Intelijen Oren

Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 14 Desember 2014)

Image009

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SELAMA karirku menjadi tukang pos, ini alamat paling sulit yang pernah kucari. Sepuluh tahun aku menjadi tukang pos dan aku tak pernah gagal menjalankan tugas. Semua alamat dengan mudah kudapat. Baik yang jauh maupun yang dekat. Karena itulah kadang muncul sedikit sombongku. Ketika kawan kerjaku, Winyoto, membawa kembali paket milik Siti Tilis di Kampung Kontil, Jln. Ontal-Antil, dengan sedikit guyonan kupelintir peribahasa lama, “Kuman di seberang lautan saja tampak, apalagi kebo di pelupuk mata, hehe…”

Begitulah. Sebagai tukang pos, karirku cukup cemerlang. Aku bahkan pernah diganjar medali bersimbol sepeda ontel: tukang pos teladan. Ada pula sebutan khusus bagiku: Intelijen Oren. Tentu gampang ditebak, sebutan itu merujuk kesigapan dan warna seragamku. Karena itu, aku tak pernah dipanggil dengan namaku, melainkan Intelijen Oren. Aku yakin, hanya beberapa kawan kental saja di kantor itu yang tahu asli namaku. Apa boleh buat. Semua terlanjur sepakat dengan gelar kebesaranku. Tapi siang ini, sungguh apes nasibku. Sebuah bungkusan hitam bertuliskan Sumoto d/a. Kampung Kimpet, Jln. Peret, No. 69, telah kubawa mengitari kawasan ini sejak pukul sembilan pagi. Hasilnya nihil.

Bagi tukang pos, Kampung Kimpet memang tergolong ruwet. Karena itu, ketika mendapati alamat ini, Winyoto langsung melempar bungkusan itu padaku: “Intelijen Oren, ini rejekimu!” Kutangkap bungkusan itu: “Bup!” Lumayan berat. Mungkin isinya benda dari bahan logam. Aku pun sadar, aku akan blusukan ke gang-gang gawat. Ketahuilah, Kampung Kimpet termasuk kampung tua di kota ini. Wajar bila kampung ini padat penduduk, dengan rumah-rumah berdempet-dempet dan jalan-jalan sempit bercecabang. Seperti labirin.

Di kampung ini, terdapat tiga kuburan kuno yang cukup tersohor. Ada kuburan orang Cina yang banyak belingnya dan tampak mewah. Ada kuburan orang Yahudi yang agak jauh ke sana, tampak bersih dan sepi-sepi saja. Ada juga kuburan orang Belanda yang dijaga pagar besar hingga aku seumur-umur tak berani mengintipnya. Mungkin karena Kakek pernah melarang aku dekat-dekat dengan apa saja yang berbau Belanda, termasuk kuburannya.

Kuburan ini boleh jadi kuburan paling unik di muka bumi. Di kuburan ini mengalir banyak sumber rejeki. Datanglah ke sini malam hari, maka akan kau dapati kuburan ini jadi semacam pasar malam. Sepanjang jalan utama yang menghubungkan gang-gang sempit dan kuburan akan kau temui banyak warung kopi, kios jamu, gerobak soto, rombong ronde, tenda mie plus nasi goreng, juga lesehan sego sambel. Pengunjungnya juga macam-macam: ada para remaja, mahasiswa, sopir, tukang pijit, tukang becak, tukang odong-odong, tukang tato, tukang togel. Bahkan kalau tengah malam, bisa kau temui para wadam dengan parfum dan riasan berat, bertebaran di sekitar nisan seperti kunang-kunang raksasa.

Memang betul kampung ini mempunyai lorong-lorong berbelit-belit. Tapi, sebagai kampung tua dan tersohor, tentu aneh jika ia punya alamat yang tak bisa ditemukan. Berkali-kali gang-gang sempit itu kulalui, tapi alamat yang kutuju tak ada. Telah kuputar motorku melewati tepi kuburan Cina, masuk ke gang sempit, berbelok ke kanan, kemudian ke kiri, kemudian ke kanan lagi, mengikuti lorong sempit yang hanya cukup satu motor, kemudian keluar tembus ke kuburan Belanda, namun alamat yang termaktub di bungkusan itu tetap tak ada. Aneh. Kembali kubaca tulisan tangan di bungkusan itu, barangkali aku salah baca. Tapi tidak. Bungkusan itu jelas menyebut Sumoto d/a. Kampung Kimpet, Jln. Peret, No. 69. Aku turun dari motor. Berjalan ke tenda perempuan penjual rujak cingur. Di situ ada tiga perempuan. Kulepas helm dan kusebutkan nama di bungkusan itu. Si penjual rujak, sambil mengulek kacang, cebe, garam, gula merah dan petis itu menggeleng. Sementara dua perempuan lain tampak mengangkat bahu. Kuucap terima kasih, sambil melirik rambut ketiak penjual rujak yang sesekali tampak.

Kembali kunyalakan motor. Keluar ke jalan besar dan berhenti tepat di depan kuburan Belanda. Kali ini, kulanggar nasehat kakakku. Kuparkir motor di bawah trembesi di samping kiri kuburan itu, lalu kusulut sebatang rokok. Hari bertambah panas. Beberapa orang berseliweran. Satu dua orang kutanya alamat Sumoto dan semua mantap menggeleng. Kembali kunyalakan rorok. Merokok di pinggir kuburan Belanda membuat aku teringat Bung Tomo, orang yang konon pernah membuat tentara Belanda keder. Aku jadi curiga, jangan-jangan Sumoto yang dimaksud alamat ini adalah Sutomo. Mungkin tertukar saja T dan M-nya. Tapi apa mungkin, Sutomo alias Bung Tomo masih hidup? Sukar dipercaya. Kuingat orang tua semprul dan berantakan yang kutemui tempo hari, yang mengaku sebagai Supriadi, pemimpin PETA yang lenyap secara misterius itu.

Sebuah benda basah terjatuh persis di pelipisku. Bangsat! Seekor kutilang yang berloncatan di batang trembesi itu menjatuhkan tai. Kubersihkan tai kutilang itu. Kuisap rokokku dan kulempar puntungnya ke arah kuburan. Lalu kembali kupakai helm dan kunyalakan motor. Kulewati tepi kuburan itu sebelum masuk gang kecil dengan palang melintang bertulis huruf gotik AWAS, NGEBUT BENJUT! Spontan kupelankan motor, menekuk ke kiri, lurus, menekuk ke kanan, dan menekuk ke kiri lagi, sebelum terhenti sebab tertumbuk gang buntu. Di sebelah kanan gang itu ada musala. Dan dari toanya kudengar Syiir Tanpo Waton, syair Jawa karya Kiai Sahlan, kiai kharismatik dari kota Krian.

Tak terasa hari hampir lohor dan tetap tak kutemukan alamat itu. Kuputar motorku, berbalik arah, menekuk ke kiri, ke kiri lagi, lalu lurus merunut gang sempit yang tampak sepi, kemudian ke kiri lagi. Di ujung gang itu, kudapati pohon asam yang sudah tampak sangat tua, dengan cecabang merunduk ke bawah sehingga segerumbul daunnya tampak mencium tanah. Pohonnya menempel tembok, membuat tembok itu rompal dan akar-akarnya juga telah merusak jalan paving yang kulewati.

 
MELIHAT pohon asam, jalanan paving yang koyak, juga tembok yang membentang sepanjang gang, aku merasa tengah tersesat. Aku mulai curiga, jangan-jangan aku tengah disesatkan jin penunggu kuburan. Melihat kondisi gang yang sepi, sepertinya gang ini jarang diinjak kaki. Hanya dedaun berserakan dan lumut bercukulan di tembok. Kuamati gang ini lebih teliti. Motorku yang pelan kupelankan lagi. Dan sampailah aku di ujung gang yang mirip terowongan. Di mulut terowongan itu, akar pohon asam melingkar seperti ular penjaga.

Kumatikan motor. Kulepas helm. Dan sebelum helm itu sempurna lepas dari kepalaku, aku dikejutkan suara perempuan.

“Sampean mencari Sumoto?”

Alamak, dari mana perempuan itu tahu maksudku?

Perempuan itu lalu membuat isyarat agar aku mengikutinya. Aku ragu, tapi anehnya, kuikuti si perempuan memasuki—maksudku, menuruni—lorong. Merasai suasananya yang suwung, aku yakin lorong ini berada tepat di bawah kompleks kuburan. Aku berjalan menuruni undakan-undakan. Aku mengikuti si perempuan lurus lalu menekuk kelokan demi kelokan. Di luar dugaan, lorong itu seperti gua raksasa, dengan ruas yang makin lama makin jembar. Tampak juga kamar-kamar dari kayu kasar yang pintunya tertutup. Perempuan itu terus membawaku menyusuri lorong. Lorong ini seperti kampung malam permanen. Lampu teplok bertebaran, membuat lorong terasa pengap. Mendengar langkahku dan perempuan itu berjalan, satu dua kepala mulai menyembul dari pintu.

“Siapa itu, Mami?” seorang perempuan berteriak.

“Pak Pos!” balas si Mami setengah membentak.

Pintu kembali ditutup.

Kami terus berjalan, tapi aku hampir terjerungup sebab kakiku tertumbuk sebongkah batu. Oh, bukan. Bukan batu. Ternyata kakiku tersandung tengkorak. Dalam remang, kulihat tengkorak itu dan baru aku sadar tulang-tulang berserakan di sekitarku. Aku cepat-cepat membuntuti perempuan itu. Ia pun berhenti di sebuah pintu. Pintu dibuka dengan cara digeser. Kami pun masuk ke ruangan yang mirip ruang tamu. Dan sebagaimana lumrahnya ruang tamu, di ruang itu ada meja dan kursi. Di meja itu ada dua gelas pring. Kursinya terbuat dari bongkahan akar. Perempuan itu menyuruhku duduk. Aku pun duduk Tanpa babibu, perempuan itu melompat naik ke meja, kemudian duduk dengan posisi paha membuka, persis di depanku.

“Sampean mau ketemu Sumoto?”

“Betul!”

Perempuan itu membuka pahanya lebih lebar. Seberkas terang terpijar dipangkal pahanya. Apa perempuan ini keturunan Ken Dedes, perempuan yang menurut kitab Pararaton farjinya—dan bukan betisnya—bercahaya? Ia pun mengangkat kepala, memejamkan mata, menggenggam tangan dan berteriak kuat-kuat seperti hendak melahirkan. Ketika teriakan itu memuncak, astaga, seekor kelinci melompat dari pangkal paha perempuan itu. Kepala kelinci itu bersimbah darah, punggungnya yang putih berlumur lendir. Panjang kuping dan sungutnya tampak ganjil. Matanya pun cuma sebelah, mirip mata begejil. Si Mami, perempuan yang “melahirkannya” terkulai lemas dengan nafas ngos-ngosan, kemudian pingsan. Kelinci itu pun melompat ke arahku.

Si kelinci kemudian mendekat ke gelas pring yang berada tepat di hadapanku. Kedua kupingnya bergerak-gerak. Mulutnya memuntahkan lendir kental ke gelas itu.

“Minumlah, sekadar cukrik ringan.”

Edan. Kelinci ini bisa bicara bahasa manusia. Aku melongo. Melihat kelinci itu. Melihat gelas pring yang telah penuh lendir dari mulut si kelinci.

“Sampean jangan heran,” ia menambahkan, “di bawah tanah, semua bisa terjadi.”

“Siapa Sampean?”

Sambil menunjuk dan mengedipkan matanya yang cuma sebelah, ia berkata: “Sumoto!”

Aku terdiam. Seperti ada tangan gaib membungkam mulutku.

“Aku pemuka warga bawah tanah. Awalnya, aku adalah kunang-kunang. Ketahuilah, di atas kuburan ini tugasku menerangi jalan para wadam. Mereka bertebaran dari nisan ke nisan agar beroleh tempat kencan yang aman. Namun, entah bagaimana mulanya, suatu malam kuburan ini diserbu gerombolan perempuan putus asa. Kabarnya, kompleks tempat mangkal mereka ditutup. Aku kuwalahan. Cahayaku terlalu cilik. Maka aku berdoa agar badanku jadi sebongkah cahaya putih dan cukup menerangi mereka semua, tapi entah mengapa aku malah jadi kelinci. Aku pun bertapa, angslup ke kemaluan, mingslep dari beban dan godaan…”

“Aku mengantar ini,” aku potong khotbahnya yang mulai ngelantur.

“Semprul! Jenius betul mereka.”

“Maksud Sampean?”

“Ini ulah perempuan-perempuan itu. Bertahun-tahun kami hidup di bawah kuburan. Dan baru kali ini kami tak dapat mayat.”

“Maksud Sampean?”

“Setiap ada orang mati, selalu ada yang mendahului kami mengambilnya.”

“Maaf, bukankah Sampean termasuk jenis vegetarian?”

“Sudah kubilang, di bawah tanah semua bisa terjadi.”

“Jadi kalian hidup dari orang mati?”

“Tidak persis begitu. Kami bukan golongan rakus. Dulu aku makan akar dan umbi-umbian. Begitu pula kuanjurkan pada perempuan-perempuan itu. Mereka hanya sesekali makan orang mati untuk kebutuhan protein. Sampean tahu, terowongan ini seluas kotamu yang mengangkangi kampung kami. Bertahun-tahun kami hidup tenang di sini, tapi…”

Di luar, terdengar suara perempuan pada ribut. Rupanya perempuan-perempuan itu telah berkumpul di depan pintu. Pintu dicakar dan digedor-gedor. Si Kelinci memberi komando agar mereka tenang. Perempuan-perempuan itu terus menjerit-jerit tak jelas. Tubuhku gemetar. Kelinci itu menyilangkan kedua kupingnya, kaki kanannya menunjuk gelas pring di depanku.

“Minumlah. Sampean tenang saja. Mereka tak akan memakanmu.”

Kembali pintu digedor dengan kasar. Pintu itu pun jebol dan membentur meja di depanku. Aku terjingkat. Jantungku seolah terhenti. Entah apa yang telah terjadi. Aku seperti tersadar dari mimpi. Ketika kuinsyafi, ternyata hari telah gelap. Di sekelilingku hanya ada nisan, nisan, dan nisan. Kudapati motorku munting, tersangkut nisan besar berhias beling. Barang bawaanku tercecer. Dan kepalaku terasa pening.

Aku kumpulkan tenaga untuk bangkit. Seorang wadam tiba-tiba menjawil pantatku. Mulutnya yang ndower bergerak nakal: “Sedooot. Kena gigi uang kembali!”(*)

Surabaya, 2014

  

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku puisinya yang terbaru, Tetralogi Kerucut (2014).


#2

Cerpen Dias Novita Wuri (Koran Tempo, 7 Desember 2014)

Image008

(Gambar oleh Munzir Fadly)

KAKEK itu datang lagi hari ini.”

“Tuan Hojo?” tanya Izumi.

“Tuan Hojo,” kata Nozomi.

“Ia menyukai roti lapis kita,” kata Nozomi seraya merapikan celemeknya.

“Tidakkah kau memperhatikan gadis itu?”

“Ya. Kelihatan sudah tua.”

Izumi meraih lap bersih di atas rak dan mulai mengeringkan piring-piring kecil dengan sistematis. Di luar sana langit berwarna hitam seperti hendak mendatangkan badai. Nozomi menata kue-kue tiramisu ukuran mini di etalase, yang sebetulnya tidak perlu lagi ditata karena sudah rapi. Kue-kue tiramisu berjajar di sebelah kiri kue pavlova, gumamnya kepada diri sendiri seperti menghafal teks. Tiramisu berasal dari Italia, pavlova dari Selandia Baru. Pretzel diletakkan di atas baki. Pretzel berasal dari Jerman. Biji kopi digiling mulai pukul enam pagi. Dan sebagainya. Tokyo Shimbun diletakkan di rak paling atas. Dan sebagainya. Izumi membersihkan segala macam. Kafe itu beraroma vanilla, dan kopi yang baru digiling, dan kue yang baru dipanggang, lengkap dengan cahaya yang bersih kekuningan dari lampu-lampu berbentuk bunga di dinding, serta bunga-bunga segar di atas meja (bunga-bunga itu langsung dipetik dari laboratorium rekayasa genetika dan diantarkan oleh penjual bunga, aromanya tahan sepanjang hari). Setiap pagi, Izumi dan Nozomi berkeliaran mengenakan seragam berwarna merah muda, tetapi di sore hari mereka akan bersalin dengan seragam berwarna ungu lembayung yang lembut seperti awan. Begitulah permintaan dari Tuan Pemilik.

Pagi itu kafe itu terang-benderang meskipun di luar gelap gulita. Tidak ada tamu lain kecuali kakek bernama Hojo itu dan teman perempuannya. Seperti biasa, mereka duduk di dekat jendela yang menghadap Shibuya, supaya Tuan Hojo bisa memandangi jalanan dan supaya ia juga bisa berada dekat dengan stop kontak. Izumi mencuri dengar Tuan Hojo berkata, “Hari ini di berita, mereka berkata bahwa akan ada taifun.” Nozomi mengkalkulasi bahwa usia kakek itu 77 tahun. Teman perempuannya berkata, “Kopi hitam akan membuat gelisah dan sulit tidur.”

“Aku akan mencemaskan sulit tidur nanti malam ketika malam sudah benar-benar datang. Kita baru saja melalui malam tadi malam.”

“Roti gandum lebih baik untuk kesehatan.”

“Baiklah, baiklah. Tapi hari ini, kita ada perayaan. Kau tahu perayaan apa? Hari ini ulang tahunmu.” Tuan Hojo mengangkat tangannya memanggil Nozomi. “Kau punya kue ulang tahun?” tanyanya.

“Kami punya kue dan lilin ulang tahun,” jawab Nozomi.

“Tolong pesan satu.” Tuan Hojo mengedikkan kepala ke arah teman perempuannya. “Kami ada perayaan. Hari ini ulang tahun istriku.”

“Selamat ulang tahun,” kata Nozomi. “Kami memiliki berbagai jenis kue. Tiramisu dari Italia. Pavlova dari Selandia Baru.”

“Kami mau yang dari Selandia Baru. Bisakah kausiapkan lilinnya juga?”

“Segera datang.”

“Taifun akan datang,” kata gadis itu.

“Kau tidak bertambah tua sedikit pun,” kata Tuan Hozo kepada gadis itu seraya tersenyum. Tetapi Nozomi menghitung bahwa meskipun penampilannya seperti baru 23 tahun, usia gadis itu tepat 40 tahun, sudah sangat tua, jadi Nozomi pun pergi ke dapur untuk menyiapkan kue pavlova dengan lilin ulang tahun berbentuk angka 4 dan 0 yang kemudian ia nyalakan dengan pemantik. Lilin itu memancarkan cahaya yang bersih kekuningan, seperti lampu, sementara di luar tak terlihat adanya cahaya alami apa pun melainkan hanya dari lampu.

 
GADIS itu sudah tua sekali,” kata Nozomi memberi tahu Izumi. “Hari ini hari ulang tahunnya yang ke-40.”

“Bohong.”

“Benar. Aku tidak pernah salah.”

“Oh, kasihan,” kata Izumi. “Berarti ia sudah ada sejak tahun 2024.”

Izumi meraih lap bersih yang berada di atas rak dan mulai mengeringkan piring-piring kecil dengan sistematis. Nozomi menata kue-kue tiramisu ukuran mini di etalase, yang sebetulnya tidak perlu lagi ditata karena sudah rapi.

“Karena itu ia hanya bisa tersenyum.” Nozomi menunjuk wajah gadis itu yang membeku dalam senyum manis abadi. “Rupanya ia istri Tuan Hojo.”

“Oh kasihan, ya. Kasihan.”

Nozomi berkata, “Taifun akan datang. Mereka tidak akan bisa pulang.”

“Biarkan saja mereka di sini. Kasihan.”

Dari tempat mereka berdiri, Izumi dan Nozomi memperhatikan Tuan Hojo menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang gemetar untuk istrinya, yang hanya tersenyum tetapi tidak mengatakan apa-apa. Selesai menyanyikan lagu ia pun meniup lilin. Lalu ia memotong kue pavlova tersebut, yang langsung dilahapnya dengan mata berbinar-binar. (“Apakah Mii-chan boleh memotongnya?” – “Aku bisa sendiri.” – “Kandungan gulanya 30 gram.” – “Begitu lezat sampai aku hampir menangis terharu. Sayang betul Mii-chan tidak bisa memakannya.”)

Izumi dan Nozomi saling bertatapan. Pemandangan itu begitu menyenangkan untuk dilihat, karena Tuan Hojo tampak benar-benar bahagia.

“Tetapi, taifun akan datang,” kata Izumi.

“Sudah semakin dekat,” kata Nozomi.

Taifun bergulung-gulung kehitaman di langit dan batas cakrawala. Sudah lama tidak ada bakal badai seperti itu. Tuan Pemilik akan pulang dari luar kota selepas petang—Izumi dan Nozomi sangat berharap ia tidak akan terjebak dalam taifun. Di atas kepala mereka, petir pertama telah menggelegar; satu dan kemudian dua, dan kemudian tetes hujan pertama. Satu kemudian dua. Kemudian hujan menjadi sangat deras begitu tiba-tiba, diiringi angin kencang yang meniup rambu-rambu dan reklame Machiko Satsuru (iklan minuman kaleng rasa buah hasil rekayasa genetika) hingga bergoyang-goyang. Orang-orang di Shibuya mulai berhamburan mencari tempat berteduh, tetapi anehnya tak ada satu orang pun yang masuk ke dalam kafe itu—mereka hanya berteduh di bawah kanopi di luar kafe. Bisnis memang sedang lesu. Kasihan Tuan Pemilik.

“Aku mengkhawatirkan Tuan Pemilik.”

“Aku juga. Semoga ia baik-baik saja.”

Tiba-tiba, petir yang sangat dahsyat menggelegar di atas atap. Izumi dan Nozomi memekik kecil berbarengan. Tiba-tiba semua lampu padam dan Tokyo segera diselimuti kegelapan yang basah berair.

“Hei, nyalakan generatornya!” seru Tuan Hojo. Izumi beranjak untuk menaikkan tuas generator di belakang bangunan. “Apakah sudah dinyalakan?” kata Tuan Hojo lagi. “Astaga, semua kegelapan ini merusak perayaan kami. Benar kan, Mii-chan?” Tidak ada jawaban. “Mii-chan?”

Tetapi kemudian Nozomi melihat siluet istri Tuan Hojo bergoyang-goyang maju dan mundur, seolah tertiup angin kencang dari luar. Sewaktu generator menyala dan lampu-lampu kembali hidup, istri Tuan Hojo ambruk menelungkup di meja.

Tuan Hojo berseru, “Tidak! Mii-chan! Hei, nyalakan generatornya!”

“Sudah menyala,” kata Izumi.

“Kau bohong!”

“Semua lampu sudah menyala,” kata Nozomi. Izumi dan Nozomi bergegas menghampiri meja Tuan Hojo dan istrinya. Ketika tiba di sana, mereka mendapati Tuan Hojo sedang menangis tersedu-sedu.

“Oh, Tuan Hojo….”

“Generator belum menyala! Tidak ada listrik!” Tuan Hojo berlutut di lantai untuk memeriksa stop kontak. “Mengapa tidak ada listrik?”

“Ada listrik, Tuan Hojo.”

“Lalu mengapa istriku mati?”

Kabel yang menancap pada stop kontak masih tersambung ke tubuh istri Tuan Hojo seperti biasanya setiap kali mereka mengunjungi kafe itu, tetapi gadis itu tetap menelungkup di meja, tidak bergerak. Dengan panik, Tuan Hojo mengeluarkan kepingan pengisi daya jinjing dari tasnya, kemudian menempelkan benda itu ke punggung istrinya di balik baju hangat hijau muda yang dikenakannya. Ada suara berdengung, tetapi gadis itu tetap menelungkup di meja, tidak bergerak.

“Mengapa istriku mati?”

Sepasang mata kecil Tuan Hojo kini bernuansa kemerahan yang basah berair. Tanpa berkata-kata, Izumi berlutut di lantai untuk memeriksa stop kontak dan kabelnya. Tidak ada yang salah, semua bekerja seperti biasanya. Sesungguhnya ia tidak tahu harus berkata apa. “Tidak ada yang tidak berfungsi, Tuan Hojo,” katanya.

“Tapi aku menyambungkannya ke stop kontak itu,” kata Tuan Hojo. “Dan sekarang dia juga tersambung ke pengisi daya.” Ia mengguncang-guncang tubuh di meja tersebut. Gadis itu tetap diam tidak bergerak. “Mii-chan, bangunlah,” katanya dengan sedu-sedan yang lembut. “Ayo, bangun. Kita pulang.”

Kata Nozomi, “Tuan Hojo, di luar ada taifun.”

Seraya menangis terangguk-angguk, Tuan Hojo berkata, “Oh, aku tahu, aku tahu. Tetapi aku mencintainya.” Ia meraup tubuh istrinya dengan perlahan dan memeluknya. Wajah istrinya masih sama, senyumnya abadi, kedua matanya terbuka. “Kau tahu,” kata Tuan Hojo kepada istrinya, “di luar ada taifun dan aku mencintaimu, jadi kau harus bangun.”

Kata Izumi, “Tuan Hojo, ia telah rusak.”

 
TUAN Pemilik baru tiba beberapa saat sebelum tengah malam karena taifun mengacaukan jadwal seluruh alat transportasi. Ia adalah pria yang praktis. Ia kelihatan lelah dan berantakan seperti baru saja ditiup angin kencang, tetapi ia tidak mengeluh ataupun bersungut-sungut. Ia langsung naik ke tempat tinggalnya di lantai dua di atas kafe, mandi, memakai pakaian bersih yang hangat, dan duduk di ruang kerjanya di mana Izumi dan Nozomi telah menyalakan penghangat ruangan, menyiapkan makanan hangat, serta teh yang masih hangat mengepul. Ia tidak pernah banyak berkata-kata. Selesai makan, ia akan menuju ke ranjangnya, lalu bercinta dengan Izumi dan Nozomi. Kadang bergantian, kadang bersamaan. Saat bercinta pun ia tidak pernah banyak berkata-kata. Ia lebih senang apabila orang lain yang berkata-kata.

Itulah yang mereka lakukan seusai bercinta. Tuan Pemilik bersandar pada dua buah bantal yang ditumpuk, diam sambil memejamkan mata, mendengarkan Izumi dan Nozomi bercerita. Ia senang mendengarkan kedua gadis itu bercerita: “Hari ini hujan badai sejak pagi, tapi Tuan Hojo datang lagi dengan teman perempuannya.” – “Teman perempuan itu adalah istrinya.” – “Istrinya seorang Geminoid Rumi generasi kedua.” – “Listrik mati dan Geminoid Rumi itu juga mati.”

“Geminoid Rumi generasi kedua hanya bisa mencapai 35 tahun,” kata Tuan Pemilik kepada Izumi dan Nozomi. “Bahkan, seri Rumi sudah tidak diproduksi lagi. Seharusnya si kakek Hojo itu mengembalikan Rumi-nya ke produsen untuk dihancurkan. Itu aturan pemerintah. Ia bisa dipenjara.”

“Tetapi Tuan Hojo mencintainya,” kata Nozomi.

“Tuan Hojo benar-benar pria malang,” kata Izumi.

“Cinta itu sebuah kebodohan,” kata Tuan Pemilik.

Keheningan menyusupi ruangan kecil itu ketika tampaknya Tuan Pemilik telah jatuh tertidur. Lalu Nozomi berkata, “Tetapi… tidakkah Tuan Pemilik mencintai kami?”

Tuan Pemilik membuka matanya.

“Cinta itu sebuah kebodohan,” katanya. “Terutama antara manusia dan robot android-nya. Si kakek Hojo itu manusia yang bodoh karena ia menikahi robot android. Lalu, sekarang kalian harus berhenti menanyakan hal-hal bodoh. Aku ingin tidur.”

Ia memejamkan matanya dan langsung tertidur hanya dalam beberapa menit saja. Sementara itu, Izumi dan Nozomi berbaring di sisi kiri dan kanannya dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit: meskipun mereka adalah Geminoid seri X-156 yang sudah jauh lebih canggih dari seri Rumi, mereka tetap tidak dapat tidur seperti halnya manusia tidur.

Izumi berkata, “Ia ternyata tidak mencintai kita.” Dan Nozomi mengangguk sedih.

Mereka mulai menangis pelan.

Memang, salah satu kelebihan seri X-156 dari generasi sebelumnya adalah bahwa mereka bisa merasa sedih dan menangis seperti halnya manusia merasa sedih dan menangis.

Izumi dan Nozomi menangis di sepanjang sisa malam itu.

 
KEESOKAN paginya Tuan Pemilik terbangun dan mendapati kedua android pelayannya berbaring diam tak bergerak di ranjang. Ia mengguncang-guncang tubuh mereka, mencubit lembut lengan mereka, tetapi mereka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Maka ia menghubungi salah satu kantor cabang produsen Geminoid untuk meminta ahli reparasi, yang langsung tiba tidak lama kemudian. “Cepatlah, kami harus segera membuka kafe ini,” katanya. “Apa yang terjadi pada mereka?”

Ahli reparasi itu memerlukan waktu setengah jam untuk membongkar mesin keduanya lalu merakitnya kembali. Setelah selesai ia berkata, “Mereka harus dibawa ke pabrik.”

“Mengapa?”

“Motor penggerak utama mereka telah rusak. Anda lihat di sini, di tengah sini? Jika di tubuh manusia, benda itu disebut jantung hati. Kedua Geminoid ini rusak jantung hatinya, jadi kami harus membawa mereka kembali ke pabrik untuk mengganti motor-motor tersebut.”

Tuan Pemilik adalah pria yang praktis, maka ia berkata, “Lakukan saja. Ah, tunggu. Tolong tukar saja dengan android yang generasinya di bawah X-156. Mereka hanya android pelayan, saya tidak butuh yang dilengkapi emosi atau jantung hati.”

“Mohon ditunggu dalam tiga hari. Atas nama perusahaan Geminoid seri X, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan Anda.”

Tuan Pemilik hanya mengangguk, meski ia sebal. Kafenya tidak bisa dibuka selama tiga hari hingga android pelayan yang baru tiba.(*)

 

28 November 2014

  

Dias Novita Wuri lahir di jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Sastra Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 117 pengikut lainnya.