Kumbang Jati

Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 26 April 2015)

20150426

(Gambar oleh Munzir Fadly)

PERNAHKAH kau dengar kisah seekor kumbang yang terbang dari dalam sebongkah batu?

Batu itu, kata Edy, hijau kristal. Selebar telapak tangan orang dewasa, beratnya kurang sedikit dari satu kilogram dan tebalnya tujuh sentimeter. Bila batu itu disenter dari permukaan, maka cahaya senter akan tembus ke kedalamannya hingga ke permukaannya yang lain. Saat itulah, Edy, saudara saya itu, mengaku melihat sesosok makhluk di dalamnya, yang tak lain dan tak bukan adalah seekor kumbang.

“Totol hijau pekat berpadu hijau kristal adalah motifnya. Indah, bukan?” tutur Edy.

Saya bagai tak percaya.

 
BAGAIMANA mungkin seekor kumbang bisa berada dalam sebongkah batu? Apakah ia terperangkap mati oleh entah sebab apa, lalu menjadi fosil, mengeras, berubah jadi batu? Jika benar begitu, sudah berapa abadkah?

“Tergeletak di antara bebatuan biasa, aku menemukannya dua hari yang lalu. Ini batu jauh berbeda,” tutur Edy dengan bangga.

Tapi anehnya, orang-orang di lepau ini sedikit pun tidak merasa takjub. Apa yang dibanggakannya itu justru beroleh tanggapan biasa-biasa saja.

“Paling-paling diminati pembeli hanya dengan harga dua puluh atau tiga puluh ribuan,” ujar Uwan.

“Ooo… Ini bukan Pucuk Pisang, Uwan.”

Orang kampung saya hidup dari upahan menambang emas. Lokasi tambangnya dekat Bukit Kandih di pedalaman. Tanahnya jauh dari subur. Maka, merantau adalah satu-satunya pilihan selain menambang emas. Saya lebih memilih untuk merantau, pergi jauh dari kampung halaman. Menambang bagi saya adalah semacam. Hidup berhari-hari di lokasi tambang, yang jaraknya tiga jam perjalanan dari kampung saya. Dingin pedalaman. Gigil perbukitan. Penyakit mematikan siap mengintai. Tidur di tenda seadanya. Seminggu kemudian pulang. Malam harinya, beberapa orang di antaranya duduk di lepau. Seperti saat sekarang.

Batu itu, kata Edy, diperoleh sepulang dari menambang emas. Ia temukan itu dekat Bukit Kandih. Saya jadi bertanya-tanya. Apakah batu berkumbang itu benar adanya? Atau jangan-jangan itu hanya batu Pucuk Pisang yang biasanya banyak ditemukan tak sengaja oleh penambang? Dinamakan Pucuk Pisang karena warnanya mirip hijau pucuk pisang. “Batu Pucuk Pisang itu,” ujar Edy, “hanya setengah kristal. Bila disenter maka tembus cahayanya tidaklah dalam. Akan tetapi, lihatlah ini….”

Edy meraih tas kecilnya. Membuka resleting dan meraih sesuatu. Begitu keluar, di tangannya sudah berada sebongkah batu. Ia pinjam senter pada pemilik lepau. Batu itu tampak sedikit berwarna hijau—sebelum disenter. Tidak terlalu menarik memang. Namun, ketika Edy menghidupkan senter dan cahayanya menembus menyebar ke kedalaman batu, maka hijau kristal sehijau-hijaunya tertangkap sorot mata saya.

“Ini bukan Pucuk Pisang,” begitu saja kata-kata itu terloncat dari mulut saya.

Saya tahu, Pucuk Pisang tidak seperti itu. Walaupun sudah lama sekali saya tak melihat Pucuk Pisang, tapi saya masih bisa mengenalinya. Dulu, sewaktu membantu Ayah menambang emas, Pucuk Pisang sering saya temukan dekat Bukit Kandih. Ya, batu-batu jenis itu banyak terdapat di sana. Seperti juga penambang lain, setiap pulang melewati kaki Bukit Kandih, saya akan mencari-cari Pucuk Pisang.

“Inilah dia,” kata Edy. “Perhatikan. Sungguh dalam tembus cahayanya.”

Edy lalu memindahkan senternya ke permukaan samping, dan cahaya itu juga menembus ke kedalaman batu. Dari permukaan atas tampaklah sosok makhluk itu oleh saya.

“Kumbang Jati,” tutur Edy.

Saya makin mendekatkan wajah, melihatnya. Totol-totol itu tertangkap mata saya. “Sungguh indah.” Tiba-tiba saya ingin memilikinya, membelinya, sehingga berkata, “Berapa?”

“Dua ratus ribu.”

“Mahal betul!” timpal Sarul dari ujung meja.

Saya gerakkan tangan ke arah Edy, hendak meminta agar saya langsung yang menyenternya. Edy mengerti, batu dan senter itu berpindah ke tangan saya. Senter saya hidupkan. Saya arahkan. Cahaya menembus menyebar, ke kedalaman batu. Hijau kristal. Seketika, sorot mata saya menangkap punggung kumbang yang bertotol hijau pekat berpadu hijau kristal itu. Ya, inilah dia, kumbang itu.

Saya melihatnya. Memperhatikan punggungnya dan…. Eh, benarkah itu kumbang? Totol-totol itu….

Tiba-tiba ada yang berkelebat di pikiran saya.

Kumbang itu. Kumbang itu, tampak bergerak di mata saya. Bergerak-gerak. Hidup dan ….

 
KUMBANG itu terbang.”

“Ke mana?” tanya Edy dalam suatu percakapan melalui telepon genggam beberapa bulan kemudian, setelah saya balik ke Kota Padang.

“Dari satu jari ke lain jari.”

Siang harinya, di sebuah koran lokal, Edy menemukan berita yang membuat matanya bagai terbelalak. Kumbang itu rupanya memang terbang. Terbang dari Gamawan Fauzi, ke Susilo Bambang Yudhoyono, lalu, lalu….

Ini yang membuat Edy sungguh terbelalak: kumbang itu kini hinggap di jari Barack Obama.(*)

Padang, 14 April 2015

  

Romi Zarman tinggal di Padang, Sumatera Barat.


Tiga Cerita Ringkas

Cerpen Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, 19 April 2015)

20150419

(Gambar oleh Munzir Fadly)

ARAK-ARAKAN

AKU mendapat tugas meliput upacara pengukuhan raja Kartasura yang baru saja ditetapkan oleh Dewan Wali Kerajaan setelah melewati proses penentuan yang bertele-tele sejak beberapa bulan sebelumnya. Pasalnya sederhana. Raja sepuh, yang wafat setahun sebelumnya, tidak pernah mengangkat permaisuri tetapi mempunyai sejumlah garwa ampil yang masing-masing merasa paling dikasihi oleh Raja yang sekarang insyaallah sudah berada di Sorga. Dewan terbagi dua, abdi dalem mengatakannya sebagai Sisi Merah dan Sisi Putih. Sisi Merah memegang keyakinan bahwa yang berhak menjadi Raja adalah putra Selir Sepuh, sedangkan Sisi Putih berpendapat bahwa calon itu tidak semestinya menjadi Raja sebab ingah-ingih karena “tidak makan sekolahan.” Yang dijagokan sisi itu adalah justru putra selir nomor sekian—mungkin lima atau enam—yang sarjana ekonomi dan memiliki akal menjalankan bisnis.

“Wong Raja kok bisnis,” kata abdi dalem yang pejah gesang ndherek putra Selir Sepuh. “Priayi saja haram kalau sudagaran, apalagi bisnis. Hihihi.” Perbantahan yang benar-benar menjalar sampai luar Kraton itu akhirnya menghasilkan keputusan yang bagi media lokal dianggap masuk akal, tetapi oleh media nasional dianggap agak kurang akal. Namun, apa pun hasilnya, keputusan itu menjadi berita halaman pertama semua media, menghasilkan ratusan acara diskusi di belasan televisi, dan sejenis ribut-ribut di kalangan dua pihak pendukung di dalam maupun di luar Kraton.

Pendukung Raja terpilih segera menyiapkan pesta kemenangan besar-besaran yang hanya dilaksanakan sekali dalam entah berapa puluh tahun. Acara yang paling dinanti-nantikan rakyat banyak adalah, tentu saja, arak-arakan. Ketika aku sampai di Kartasura bersama beberapa rekan dari media nasional dan internasional, ibu kota kerajaan itu sudah riuh-rendah oleh segala jenis hiasan—jalan, gang, alun-alun, pasar, rumah, toko—semua tidak luput dari hiasan. Segala jenis rakyat—dari yang jembel sampai yang kaya raya—ingin dengan tulus ikhlas menyambut Sang Raja. Tanpa kecuali mereka berjajar di sepanjang jalan yang akan dilalui arak-arakan agung itu. Semua tumpah-ruah di sepanjang jalan, tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah. Tidak ada seorang pun yang mau ketinggalan.

Aku membayangkan upacara yang mahameriah ketika sekitar jam 10 dari puluhan pengeras suara diumumkan bahwa Sang Raja akan segera lewat. Tidak terdengar gamelan, tidak terdengar suara kereta, tidak terdengar keletak-keletuk kaki kuda—hanya suara riuh-rendah di jalan yang dilewati arak-arakan. Aku menunggu. Menunggu di tengah-tengah suara ribut yang mengelu-elukan Raja, tetapi tidak tampak seorang pun di jalan. Setelah beberapa puluh menit menunggu akhirnya yang kami tunggu tampak dari kejauhan. Sosok seorang laki-laki dengan mahkota, mengenakan pakaian kerajaan yang gemerlapan lengkap dengan keris dan selempang tanda jasa, muncul sangat pelahan di depan kami. Ia sendirian saja.

Sorak-sorai tak bisa dibayangkan kerasnya. Sang Raja dengan susah payah menarik kereta kerajaan tanpa kuda, sesekali menoleh ke kerumunan rakyatnya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan aku laporkan nanti kepada pembaca koranku, dan karenanya bertanya tentang arak-arakan itu kepada salah seorang pemuda gondrong berpeci yang sejak tadi sangat bersemangat bersorak-sorak dan membungkukkan tubuh ketika Raja persis berada di depannya.

“Tidak ada seorang pun warga yang mau membuang kesempatan mengelu-elukan Raja, Mas,” katanya bersemangat. “Semua orang lebih suka berjajar di jalan menyaksikan arak-arakan dari pada ikut berbaris, tidak terkecuali abdi dalem dan keluarga Kraton.”

Sebelum sempat aku melanjutkan pertanyaan, pemuda itu berkata, “Lihat, Mas, kereta itu tidak ditarik kuda sebab bahkan binatang juga ingin menyaksikan Arak-arakan Pengukuhan Raja. Kami semua bangga dan berbahagia bisa menyaksikan Raja melintas di depan kami.”

 
ARAK-ARAKAN KERTAS

JALAN di depan rumahku yang biasanya tidak pernah tidur malam ini berbaik hati menawarkan kebahagiaan padaku: sepi saja. Pohon kenanga yang kami tanam sejak menghuni rumah itu 25 tahun yang lalu tampaknya ikut menyumbangkan suasana sepi yang bagi yang suka curiga bisa menumbuhkan rasa nyeri. Aku selama ini bertahan untuk tidak ikut kelompok yang seperti itu meskipun malam-malam baunya sering membuatku terbangun.

Jalan di depan rumahku tampak bergelombang oleh bunyi sunyi. Aku senang mendengarnya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul dari arah timur anak-anak—tiga, lima, sembilan, beberapa puluh jumlahnya lewat tanpa suara. Kusaksikan ada yang menunduk, ada yang seperti menari-nari, ada yang lari-lari kecil bolak-balik ke depan ke belakang, ada beberapa yang seperti bermain “ular naga panjangnya”, ada juga yang tampak sibuk membetulkan letak kaca matanya. Anak-anak itu semua terbuat dari kertas.

Terdengar suara cicak di langit-langit beranda, melahap laron yang tersesat oleh cahaya lampu. “Jangan bersahabat dengan cicak, Pak,” kata istriku selalu, “kotor dan suka berak di mana-mana.” Tapi aku suka jatuh cinta pada cicak terutama kalau malam-malam bangun mulut kering cari minum di meja makan yang masih berantakan sisa makan malam. Yang kulitnya hitam suka melotot seperti mengajakku berselisih tentang sisa makanan yang di meja.

“Habiskan saja kalau kau mau,” kataku. “Asal jangan menjatuhkan sendok nanti ada yang bangun dan marah-marah. Aku yang jadi korban, tau?”

Senang juga punya pikiran yang sering nyeleweng ke mana-mana—tetapi malam ini anak-anak itu menguasai benakku. Benar-benar kertas mereka itu, sepi menyebabkan suara kresek-kresek tubuh mereka kedengaran meskipun lirih sekali. Panjang sekali barisan anak-anak yang terbuat dari kertas itu. Aku mencoba mengingat-ingat kapan pernah bertemu mereka, atau oleh siapa pernah diberi tahu tentang mereka itu. Pada saat aku memusatkan pikiran itulah mereka berhenti persis di depan rumahku: ujung barisan itu entah sudah sampai di mana dan pangkalnya entah masih di mana. Mereka berhenti dan masuk lewat celah-celah jeruji lalu duduk atau berdiri mengepungku dan serempak mengucapkan selamat malam dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tanpa suara sama sekali.

Aku perhatikan satu demi satu sebisanya. Ada yang jelas-jelas kertas koran bekas, ada yang bungkus rokok, ada yang kucel seperti karbon, ada yang glosi dan agak tebal, ada yang warnanya putih, ada yang jingga—mereka semua itu anak-anak, mereka itu semua terbuat dari kertas. Aku sangat senang akhirnya ada juga yang menghangatkan hawa di sekitarku. Tampaknya mereka ingin menyampaikan sesuatu padaku—tepatnya: mungkin ingin wawancara kenapa aku malam ini duduk di teras bersama seekor cicak yang masih bergerak ke sana-sini di sekitar lampu padahal pada tanggal ini beberapa puluh tahun yang lalu aku lahir.

Ternyata aku keliru. Mereka tidak berniat menanyakan apa pun tetapi mengajakku keluar rumah bergabung dengan mereka. Mereka semua tampaknya anak baik-baik, meskipun tidak mengeluarkan suara apa pun aku paham apa yang mereka inginkan. Tanpa bertanya kenapa dan berkilah aku ikuti mereka keluar pekarangan berjalan ke arah barat sepanjang lorong yang rasa-rasanya aku pernah mengenalnya. Aku ikuti dengan tertib arak-arakan itu dan dengan tanpa terasa sedikit demi sedikit seluruh tubuhku berubah menjadi kertas.

 
MENGHARDIK GERIMIS

PEREMPUAN cantik itu sama sekali tidak suka kalau suaminya menghardik gerimis. Lelaki itu suka hujan, bahkan bisa dikatakan mencintai hujan, tetapi menghadapi gerimis ia sama sekali tidak pernah bisa menahan kemarahan. Sudah berulang kali istrinya mengingatkan perangai buruk itu, tetapi lakinya sama sekali tidak menggubris.

“Biar masuk neraka jahanam gerimis itu!” ujarnya setiap kali mendengar suara rintik-rintik di pohonan dan genting. Gerimis lembut sekali suaranya, seperti bernyanyi kalau jatuh di daunan pekarangan rumah. Kalau diperhatikan benar-benar, rintiknya tampak seperti layar transparan menutupi cahaya pagi yang terpaksa menunda niatnya untuk untuk menyentuh mahkota pohonan.

Perempuan cantik yang sedang mengandung tujuh bulan itu terus berusaha memahami tingkah suaminya yang baru saja menjalani operasi patah tulang gara-gara terpeleset lantai beranda yang basah oleh gerimis. Sekarang sudah bisa jalan, pakai tongkat. Sudah bisa kerja lagi, bisa nyopir. Bisa tugas ke luar kota. Namun, dendamnya pada gerimis tak juga reda.

“Kalau hujan sekalian tidak apa-apa, aku suka,” katanya kepada istrinya selalu. “Tetapi gerimis selalu jatuh pelan-pelan, diam-diam, tidak memberi tahu, dan dengan licik membasahi lantai,” katanya melanjutkan. “Aku mencintai hujan sebab kalau jatuh bilang terus terang dan jelas suaranya, tidak membiarkan aku terpeleset.”

Hari ini lelaki itu membuka pintu depan yang memisahkan ruang tamu dan beranda depan, menyaksikan gerimis dan menghardiknya. Perempuan cantik itu berpikir, jangan-jangan nanti anaknya akan mirip gerimis yang dibenci suaminya. Ia tiba-tiba merasa sangat berbahagia membayangkan anak yang akan lahir—“moga-moga perempuan,” katanya dalam hati—nanti akan berperangai lembut dan berwatak santun seperti gerimis.

Ketika suaminya sudah berangkat kerja, gerimis segera reda. Perempuan cantik itu melangkah keluar rumah dan tampak olehnya ada setetes air sisa gerimis yang tersangkut di ujung rumput, yang ingin sekali cepat-cepat menguap melesat ke langit atau jatuh ke tanah dan diserap akar pohon mangga.

“Moga-moga anakku nanti sebening tetes air itu,” katanya hampir tak kedengaran, bahkan oleh dirinya sendiri.(*)

  

Sapardi Djoko Damono tinggal di Jakarta. Tiga kisah pendek di atas adalah bagian dari bukunya Arak-arakan Kertas yang akan terbit Juni mendatang.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 515 pengikut lainnya.