Cinta dan Sampah

Cerpen David Albahari (Koran Tempo, 12 April 2015)

20150412

(Gambar oleh Munzir Fadly)

KETIKA Magda berkata kepadaku bahwa hubungan kami telah berakhir, aku tidak berpikir tentang sampah. Dia berkata begitu dengan tiba-tiba, amat lancar, saat kami makan malam dan seharusnya merayakan ulang tahun kebersamaan kami yang kelima sejak awal berpacaran.

Aku baru saja berdiri, mengangkat gelas, dan menyatakan hendak bersulang, saat dia memotong, “Turunkan gelas dan tutup mulutmu—aku punya hal penting yang mau kukatakan kepadamu.”

Suaranya sekonyong-konyong jadi terdengar dingin sehingga aku merasa kupingku membeku. Aku duduk, menaruh gelas, dan menatap Magda. Tak bisa kuterka apa yang bakal dikatakannya. Seulas senyum masih saja bermain di bibirku. Magda menggeser letak botol anggur, bubuk garam, asbak, vas bunga—pokoknya segala yang terletak di antara kami—lalu berkata, “Kurasa sebaiknya kamu berhenti cengengesan.”

Suaranya begitu dingin sehingga aku tahu aku tak punya pilihan lain. Dengan jemariku kuusap bibirku yang membeku dan terus menatapnya. “Ini tak akan lama,” ucapnya lalu melanjutkan berbicara selama lebih dari dua puluh menit.

Dia mengatakan hal-hal yang biasa diucapkan orang dalam situasi semacam itu: bahwa kami pernah berbahagia bersama, sungguh luar biasa kami pernah punya kesempatan untuk lebih saling mengenal, ada saat-saat yang akan dia kenang selamanya, betapa memalukan kami sampai harus berpisah, tapi hidup ini punya aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi.

“Pendeknya,” dia bilang, “ini akhir hubungan kita dan kini aku harus pergi.” Dia kembali memindahkan asbak sehingga berada di antara kami, mematikan rokoknya di asbak, dan beranjak pergi.

Pramusaji menghampiri meja setelahnya dan bertanya kepadaku apakah aku mau memesan sesuatu untuk hidangan penutup. “Kenapa tidak,” ujarku dan memesan crepes isi cokelat. Pramusaji itu mengangguk, mengosongkan asbak lalu menaruhnya di dekatku. Tak ada orang lain sama sekali di seberang meja. Saat itulah, tepatnya, gagasan tentang sampah melintas di benakku.

Itu semua bermula kala aku meminta pakaian dalam yang dia pakai pada malam ketika kami bercinta untuk kali pertama. Sebenarnya, malam itu dia tidak mengenakan pakaian dalam. Sebab, saat melakukan percumbuan awal, kami melepas seluruh pakaian kami. Setelahnya, saat dia hendak berpakaian, kuraih celana dalam dan kutangnya seraya berkata, “Tinggalkan ini di sini.” Magda memprotes, beralasan dia tak sanggup berjalan di tengah kota tanpa pakaian dalam. Namun, akhirnya dia menyerah. “Mau kamu apakan pakaian dalam itu?” Kukatakan kepadanya hal pertama yang melintas di benakku, “Ini awal mula museum cinta kita.”

Demikianlah kisahnya bagaimana aku menjadi kurator museum cinta kami dan terus memantau hubungan Magda dan diriku. Setiap potongan kertas, tisu, tiket bioskop, kartupos, label pakaian, stoking robek, kantong teh celup kamomil bekas, pena yang sudah habis tintanya, bekas bungkus pasta gigi, resep kue cokelat yang buruk fotokopiannya, baju renang yang dia pakai saat kami berlibur di Yunani, guntingan foto-foto, selimut dari pesawat, kaleng-kaleng kosong—kubawa semuanya ke apartemenku dan kusimpan di dalam kotak-kotak penyimpanan serta album foto.

Aku membingkai dan menata semua itu di atas rak-rak. Aku bahkan punya herbarium tempat mengawetkan bunga-bunga dan dedaunan dari tumbuhan miliknya dan dari buket yang dia terima dalam berbagai peristiwa. Di sebuah kotak, aku bahkan memelihara rayap-rayap yang harus kutangkap dengan amat susah-payah. Kusimpan mereka karena dia memiliki fobia terhadap binatang-binatang itu. Dalam berbagai buku dan fail, kusimpan catatan dan rekam data yang amat rinci tentang semua benda itu: selain deskripsi tentang setiap benda, kucatat juga di mana dan bagaimana hingga benda-benda itu menjadi bagian museum kami, serta di mana tepatnya letak benda-benda tersebut di apartemenku.

Hal terakhir itu sungguh amat penting karena selama lima tahun kami berkencan—yang berarti selama itu pula museum ini berdiri dan beroperasi—apartemenku telah menjadi gudang beragam kantong, kotak, fail, lemari penyimpanan data, dan rak, atau—seperti yang sering kukatakan kepada Magda—“labirin cinta kita yang menakjubkan”.

Kini aku berdiri di dalam labirin itu—dan rupanya Magda telah lama menemukan jalan ke luar dari situ—dan menatap heran saat ternyata semua benda itu kini telah kehilangan kilaunya. Segala yang hingga kemarin merupakan pengingat dan rekaman cinta kami, kini telah menjadi sekadar beban kenangan, limbah tak berguna, sampah. Dan jika sebelumnya hatiku akan terenyuh setiap kali teringat pada, katakanlah, sehelai kertas yang digunakan Magda untuk menyeka keningnya, kini yang ada hanyalah bau busuk yang meruap dari sebuah kantong yang dipenuhi tisu-tisu bekas dia pakai. Kusadari, cinta ternyata tak hanya buta, tapi juga tuli, menumpulkan penciuman, serta menghambat indra perasa dan peraba.

Apartemenku terletak di lantai lima sebuah gedung yang tak dilengkapi lift. Saat aku membuangi apa yang hingga belum lama ini menjadi koleksi museum cintaku, otot-ototku terasa ngilu akibat kerja keras. Kukutuk cinta dan Magda dan takdir yang telah mempertemukan kami serta sebab yang telah memisahkan kami. Diriku sendiri, secara alamiah, tak kusebut di dalamnya. Sebab, setahuku, ini bukanlah kesalahanku. Memang benar, seiring bertambah dahsyatnya koleksi museum cinta kami, aku lebih berkembang menjadi seorang kurator ketimbang seorang kekasih. Tapi aku melakukan semua itu justru demi cinta, bukan untuk merongrong cinta kami. Seandainya Magda bersedia mendengarkan aku, segalanya pasti akan jauh berbeda. Tapi kini semua sudah terlambat.

Aku berdiri di sisi tong sampah besar, membuka kotak terakhir dan membuang sisa koleksi museum: baju dalam Magda yang talinya sudah putus; kotak kentang McDonald’s berminyak (dengan kata “Budapest” tertulis di sudut); bebat lutut Magda yang kotor (dua pasang); satu dus besar kondom (belum dipakai; yang sudah dipakai, karena Magda bersikeras menolak, tak kusimpan); piyama yang dikenakan Magda ketika kali pertama dia mengatakan bahwa dia mencintaiku; hasil tes dokter yang memastikan dia hamil (tapi ternyata tidak); hasil tes dokter yang memastikan dia tidak hamil (tapi ternyata hamil); secarik kertas yang ditulisi Magda: kamu dan aku? (dan aku tak tahu kata-kata apa yang mendahului pertanyaan itu); dan banyak lagi barang yang satu demi satu, tanpa pandang bulu, kulemparkan ke dalam tong sampah besar untuk menjalani proses transformasi tragis dari koleksi museum yang bernilai menjadi remah sampah kota yang tak bermakna.

Aku takjub sendiri pada betapa cepatnya saat cinta lenyap bersamaan dengan hati yang berbalik seperti kaos kaki, meski aku yakin ini bukan salahku. Sampah itu berguna, terutama jika didaur ulang. Namun, cinta yang tak berbalas sungguh hanyalah dedak yang bisa membelenggu hati. Tak lebih. Sampah masih lebih baik.(*)

  

David Albahari adalah penulis kelahiran Serbia, 1948. Pada 1994 ia hijrah ke Calgary, Kanada. Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan bahasa Inggris Ellen Elias-Bursac.


Kisah Semprul Seputar Matahari

Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 5 April 2015)

20150405

(Gambar oleh Munzir Fadly)

SATU yang amat kubenci dari matahari adalah kegemarannya memberi teka-teki. Pagi tadi, ia tiba-tiba turun, menyaru sebagai lelaki tampan kemudian mencium bunga sepatu di depan rumahku. Terang saja bunga sepatu itu menjadi merah, merah kemalu-maluan, kemudian mengembang sebesar corong. Seperti uap, si lelaki jelmaan matahari lalu lenyap. Bunga sepatu yang merah kemalu-maluan oleh ciumannya itu pun menjawil lenganku dengan batang benang sarinya yang menjelma jadi tangan.

“Di mana gendakku?”

“Aku tak tahu.”

“Bohong!”

Ia membentak. Tangannya mencengkeram kerah kemejaku. Tubuhku diguncang-guncang, tapi kemudian dilepaskan. Bunga sepatu itu tersedu dan pelan-pelan mengempes seperti semula. Tangisnya memberat, lalu ia menggeliat, seperti merenggang nyawa. Satu per satu kelopaknya pun berguguran ke tanah.

Istriku, yang tak tahu kejadian memilukan itu, keluar membawa sapu. Kelopak bunga sepatu itu ia sapu bersama daun mangga, daun jambu, daun kenitu, dan daun serut. Melihat kelopak bunga sepatu itu, aku curiga daun-daun yang tengah disapu istriku juga mengalami nasib serupa. Matahari mungkin telah mengumbar cintanya kepada mereka, kemudian meninggalkan daun-daun itu menahan rindu yang menguningkan sekujur tubuh. Itu dugaanku. Kau boleh tak percaya.

Tapi baiklah. Akan kuceritakan kisah yang lain.

Ini terjadi siang hari, ketika aku naik bus dari Surabaya ke Yogya. Waktu itu, aku naik Patas. Ketahuilah, walau aku naik bus yang disebut Patas, tak ada fasilitas di dalam bus untuk pipis. Karena cuaca di Surabaya cukup panas dan sebelum naik bus itu aku menggerojok tenggorokanku dengan sebotol air mineral, aku ditimpa musibah buruk. Kejadian ini terjadi tepat ketika bus memasuki hutan jati di daerah Ngawi. Terus terang, siang itu aku hampir pipis di celana.

Karena itu, aku memberanikan diri berjalan ke arah sopir dan memohon agar ia sudi menghentikan bus. Si sopir yang melihat mukaku jadi keriput akibat menahan pipis bermurah hati menghentikan bus. Ketika berhenti, aku langsung melompat ke pohon jati yang paling rindang di pinggir jalan. Tanpa malu-malu, kuhadapkan “dinda”-ku ke pohon itu. Dan, ketika keluar air seniku, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba kulihat matahari melorot dan menjelma wanita memakai cawat. Wanita itu kemudian memeluk pohon jati besar yang tampak sangat tua dan berwibawa.

Seperti tersengat tenaga rahasia, spontan pohon tua itu pun menggeliat. Tapi, si wanita jelmaan matahari malah melengos, mencium dan menyentuhkan sebagian tonjolan tubuhnya ke pohon jati bercabang banyak di sebelahnya. Seperti si pohon tua, pohon itu menggeliat, terkesima, lalu dua cabangnya yang rendah memeluk wanita itu. Tentu saja pohon jati yang tampak tua dan berwibawa itu marah. Ia mengerang keras-keras, menggoyang batang dan daunnya dengan buas. Burung dan kelelawar di hutan itu bubar seketika.

Si pohon jati tua mengangkat sebagian akarnya dan menyabet pohon jati bercabang banyak. Tak mau kalah, pohon jati bercabang banyak menyabet pohon tua dengan cabang-cabangnya yang gesit. Si pohon tua terjerungup. Sebagian akarnya keluar. Ia mengerang sekuat tenaga. Perempuan seksi jelmaan matahari itu tertawa seraya memercikkan api dari mulutnya. Dua pohon itu terbakar. Ketika kusaksikan api berkobar ke sekujur dua pohon itu, raungan klakson memanggilku. Buru-buru aku menarik kancing celana dan melompat dari tempat itu. Di dalam bus, aku berusaha tenang, melihat api dengan cepat mengganyang hutan.

 
ANEHNYA, para penumpang bus ini tenang-tenang saja, seperti tak ada apa-apa. Salah satu penumpang, gadis berjilbab ungu, bahkan sempat bernyanyi I don’t wanna wait in vain for your love. Ia melantunkan lagu Bob Marley dengan cengkok yang terdengar seperti irama gambus. Nyaman juga mendengar gadis itu bernyanyi. Lagu itu diulang-ulang, sampai bus masuk Terminal Tirtonadi, Solo. Di terminal ini, karena bus berhenti beberapa saat, aku nekat turun membeli rokok. Aku pun mendatangi sebuah kios. Di dalam kios itu kulihat seorang wanita tersenyum. Ketika sampai di depan kios itu aku sungguh terkejut. Si penjaga kios ternyata adalah wanita jelmaan matahari yang tadi membuat dua pohon berkelahi.

Sakali lagi aku perhatikan wanita itu. Betul. Dialah orangnya.

Kuberanikan diri menyebut rokok yang akan kubeli, tapi wanita itu malah keluar dari kios. Kuputar kepalaku mengikuti wanita itu dan ternyata ia mendatangi seorang tentara yang membawa tas berat. Seperti menonton adegan sinteron, kulihat mereka berpelukan kemudian bergandengan naik ke bus Patas yang kutumpangi. Aku pun pindah membeli rokok ke kios lain dan bergegas masuk bus.

Di dalam bus, kulihat tentara dan wanita itu duduk di kursi paling belakang. Aku pun duduk sambil sesekali mengintip mereka dari celah kursi. Aku jadi cemas, jangan-jangan wanita itu akan membikin onar. Di deret kursi sebelah kananku, si gadis berjilbab ungu tampak tengah tertidur dan tak menyanyikan Bob Marley versi gambus lagi. Untunglah tak terjadi apa-apa. Wanita jelmaan matahari itu tak bikin ulah. Mungkin karena ia dijaga tentara.

Bus kembali berjalan. Suasana tenang. Tanpa sadar aku pun tertidur. Dan, seperti yang kucemaskan, ketenangan ini hanya sebentar. Aku terbangun tatkala di deret kursi belakang terjadi keributan. Waktu itu bus tengah mulai memasuki Yogya. Kulihat tentara itu menanyakan di mana gerangan wanita yang tadi bersamanya. Ini tentu membuat geger seisi bus. Rupa-rupanya, selain aku dan tentara itu, tak ada penumpang atau awak bus yang melihat wanita yang dimaksud si tentara. Beberapa penumpang bahkan mencibir. Dan, beberapa lagi yakin bahwa si tentara pastilah orang gendeng yang entah mencuri seragam dari mana.

Tapi aku berani bersaksi bahwa tentara itu betul. Keadaan semakin gawat ketika seorang lelaki tanggung nekat mengejek. Dua bogem langsung menghantam congornya. Lelaki tanggung itu ingin melawan, tapi tak berani. Mendengar keributan, si sopir langsung menghentikan bus. Kondektur dan awak bus yang tak mau keributan ini berlanjut, punya cara jitu membujuk tentara itu, “Bapak sebaiknya turun di sini saja, dan mencari bus lain yang berbalik arah. Siapa tahu wanita yang Bapak maksud masih tertinggal di Solo.”

Akhirnya tentara itu pun turun. Bus kembali berjalan. Semua penumpang menjadi lega. Tapi sebagian masih rasan-rasan dan sebagian tertawa. Perempuan berjilbab ungu pun terdengar bernyanyi lagi, melantukan Atni Naya. Lagu penyanyi legendaris Lebanon, Fairous, yang liriknya adalah karya Kahlil Gibran.

Bus melaju kencang. Sore dan suara gadis itu membuat AC semakin sejuk.

 
TAK lama kemudian, bus yang kutumpangi pun menyerobot pintu terminal Yogya. Di terminal, tampak orang-orang pada ribut. Bus berhenti. Si sopir menyulut rokok dan bertanya kepada seorang pedagang kacang, mengapa terjadi keributan. Pedagang itu bilang, mereka ribut sebab matahari menghilang. Sopir dan para penumpang bus yang dibawa dari Surabaya merasa tidak ada yang aneh, sebab hari memang telah masuk waktu magrib. Tapi para pedagang asongan dan seorang polisi bilang, matahari tiba-tiba menghilang tepat jam 12 siang. Padahal, kata mereka, semula langit bersih dan matahari bersinar terang.

Aku yang tahu tabiat matahari hanya tersenyum. Bukankah siang tadi, di hutan jati, si matahari memang menjelma wanita seksi dan memicu kebakaran hutan? Bahkan, dalam bus tadi, ia pun sempat membuat keributan. Begitulah matahari, ia bisa turun dan malih rupa jadi lelaki atau perempuan. Ia juga pernah kupergoki menyaru sebagai terwelu, ular, kalong, orong-orong, batang kayu, batu, dan api. Ia bahkan bisa menjadi air seperti yang menipuku suatu pagi.

Ya, pagi itu, seperti kebiasaan tiap bangun tidur, aku mencari air putih. Aku berjalan ke meja makan dan minum segelas air yang kukira disiapkan istriku. Mendadak perutku terasa seperti terbakar. Spontan kutonyo perutku dengan keras. Sekali lagi aku dibuat kaget. Air yang kuminum keluar jadi bongkahan kuning menyerupai, maaf, tai. Bongkahan itu lalu memadat, murup seperti bara, dan melesat, menggasak jendela. Jendela kamarku pecah. Anehnya, ketika aku keluar rumah, istriku dan para tetangga sebelah berkata, baru saja terjadi angin ribut. Istriku bilang, angin itu menyerbu pohon mangga hingga satu buahnya memecahkan jendela kamarku. Astaga, bagaimana kejadian sebetulnya akan kuceritakan? Mereka pasti tak percaya kalau matahari yang turun dan membikin keributan. Begitu pula orang-orang di terminal ini.

Kuputar kepalaku ke sekeliling terminal. Kulihat orang-orang tetap bingung dan tak mengerti kenapa matahari menghilang. Merasa kejadian ini wajar, para penumpang yang satu bus denganku, meninggalkan terminal. Mulut mereka menggerutu, sebab tukang ojek, sopir taksi, dan sopir bus antarkota yang terkejut-kejut karena kehilangan matahari, tak melayani mereka. Mereka berjalan meninggalkan terminal. Sementara aku berjalan menuju angkringan.

 
AKU berniat menyesap secangkir kopi, sebab katup mataku terasa berat. Tapi, sebelum memasuki angkringan, aku dicegat lelaki ceking. “Jokpin!” pekikku. Tapi aku salah. Tidak. Ia bukan Jokpin. Kupikir, lelaki ceking itu mau meminta sekadar rokok atau apa. Ketika aku merogoh saku dan mau mengulurkan uang, dengan cekatan tongkatnya memukul tanganku. Aku terkejut. Tapi ia malah tertawa.

Lelaki itu kemudian melempar tongkatnya ke gundukan sampah di samping kanan angkringan, di mana plastik, kulit kacang, gombal, pembalut, kardus, bangkai tikus, kulit telur, bungkus rokok, koran, dan aneka sampah tampak mengepulkan asap. Tertimpa tongkat itu, gundukan sampah menyala seketika. Tongkat itu kemudian melesat ke barat, melungker seperti seberkas bara dan meninggi menjadi sebulat senja. Atap, tembok, dan benda-benda di sekitar terminal jadi tampak kemerahan, tapi lelaki itu menghilang. Aku yakin, lelaki semprul itu tak lain adalah si matahari.

Setelah matahari kembali ke langit, orang-orang di terminal berangsur tenteram. Sopir, tukang ojek, tukang taksi, tukang becak kembali menjalankan kerja. Orang-orang kembali memakai mereka untuk mengantar ke tempat tujuan. Tapi aku jadi malas memakai ojek atau taksi. Aku pasang tas punggungku, menyulut sebatang rokok, lalu berjalan ke arah Malioboro. Aku lapar, tapi pengalaman buruk hari ini menumpas nafsu makanku. Akhirnya aku memutuskan mencari hotel. Aku berjalan lurus dan menekuk ke kanan. Di luar dugaan, aku mendapati hotel yang namanya sama persis nama nenekku. Tanpa ragu, aku menuju resepsionis dan menyatakan mau menyewa kamar.

Setelah kamar kubayar, si resepsionis, wanita berwajah kalem, mengantarku ke sebuah kamar. Selepas menunjukkan fasilitas listrik, kamar mandi, dan handuk, ia pun pamit undur diri. Senyumnya mengingatkan aku pada almarhumah Suzanna waktu memainkan Nyai Roro Kidul. Setelah wanita itu undur, aku bergegas membasuh muka dan tangan, kemudian melompat ke ranjang. Kubuka sepatu dan pakaianku. Semua lampu kumatikan. Cahaya terang masih menghantui aku, seperti si matahari siang tadi. Kamar jadi gelap. Gelap pekat. Dalam gelap, AC terasa lebih dingin. Tubuhku seperti membatu. Tapi aku tak bisa tidur.

Akhirnya, kupencet ponsel dan menelepon temanku, Mardi Luhung. Aku bertanya, apa di Gresik matahari juga menghilang siang tadi. Tapi, seperti biasa, ia hanya terkekeh.

“Jangan bilang-bilang ya,” ia berkata setelah habis tawanya. “Siang tadi aku di Warkop Giri, ngopi sama si matahari.”

“Semprul!” pekikku setengah tak percaya, “Apa matahari berwujud wanita seksi, Bro?”

“Husssst, rahasia, hahaha. Freedom!” pekiknya.

Alamak, kenapa Mardi malah cengengesan. Padahal aku mau bercerita perihal kelakuan matahari yang suka kurang ajar. Andaikata ia ceritakan wujud si matahari yang ia ajak nongkong menikmati kopi, tentu cerita ini lebih panjang dan meyakinkan. Dan, kau akan percaya, matahari bahkan sanggup membelah dan menjadi apa saja dalam waktu bersamaan. Tapi Mardi malah cekikikan, dengan tawa yang susah diterka maksudnya. Aku curiga, jangan-jangan yang menerima teleponku bukan Mardi, tapi si matahari. Bajingan!

Kumatikan telepon genggam. Dan aku tidur dalam gelap.(*)

(Yogyakarta, 2015)

  

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku-buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2011) dan Tetralogi Kerucut (2014).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 494 pengikut lainnya.