan. Si wanita melihatnya sebagai tempat penuh kenangan yang dia ingin seharusnya tak dirubah. Tapi sang arsitek melihatnya sebagai tanah yang potensial untuk pembangunan. Sepertinya juga ada simbol-simbol di balik cerita ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s