Suara 14

Cerpen Taufik Ikram Jamil (Koran Tempo, 23 Agustus 2015)

20180823

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SAYA kira, Anda pun menerima pesan pendek pada telepon genggam itu, yang mengatakan bagaimana warga di sebuah negara merasa diserang oleh suara. Ya, tak sekedar diganggu suara, tapi diserang suara. Dengan demikian, ada upaya besar-besaran yang dilakukan pihak tertentu untuk mencapai tujuan khusus tanpa memedulikan dampak buruknya yang melibatkan semua warga; tak sipil, tak militer, tak besar, tak kecil, semua terlibat.

Kalau memanglah betul perkiraan saya, baiklah kita baca sekali lagi pesan itu, kemudian kita diskusikan bersama-sama. Mana tahu, kita dapat membantu warga di negara tersebut dalam menghadapi persoalan ini. Terlebih lagi, bukankah kita dapat mempelajari kejadian itu, sehingga dapat berjaga-jaga agar peristiwa serupa tidak menimpa warga negara kita pula. Terus-terang, saya khawatir serangan suara itu bisa saja menjalar ke tempat kita, bagaikan perang dunia. Mana tahu….

Ya, sudahlah, usah kita berandai-andai terlalu jauh. Mari kita baca pesan itu sekali lagi. Pelan-pelan, usah buru-buru. Saya usulkan agar kita membacanya dari awal, dari siapa asal pesan itu. Pengirim pertamanya mungkin menggunakan nama samaran, hanya menyebutkan dirinya dengan satu suku kata saja, Au. Alamatnya jelas terbaca, kota dan negara asal pesan tersebut terpampang serta-merta. Waktu yang meliputi pukul alias jam, tanggal, bulan, dan tahun, juga serupa. Jelas dan terlacak, tiada sedikit pun mengelak.

Au. Ya, kita sebut saja Au. Ia mengawali pesan itu dengan menulis, “Tuan-tuan dan Puan-puan. Tabik hamba kepada pemilik alam, menulis pesan dalam diam. Bukan khayalan, bukan pula igauan. Bukan pula hendak mengada-ada, menebar berita dengan berdusta. Yang pendek tidak secekak, yang panjang tidak diperpanjang. Sudah menjadi suratan, demikian akhir dalam ingatan, kerajaan kami sedang rawan. Suara menyerang seluruh warga, azabnya, aduh mak, tiada terkira.” Begitu, bukan?

Barangkali, untuk tidak membingungkan penerima pesan, Au menjelaskan suara yang dimaksudkannya. Ya, suara. Kalau ditulis, demikian kata Au, suara itu berbunyi “siung….” Simbol bunyi dengan titik-titik di belakangnya tersebut jelas menyarankan bahwa bunyi “ng” terdengar sangat panjang. Bunyi dengung, begitulah kira-kira. Seberapa bunyi dengung itu, tidak pula disebutkan, tetapi jelas dapat dirasakan bahwa itu akan lebih panjang daripada jika bunyi “siung” ditulis tanpa titik-titik di belakangnya.

Tidak disebutkan berapa kali suara tersebut menyambar telinga tiga warga negara tersebut dalam suatu momen. Tetapi keberadaannya berkali-kali dalam sehari, waktunya di antara hari yang satu dengan hari yang lainnya berbeda-beda. Seorang warga, misalnya, pada hari Selasa, disambar suara tersebut pada pukul-pukul 07.00, 10.30, 14.00, 17.00, 21.00, 00.02, dan seterusnya. Tetapi tidak demikian pula hari Rabu, Kamis, dan berikutnya. Senantiasa berbeda-beda jam, itulah kesimpulan yang tepat untuk menggambarkan waktu terjadinya serangan suara tersebut.

 
AGAKNYA, serangan suara ini lebih gawat dari serangan senjata api dalam semua bentuk, dalam suatu perang yang berkobar. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda akan adanya serangan suara. Betapa pun cepatnya, serangan bom akan ditandai oleh suara bergemuruh atau sejenis dengannya, sebelum benda tersebut meledak. Tidak sama halnya dengan serangan suara ini, yang datang tiba-tiba saja tanpa dapat diduga sama sekali meskipun kejadian sudah berlangsung berhari-hari.

Au menulis, sebagaimana lazimnya sesuatu yang baru, suara “siung…” itu semula dirasakan sebagai peristiwa pribadi. Dia sendiri saja, misalnya, semula menganggap biasa-biasa saja. Apalagi suaranya tidak begitu kuat memang. Tetapi setelah berkali-kali mendengar suara itu, Au mulai berpikir, ada apa dengan telinganya. Dikorek-koreknya si telinga dengan jari, bahkan dilihat oleh isteri maupun anaknya, tak ada yang salah dengan alat pendengaran itu.

Pun pada awalnya tidaklah begitu mengganggu. Tetapi bayangkan saja kalau makin lama makin sering suara tersebut menyembar telinga. Kadang-kadang serangan suara itu datang ketika ia sedang makan, misalnya; bagaimana pun acara santap tersebut pasti terhenti sejenak. Ketika ia tidur, menyetir, bekerja, atau apa saja, suara tersebut menyembar begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa memedulikan apa kesibukannya.

Atas saran keluarga, Au memeriksakan diri ke seorang dokter spesialis telinga. Tanpa ia duga, antrean orang dengan keluhan serupa memang tak tanggung-tanggung. Mereka juga mengalami apa yang dialami Au. Hasil pemeriksaan itu mulai mengecutkan hati, yakni bahwa tidak ada masalah dengan telinga Au dan warga lainnya itu. Dokter spesialis telinga itu sendiri pun terheran-heran dan mengatakan bahwa ia sendiri belum pernah menjumpai kasus semacam ini. Dengan amat sungguh-sungguh, ia berjanji akan mempelajari kasus yang mereka hadapi.

Tambah mengherankan karena dua hari setelah hari itu, isteri Au juga mengalami serangan suara. Perempuan itu terpelanting dari tempat tidur ketika pertama kali diserang suara itu, padahal ia sedang berlayar dalam mimpi yang indah. Waktu itu pukul 03.13 dinihari, isteri Au mulai mendengar “suara…” tersebut. Ia berharap hanya terjadi sekali atau mungkin dua-tiga kali, ternyata semakin hari semakin banyak suara itu menyerang telinganya.

Begitulah, boleh dikatakan setiap jam, ada saja warga yang mulai diserang suara. Menjadi puncaknya karena dokter-dokter spesialis telinga di negara ini juga mengalami hal serupa. Kejadian tersebut disebut sebagai tragedi nasional, setelah presiden, menteri-menteri, pokoknya semua pejabat sampai ke rakyat biasa, diserang suara itu. Diserang oleh sesuatu yang serupa dengan tempo dan volume yang sama pula.

“Masih untung aduhai untung, anak-anak tak dihitung. Suara tak menyerang pada mereka yang belum berusia 17, entah karena ditimang dengan rasa memelas. Jadilah mereka sebagai batas, kepada mereka dapatlah kami beralas. Menumpang senang pada yang disayang, berharap bakti pada yang berhati. Umpama malam dengan siang, silih berganti datang berdatang. Begitulah kami wahai makhluk insani,” tulis Au.

 
MUNGKIN seperti Anda, berbagai pertanyaan begitu banyak menggumpal di benak saya. Paling besar di antaranya adalah, mengapa peristiwa tersebut terjadi. Tidak mungkin ini semua turun begitu saja dari langit, sebab senantiasa ada sebab-akibat dari suatu peristiwa. Banyak terjadi, sebab-akibat tersebut malahan kait-berkait, jalin-menjalin; kadang-kadang, karena begitu rapatnya jalinan tersebut, sampai kita tidak bisa lagi membedakan mana ujung dan mana pangkal dari sebuah peristiwa. Setiap yang bernama jalinan menjadi sebab sekaligus akibat, begitu pula sebaliknya.

Lalu mengapa pula, orang-orang berusia di bawah 17 tahun tidak atau belum terserang suara? Berarti ada batas antara manusia yang tergolong anak-anak dan remaja dan seterusnya. Tentu muncul lagi pertanyaan sehubungan dengan hal ini, yaitu mengapa batasan tersebut tercipta? Pertanyaan ini makin melebar, manakala kita sadar bahwa suara yang menyerang itu tahu benar sasarannya dan bagaimana pula mereka mengetahuinya?

Amati pula gaya bahasa yang digunakan Au dalam menulis pesan-pesan pendeknya. Saya rasakan, kalimat-kalimat yang digunakannya tidak biasa dalam jejaring sosial melalui dunia maya yang begitu marak saat ini. Au seperti beriya-iya benar mengungkapkan sesuatu dengan pilihan bunyi yang tampak tertata dengan sengaja. Bukan suatu kebetulan. Ya, untuk apa Au melakukan hal ini? Apakah ia hanya ingin orang senang membacanya, pada yang dikabarkannya adalah suatu kenestapaan? Apalagi gaya bahasa yang digunakannya tidak lazim, yang tentu saja menjadi hambatan komunikasi tersendiri pula.

Cuma, hal terpenting dari semua pernyataan di atas adalah sebagaimana yang ditulis Au, “Tolonglah kami Tuan-tuan dan Puan-puan, sebelum semuanya menjadi makin tak karuan, membujur berlawanan, melintang bertentangan, segala yang tampak serba ancaman, semua yang terdengar menjadi makian. Berat diringankan, runsing diasingkan; umpama kusut hendaklah dilurutkan, laksana bengkok jangan dibelokkan. Jasa Tuan-tuan dan Puan-puan, pasti tak akan kami lupakan, tak akan tergeser dari ingatan.”

Meskipun demikian, mencari penyebab terjadinya peristiwa ini bukan sesuatu yang kecil. Bagaimana pula sebarang tindakan dapat diambil kalau penyebabnya tidak diketahui. Bisa saja serangan tersebut terjadi setelah suara diperlakukan semena-mena, misalnya, setelah dinista atau diperjualkan, seperti yang selalu kita dengar. Jangan katakan tidak mungkin, sebab sekurang-kurangnya begitu banyak hal yang tak dapat dicerna oleh akal pikiran.

Terlepas dari hal itu, sungguh tak alang kepalang bergetarnya hati saya ketika membaca kalimat Au berikutnya, “Mengapa Tuan-tuan dan Puan-puan masih diam tiada berpaham, membiarkan kami dalam kesengsaraan. Adakah perangai kami yang senantiasa hitam, sehingga semua penjuru menaruh dendam. Seumpama kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Umpama layang-layang putus benang, terombang-ambing tinggi mengawang. Laksana air di padang pasir, sekejap hilang tiada mengalir. Mengapa diam, aduhai diam?”

“Ya, mengapa?” tanya saya pada diri sendiri. Anda juga, bukan? Buktinya, mendiskusikan hal ini saja Anda seperti tak berkenan. Pesan pendek yang saya tebarkan untuk hal ini, sampai sekarang belum dihiraukan. Wahai….(*)

  

Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru, Riau.

Iklan

2 pemikiran pada “Suara 14

  1. Yang menjadi daya tarik sekaligus kekuatan cerita ini barangkali adalah kritiknya. Sekilas membacanya saja, kita paham bahwa si penulis, lewat ceritanya ini, sedang melontarkan kritik atas ketidakberesan yang kerap terjadi dalam pelaksanaan pemilihan umum. Sebuah suara menyerang sejumlah orang di suatu tempat, dan itu membuat keseharian mereka menjadi terganggu. Ini, tentulah sebuah analogi. Kita bisa menafsirkannya seperti ini: seseorang atau suatu kelompok menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menekan orang banyak agar mereka memberikan suaranya kepada pihak tertentu, sebab jika tidak maka mereka mungkin akan terus terganggu setiap harinya. Dengan kata lain, “suara” di sini bisa diartikan “bisikan”, atau “imbauan”, namun dalam nada tegas dan mengancam, yang dimaksudkan untuk “mengatur” hak pilih orang-orang tadi. Kenyataan bahwa mereka yang berusia di bawah 17 tahun tak ikut menjadi sasaran serangan si suara menguatkan penafsiran kita. Begitu juga kenyataan bahwa meskipun serangan suara ini tengah berlangsung namun banyak orang tak ambil pusing dengan hal ini, bahkan tak menghiraukannya sama sekali. Yang terakhir ini, barangkali, adalah analogi dari betapa masih banyaknya orang-orang yang apatis terhadap ketidakberesan yang kerap terjadi dalam pemilihan umum tersebut.

    Mengapa kritik seperti ini menarik? Barangkali karena ia begitu dekat dengan kita–pembaca. Tak pelak lagi, kita sering–bahkan selalu–menjumpai kecurangan-kecurangan dalam pemilihan umum yang terjadi di negeri ini. Suara-suara yang dibeli. Suara-suara yang diarahkan. Suara-suara yang ditekan. Dari sejumlah orang saya mendapatkan informasi bahwa seorang kepala daerah biasa menggunakan kekuasaannya untuk menekan perolehan suara lawan politiknya, yakni dengan cara memaksa para PNS di kawasan tersebut mengarahkan suara warga kepada dirinya, tentunya dengan disertai berbagai ancaman seperti mutasi atau penurunan jabatan. Apa yang diangkat di cerita ini, saya rasa sangat cocok dengan hal itu. Terutama bagi para pembaca yang pernah mengalami (atau terlibat) dengan praktik kecurangan tersebut, cerita ini akan benar-benar terasa dekat; seperti sebuah cerita yang berasal dan terlahir dari kehidupan si pembaca. Dan ketika sebuah cerita sudah terasa dekat, maka perhatian serta penilaian akan dirinya akan cenderung positif. Maka dari itu kritik semacam ini adalah daya tarik sekaligus kekuatan bagi si cerita.

    Akan tetapi seberapa menarik sebenarnya kritik tersebut? Seberapa bisa ia dinikmati sebagai sebuah sajian, sebuah tampilan, atau bahkan sebuah karya seni?

    Ada sebuah film Rusia berjudul “Siberia Monamour”. Seorang lelaki tua dalam cerita ini, sebutlah si Kakek, tinggal berdua saja dengan cucu laki-lakinya di sebuah pedalaman, dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Ia seseorang yang religius; setiap hari ia berdoa, memohon kepada Tuhan agar diberi kemudahan dalam berburu dan hal-hal positif lainnya. Ia percaya apa yang dilakukannya itu benar dan berguna, dan karenanya ia mendidik cucunya untuk juga melakukan hal yang sama. Namun kenyataannya, atas apa yang selalu dilakukannya itu, timbal balik dari Tuhan seperti tak ada. Ia lagi-lagi tak membawa apa-apa sepulangnya berburu, dan kondisi fisiknya semakin payah; ia bahkan sudah sulit berjalan normal. Menanggapi kegagalannya ini, si cucu berkata bahwa tak lama lagi mereka akan terpaksa menyembelih kambing peliharaannya, satu-satunya hewan peliharaan mereka yang tersisa. Si Kakek, mungkin karena merasa terpukul, akhirnya mengajukan sebuah ide yang benar-benar di luar dugaan: mulai besok ia akan mengganti bacaan doanya dan ia meminta si cucu melakukan hal yang sama. Menurutnya, kegagalannya dalam berburu selama ini disebabkan oleh doa-doanya yang keliru.

    Apa yang kita lihat dari potongan film tersebut? Sebuah kritik. Alih-alih berusaha melakukan sesuatu yang masuk akal, si Kakek justru mengganti bacaan doanya, dan berharap itu akan berguna. Si cucu sendiri, tak melihat ide si Kakek itu sesuatu yang positif, dan karenanya ia meninggalkan si Kakek sambil berkata, “Lakukan saja sendiri!” Mengapa si Kakek sampai berpikir untuk melakukan sesuatu yang konyol seperti itu, bisa jadi karena ia sudah dalam keadaan yang payah, sebuah keadaan di mana ia tak lagi punya banyak pilihan. Ingat, kondisi fisiknya tak lagi bagus. Ia juga tak punya banyak lagi persediaan makanan, dan itu mungkin membuatnya putus asa. Ya, keputusasaan. Dilontarkannya ide konyol itu barangkali adalah wujud dari keputusasaan. Lantas dari mana keputusasaan ini berasal? Dari perekonomian Rusia saat itu yang sangat buruk. Lalu dari mana perekonomian yang sangat buruk ini berasal? Dari praktik-praktik pemerintahan yang keliru, mungkin. Singkat kata, jika ditarik ke atas dan ditelusuri asal-muasalnya, kita bisa memahami kepada (si)apa sebenarnya kritik tersebut dilontarkan.

    Yang menarik dari kritik di film tersebut, selain bahwa ia (mungkin) begitu dekat dengan kehidupan di Rusia dulu, adalah juga karena ia memiliki detail-detail yang mengejutkan. Si Kakek tadi, misalnya, malah berpikir untuk mengganti bacaan doanya alih-alih mengganti cara berburunya. Di scene yang lain, seorang ayah justru berencana membawa barang-barang berharga di rumahnya untuk dipertaruhkannya di meja judi, sementara di rumah ia memiliki beberapa orang anak dan mereka tak memiliki cukup bahan makanan bahkan untuk seminggu. Detail-detail yang mengejutkan. Detail-detail yang di luar akal sehat. Dampak dari dihadirkannya detail-detail seperti ini bisa beragam, tergantung si penonton. Ia, misalnya, bisa tertawa-tawa, melihat detail-detail mengejutkan tersebut sebagai hal-hal yang lucu dan menggelitik. Ia, misalnya, bisa juga jengkel dan marah, melihat detail-detail tersebut sebagai kedunguan manusia yang tak bisa ditolerir. Dan sebagainya. Intinya adalah, dihadirkannya detail-detail mengejutkan tersebut membuat emosi penonton seperti dilibatkan; kita yang menontonnya akan dengan sendirinya merasa diajak untuk merasakan sesuatu (merasakan, bukan hanya mengetahui) dan meluapkannya. Dan di titik inilah, kritik tersebut, hadir sebagai sebuah karya seni.

    Lalu bagaimana dengan kritik di cerita berjudul “Suara 14” ini sendiri? Sayangnya, saya tak melihatnya demikian. Di mata saya, kritik di cerita ini, meskipun ia jelas dan mungkin memiliki nilai guna, namun tidak hadir sebagai karya seni. Kita memang tahu ke mana arah kritik tersebut, dan kita mengakui bahwa ia dekat dengan kita dan karenanya ia memiliki nilai guna, tapi ia tak membuat emosi kita dilibatkan. Membacanya, kita hanya mendapatkan informasi, namun tidak merasakan apa pun. Apakah kita tertawa-tawa? Tidak, sebab memang tidak ada kelucuan yang berusaha dihadirkan di sana. Apakah kita jengkel dan marah-marah? Juga tidak, karena memang di sana tidak ada upaya untuk membuat kita jadi demikian. Sederhananya, kritik di cerita ini adalah kritik yang hambar, yang tak memiliki rasa, yang karenanya seperti tak sedikit pun melibatkan emosi kita. Ia jadi terkesan sebuah kritik yang praktis saja, dan tidak memiliki nilai seni.

    Saya kira, untuk sebuah cerita yang ditulis di saat ini, yang tentunya dibaca oleh orang-orang di saat ini, nilai seni itu sesuatu yang penting. Jika kritik yang dekat dengan pembaca tadi adalah nilai guna atau fungsi, maka nilai seninya adalah tampilannya, adalah apa yang tersaji ke hadapan pembaca dan bisa dengan mudah mereka nikmati. Sebuah cerita, bagaimanapun, adalah sebuah produk. Dan sebuah produk yang dibuat di saat ini tentulah tak bisa hanya mengandalkan fungsi semata dan mengabaikan tampilan. Para produsen, mau tidak mau, akan melihat tampilan itu. Bahkan, dan ini agaknya lumrah, tampilan itu akan jadi hal pertama yang menjadi perhatian produsen; tampilan inilah yang akan mereka nilai pertama kali sebelum kemudian mereka menilai fungsinya. Oleh karena itu, adalah sebuah kerugian, saya kira, jika sebuah produk (dalam hal ini cerita) yang dibuat di saat ini tidak diperlengkapi dengan tampilan yang menarik.

    Dan bukan hanya tentang kritik, tampilan yang tidak menarik itu juga berlaku untuk unsur-unsur cerita yang lainnya. Bentukan kalimat, misalnya. Nanti di bagian berikutnya kita akan sama-sama melihat bahwa di cerita ini ada cukup banyak bentukan kalimat yang bermasalah dan tak memberi kita rasa nyaman saat membacanya. Kemudian, penokohan. Kendatipun si penulis menghadirkan seorang tokoh utama (seorang tokoh yang porsinya dominan) dan memberinya nama (Au), namun ia tidak dihadirkan sebagai dirinya yang “hidup”, dalam arti kita tak dibiarkan melihat apa-apa yang dialaminya dari dekat; kita hanya dibiarkan mengetahui apa-apa yang dialaminya dan tidak dibiarkan ikut mengalaminya. Hal ini, mau tidak mau, membuat kehidupan si Au begitu berjarak dengan kita, dan karenanya wajarlah jika kita kemudian tidak merasakan ikatan emosional apa pun dengannya; ia hanya tokoh yang diciptakan untuk membuat cerita berjalan, atau lebih buruknya lagi untuk membuat kritik si penulis tersampaikan, dan ia adalah tokoh yang “mati”, dalam arti ia tidak memiliki kemampuan untuk hidup dalam benak kita dan membuat kita merasa kehadirannya nyata. Hal serupa berlaku juga untuk tokoh-tokoh lain. Mereka sama-sama “mati”, sama-sama “media penyampai” dan tempelan semata. Tak terlihat ada upaya untuk membuat mereka “hidup”. Ibarat detail-detail pada sebuah patung, mereka masih berada dalam bentukan yang sangat kasar dan karenanya kita tidak begitu bisa menikmatinya.

    Sekarang, mari kita membahas bentukan-bentukan kalimatnya.

    Perhatikan kalimat ini: “Ya, tak sekedar diganggu suara, tapi diserang suara.” Kita tahu, yang benar itu “sekadar”.

    Kemudian, kalimat ini: “Tetapi keberadaannya berkali-kali dalam sehari, waktunya di antara hari yang satu dengan hari yang lainnya berbeda-beda.” Saya kira, tanda koma di sana bagusnya diganti saja dengan tanda titik.

    Selanjutnya, kalimat ini: “Seorang warga, misalnya, pada hari Selasa, disambar suara tersebut pada pukul-pukul 07.00, 10.30, 14.00, 17.00, 21.00, 00.02 dan seterusnya.” Menurut saya, kalimat ini tidak enak dibaca, dan mungkin juga tidak benar. Akan baik kalau kalimat ini diganti jadi, misalnya, seperti ini: “Seorang warga, misalnya, pada hari Selasa, disambar suara tersebut pada waktu-waktu ini: 07.00, 10.30, 14.00, 17.00, 21.00, 00.02. Ia bahkan masih terus disambar suara itu di waktu-waktu setelahnya.”

    Berikutnya, kalimat ini: “Dikorek-koreknya si telinga dengan jari, bahkan dilihat oleh isteri maupun anaknya, tak ada yang salah dengan alat pendengaran itu.” Alih-alih menggunakan “isteri”, kenapa tidak “istri” saja? Kemudian, tanda koma di antara “anaknya” dan “tak ada” semestinya diganti dengan tanda titik.

    Berikutnya lagi: “Tetapi bayangkan saja kalau makin lama makin sering suara tersebut menyembar telinga.” Di situ tertulis “menyembar”. Bisa jadi ini salah ketik saja, sebab yang benar itu “menyambar”. Tapi kalaupun memang salah ketik, maka si penulis agaknya kurang begitu konsen saat menulis cerita ini. Pasalnya tak lama setelahnya ia melakukan kesalahan serupa: “Ketika ia tidur, menyetir, bekerja, atau apa saja, suara tersebut menyembar begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa memedulikan apa kesibukannya.”

    Sekarang perhatikan kalimat ini: “Kadang-kadang serangan suara itu datang ketika ia sedang makan, misalnya;” Saya rasa, dihadirkannya “kadang-kadang” dan “misalnya” secara bersamaan menimbulkan benturan. Mungkin akan lebih enak dibaca kalau salah satunya dihapus saja.

    Selanjutnya yang ini: “Tanpa ia duga, antrean orang dengan keluhan serupa memang tak tanggung-tanggung.” Di awal dikatakan “tanpa ia duga”, tapi kemudian ada kata “memang”. Ini saya rasa bertentangan. Kata “memang” merujuk ke sesuatu yang telah diketahui atau telah berada dalam perkiraan, dan karenanya kata-kata “tanpa ia duga” tidak sejalan dengannya.

    Berikutnya: “Perempuan itu terpelanting dari tempat tidur ketika pertama kali diserang suara itu, padahal ia sedang berlayar dalam mimpi yang indah.” Perhatikan bagian “berlayar dalam mimpi yang indah”. Saya kira, kepuitisan seperti ini tidak benar-benar diperlukan. Bahkan, ia bisa jadi terdengar seperti gangguan. Dibuat praktis saja seperti “bermimpi indah” saya kira akan jauh lebih cocok.

    Selanjutnya: “Waktu itu pukul 03.13 dinihari, isteri Au mulai mendengar ‘suara…’ tersebut.” Untuk kalimat ini, saya punya dua pilihan. Pertama, ganti tanda koma di antara “dinihari” dan “isteri” dengan tanda titik. Kedua, hilangkan kata “waktu” dan “itu” di awal-awal kalimat. Tentu saja, kata “isteri” juga harus diganti dengan “istri”.

    Lalu yang ini: “Kejadian tersebut disebut sebagai tragedi nasional, setelah presiden, menteri-menteri, pokoknya semua pejabat sampai ke rakyat biasa, diserang suara itu.” Perhatikan “tersebut disebut”. Bagi saya, dihadirkannya dua kata ini secara berdampingan menghadirkan benturan. Mungkin kata tersebut diganti saja dengan “ini”, atau “itu”.

    Berikutnya yang ini: “Mungkin seperti Anda, berbagai pertanyaan begitu banyak menggumpal di benak saya.” Dalam pemahaman saya, kalimat ini tidak logis. Atau, terbalik. Normalnya yang akan kita katakan adalah: “Mungkin seperti saya, berbagai pertanyaan begitu banyak menggumpal di benak Anda.” Mengapa demikian? Sebab yang kita tahu adalah apa yang ada di benak kita, dan yang berusaha kita tebak adalah apa yang ada di benak lawan bicara kita. Bukan sebaliknya.

    Selanjutnya: “kadang-kadang, karena begitu rapatnya jalinan tersebut, sampai kita tidak bisa lagi membedakan mana ujung dan mana pangkal dari sebuah peristiwa.” Kalimat ini, akan enak dibaca kalau “sampai kita tidak bisa lagi” diganti dengan “kita jadi tidak bisa lagi”.

    Berikutnya: “‘Tolonglah kami Tuan-tuan dan Puan-puan, …” Tentu saja di antara “kami” dan “Tuan-tuan” perlu ada tanda koma.

    Berikutnya lagi: “Terlepas dari hal itu, sungguh tak alang kepalang bergetarnya hati saya ketika membaca kalimat Au berikutnya, …” Pertanyaan saya: tidakkah “alang” dan “kepalang” mestinya digabung jadi “alang-kepalang”.

    Begitu saja untuk kali ini. Sampai jumpa di feedback berikutnya. :3

    Bonus foto: Matsui Jurina








Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s