Hari Eksekusi

Cerpen Deddy Arsya (Koran Tempo, 22 Maret 2015)

20150322

(Gambar oleh Munzir Fadly)

DUA orang prajurit membawa saya ke sebuah tiang panjang di tengah lapangan luas di dalam loji. Tangan dan kaki saya diikat rantai besi yang saling terhubung dengan gelang-gelang dari baja. Kepala saya sebentar lagi akan ditutup kain hitam.

Tidak seorang pun dari pengikut saya yang terlibat dalam kerusuhan diperlakukan seperti ini. Rata-rata mereka mati ditembak atau digantung di mana-mana secara hina sesuai keadaan dalam perang. Sementara kematian saya akan dihormati dengan sebuah upacara: kata sambutan dari pejabat kompeni yang dihadiri dengan khidmat oleh beberapa penghulu dari daratan yang jauh-jauh datang ke muara untuk menyaksikan saya mati.

Saya masih bisa membayangkan bagaimana kami membakar beberapa bangunan dalam loji. Api menyala dan nyalanya semakin berkobar ditiup angin kencang dari arah pantai. Setelah peristiwa itu, kami kemudian diburu selama berminggu-minggu; pasukan tambahan didatangkan dari ibu kota residensi.

Dan kini, saya masih bisa menyaksikan hasil keberanian kami itu: bangunan-bangunan yang kami bakar itu tinggal puing-puing, sebagian lain nyaris hanya menyisakan tanda hitam pada tanah.

Saya tidak pernah menyesal jika akhirnya kami kalah. Saya juga tidak pernah menyesal jika akhirnya saya akan ditembak. Saya hanya menyayangkan tidak bisa menyaksikan bunga api yang keluar dari moncong senjata-senjata pengeksekusi yang kelak akan membunuh saya itu karena mata saya harus ditutup kain hitam.

Di sisi lain, sesungguhnya saya juga masih berharap mati tidak dengan cara seperti yang akan terjadi sebentar lagi. Seandainya saya bisa menawarkan cara saya mati kepada mereka, saya lebih memilih mati dengan kepala dan badan terpisah.

Detik-detik saat kain hitam disorongkan ke kepala saya adalah saat-saat saya menyadari kalau saya betul-betul akan ditembak, tidak dipancung seperti saya inginkan. Pada detik-detik itu pula saya menyadari, ternyata saya tidak sedang sendirian di tanah lapang itu.

Dua orang prajurit kompeni lainnya masuk ke lapangan yang sama sambil menggotong seorang laki-laki.

Saya melihat tubuh Ayah saya yang tua dan ringkih digotong. Kedua kaki dan tangannya dirantai seperti saya. Dan sebentar lagi tubuhnya tentu juga akan berlubang-lubang dihantam peluru.

Ayah berjalan melewati saya, menuju ke tiang kayu yang barangkali juga disediakan untuknya. Sesaat Ayah melihat ke saya dan tersenyum. Saya membalas senyum tipis Ayah dan merasa kami akan baik-baik saja setelah ini. Kami akan menuju tempat yang lebih baik, dilahirkan kembali, dan menjadi orang-orang yang lebih terhormat di kemudian hari.

Tapi saya masih juga berharap bahwa saya (dan juga Ayah saya) akan mati dengan kepala terpenggal. Tidak mati ditembak. Dan yang tampak dari sisa tebasan di leher kami itu kelak adalah warna putih tulang-tulang rawan belaka, bukan lubang-lubang peluru yang menganga pada badan, yang mengucurkan darah.

 
ROMBONGAN pemain debus dari pantai timur datang ke dusun kami nun jauh di masa lalu. Mereka menampilkan sebuah pertunjukan yang sama sekali baru bagi dusun kami.

Dalam pertunjukan itu saya melihat salah seorang pemain terluka. Lukanya besar ternganga. Darah dari luka itu berceceran ke tanah. Namun seketika luka itu direkatkan, seolah tidak pernah ada, begitu si pemimpin rombongan mengusapnya.

Pemimpin rombongan itu mereka sebut kulafah—nama yang asing bagi kami. Sebagaimana nama permainan itu sendiri yang juga asing: debus.

Rombongan dari timur itu mementaskan pertunjukan debus pada sebuah acara panen raya jauh sebelum orang-orang kulit putih itu datang dan membakar habis dusun kami. Ketika itu kehidupan dusun masih makmur dan sentosa. Hasil panen melimpah ruah. Dan perdagangan ke timur ramai dilakukan para lelaki dusun.

Acara panen raya itu dimeriahkan acara-acara kesenian: kampung kami mengundang kelompok pemain debus, yang di kota pesisir timur begitu terkenal. Rombongan itu datang membawa tambur-tambur mereka yang besar, gong, dan rabab yang berimpit-impitan di atas kuda-kuda beban yang kepayahan.

Saya menyaksikan mereka dengan mata kanak-kanak yang takjub. Ayah saya bercerita di hari lain setelah seluruh rombongan pemain debus itu meninggalkan dusun kami, bahwa ia pernah merasakan kemeriahan kehidupan di kota-kota pesisir timur.

Itu dulu, ketika Ayah saya mengumpulkan lelaki-lelaki dusun yang kuat-kuat dan pemberani, membentuk karavan dan melakukan perdagangan ke pantai timur. Oleh sebab itulah barangkali ketika rombongan pemain debus itu datang ke dusun kami, saya masih ingat, Ayah tampak begitu cepat akrab dengan mereka, serta menyediakan rumah gadang kaum kami sebagai tempat menginap rombongan itu.

Penduduk laki-laki menyembelih seekor kerbau. Perempuan-perempuan mencari cempedak hutan dan menggulainya. Mereka menghidupkan tungku di tengah kampung dan mulai memasak untuk menjamu para tamu.

Ayah saya, kepala kampung, tentu akan mengerti: panen raya yang berlimpah, hasil hutan yang bisa dijual mahal ke pelabuhan di timur, hidup mudah dan tercukupi—semua itu adalah hasil dari kerja keras. Tetapi mereka juga percaya bahwa roh-roh peneruka terdahulu telah membuka kampung untuk mereka kini, membantu menebas hutan dan membuka belukar raya. Roh-roh itu telah turut serta membisiki mereka dengan nujum-nujum untuk membangun sejarah mereka sendiri lewat berbagai pengetahuan bercocok tanam, menatap kampung, membuat peralatan bertani dan menangkap ikan, membaca sudut bintang dan besar bulan sebagai pertanda untuk memulai musim tanam.

Untuk itulah para peneruka terdahulu itu harus dikirimi doa, dihormati dan disenangkan di alam atas sana. Itulah kenapa kepala kerbau yang telah disembelih itu ditempatkan di tempat yang tinggi, ditaburi bunga-bunga tujuh rupa yang harum, diasapi kemenyan selama acara panen raya berlangsung. Semua itu penghormatan bagi nenek-moyang kami.

Pada suatu hari di panen raya itu, saya ikut mendengarkan ayah berbicara tentang pertunjukan debus itu dengan si kulafah. Ingatan kanak-kanak saya tak bisa mencerna begitu banyak persoalan yang mereka bicarakan ketika itu. Tetapi puluhan tahun kemudian saya bisa menyimpulkan dengan ragu-ragu bahwa apa yang mereka bicarakan merupakan ajaran baru yang dibawa rombongan pemain debus itu dari pantai timur sana. Ajaran baru, agama baru.

“Karena yang merasakan sakit hanyalah roh. Karena senjata-senjata itu hanya melukai tubuh, tidak melukai roh. Roh telah menyatu dengan pemiliknya,” kata kepala rombongan itu kepada Ayah.

 
SAYA masih mengingat banyak hal dari masa kanak-kanak saya. Tapi kini, di usia yang sependek ini, saya telah mengalami berbagai perubahan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya dalam hidup saya.

Saya ikut dalam rombongan peneruka ketika usia saya masih kanak-kanak dan merasakan bagaimana dusun kami lahir dan berkembang; saya bertemu rombongan pemain debus yang membawa ajaran baru. Ketika dewasa, saya bersua orang-orang kulit putih di pantai barat dan ajaran yang mereka bawa, ajaran yang berbeda dengan ajaran yang diperkenalkan pemain-pemain debus dari pantai timur itu; saya begitu takjub pada kapal-kapal mereka yang besar dengan meriam yang berjejer pada lambungnya. Dan pada akhirnya saya memimpin ratusan pemuda dusun yang kuat-kuat dan pemberani untuk berperang dengan orang-orang kulit putih itu.

Saya hidup dalam kaum yang menghormati keluarga kami sebagai keturunan cenayang yang menyeberangi hutan-hutan untuk mencari hidup dalam kedamaian dan kemakmuran bagi semua orang. Kakek saya, Ayah saya, lalu kini saya: kami mewarisi kepandaian menghubungkan antara alam nyata dengan alam roh. Agama yang dibawa pemain debus itu tidak bisa melenyapkan kepercayaan nenek-moyang kami. Tapi sebentar lagi, semua itu akan berakhir di tangan tentara-tentara kulit putih. Saya merasa terhormat sekaligus sakit. Saya merasa bangga pada diri saya sendiri sekaligus terluka dan putus asa.

Saya tak pernah membayangkan akan mati bersama Ayah di hadapan bedil prajurit-prajurit itu.

Tetapi saya memang pernah bermimpi. Saya melihat tubuh saya digotong serdadu-serdadu dalam mimpi itu. Kepala saya remuk. Sekujur tubuh saya tidak dikenali. Dan tambur-tambur dimainkan. Akordeon-akordeon dimainkan. Sukacita dinyanyikan. Dan Ayah menangis di tengah-tengah suka-cita itu.

Saya mengingat lagi mimpi itu tepat ketika tubuh saya benar-benar digotong paksa prajurit-prajurit itu ke tiang eksekusi. Saya merasa mimpi saya telah menjadi nyata. Kedua tangan saya telah diikat dengan rantai. Kini, kedua kaki saya juga telah dipasung balok hitam yang berat. Hujan turun lebat dan saya tak lagi melihat matahari.

Saya digotong lewat koridor-koridor loji yang panjang. Pemimpin pasukan yang dengan gagah dan berani menyerbu loji ini tiga minggu yang lalu, kini harus mati. Saya masih mendengar deburan ombak mengempas dinding kapal, pantai, atau pangkalan pelabuhan di antara lesap angin badai. Saya masih menyaksikan diri saya tengah berteriak-teriak memekik di tengah pasukan kami. Di atas kuda, saya pasti tampak begitu gagah. Tetapi kini….

Saya masih membayangkan masa ketika Ayah membawa saya melihat rombongan pemain debus ketika umur saya masih tujuh tahun. Bayangan itu seketika lenyap ketika letusan senjata terdengar beruntun bagai bunyi tambur yang ditabuh berulang-ulang oleh seorang pemain debus. Telinga saya berdenging, seperti ada jutaan lebah terbang mengerubungi saya. Hingga letusan terdengar dari moncong senapan pengeksekusi itu, saya hanya bisa mengingat keinginan masa kanak-kanak saya: ketika saya terpesona sekaligus cemas pada kekuatan gaib para pemain debus pada pesta panen raya itu, yang mampu menghapus sepenuhnya luka-luka pada raga mereka.

Sampai detik ini, ketika saya ditembak, saya sesungguhnya masih berharap akan bisa mengeluarkan peluru-peluru itu dari tubuh saya dan menghapus nganga luka saya secara ajaib dengan sapuan telapak tangan.(*)

 
Padang, 2014-02-27

  

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Kumpulan puisinya adalah Odong-odong Fort de Kock (2013).


Untuk Sebuah Roman Picisan

Cerpen Mona Sylviana (Koran Tempo, 8 Maret 2015)

20150308

(Gambar oleh Munzir Fadly)

UNTUK menjadi seorang tokoh di sebuah roman picisan, perempuan itu harus mengenakan kardigan dan membawa jaket. Maka, perempuan itu mengambil kardigan dari rak lemari paling bawah. Ketika rajutan kuning kenari itu ditarik dari tumpukan terbawah, meruap aroma kapur barus usang. Perempuan itu mematikan lampu kamar. Dengan rembesan cahaya lampu dari ruang tengah, ia memandang tubuhnya di cermin lemari.

Perempuan itu mematut-matut diri. Setelah mengikat rambutnya, ia mengaitkan seluruh kancing kardigannya. Lalu memandang lagi ke cermin. Kemudian ia memutuskan untuk membiarkan kancing kardigan terbuka dan membiarkan rambutnya tergerai. Ia sangat mungkin akan lebih lama begitu kalau saja alarm dari telepon genggamnya tidak mengingatkan. Perempuan itu mengunci pintu sambil menekan-nekan tas yang menggantung di bahu. Jaket coklat tebal hampir memenuhi isi tasnya. Ruang lain dalam tas hanya bersisa untuk menyelipkan dompet, telepon genggam, dan sebuah buku kumpulan cerita pendek.

Untuk sementara saya menamainya Dara. Ia akan memakai celana kulot hitam, kaos lengan panjang hitam, dan kardigan. Sebenarnya paduan warna hitam tidak terlalu pas untuk Dara. Tubuh perempuan itu kurus hingga kepekatan hitam akan membuatnya semakin tenggelam. Tapi saya belum menemukan padanan lain yang mungkin lebih pas untuknya. Jadi, sementara, biarlah Dara dengan padanan celana kulot dan kaos lengan panjang hitam.

Kardigan saya pilihkan untuk membuat Dara merasa mudah dikenali. Hanya saja, saya bayangkan saat itu masih musim penghujan. Udara malam tentu dingin. Dara membutuhkan lebih dari sekadar kardigan. Saya membekalinya dengan jaket coklat berbahan kanvas. Tidak terlalu mencolok dan bisa menepis angin.

 
KINI perempuan itu turun dari taksi. Sehabis hujan seharian, jalan raya di pusat kota itu sepi. Satu dua motor melintas. Mobil-mobil juga tampak tidak tergesa. Ada genangan air di sisi jalan. Ada pantulan bulan di dalamnya.

Dara merapatkan kardigan. Udara memang lebih tajam dari biasa. Hujan yang baru berhenti menjelang malam, membuat aliran angin menancapi tiap lubang pori-pori. Perempuan itu memilih duduk di kursi dekat gerobak, di sisi paling kiri. Kursi kayu panjang itu lembab.

“Setengah saja, Pak. Jangan pakai telur.”

Penjual bubur itu mengangguk.

Dara mengeluarkan isi tas. Jaket ia kenakan. Layar telepon genggamnya yang gelap tanpa kedipan diletakkannya di atas meja. Buku bersampul tubuh perempuan telanjang yang membuatnya jengah, segera ia simpan lagi di dasar tas. Dara tak mengerti mengapa ia harus membawa buku itu ke mana pergi, terutama malam itu, ketika ia makan bubur ayam di pinggir jalan. Lampu neon di muka gerobak dan lampu-lampu merkuri di pinggiran jalan tidak cukup terang untuk bisa membaca buku.

Bangku-bangku kayu masih kosong. Sebagian masih berembun. Penjual minuman, tidak jauh dari gerobak bubur, tampak menyiapkan dagangannya. Bungkus kopi, susu, dan jahe instan dikeluarkan dari dalam dus. Dijajarkan di tali plastik yang diikat melintasi trotoar. Baru saja laki-laki tua penjual bubur membersihkan cairan putih yang melelehi pinggir mangkuk, tiga laki-laki mendekat. Mereka duduk di meja seberang Dara. Seorang dari mereka mengeluarkan bungkus rokok dan mulai membakar sebatang.

“Biasa?” tanya penjual bubur kepada mereka bertiga sambil meletakkan mangkuk bubur di hadapan Dara.

Seorang dari mereka mengangguk, sementara dua yang lain asyik dengan telepon dalam genggaman. Seseorang yang mengangguk tadi melirik Dara.

Perempuan itu menunduk. Yang menguar dari dalam mangkuk menguapi puncak hidungnya. Dara menyendok bubur. Ia merasa mata seseorang itu lama menusukkan lirikan, menelanjanginya. Mata Dara sepenuhnya lekat dalam mangkuk bubur.

Sebelum tukang bubur selesai meracik tiga mangkuk pesanan, enam laki-laki dan perempuan belia datang. Mereka memenuhi meja paling dekat pinggiran jalan. Suara mereka seperti kumpulan angsa di pinggir kolam. Dara membuka kunci layar telepon genggam. Layar seketika terang. Dara mengunci layar telepon genggam. Layar kembali gelap. Berulang perempuan itu melakukan hal yang sama.

Karena kealpaan seorang penulis, seorang tokoh di sebuah roman picisan, hanya bisa menatap layar telepon genggam, mengaduk-aduk isi mangkuk, atau memperhatikan sekumpulan laron. Gerombolan hewan kecil itu mengerubuti lampu merkuri. Genangan air di pinggir jalan kehilangan bulan, tertutup helaian sayap. Seekor laron menghampiri wadah plastik sambel. Dia menabrak-nabrakkan tubuhnya. Dara mengibaskan tangan. Sayap laron lepas.

Kalau saja Dara tidak mendengar decit ban, matanya masih menghitung urat di sayap laron yang tertempel di lembap meja. Sebuah taksi berhenti. Dara menengok. Napasnya tertahan. Dari pintu mobil putih susu sepasang laki-laki dan perempuan turun. Pasangan itu kelihatannya baru bertemu malam. Tubuh mereka menyengat parfum yang baru disemprot.

Dara mengembuskan napas. Udara panas menjalari hidung hingga tengkuknya. Ia membuka satu kancing jaket. Jantungnya serasa kembali memompa. Dara menunduk. Telapak tangannya yang dingin mengaduk-aduk sendok ke dasar mangkuk. Kacang kedelai dan kerupuk lepek ia sisihkan. Dara menyuap perlahan. Suwiran ayam belum disentuhnya. Perempuan itu masih bisa menunggu sekitar 15 menit lagi sebelum buburnya habis.

Dara ingat laki-laki dari ujung telepon dua hari lalu, “Saya merindukanmu.”

“Ya.”

“Kenapa hanya ya? Kamu tidak ingin ketemu?”

“Saya mau.”

“Kita jadi ketemu kan?”

“Ya.”

“Saya akan tunggu kamu….”

“Kamu akan datang?”

“Ya. Saya akan datang. Pasti datang.”

“Baiklah. Saya usahakan juga datang….”

“Kok diusahakan?”

“Maksudnya?”

“Setelah sekian lama, kamu hanya akan mengusahakan? Tidak mau memastikan atau memaksakan?”

Dara menahan senyumnya tidak lepas jadi tawa, “Iya. Iya. Saya datang. Tapi….”

“Tapi apa?”

“Kalau saya tidak mengenalimu, bagaimana?”

Dara mendengar tawa laki-laki yang serenyah kue kering, “Saya pasti mengenalimu. Kamu datang saja duluan. Nanti saya antarkan teh hangatmu dan akan bilang, hai Dara….”

“Saya akan pakai kardigan kuning.”

Sebuah mobil jalan melambat. Dara tersentak. Lehernya tegak. Seorang perempuan berbibir merah semangka turun. Ujung lancip sepatunya nyelip di trotoar. Perempuan berkardigan kuning itu duduk persis di seberang Dara. Merah semangka pas dengan kaos ketat hitam yang dikenakannya. Perempuan itu seperti teratai merekah di tengah kolam. Dara memandangnya lama sekali.

“Ada apa ya?” tanya perempuan itu.

“Oh, eh, maaf. Tidak.”

Dara menggigit ujung sendok. Jari tangannya membuka lengan jaket. Jarum jam sudah menjauh dari angka 10. Tiga laki-laki di seberang meja sudah menghabiskan bubur mereka. Suara sendawa keras keluar dari mulut seseorang dari mereka. Sekumpulan angsa masih terus dalam keriuhan. Kadang kilatan dari telepon genggam mereka menyala. Mereka belum menyentuh bubur yang berderet di meja. Di mangkuk Dara, bubur tinggal satu suap. Penghabisan.

Dara menghabiskan teh yang sudah tidak hangat lagi.

Perempuan itu menghampiri tukang bubur dan mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Dara memasukkan uang kembalian ke dalam saku jaket.

Sebelum menyeberang ia selintas mengarahkan mata ke ujung jalan, ke arah lampu lintas yang tengah menyala merah. Hanya ada empat mobil menunggu lampu berubah warna. Selebihnya kabut bergumul dengan asap knalpot. Dara masuk ke dalam taksi di baris terdepan. Ia menutup pintu taksi dan menyebutkan alamat. Mesin taksi berderum.

Dari balik kaca jendela mobil Dara memandang awan yang kembali menebal.

Awan bergerak menghalangi kilau bulan jatuh ke muka jalan. Awan yang, mungkin, sama yang sedang dipandangi Jaka. Dari balik tirai jendela, dari satu tempat yang jauh, Jaka menutupi gerak awan menutup muka bulan.

 
PERISTIWA dalam sebuah kisah menjadi relevan ketika si tokoh terlibat di dalamnya. Begitu kata Tony McKibbin ketika membahas cerita-cerita dalam Laughable Loves, kumpulan cerita pendek Milan Kundera. Tapi dalam sebuah cerita pendek dalam Smesne lasky (1969) yang, entah kenapa, tidak ada di Laughable Loves, terjemahan bahasa Inggrisnya (baik yang edisi 1974 maupun edisi 1999), seorang tokoh perempuan berada dalam peristiwa yang tak memungkinkan ia terlibat di dalamnya.

Tokoh perempuan tak bernama itu berada di situasi yang janggal, yaitu perdebatan para eksil Cekolsovakia di sebuah kafe di Paris setelah Peristiwa Musim Semi Praha. Entah apa yang terjadi dengan metabolisme tubuhnya, tokoh perempuan yang juga bagian dari kaum eksil itu begitu ingin agar bibirnya dicium seseorang. Keinginan yang demikian tak tertahankan. Padahal tidak ada sosok seorang pun yang ia bayangkan mencium bibirnya.

Satu-satunya persentuhan tokoh perempuan tak bernama itu dengan peristiwa ialah ketika ia memesan kopi. Sejak ia berada di tengah perdebatan itu, sudah beberapa botol anggur kosong memenuhi meja. Ia merasa harus menghentikan pengaruh anggur dengan kopi pekat dan pahit. Ia mengira anggurlah yang membuatnya hanya memperhatikan setiap bibir yang bicara. Perempuan itu tidak pernah menyimak perdebatan itu. Ia hanya terpaku di gerak bibir-bibir yang mengalirkan kata-kata. Tubuhnya bergetar dan tangannya berkeringat setiap kali matanya melihat bibir yang bergerak. Seperti ada pusaran kuat menenggelamkannya dalam fantasi seksual.

Karena diceritakan dari sudut pandang orang ketiga yang terbatas, ujaran-ujaran dalam percakapan dalam cerita pendek itu tidak saling terkait. Perkembangan psikologinya akibat rangsangan tubuhnya yang abnormal tidak terhubung dengan peristiwa cerita. Bagaikan sepasang rel panjang kereta api, ada bersama tapi tidak saling menyentuh.

Saya membayangkan Dara terdampar pada situasi yang kurang lebih sama dengan tokoh perempuan tidak bernama dalam cerita pendek itu.

Untuk kisah yang sedang saya kerjakan, Dara setuju bertemu dengan lelaki yang meneleponnya di satu tempat yang ternyata tak sesuai dengan dengan kondisi batinnya. Tempat yang tidak memungkinkan seseorang asyik masyuk sendiri. Kalau saja saya membekali Dara dengan earphone, ia punya alasan yang masuk-akal untuk tidak terlibat atau tidak mempedulikan tempat atau peristiwa susulan yang berlangsung dalam kisah.

Sebenarnya ada alternatif lain. Tokoh Dara mengalami perkembangan. Ia mengembangkan daya untuk terlibat dalam peristiwa, misalnya dengan menelepon laki-laki yang ditunggunya. Atau ia membaca buku yang ada dalam tasnya. Singkatnya, ia bisa berimprovisasi. Setidaknya ia tahu bahwa situasi yang dialaminya bukan situasi yang tidak bisa diatasi.

Dan karena karakter Dara tidak berkembang, saya belum tahu cara menutup hubungan mereka. Saya belum menemukan cara bagaimana membuat kedua tokoh saya, Jaka dan Dara, mencapai akhir yang bahagia. Karena begitulah seharusnya kisah percintaan. Akhir yang bahagia….

Dan karena itu pulalah, roman picisan ini harus dimulai lagi.

Ketika taksi yang baru saja ditumpangi Dara hilang di tikungan, awan bergerak. Pada saat yang sama, perempuan berbibir merah semangka itu mengeluarkan jaket dari dalam tas. Jemari yang berhias kuku warna biru menyala itu memasukkan telepon genggam.

Sambil menyendok bubur, Dara mulai membuka lembaran halaman sebuah buku cerita pendek.(*)

  

Mona Sylviana tinggal di Jatinangor, Sumedang. Kumpulan cerita pendeknya, Wajah Terakhir (2011).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 117 pengikut lainnya.